NovelToon NovelToon
Ditinggal Tunangan, Dinikahi Petugas Damkar

Ditinggal Tunangan, Dinikahi Petugas Damkar

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Pelakor jahat / Rebirth For Love
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Dikhianati suami tercinta selama tujuh tahun, Nadira baru tahu Raka sengaja menghalangi kehamilannya demi cinta lamanya. Saat nyawanya hampir habis, ia terlahir kembali ke malam kebakaran sebelum hari akad.
Melihat Raka meninggalkannya di api demi wanita itu, Nadira membatalkan pernikahan dan menikah kilat dengan Bima, petugas Damkar yang menyelamatkannya. Pernikahan kontrak demi balas dendam ini justru memberinya cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20

"Yang setidaknya itu," kata Hans rendah, "kapan bisa dihapus?"

Kiana merasa seluruh darah di tubuhnya naik ke wajah.

Pergelangan tangannya masih berada dalam genggaman Hans. Ibu jarinya tepat di atas denyut nadi yang terlalu jujur. Jarak mereka terlalu dekat untuk berpura-pura tidak mendengar, tetapi terlalu berbahaya untuk dijawab dengan serius.

Maka Kiana melakukan satu-satunya hal yang masih bisa menyelamatkan harga dirinya.

Ia menarik tangan.

"Lukamu sudah selesai dibalut." Ia berdiri terlalu cepat sampai kursi kecil bergeser. "Jangan kena air. Jangan makan Indomie. Ganti kasa besok."

Hans menatapnya dari sofa. "Itu bukan jawaban."

"Itu instruksi medis."

"Kia."

"Aku pulang."

Ia mengambil tas dan kotak obat yang tersisa, lalu berjalan ke pintu tanpa menoleh. Baru ketika pintu apartemen Hans tertutup di belakangnya, Kiana bersandar sebentar di dinding koridor.

Jantungnya masih kacau.

Pertanyaan itu ikut turun bersamanya di lift, ikut masuk ke apartemen, ikut duduk di tepi tempat tidur ketika ia mencoba tidur.

Kapan bisa dihapus?

Kiana menutup wajah dengan bantal.

"Orang itu benar-benar..." Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, karena bagian paling menyebalkan adalah ia tidak marah.

Keesokan paginya pukul tujuh, bel pintunya berbunyi.

Kiana membuka pintu dengan rambut belum rapi dan ekspresi kurang tidur. Di depan pintu, Hans berdiri memakai kaus abu-abu dan celana hitam. Lengan kirinya sudah dibalut rapi ulang. Di tangannya ada dua mangkuk bertutup dan satu kantong kecil berisi jeruk.

"Sarapan."

Kiana menatapnya. "Kamu terluka."

"Tangan kanan masih bisa masak."

"Aku tidak minta."

"Semalam kamu cuma makan beberapa suap."

Kiana diam.

Ia memang tidak ingat apakah setelah pulang dari apartemen Hans ia makan sesuatu. Ia terlalu sibuk memikirkan kalimat yang seharusnya tidak dipikirkan.

Hans mengangkat mangkuk sedikit. "Mie telur tomat. Tidak pedas. Lambungmu aman."

Kiana minggir.

Ia masuk seperti sudah hafal letak dapur, meletakkan mangkuk di meja, mengambil sendok, lalu menuangkan air hangat. Gerakannya tenang, tidak seperti pria yang semalam baru saja membuat Kiana hampir kabur dari kulitnya sendiri.

Mie telur tomat itu harum.

Kuahnya bening kemerahan, telur lembut, tomat matang, daun bawang dipotong halus. Kiana mencicipi satu sendok.

Lalu berhenti.

Hans duduk di seberangnya. "Tidak enak?"

"Terlalu enak."

"Itu masalah?"

"Masalah besar." Kiana menunjuk mangkuk dengan sendok. "Kamu seorang pemadam kebakaran. Kenapa masakanmu lebih enak dari punyaku?"

"Training camp."

"Training camp mengajarkan mie telur tomat?"

"Mengajarkan bertahan hidup. Makan enak membantu bertahan hidup."

Kiana menatapnya curiga. "Kamp pelatihan pemadam kebakaran macam apa yang mengajarkan survivability sampai seperti itu?"

Hans mengambil jeruk dan mulai mengupas. "Yang keras."

Jawaban itu terlalu pendek. Terlalu rapat. Kiana tahu ia tidak akan mendapat apa-apa lagi pagi itu, jadi ia menahan pertanyaan berikutnya.

Mereka makan dalam diam yang tidak lagi canggung sepenuhnya.

Setelah separuh mangkuk habis, Kiana meletakkan sendok.

"Tentang Jovian."

Gerakan Hans mengupas jeruk berhenti.

Kiana menatap mangkuk, bukan wajahnya. "Dia mantan tunanganku. Itu benar. Tapi hubungan itu sudah selesai. Sangat selesai."

Hans tidak bicara.

"Yang kamu dengar di depan RS waktu itu, tentang ibunya, tentang Mama..." Kiana menggenggam sendok lebih erat. "Aku akan mencari kebenarannya. Aku tidak akan membiarkan Mama difitnah. Tapi itu bukan berarti aku ingin kembali ke Jovian."

Nama itu terasa dingin di mulutnya.

Tidak ada panggilan lembut. Tidak ada sisa kebiasaan lama. Hanya satu nama yang sudah dipindahkan dari hati ke daftar masalah.

Hans meletakkan jeruk yang sudah dikupas di piring kecil. "Kalau kamu masih belum selesai dengannya, kamu bisa mengejarnya."

Kiana mengangkat kepala.

Mata Hans tenang, tetapi terlalu tenang. Seperti orang yang menguji ketahanan pintu dengan mengetuknya pelan.

"Kamu serius?"

"Aku tidak akan menahan orang yang tidak mau tinggal."

Kalimat itu pendek, tetapi Kiana mendengar sesuatu di baliknya. Bukan hanya dingin. Ada luka lama yang sudah terlalu pandai memakai seragam.

Kiana menegakkan punggung.

"Dengar baik-baik, Hans." Suaranya pelan, tetapi setiap kata jatuh jelas. "Aku menikah denganmu karena syarat warisan, benar. Kita mulai dari perjanjian, benar. Tapi selama hubungan ini masih ada, aku tidak akan mengkhianatimu."

Hans menatapnya.

"Aku tidak akan kembali ke Jovian. Aku tidak akan memakai kamu sebagai alat lalu diam-diam memikirkan orang lain. Kalau suatu hari aku mau pergi, aku akan bicara di depanmu. Bukan berbohong di belakangmu."

Ruang makan kecil itu hening.

Di luar jendela, suara motor lewat dari jalan bawah. Di dalam, Kiana bisa mendengar napasnya sendiri.

Hans menunduk lebih dulu.

"Baik."

"Cuma baik?"

"Aku dengar."

"Kamu selalu pelit kata."

"Tapi aku ingat."

Kiana tidak tahu kenapa kalimat itu lebih membuat dadanya hangat daripada janji panjang. Mungkin karena Hans bukan orang yang mudah berkata. Kalau ia bilang mengingat, maka ia benar-benar menyimpannya di tempat yang tidak mudah hilang.

Hans mendorong piring jeruk ke arahnya. Semua serat putihnya sudah dibersihkan, tiap ruas dipisahkan rapi seperti ia sedang menangani sesuatu yang rapuh.

"Kalau suatu hari kamu mau pergi," katanya, "bilang sebelum kamu pergi."

Kiana menatap jeruk itu.

"Aku baru saja bilang."

"Ulangi."

"Kamu memaksa?"

"Memastikan."

Kiana ingin memutar mata, tetapi melihat cara Hans menunggu, kata-kata itu tidak jadi keluar. Ia mengambil satu ruas jeruk, memasukkannya ke mulut, lalu berkata pelan, "Kalau suatu hari aku mau pergi, aku akan bilang di depanmu. Tapi hari ini aku tidak pergi."

Hans menunduk sedikit.

"Hari ini cukup."

Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat ruang makan terasa lebih hangat daripada kuah mie tomat yang mulai dingin.

Mulai hari itu, rutinitas makan mereka kembali.

Hans tetap datang membawa bahan makanan. Bedanya, ia mulai bicara dua kalimat lebih banyak dari biasanya. Saat menuang air, ia akan berkata, "Panas." Saat Kiana terlalu lama menatap laptop, ia akan menarik gelas kopi dan menggantinya dengan teh. Saat alarm makan di ponsel Kiana berbunyi, ia tidak lagi hanya menatap, tetapi langsung mengambil mangkuk.

Kiana pura-pura kesal.

Padahal setiap tindakan kecil itu masuk ke celah yang tidak ia sadari sudah kosong.

Sore hari, ia mengirim voice note ke Vani.

"Vani, jangan ketawa. Tapi mie telur tomat buatan dia lebih enak dari masakanku. Aku kayaknya... dipelihara sama pemadam kebakaran."

Balasan Vani datang dalam bentuk lima voice note berturut-turut.

Yang pertama hanya tawa.

Yang kedua masih tawa.

Yang ketiga akhirnya ada kata-kata. "Kia, lo akhirnya sadar juga? Dari kemarin lo bukan lagi nikah kontrak, lo lagi ikut program makan sehat privat."

Kiana mematikan ponsel dengan wajah panas.

Malamnya, setelah menyelesaikan dokumen Vista Home, Kiana berdiri di balkon apartemennya. Angin Jakarta Selatan membawa bau hujan yang belum turun. Di atas, satu lantai lebih tinggi, lampu apartemen Hans masih menyala.

Ia menunggu.

Pukul sebelas, lampu itu masih menyala.

Pukul sebelas lewat tiga puluh, masih menyala.

Kiana masuk, mematikan lampu kamar, lalu mengintip lagi dari balik tirai. Baru beberapa menit setelah kamarnya gelap, lampu di atas padam.

Seolah orang itu memang menunggu ia tidur lebih dulu.

Kiana berdiri lama di dekat tirai.

Ada jenis perlindungan yang keras, seperti menarik orang keluar dari api.

Ada juga yang sunyi, seperti memastikan lampu tetap menyala sampai seseorang merasa aman.

Malam itu, sebelum tidur, Kiana membuka buku catatan kecil yang sudah lama ia beli tapi jarang dipakai. Ia menulis tanggal di sudut kanan atas.

Lalu satu kalimat.

714 hari. Di hidup ini, aku punya 714 hari lebih banyak bersama Mama.

Ujung pulpennya berhenti.

Beberapa detik kemudian, ia menambahkan:

Dan aku punya seseorang yang bisa membuat sarapan.

Di bawah kalimat itu, Kiana menggambar sebuah helm pemadam kecil. Bentuknya miring, garisnya jelek, tetapi ketika ia melihatnya, ia tersenyum sendiri.

Besok, ia tahu hidup tetap penuh perang. Tapi malam ini, setidaknya, ada lampu yang padam setelah ia aman.

1
Ray
apakah Hans punya kembaran?
Ray
misteri 💪
Lili Inggrid
ceritanya bagus...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!