Shen Dazhi, seorang pengembara yang berhasil mengumpulkan 10 pusaka legendaris yang diturunkan oleh Dewa. Bukan hanya itu, dirinya juga berhasil mengalahkan pemimpin sekte aliran hitam terbesar dan menjadi salah satu orang terkuat di dunia.
Namun rasanya semua itu tidak sepadan karena banyak sekali rekan-rekan serta orang tersayangnya yang mati dimasa lalu karena ulah sekte hitam tersebut.
Sampai akhirnya, dirinya diberikan kesempatan kedua oleh Dewa untuk kembali ke masa lalu dan menyelamatkan orang-orang berharganya.
Inilah cerita sang Pengembara dari masa depan yang kembali ke masa lalu untuk menulis ulang takdirnya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dazhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 : Seleksi Turnamen I
Hari ini adalah waktu yang ditunggu-tunggu. Akhirnya seleksi untuk turnamen antar Kultivator akan diadakan.
Meskipun baru seleksi, namun Dazhi sudah mempersiapkan semuanya. Ia sudah memperkuat tubuhnya sehingga sekarang dirinya telah mencapai ranah Kultivasi ke-3 tahap akhir.
Menjelang hari seleksi ini, dirinya memang sudah mati-matian berlatih dan menggunakan berbagai informasi dari kehidupan sebelumnya untuk menjadi lebih kuat.
Kultivator biasa mana mungkin bisa mencapai ranah ke-3 dari tahap awal sampai tahap akhir hanya dalam beberapa hari, apalagi sekarang Dazhi masih berusia 9 tahun.
Antrian untuk melakukan daftar pada seleksi turnamen benar-benar panjang. Dazhi sudah berdiri menunggu dari pagi sampai siang tetapi antriannya masih tetap banyak.
"Wah! Antriannya panjang sekali ya!"
Dua orang Kultivator dibelakang Dazhi terlihat sedang bercakap-cakap. Dazhi memasang telinganya baik-baik untuk menguping.
"Tentu saja. Kudengar Kultivator dari kekaisaran lain juga ada yang datang kemari. Jadi wajar kalau antriannya ramai."
"Apa? Kenapa begitu? Biasanya hanya dari kekaisaran kita saja."
"Apa kau tidak tahu? Beberapa hari lalu ada aura pusaka yang terpancar kuat dari kota ini. Bukan hanya satu, tetapi ada dua!! Bisa saja salah satunya adalah pusaka legendaris!! Banyak orang ingin melihatnya, jadi mereka menjadikan alasan untuk ikut turnamen ini agar bisa mendengar lebih banyak mengenai itu!"
"Oh!! Aku juga bisa merasakannya! Aura itu begitu kuat, namun susah untuk mendeteksi keberadaan pusakanya karena aura kuatnya yang menyebar sampai ujung kota Jianxia."
Dazhi yang mendengarkan ucapan dua orang itu seketika melirik kearah Sven dan pedang barunya.
"Jangan melihatku seperti itu, Dazhi."
"Maaf Tuan... Aku tidak terbiasa menyembunyikan aura."
Dazhi menghela nafas. Ia tak lagi terlalu memikirkan hal itu, selama dua pusaka nya bisa menyembunyikan aura dan tidak diketahui keberadaannya, maka dirinya tak mempermasalahkannya.
Selama 30 menit ke depan, Dazhi tetap mengantre. Sampai akhirnya, penantiannya itu berbuah hasil.
"Berikutnya! Silakan maju!"
Dazhi melangkah tenang menuju meja pendaftaran. Di hadapannya duduk seorang tetua berambut putih bersama dua murid yang bertugas mencatat identitas para peserta.
Tetua itu memegangi lengan Dazhi. Ia menyentuhkan jari telunjuk dan jari tengahnya pada pembuluh nadi anak itu dan menyalurkan sedikit Qi nya untuk memeriksa kondisi Dazhi.
"Nama?"
"Shen Dazhi."
"Umur?"
"9 tahun."
Tetua itu berhenti sejenak. Ia menatap lekat-lekat Dazhi dari atas sampai bawah sebelum kemudian kembali mengecek pembuluh nadi pada lengan Dazhi.
"Kau benar-benar 9 tahun? Bagaimana mungkin, nak? Anak sekecil dirimu bisa mencapai ranah Kultivasi ke-3 tahap akhir dan bahkan mempunyai fisik seperti seorang pemuda."
Dazhi menggaruk kepala bagian belakangnya dengan canggung. Wajar saja kalau tetua dihadapannya kebingungan. Paling cepat seseorang mencapai ranah Kultivasi ke-3 adalah saat usia 18 tahun.
Tetua itu menggelengkan kepalanya seolah tak percaya, namun setelah dicek kembali, Dazhi memang baru berusia 9 tahun dan telah mencapai ranah Kultivasi ke-3.
Orang-orang yang mengantre dibelakang Dazhi juga sama terkejutnya. Mereka mulai berbisik-bisik dan menggosipkan berita itu.
"Hei, apa kau mendengarnya? Bocah itu baru sembilan tahun."
"9 tahun tapi sudah ranah ketiga tahap akhir... Apa dia murid sekte besar?"
"Mungkin seorang jenius dari keluarga pejabat."
"Tidak... pakaiannya biasa saja."
Dazhi hanya bisa berdiri diam. Sebelum akhirnya sang tetua memberikan sebuah kertas dan menyuruh Dazhi pergi ke lokasi seleksi yang ditentukan.
Setelah Dazhi pergi, tetua itu berbicara kepada muridnya dengan nada tergesa-gesa dan bersemangat.
"Anak itu adalah jenius Kultivasi! Cepat sebarkan berita ini kepada tetua sekte yang lain. Dia harus masuk ke sekte kita!!"
"Baik!"
***
"Perlihatkan surat pendaftaran mu."
Ketika sampai di lokasi tempat seleksi turnamen, Dazhi mendapati seorang pria berbadan besar sedang menjaga tempat seleksi. Ia lalu memberikan keras yang diberikan tetua ditempat pendaftaran tadi.
"Masuk."
Dazhi menurut, lalu melangkah masuk ke area seleksi.
Tempat itu sangat luas. Sebuah lapangan besar yang dipenuhi oleh para peserta yang datang dari berbagai wilayah. Mereka semua berkumpul di sana dengan tujuan yang sama, yaitu mendapatkan kesempatan untuk mengikuti turnamen antar Kultivator.
Dazhi menatap ke sekelilingnya, banyak Kultivator yang ada disini, sebagian besar masih berada di ranah Kultivasi yang rendah. Namun ada juga beberapa orang kuat yang telah mencapai ranah Kultivasi ke-5 bahkan ada yang sudah mencapai tahap akhir dan siap menjadi Grandmaster.
"Halo... Namaku Guo Bailing."
Tiba-tiba seorang pemuda mendekati Dazhi. Dia tersenyum ramah dan mengulurkan tangan seolah ingin berkenalan.
Dazhi menatapnya dengan bingung, darimana pemuda ini? Datang-datang langsung memperkenalkan diri.
Melihat raut wajah Dazhi yang kebingungan, dia melanjutkan, "Ah... Aku mendengar kalau kau masih berusia 9 tahun tapi sudah mencapai ranah Kultivasi ke-3. Aku jadi penasaran denganmu, hehe..."
Dazhi mengangguk, dia menerima jabatan tangan pria dihadapannya itu. "Namaku Shen Dazhi."
"Baiklah Shen Dazhi, senang berkenalan denganmu. Kuharap kita bisa bekerjasama dalam seleksi ini!"
Dazhi sebenarnya tidak ingin bekerjasama dengan siapapun apalagi dengan orang yang baru dikenalnya karena bisa berpotensi untuk mengkhianati nya.
Tetapi kalau Guo Bailing memang bersungguh-sungguh, maka tidak ada alasan untuk menolaknya, lagipula apa salahnya menambah teman.
Teng... Teng... Teng... Teng...!
Percakapan mereka berdua terputus karena suara lonceng yang dibunyikan. Para Kultivator yang sedari tadi sibuk berbicara langsung mengalihkan perhatiannya pada sumber suara.
Seorang tetua dengan rambut beruban berdiri disamping lonceng. Dialah yang membuat bunyi gaduh tadi.
Tetua itu lalu menatap seluruh peserta dengan mata sipitnya sebelum kemudian berbicara.
"Perhatian!! Aku adalah pengawas utama seleksi turnamen antar Kultivator kali ini." Ucapannya menggema di ruangan terbuka yang mendadak menjadi sunyi ini.
"Baiklah, jadi semua orang yang ada di ruangan ini totalnya ada 3784. Namun peserta turnamen hanya mencangkup 100 orang saja. Untuk itu, kami akan menyeleksi kalian secara besar-besaran!!"
Tiba-tiba sebuah token yang terbuat dari kayu terbang menggunakan Qi kearah para peserta, salah satunya juga mengarah pada Dazhi yang langsung ditangkap olehnya.
Tetua itu melanjutkan ketika semua peserta telah memegang token miliknya masing-masing.
"Kalau kalian ingin ikut turnamen antar Kultivator, maka kalian harus memasuki lantai atas paviliun di belakangku ini."
"Namun, kalau kalian ingin memasuki lantai pertama dari paviliun, kalian harus mempunyai dua token kayu. Begitu pula dengan lantai selanjutnya. Semakin tinggi lantai, maka token yang dibutuhkan semakin banyak."
Para peserta mulai berbisik-bisik mengenai apa yang dikatakan tetua itu. Salah satu peserta bergumam.
"Kalau begitu, kita harus mengambil token milik orang lain."
"Benar!! Kalian harus mendapatkan token milik orang lain! Apapun caranya. Entah itu mencuri, merebut, memaksa, dan sebagainya."
Ucapan dari tetua itu membuat bisik-bisik semakin ramai. Dazhi menyeringai, ternyata pihak penyeleksi membuat rencana yang cukup pintar untuk menyeleksi hampir empat ribu orang menjadi seratus orang.
"Ingat satu hal ini!! Kalian tidak boleh membunuh atau memberikan luka yang fatal! Pihak panitia kami tidak didanai BPJS untuk kecelakaan seperti itu! Yang melanggarnya akan didiskualifikasi dari seleksi!!"
Bisik-bisik para peserta mereda. Kini suasana menjadi hening dan tegang.
"Kalau begitu, semoga beruntung."
Tetua itu berbalik dan memasuki paviliun, meninggalkan para peserta yang saling melirik dengan tatapan waspada.
Dazhi mengeratkan pegangannya pada pedang yang ada di pinggangnya.
"Semoga beruntung yah...?" Gumam Dazhi.