Di Desa Angin Tenang, Bobon hanya dikenal sebagai bocah gendut yang pelupa, suka makan, dan dianggap kurang cerdas. Tak ada yang tahu bahwa di dalam tubuhnya tersimpan segel kuno yang menahan kekuatan terhebat di seluruh Benua Tengah.
Saat penagih pajak kejam melukai Nenek Sumi yang merawatnya, Bobon hanya menepuk seperti mengusir lalat. Satu pukulan itu menghancurkan pedang pendekar ahli dan melemparkan musuhnya hingga puluhan meter jauhnya. Namun sesaat kemudian ia kembali bingung, dan malah menangis sedih karena tahu kesayangannya tertutup debu.
Kini kekuatan dahsyatnya terbongkar, dan ancaman gelap mulai bergerak mendekat. Bobon tak peduli jadi pahlawan atau penguasa dunia persilatan. Ia hanya ingin melindungi neneknya dan memastikan mangkuk makannya tak pernah kosong. Siapa pun yang berani mengganggu dua hal itu, harus berhadapan dengan kekuatan yang tak bisa dibayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 - Tatapan sang Tetua Luar
Langkah kaki pria tua berjubah abu-abu itu terdengar sangat ringan, hampir tidak mengeluarkan suara di atas permukaan tanah berbatu granit. Namun, setiap kali sepatu botnya memijak, aura ketajaman yang kaku menyebar ke seluruh penjuru kedai sederhana itu. Pria pemanggang daging domba langsung menghentikan kipasnya, membungkuk dalam-dalam dengan tubuh gemetar penuh rasa takzim.
"Hormat hamba kepada Tetua Jian," ucap pria pemanggang daging itu dengan suara rendah.
Tetua Jian, sang Tetua Luar dari Sekte Pedang Ganda yang memiliki tingkat kekuatan Pendekar Ahli Kara tingkat lima, tidak menyahut. Sepasang matanya yang keriput namun sejelap mata elang terus menatap ke arah meja tempat Bobon sedang mengunyah daging domba.
Di mata seorang pendekar tingkat tinggi seperti Tetua Jian, pemandangan di depannya sungguh tidak masuk akal. Bocah gendut itu tampak seperti anak bodoh biasa yang tidak memiliki aliran Kara di meridian tubuhnya. Namun, baskom kayu yang diletakkan di samping piring daging itu memancarkan sisa-sisa tekanan spasial yang sangat aneh. Itu adalah sisa energi yang tidak memiliki warna, sejenis hawa murni yang mampu merobek pertahanan Kara biasa tanpa menyisakan riak energi elemen alam.
"Dua murid penjaga batas di lereng atas baru saja ditemukan pingsan dengan sepasang pedang mereka yang hancur berkeping-keping," suara Tetua Jian terdengar berat, dingin, dan bergaung di bawah atap kayu kedai. Dia melangkah mendekati meja Waja Lin. "Klan Waja dan Sekte Bambu Runcing, apakah kalian sedang membawa monster liar masuk ke dalam wilayah suci kami?"
Bambu Jaya yang sedang mengunyah sepotong daging domba langsung tersedak. Dia buru-buru menelan makanannya, lalu bangkit berdiri sambil menangkupkan tangan dengan sangat sopan.
"Hormat saya kepada Tetua Jian yang bijaksana," kata Bambu Jaya, senyum cerdiknya tampak sedikit dipaksakan. "Dua saudara seperguran di atas tadi hanya mengalami sedikit kesalahpahaman saat memeriksa rombongan kami. Pelayan kecil kami ini tidak sengaja mengibaskan baskom kayunya karena terlalu bersemangat ingin makan daging domba."
"Mengibaskan baskom kayu hingga menghancurkan empat bilah baja tempaan sekte kami?" Tetua Jian mendengus dingin. Hawa tajam di sekitar tubuhnya mendadak meningkat, membuat tirai kain kedai bergoyang kencang seperti disayat pisau tak terlihat. "Jangan membodohi orang tua ini, murid muda!"
Waja Lin tetap duduk dengan tenang. Dia menggeser koin peraknya yang tersisa di atas meja, lalu mendongak menatap Tetua Jian dengan tatapan bisnisnya yang dingin.
"Tetua Jian, Klan Waja tidak pernah mencari musuh. Kerugian atas rusaknya empat pedang murid Anda akan kami ganti rugi dengan sepuluh balok besi hitam murni dari Kota Logam pada pengiriman bulan depan," ujar Waja Lin, menawarkan kesepakatan dagang yang sangat menggiurkan untuk ukuran sebuah sekte pedang yang selalu membutuhkan bahan baku senjata. "Kami hanya ingin menyeberang dengan damai."
Tetua Jian terdiam sejenak mendengar tawaran sepuluh balok besi hitam murni. Nilai barang itu sangat tinggi. Namun, sebagai seorang pendekar, rasa penasarannya terhadap kekuatan aneh Bobon jauh lebih besar daripada urusan dagang.
Sementara diplomasi tegang sedang berlangsung, Bobon sama sekali tidak peduli. Tangan gempalnya baru saja menyambar tusuk daging domba terakhir di piringnya.
Nyam! Glek!
"Ah, habis!" seru Bobon dengan wajah kecewa. Dia melihat ke arah piringnya yang kini kosong melongpong, lalu beralih menatap Tetua Jian yang sedang berdiri tegak di dekat mejanya. Bagi Bobon, pria tua berjubah abu-abu ini adalah orang yang sangat mengganggu karena membuat suasana makan siangnya menjadi dingin dan tidak nyaman.
Bobon bangkit berdiri dari bangku kayu, memeluk baskom kayunya erat-erat ke dada bulatnya. Segel merah di dahinya kembali berdenyut samar di balik poni rambutnya yang acak-acakan.
"Kakek berbaju abu-abu, Kakek berisik sekali. Bobon masih lapar, tapi dagingnya sudah habis karena Kakek terlalu banyak bicara," rengek Bobon dengan suara parau kekanak-kanakan, wajah tembemnya ditekuk cemberut.
Bobon melangkah satu langkah maju, menghentakkan kaki gempalnya ke lantai tanah kedai.
Dug!
Hentakan kaki murni tanpa warna itu memicu gelombang kejut yang merambat cepat di dalam tanah. Detik berikutnya, tiang penyangga utama pos pengawasan batu granit yang berada tepat di samping kedai mendadak retak besar dan mengeluarkan suara gemertak yang linu. Dua buah bongkahan batu granit sebesar kerbau jantan runtuh dari atap pos, jatuh berdebam ke tanah hingga memicu kepulan debu yang pekat.
Tetua Jian membelalakkan matanya dengan penuh rasa horor. Hawa tajam yang tadi dia bangkitkan langsung lenyap seketika, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar di seluruh punggungnya. Getaran tanah ini bukan berasal dari Kara bumi, melainkan tekanan fisik murni yang terlalu destruktif hingga melampaui logika pendekar tingkat lima miliknya.
Bocah gendut di depannya ini benar-benar sebuah bom waktu berjalan yang bisa meruntuhkan seluruh pos perbatasan mereka hanya dengan sekali merajuk.