Mengisahkan tentang dua orang anak kembar yang memilki dunia yang sama. Karena sejak kecil mereka memang tidak pernah terpisahkan.
Rean Arya Partama, kakak dari Sean Kingston yang terkenal sebagai dokter playboy, padahal dirinya bahkan tidak pernah berpacaran sebelumnya. Sosok hangat yang selalu menjadi partner terbaik dalam hidup adik kembarnya, Sean.
Sean Aryo Pratama, seorang dokter muda yang memiliki kesabaran seluar lautan, namun berubah menjadi dingin saat sebuah kecelakaan merenggut seluruh masa depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 28
Embun penasaran, sebenarnya apa yang terjadi disini? kenapa ada orang yang mengaku sebagai dirinya?
Di lihatnya Sean yang berada di ruangan kerjanya. Tunggu, kenapa dia sering melihat Sean yang seperti melakukan perenggangan otot seperti itu?
Tatapannya bahkan terlihat kosong. Hal apa yang membuat Sean seperti itu, pikirnya.
Sadar ada yang memperhatikannya membuat Sean mengalihkan pandangannya dan mendapati Embun disana. Di lihatnya jam sudah menunjukkan pukul 7 malam.
Sean bergegas keluar dari ruangan kerjanya, membuat Embun juga bergegas membereskan barang-barangnya juga.
"Pak?"
"Kita pergi sekarang!" ucapnya pada Embun.
Mereka berjalan melewati lorong-lorong kantor, sampai dia berada di lobby, Sean menyuruhnya untuk tinggal.
"Tunggu, saya ambil mobil dulu." ucapnya pada Embun.
Tak lama Sean datang dengan mobil yang kemarin dia naiki juga. Ini kedua kalinya dia naik mobil dengan bosnya.
Ada rasa canggung dan terlihat tidak nyaman karena sepanjang perjalanan menuju tempat yang dia tidak ketahui, mereka hanya diam. Tidak ada pembicaraan apapun disana.
Sean berbelok ke sebuah restoran, dan turun. Tapi sebelum itu dia sempat menyuruh Embun untuk menunggunya disana.
"Tunggu di mobil!" Embun menganggukkan kepalanya dan tak lama Sean kembali dengan sekotak makanan bahkan ada susu jahe.
"Makanlah, kau bisa sakit jika terlambat makan." ucap Sean pada Embun yang semakin terdiam di buatnya.
Bagaimana tidak, jika perhatian Sean membuatnya merasa tidak enak. Sudah numpang di mobilnya, di belikan makanan pula.
"Itu makanan sehat, saya pastikan tidak beracun." ungkap Sean membuat Embun akhirnya mulai memakan makanan pemberian Sean tadi.
Setelah itu, mereka kembali melanjutkan perjalanan ke sebuah rumah yang sama sekali tidak di ketahui Embun. Yang jelas, ini rumah orang kaya pikirnya.
"Dimana Jefri?" tanya Sean begitu saja.
"JEFRI!!! keluar!!!" teriak Sean di rumah temannya itu.
"Jika kau tidak keluar, akan ku bakar rumah mu ini JEFRI!!!" teriak Sean menggelar membuat sang pemilik rumah langsung keluar dari kamarnya setelah mendengar keributan tersebut.
Langkahnya terasa sangat berat sekali. Jantungnya berdebar kencang. Bahkan tangannya terasa basah dan kebas untuk menghadapi Sean. Lihat saja bagaimana menyeramkan nya wajah tampan itu.
"Sial, bahkan dia masih terlihat begitu tampan saat marah. Hanya Rean saja yang bisa bersaing dengan ketampanan-nya itu!" batin Jefri melihat tatapan Sean yang begitu mengerikan itu.
"Sean?" panggil Jefri gugup.
"Jelaskan!" titah Sean dengan tatapan dinginnya.
Ini benar-benar membuat Jefri ketakutan. Bagaimana cara menjelaskan-nya pada Sean tentang semua ini?
"Sebelumnya gue minta maaf. Gue-"
"Siapa dia?" tanya Sean to the point.
"Se-sebenarnya dia memang bukan Embun. Dia Rere Pricilla, anak tiri Tuan Wijayanto. I-Ini salah gue Sean, ini salah gue. Karena waktu itu gue ketemu dia di pesta bisnis dan dia datang sama Tuan Wijayanto. Jadi gue pikir dia Embun. Gue minta nomornya, dia juga langsung kasih saat gue bilang elu-" Sean langsung pergi begitu saja, membuat Embun ikut menyusulnya.
Dia benar-benar tidak percaya ini. Bagaimana bisa anak dari perempuan yang telah menghancurkan keluarganya bisa menyamar sebagai dirinya.
"Pak Sean -"
"Saya antar kamu pulang sekarang!" ucap Sean tak terbantahkan, membuat Embun hanya bisa pasrah.
Dalam perjalanan pulang, dia benar-benar tidak percaya dengan semua ini. Sungguh, bagaimana bisa anak perempuan jahat itu bisa menyamar menjadi dirinya. Dan bahkan papanya membawanya pergi ke acara bisnis?
Sungguh luar biasa sekali memang ibu dan anak jahat itu.
Sean sendiri sadar, jika Embun sedang gelisah saat ini. Itu terlihat dari dirinya yang terus menatap keluar jendela, dengan kedua tangan yang saling meremas di pangkuannya.
Tapi Sean juga bingung bagaimana harus menjelaskan semua ini. Sungguh, dia juga bingung sama seperti Embun.
"Jangan salahkan dirimu. Ini bukan salahmu." ucap Sean mengingatkan.
Membuat Embun mengalihkan pandangannya. "Aku sudah terbiasa di kecewakan oleh Papa. Hanya saja, aku tidak menyangka jika papa mengajak anak perempuan jahat itu ke acara bisnis." ucap Embu dengan suara parau, yang menahan tangisnya.
"Kau harus pulang. Besok istirahat saja. Saya beri izin satu hari. Pulanglah ke rumah, agar bisa lebih tenang!" ucap Sean sebelum Embun turun dari mobilnya.
***
jevan lho up sn... kok trs di tgl kn
eee jevan noh