NovelToon NovelToon
Dahaga Sang Pebinor

Dahaga Sang Pebinor

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami / CEO / Tamat
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Kirana Maheswari dikenal sebagai wanita yang dingin dan sulit didekati. Sebagai sekretaris pribadi di Pradana Group, ia selalu menjaga profesionalitas dan tidak pernah memberi ruang bagi siapa pun untuk masuk ke kehidupan pribadinya.

Semua orang tahu Kirana sudah menikah.

Dan semua orang juga tahu bahwa ia sangat menjaga jarak dari pria mana pun.

Kecuali satu orang yang seolah tidak pernah mengerti arti menjaga jarak.

Aiden Pradana.

CEO muda yang tampan, kaya, cerdas, dan terkenal tidak pernah gagal mendapatkan apa yang diinginkannya.

Awalnya Aiden hanya penasaran.

Ia tidak mengerti mengapa ada seorang wanita yang sama sekali tidak terpengaruh oleh pesonanya. Saat wanita lain berlomba mencari perhatian darinya, Kirana justru selalu menghindar dan hanya berbicara seperlunya.

Semakin diabaikan, semakin besar rasa penasarannya.

Semakin Kirana menjaga jarak, semakin keras kepala Aiden mendekat.

Namun Aiden segera menyadari bahwa ketertarikannya telah berubah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alasan pernikahan

“Di sini juga ada rekaman suara Rendra, saat dia menyebut alasan sebenarnya menikahimu.” Niko menatap Kirana dengan senyum dingin.

“Apa maksudmu?” Kirana menatap Rendra.

“Jangan dengarkan dia.” Rendra melangkah panik.

“Kenapa?” Aiden menahan langkahnya.

“Karena dia sedang memutarbalikkan semuanya.” Rendra mengepalkan tangan.

“Kalau begitu biarkan rekamannya diputar.” Kirana mengalihkan pandangan ke arah Niko.

Wajah Rendra berubah semakin tegang, selama beberapa hari terakhir Kirana sudah melihat banyak sisi buruk dari pria yang pernah menjadi suaminya tetapi kepanikan seperti itu belum pernah ia lihat sebelumnya. Reaksi itu membuat perasaan tidak nyaman di dadanya semakin kuat karena orang yang tidak bersalah biasanya tidak terlihat setakut itu ketika kebenaran hendak dibuka.

“Putar.” Aiden menatap Niko.

“Dengan senang hati.” Niko membuka ponselnya.

“Jangan.” Rendra maju selangkah.

“Berhenti di tempat.” Armand menunjuknya.

Rendra menghentikan langkahnya dengan napas berat, ia menatap Kirana seolah ingin meminta wanita itu menghentikan semuanya tetapi tatapan dingin Kirana membuat harapan itu runtuh. Di sisi lain, Gavin berdiri tidak jauh dari Aiden sambil menahan komentar yang hampir keluar dari mulutnya karena kali ini situasinya terlalu serius untuk dijadikan bahan candaan.

“Kalau ini bohong, kamu selesai.” Aiden menatap Niko.

“Kalau ini benar, dia yang selesai.” Niko tersenyum tipis.

“Cepat putar.” Kirana menggenggam tali tasnya.

Niko menekan layar ponselnya, beberapa detik kemudian suara berisik terdengar disusul suara dua pria yang sedang berbicara di sebuah ruangan. Kualitas rekaman itu tidak sempurna, tetapi cukup jelas untuk dikenali.

“Kirana itu jalan masuk terbaik.” Suara Rendra terdengar dari rekaman.

Kirana langsung membeku.

“Matikan itu.” Rendra bergerak panik.

“Diam.” Aiden menahannya dengan tatapan tajam.

Rekaman terus berjalan, suara Rendra di dalam file itu terdengar lebih muda, lebih santai dan jauh lebih dingin daripada pria yang berdiri di hadapan Kirana sekarang. Setiap kata yang keluar dari rekaman tersebut menusuk lebih dalam daripada foto perselingkuhan yang pernah ia terima dari Selina.

“Dia anak orang lama di jaringan pemasok itu.” Suara Rendra terdengar lagi.

“Apa hubungannya dengan rencanamu?” suara pria lain bertanya dari rekaman.

“Kalau aku dekat dengannya, beberapa pintu akan terbuka.” Suara Rendra terdengar tenang.

Kirana tidak bergerak, wajahnya tetap datar tetapi jemarinya yang menggenggam tali tas mulai memutih. Aiden melihat perubahan kecil itu dan dadanya terasa panas, bukan karena cemburu melainkan karena marah melihat wanita itu kembali dilukai oleh orang yang sama.

“Kamu menikahiku karena itu?” Kirana menatap Rendra.

“Tidak.” Rendra menggeleng cepat.

“Jawab dengan benar.” Kirana menatapnya tanpa berkedip.

“Itu masa lalu.” Rendra mengusap wajahnya.

“Berarti benar.” Kirana menarik napas pelan.

Rendra kehilangan kata-kata, ia ingin menjelaskan bahwa semuanya berubah setelah pernikahan mereka berjalan tetapi kalimat itu terdengar lemah bahkan sebelum keluar dari mulutnya. Kesalahan yang dulu ia anggap terkubur ternyata kembali muncul dalam bentuk paling buruk, di depan Kirana, di depan Aiden dan di depan semua orang yang kini melihatnya tanpa percaya.

“Awalnya seperti itu.” Rendra menunduk.

Gavin menutup mulutnya sebentar, kali ini bahkan dirinya tidak sanggup membuat candaan. Pengakuan Rendra terlalu menjijikkan untuk dianggap sebagai kesalahan biasa.

“Awalnya?” Kirana tersenyum hambar.

“Lalu aku mencintaimu.” Rendra menatapnya cepat.

“Setelah memanfaatkanku?” Kirana mengangkat alis.

“Aku salah.” Rendra mengangguk.

“Salahmu terlalu banyak.” Kirana menggeleng pelan.

Niko tertawa pendek, suara itu membuat Aiden langsung menoleh tajam sementara Armand memberi isyarat kepada petugas keamanan agar tetap waspada. Niko belum menyerahkan flashdisk dan benda kecil itu masih berada di tangannya, sehingga mereka tidak bisa bergerak sembarangan.

“Drama rumah tangga kalian menyentuh sekali.” Niko bertepuk pelan.

“Cukup.” Aiden menatapnya.

“Belum cukup.” Niko mengangkat flashdisk itu.

“Kamu sudah mendapatkan perhatian.” Armand mendekat.

“Aku belum mendapatkan keadilan.” Niko mundur setengah langkah.

“Dengan mencuri data perusahaan?” Aiden mengangkat alis.

“Dengan memaksa kalian melihat kebenaran.” Niko menggenggam flashdisk itu.

Suasana di dekat pintu keluar belakang semakin tegang, petugas keamanan mengepung tanpa bergerak terlalu dekat sementara Niko terus memindahkan pandangan dari Aiden ke Rendra. Pria itu tidak tampak seperti seseorang yang hanya ingin kabur, melainkan seperti orang yang sejak awal sudah datang untuk membuat semua orang saling menghancurkan.

“Siapa suara ketiga di rekaman Proyek Meridian?” Aiden bertanya cepat.

Niko tersenyum.

“Kamu sudah tahu.” Niko mengangkat dagu.

“Sebut namanya.” Aiden mendekat.

“Tidak di sini.” Niko menggeleng.

“Jangan bermain lagi.” Armand menatapnya tajam.

“Aku tidak bermain.” Niko menatap Armand. “Karena orang itu masih ada di perusahaan ini.”

Armand terdiam, Rendra ikut menegang. Kirana memandang mereka bergantian dan menyadari bahwa masalah ini memang belum selesai, bahkan setelah rekaman tentang pernikahannya diputar begitu saja.

“Siapa?” Kirana bertanya pelan.

“Orang yang membuat Rendra terlihat bersalah.” Niko menunjuk Rendra.

Rendra mengangkat kepala.

“Kamu tahu pelaku aslinya?” Rendra mendekat.

“Aku tahu.” Niko tersenyum.

“Kenapa tidak bilang dari awal?” Gavin akhirnya bersuara sambil mengusap wajahnya. “Kamu membuat kami turun naik lift seperti kurir paket.”

Tidak ada yang tertawa keras, tetapi komentar itu sedikit memecah ketegangan yang hampir meledak. Aiden melirik Gavin sebentar, lalu kembali fokus kepada Niko. Mereka tidak punya banyak waktu karena semakin lama Niko memegang flashdisk itu, semakin besar kemungkinan benda tersebut rusak atau dibawa lari.

“Berikan flashdisknya.” Aiden mengulurkan tangan.

“Aku mau jaminan.” Niko menatapnya.

“Jaminan apa?” Armand mengernyit.

“Aku tidak ditangkap sebelum semua rekaman diputar.” Niko menegakkan tubuh.

“Kamu sudah mencuri data.” Aiden menatapnya datar.

“Dan kalian butuh data itu.” Niko membalas cepat.

Aiden terdiam sesaat, Niko benar meskipun ia benci mengakuinya. Jika flashdisk itu memang berisi rekaman lengkap Proyek Meridian dan bukti lain yang selama ini hilang, maka menahan Niko terlalu cepat bisa membuat mereka kehilangan satu-satunya jalan menuju pelaku sebenarnya.

“Baik.” Aiden mengangguk singkat.

“Bos?” Gavin menoleh.

“Dia ikut ke ruang rapat.” Aiden menatap petugas keamanan. “Tapi tetap diawasi.”

“Baik, Tuan.” Petugas mengangguk.

Niko tersenyum puas, tetapi kepuasan itu tidak berlangsung lama. Saat ia hendak menyerahkan flashdisk kepada Aiden, ponsel di tangan Kirana tiba-tiba bergetar. Nama yang muncul di layar membuat wajah Kirana kembali berubah.

“Ayah.” Kirana menatap layar.

“Angkat.” Aiden menoleh.

Kirana menerima panggilan itu dengan tangan sedikit gemetar, beberapa detik pertama wajahnya hanya terlihat tegang. Namun setelah mendengar suara dari seberang telepon, pandangannya langsung berubah kosong.

“Ayah kenapa?” Kirana menahan napas.

Aiden langsung mendekat satu langkah.

“Kirana, jawab.” Aiden menatapnya.

Panggilan itu terputus sebelum Kirana sempat mengatakan apa pun lagi, wanita itu menatap layar ponsel beberapa detik lalu perlahan mengangkat kepala. Wajahnya kali ini bukan hanya pucat, tetapi benar-benar kehilangan ketenangan yang selama ini menjadi pertahanannya.

“Ayah hilang dari kamar rumah sakit.” Kirana menggenggam ponselnya.

Rendra langsung membeku lalu Aiden menoleh ke arah Niko dan Niko hanya tersenyum kecil, seolah kabar itu bukan kejutan baginya.

“Sudah kubilang.” Niko memasukkan flashdisk ke sakunya lagi. “Orang yang kalian cari selalu bergerak satu langkah lebih cepat.”

1
Rahmaa
thor kaya ada episode yg terlewat kah, kenapa tiba-tiba niko?
Rahmaa
ngakak banget karna gavin🤣🤣🤣
Dew666
💎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!