NovelToon NovelToon
Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / TKP
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: Chocolate Chase

Menceritakan tentang seorang mantan pembunuh berantai, yang di bebaskan untuk membantu polisi dalam memecahkan sebuah kasus, yang kemudian membuat dirinya secara resmi menjadi konsultan khusus kepolisian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocolate Chase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Monster yang Dipinjam

Ruang rapat di markas NYPD Manhattan terasa pengap malam itu. Bau kopi bercampur keringat orang-orang yang sudah dua hari tidak pulang. Lampu neon di langit-langit berdengung pelan, seolah ikut lelah dengan segala kekacauan ini.

Detektif Manuel Vin berdiri di depan papan bukti yang penuh foto mengerikan. Tubuhnya tegap, rahangnya persegi, dan ekspresi wajahnya selalu kelihatan bersiap memukul seseorang. Ia mengusap wajahnya yang kasar sambil menatap foto Anton Harrington, putra sulung dari Richard Harrington, seorang CEO Harrington Tech yang namanya sering menghiasi halaman depan Forbes.

Anton ditemukan tewas di penthouse mewah milik pribadinya di Upper East Side. Lehernya digorok dengan sangat rapi, hampir menyerupai hasil bedah profesional. Namun, yang membuat Manuel merinding adalah detail kecil yang sadis, yaitu jari manis korban dipotong bersih dan dimasukkan ke dalam mulutnya sendiri.

"Seperti sebuah pesan," gumam Manuel pelan.

Sementara itu, di meja belakangnya duduk Kapten Lopez. Pria berusia lima puluh tahun dengan pelipis memutih itu bersandar santai sambil menyilangkan tangan di dada. Sorot matanya lelah, namun tetap tajam.

"Kita sudah kehabisan pilihan, Vin," kata Kapten Lopez dengan suara berat. "Media sudah gila. Harrington menelepon wali kota dua kali hari ini. Kita butuh cara pandang yang… berbeda."

Manuel menoleh, alisnya bertaut rapat. "Jangan bilang Bapak serius dengan ide gila itu."

Kapten Lopez hanya menghela napas berat. "FBI sudah memberikan profil. Pembunuh ini cerdas. Terlalu cerdas. Satu-satunya orang yang mungkin bisa berpikir seperti dia… adalah dirinya sendiri."

Manuel tertawa sinis, suaranya kasar. "Arthur Rutherford. Pembunuh berantai dengan tujuh belas korban yang terbukti. IQ 168. Dihukum seumur hidup. Dan kita mau membebaskan monster itu hanya demi kasus ini?"

"Bukan dibebaskan sepenuhnya," jawab Kapten Lopez. "Hanya dipinjam. Dengan pengawasan ketat. Kalau dia berhasil, kita usulkan pengurangan hukuman besar. Kalau dia macam-macam… kau boleh tembak dia di tempat."

Manuel menatap foto Anton sekali lagi. Darah di karpet putih penthouse itu terlihat terlalu artistik, terlalu dingin. Seperti seni yang sakit.

"Baiklah," kata Manuel akhirnya, suaranya berat. "Tapi kalau orang itu mulai main-main, aku yang akan jadi orang pertama yang mengembalikannya ke neraka."

Beberapa jam kemudian, di ruang interogasi penjara federal yang dingin dan suram, Arthur Rutherford duduk santai di kursi logam. Kakinya disilangkan dengan tenang, seolah ia sedang menunggu pesanan kopi di kafe, bukan menghadapi tawaran kebebasan sementara.

Wajahnya terlalu tampan untuk ukuran seorang narapidana. Rambut hitamnya yang acak-acakan entah bagaimana tetap terlihat modis. Mata hijau sedingin es dan senyum miring di bibirnya selalu sukses membuat para penjaga penjara merasa tidak nyaman.

Di depannya, Detektif Manuel Vin duduk dengan ekspresi tegang, seolah siap meledak kapan saja.

"Jadi," kata Arthur dengan nada ringan penuh canda, "kalian mau membebaskan pembunuh berantai hanya karena anak orang kaya mati dengan jari di mulutnya sendiri? Lucu juga dunia ini."

Manuel menatapnya tajam. "Kau bukan dibebaskan. Kau dipinjam. Seperti bor listrik. Kalau kau rusak atau bertingkah, aku sendiri yang akan mematikanmu."

Arthur tertawa kecil, suaranya rendah dan santai. "Santai, Detektif Vin. Aku sudah empat tahun di sini tanpa membunuh siapa pun. Rekor pribadi terbaikku. Aku hampir jadi warga teladan."

Manuel mendorong map kasus ke depan Arthur dengan kasar.

"Anton Harrington, 28 tahun. Ditemukan kemarin malam di penthouse-nya. Tidak ada tanda paksa masuk. Keluarga dan staf bersih dari kecurigaan awal. Namun, cara pembunuhnnya… aneh. Profesional, tetapi penuh simbol."

Arthur membuka map itu dengan gerakan lambat, hampir elegan. Matanya menyipit sedikit saat melihat foto mayat. Senyumnya bertahan, tetapi kilatan gelap muncul sekilas di mata hijaunya seperti predator yang baru saja mencium bau darah segar.

"Jari manis di mulut," gumam Arthur. "Si pembunuh sedang bilang, ‘kau terlalu banyak bicara’ atau ‘kata-katamu membunuhmu sendiri’. Ada dendam pribadi di sini. Bukan pembunuhan acak."

Manuel mengernyit. "Kau bisa membaca itu dalam sepuluh detik?"

"Aku bisa membaca lebih banyak dalam sepuluh detik, Detektif," jawab Arthur sambil menutup map. "Termasuk fakta bahwa kau belum tidur nyenyak selama dua hari, istrimu mengancam cerai, dan kau benci orang kaya seperti Harrington karena mengira uang bisa membeli segalanya termasuk keadilan."

Manuel mengepalkan tangan di atas meja. "Tutup mulutmu, Rutherford."

Arthur hanya nyengir lebar, senyum yang terlalu manis untuk situasi seburuk ini. "Oke, oke. Penawarannya apa?"

Manuel menjelaskan syarat-syaratnya dengan dingin. Apartemen khusus di bawah pengawasan, wajib melapor setiap hari, dan hanya boleh bekerja dengannya. Sukses berarti pengurangan hukuman yang signifikan. Gagal berarti kembali ke sel seumur hidup.

Arthur menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit ruangan yang kusam beberapa saat sebelum tersenyum.

"Serius? Kalian mau memakai serigala untuk menangkap serigala lain? Ini bisa jadi film bagus." Ia diam sebentar, lalu menambahkan dengan nada lebih ringan, "Baiklah. Aku terima. Namun, aku punya satu syarat."

"Apa?" tanya Manuel curiga.

"Aku boleh bercanda sesuka hati. Karena kalau aku tidak boleh tertawa saat memecahkan kasus pembunuhan, aku bisa bosan… dan mencari hiburan sendiri."

Manuel menghela napas panjang. Ia tahu ini akan menjadi mimpi buruk terpanjang dalam kariernya.

Malam itu, Arthur akhirnya melangkah keluar dari gerbang penjara federal untuk pertama kalinya dalam empat tahun. Udara New York yang dingin dan bising menyambutnya seperti teman lama yang aneh. Ia mengenakan hoodie hitam dan celana jins sederhana pemberian polisi.

Mobil sedan hitam sudah menunggu di depan. Manuel Vin duduk di balik kemudi dengan wajah yang tetap mengeras.

"Masuk," katanya kasar.

Arthur duduk di kursi penumpang, lalu menoleh ke arah Manuel dengan ekspresi polos yang jelas-jelas dibuat-buat.

"Jadi, Detektif, ceritakan padaku. Anton Harrington itu orang seperti apa? Selain fakta bahwa dia anak orang kaya yang mati dengan cara sangat… kreatif."

Manuel meliriknya sekilas sambil menyalakan mesin mobil. "Kau akan tahu sebentar lagi."

Ia diam sejenak sebelum menambahkan dengan suara rendah yang mengancam, "Namun, ingat satu hal, Rutherford. Kalau kau berani menikmati ini terlalu banyak, atau aku curiga kau punya agenda sendiri, aku akan menembakmu sebelum kau sempat berucap ‘psikologi’."

Arthur tertawa ringan sambil menatap lampu kota yang berlalu di luar jendela.

"Tenang, Manuel. Aku di sini untuk membantu."

Senyumnya memudar sedikit saat ia melanjutkan dengan suara yang hampir menyerupai bisikan pada dirinya sendiri.

"…dan mungkin, untuk pertama kalinya, aku ingin tahu apakah aku masih bisa merasa seperti manusia biasa."

Mobil melaju menembus malam Manhattan, menuju ke penthouse Anton Harrington yang masih disegel garis polisi, sebuah tempat yang menjadi titik awal permainan yang jauh lebih besar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!