NovelToon NovelToon
Cinta Terakhir Untuk Anjani

Cinta Terakhir Untuk Anjani

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:485
Nilai: 5
Nama Author: Naydiendee

Saat remaja, Aldenbashra Gavinda berubah menjadi pemberontak setelah kematian ibunya dan keputusan ayahnya menikah lagi dengan asisten rumah tangga mereka. Kemarahan itu membuatnya menjadi kasar, liar, dan sulit dikendalikan.

Di tengah kekacauan hidupnya, ada Anjani Lestari, gadis cerewet yang selalu mengawasinya atas permintaan ayah Alden. Alden menganggap Anjani menyebalkan dan sengaja menyakitinya dengan ucapan maupun sikap kasar agar gadis itu menjauh. Padahal diam-diam, Alden memendam rasa cinta yang besar pada Anjani, namun terlalu takut dan gengsi untuk mengakuinya.

Bertahun-tahun kemudian, setelah hidupnya mulai tertata, Alden justru dihadapkan pada kenyataan pahit tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Di tengah rasa sakit yang semakin parah dan cinta yang terus tumbuh, Alden terjebak pada pilihan yang menyakitkan: tetap mendekati Anjani dan meninggalkan luka saat ia pergi nanti, atau menjauh demi melindungi wanita yang paling ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naydiendee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Topeng Yang Runtuh

​Namun di balik itu semua, di balik riuhnya tawa yang menggema di ruang makan, dada Alden terasa semakin berat.

​Bukan karena makanan yang baru saja ia paksa telan.

​Melainkan ia tahu alasan sebenarnya di balik hilangnya nafsu makan tersebut.

​Nafsu makannya memang semakin berkurang drastis dalam beberapa waktu terakhir yang merupakan gejala klinis penyakitnya.

​Dan itu bukan sesuatu yang bisa ia jelaskan begitu saja kepada mereka.

Bagaimana mungkin ia merusak keceriaan dan kehangatan malam ini dengan kalimat: Pa, Alden tidak nafsu makan karena tubuh Alden tidak sanggup mencerna makanan apapun.

Justru jika ia berani mengatakan yang sebenarnya, mereka pasti semakin bertambah panik dan sedih. Ia tidak sanggup membayangkannya.

​Ia kembali menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya, lalu berusaha keras menelannya. Gerakan sederhana yang biasanya tak pernah ia pikirkan kini terasa begitu berat. Seolah ada duri-duri halus yang ikut turun bersama setiap suapan, menggores tenggorokan dan menyisakan rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan.

​Namun yang lebih menyakitkan bukanlah rasa perih di tenggorokan atau mual di perutnya.

​Melainkan perhatian tulus yang diberikan kedua orang tuanya kepadanya malam itu.

​Setiap ucapan hangat, setiap tatapan penuh kasih, dan setiap bentuk perhatian kecil yang diberikan kedua orang tuanya justru membuat hati Alden terasa semakin sesak.

Ia tahu mereka hanya ingin memastikan dirinya baik-baik saja, tetapi di saat yang sama ia harus terus berpura-pura kuat di hadapan mereka. Menahan nyeri yang perlahan menggerogoti tubuhnya jauh lebih mudah daripada melihat kecemasan di wajah Papa dan ibu tiri nya.

​Alden menundukkan pandangan, memaksakan satu suapan lagi masuk ke dalam mulutnya.

Ia tidak ingin siapa pun curiga.

Setidaknya malam ini, ia hanya ingin menikmati kehangatan yang masih bisa ia rasakan bersama keluarganya. Mendengar suara mereka, melihat senyum mereka, dan menyimpan semua momen sederhana itu dalam ingatan.

Karena jauh di dalam hatinya, Alden sadar bahwa waktu yang ia miliki mungkin tidak sepanjang yang mereka harapkan.

Namun Alden sudah berjanji pada dirinya sendiri. Rasa sakit yang harus ia tanggung saat ini masih jauh lebih mudah dibandingkan melihat kesedihan dan kecemasan kembali menghiasi wajah kedua orang tuanya.

Karena itu, ia akan terus bertahan. Menyimpan semua keluhan dan rasa sakitnya rapat-rapat, lalu mengenakan senyum yang sama setiap hari, selama ia masih mampu melakukannya.

Ia hanya ingin Papa dan ibu tirinya tetap bisa tertawa, tetap bisa menjalani hari-hari mereka dengan tenang, tanpa dibebani ketakutan yang terus menghantui.

Malam itu pun akhirnya berlalu.

Makan malam keluarga yang hangat dan sederhana bagi orang lain, tetapi bagi Alden terasa seperti satu pertempuran yang harus ia menangkan diam-diam.

Meski begitu, setidaknya ia berhasil melewatinya tanpa membuat siapa pun khawatir.

Setelah makan malam selesai, Alden sempat membantu membereskan meja sebisanya. Meski berkali-kali dilarang oleh Ranti dan diminta langsung beristirahat, ia tetap bersikeras setidaknya mengangkat beberapa piring ke dapur.

Tak lama kemudian, ia berpamitan untuk kembali ke kamarnya.

"Bu, Pa, Alden istirahat dulu ya. Badan agak capek," ujarnya dengan senyum tipis.

Ranti yang melihat wajah anak tirinya tampak sedikit pucat langsung mengangguk.

"Iya, Mas. Istirahat yang banyak. Jangan dipaksakan kalau memang masih lelah."

Pak Armanto turut mengiyakan.

"Kalau ada apa-apa atau butuh sesuatu, panggil saja."

"Iya, Pa."

Alden kemudian berjalan menuju kamarnya dengan langkah tenang.

Namun begitu pintu kamar itu tertutup rapat dan ia yakin tak ada lagi yang memperhatikannya, senyum yang sejak tadi ia pertahankan perlahan menghilang.

Topeng kuat yang ia kenakan sepanjang makan malam akhirnya runtuh. Bahunya sedikit merosot, sementara napas yang sedari tadi ia tahan keluar dalam embusan panjang.

Rasa nyeri yang terus ia tekan di hadapan keluarganya kini kembali mengambil alih, membuat tubuhnya terasa jauh lebih lemah daripada yang ia tunjukkan beberapa menit sebelumnya.

Alden bersandar di balik pintu, lalu perlahan tubuhnya melorot hingga terduduk di lantai yang dingin.

Rasa mual yang sejak tadi ia tahan akhirnya menyeruak. Ia menunduk, terbatuk pelan sambil menekan bagian perut yang kembali dihantam nyeri tajam.

Keringat dingin mulai membasahi pelipis dan tengkuknya. Napasnya terdengar berat dan tidak teratur, berusaha bertahan melewati gelombang sakit yang datang silih berganti tanpa belas kasihan.

Di dalam kamar yang hangat dan nyaman itu, Alden menggigit bibirnya kuat-kuat.

Ia menahan setiap suara yang nyaris lolos dari tenggorokannya.

Ia tidak ingin siapa pun mendengar.

Tidak ingin orang tuanya datang mengetuk pintu karena khawatir.

Pandangannya kemudian jatuh ke cermin di sudut ruangan.

Untuk beberapa saat, ia hanya menatap pantulan dirinya sendiri.

Wajahnya tampak jauh lebih pucat dibanding beberapa bulan lalu. Lingkar samar di bawah matanya semakin jelas, sementara sorot mata yang biasanya hidup kini terlihat lelah.

Alden terdiam.

Baru saat itu ia menyadari betapa keras tubuhnya telah berjuang selama ini, bahkan ketika ia terus memaksa diri untuk terlihat baik-baik saja di hadapan semua orang.

"Kuat, Alden..."

Suaranya terdengar parau, nyaris tenggelam dalam keheningan kamar.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin, mencoba meyakinkan sosok yang terlihat rapuh di hadapannya.

"Kamu harus kuat."

Kelopak matanya bergetar sesaat.

"Jangan sekarang... jangan menyerah sekarang."

Ia menarik napas pendek, lalu mengembuskannya perlahan meski rasa nyeri masih mencengkeram perutnya.

"Ini baru permulaan," lanjutnya pelan.

"Kamu harus bisa menahan semuanya sampai akhir demi mereka."

Sudut bibirnya bergerak tipis, membentuk senyum yang lebih mirip kepedihan.

"Jangan buat mereka sedih lagi. Jangan buat mereka menangis lagi karena kamu."

Tenggorokannya terasa tercekat.

Untuk beberapa saat, ia hanya menatap bayangannya sendiri di cermin. Seolah sedang berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia masih cukup kuat untuk menjalani hari-hari yang akan datang, seberat apa pun itu.

Dengan sisa tenaga yang masih ia miliki, Alden bangkit lalu berjalan terhuyung menuju ranjangnya.

Ia merebahkan tubuh perlahan di atas kasur yang empuk, menarik selimut hingga menutupi dada, lalu memejamkan mata rapat-rapat.

Napasnya berusaha diatur setenang mungkin, meski detak jantungnya masih berdebar tidak beraturan dan nyeri yang semula berpusat di perut kini menjalar hingga ke punggung.

Malam itu, Alden kembali memahami satu hal.

Ternyata, mempertahankan senyum di tengah rasa sakit jauh lebih melelahkan daripada membiarkan diri menangis dalam diam.

Namun Alden telah menetapkan hatinya. Apa pun yang terjadi, senyum dan kebahagiaan orang-orang yang ia cintai harus tetap menjadi yang utama.

Jika kebahagiaan itu harus dibayar dengan rasa sakit yang ia tanggung sendirian, maka ia akan menjalaninya tanpa keluhan.

Perlahan, kelelahan yang menumpuk sejak pagi, baik fisik maupun batin, akhirnya mengalahkan sisa kesadarannya.

Kelopak matanya terasa semakin berat hingga tak sanggup lagi bertahan.

Malam itu, Alden pun terlelap dalam tidur yang panjang dan gelisah, seolah tubuhnya sedang memaksa dirinya beristirahat setelah terlalu lama berjuang.

Setidaknya untuk beberapa jam ke depan, tidur menjadi satu-satunya jeda yang bisa ia berikan bagi raga dan hatinya yang terus bertahan dalam diam.

bersambung...

1
Wawan
wow...
naydiendee
makasih 😍
bantu follow dan baca ya🙏
Wawan
Menarik 💪✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!