NovelToon NovelToon
My Love Never Left

My Love Never Left

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Zanesa

Alexander Kingsley pernah menjadi seluruh dunia bagi Aurora Quinn. Pria itu mencintainya tanpa syarat dan berjanji menjadikannya bagian dari masa depannya.

Namun tanpa peringatan, Aurora
menghancurkan semuanya. Ia berubah, menjauh, menyakiti Alexander, lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu, Alexander membencinya.

​Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun Alexander yang dulu hangat telah menghilang, berganti menjadi CEO muda yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Tatapan penuh cintanya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.

​Sementara Aurora harus menghadapi pria yang tidak pernah tahu bahwa selama lima tahun ini, ia hidup dengan luka yang sama.

​Ada rahasia dan kebenaran yang disembunyikan. Ada alasan mengapa Aurora memilih menjadi wanita paling jahat dalam kisah mereka.

​"Jika suatu hari kau mengetahui alasan aku pergi, apakah kau masih sanggup membenciku, Alexander?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zanesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Sabtu sore akhirnya tiba.

Sejak terbangun di pagi hari, Aurora Quinn sudah merasakan ada debaran emosi yang berbeda di dalam dadanya. Hal itu bukan karena cuaca New York yang sedang cerah, juga bukan karena hari ini adalah hari libur kuliahnya. Semua itu murni terjadi karena sore ini ia telah berjanji untuk pergi menghabiskan waktu bersama Alexander Kingsley.

Entah mengapa, kenyataan itu sukses membuat seluruh tubuhnya didera rasa gugup yang luar biasa.

"Aku ini sebenarnya kenapa sih..." gumam Aurora gelisah pada dirinya sendiri sambil berdiri mematung di depan lemari pakaiannya.

Ia bahkan sudah berganti padu padan baju sampai tiga kali berturut-turut. Padahal, biasanya Aurora adalah tipe gadis cuek yang sama sekali tidak pernah ambil pusing soal penampilan luarnya.

"Tenang, Aurora. Ini cuma jalan-jalan biasa, nggak lebih," ucap Aurora mencoba menenangkan detak jantungnya yang kian berpacu liar di balik dadanya. Namun tetap saja, usaha itu sia-sia.

---

Tepat pukul empat sore, ponsel di genggamannya bergetar nyaring.

Alexander:

"Aku sudah sampai di bawah, di depan lobi apartemenmu."

Aurora langsung menegakkan tubuhnya dengan tegang. "Dia benar-benar tepat waktu..." bisik Aurora.

Ia segera meraih tas selempang kecilnya, lalu melangkah cepat menuruni anak tangga menuju lobi lantai dasar. Begitu melangkah keluar dari pintu gedung apartemen, pandangan mata Aurora langsung terkunci pada sosok Alexander yang sedang berdiri bersandar di samping mobil hitam mewah miliknya.

Pria itu tampil sangat kasual, hanya mengenakan kaus putih polos yang dilapisi dengan jaket hitam serta celana jin senada. Penampilannya terlihat santai, tetapi aura karismatik yang dipancarkannya tetap membuat Alexander terlihat sangat tampan.

Aurora buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain dengan gugup. "Kenapa juga dia harus kelihatan setampan itu di depan umum..." batin Aurora meratapi pertahanan hatinya yang mulai goyah.

Alexander mengulas senyum lebar begitu menyadari kehadiran gadis yang ditunggunya. "Hei, Coffee Girl," sapa Alexander ramah.

Aurora mendengus sebal mendengar panggilan itu. "Aku punya nama asli, tahu," protes Aurora.

"Aku tahu namamu," sahut Alexander enteng.

"Lalu kenapa kamu masih terus saja memanggilku dengan sebutan Coffee Girl?" tanya Aurora menuntut penjelasan.

Alexander melangkah maju dan membukakan pintu mobil di sebelah kemudi secara khusus untuk Aurora. "Karena aku suka memanggilmu begitu," jawab Alexander lembut sembari mempersilakannya masuk.

Aurora hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah melihat tingkah mutlak pria itu, lalu ia melangkah masuk ke dalam mobil.

---

Sepanjang perjalanan membelah jalanan kota, suasana di dalam mobil sama sekali tidak terasa canggung. Mereka terus-menerus mengobrolkan banyak hal, mulai dari kehidupan perkuliahan di kampus, keluh kesah pekerjaan paruh waktu Aurora di kafe, cerita masa kecil mereka masing-masing, hingga hal-hal acak lainnya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Aurora merasa bisa sangat nyaman dan terbuka saat berbicara dengan seseorang yang baru dikenalnya. Tanpa terasa, mobil mewah itu akhirnya berhenti di area parkir Central Park.

Begitu turun dari mobil dan melihat hamparan taman hijau yang luas di depannya, mata Aurora langsung membelalak takjub. "Wah... luas banget," puji Aurora spontan.

Alexander tersenyum tipis melihat binar kekaguman di wajah gadis itu. "Kamu belum pernah berkunjung ke sini sebelumnya?" tanya Alexander heran.

Aurora menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban. "Belum pernah sama sekali," aku Aurora.

Alexander tampak terkejut mendengar pengakuan itu. "Serius? Kamu kan sudah dua tahun tinggal di New York?" tanya Alexander memastikan.

Aurora tertawa kecil, sebuah tawa hambar yang menyembunyikan rasa lelahnya. "Aku nggak punya banyak waktu luang atau uang ekstra cuma buat sekadar jalan-jalan menikmati kota, Alex," jelas Aurora apa adanya.

Alexander terdiam seribu bahasa selama beberapa detik. Entah kenapa, jawaban jujur dari Aurora barusan mendadak membuat hatinya terasa sedikit sesak. Ia sadar, Aurora menjalani realitas kehidupan yang jauh lebih berat dan keras dibanding dirinya yang serba berada. Namun hebatnya, gadis di sampingnya ini tidak pernah sedetik pun mengeluh.

---

Mereka kemudian mulai berjalan santai menyusuri jalanan setapak di dalam taman. Mereka menghabiskan waktu bersama dengan menonton pertunjukan seni dari musisi jalanan, mengantre untuk membeli es krim cone, bahkan duduk di tepi danau sambil memberi makan kawanan burung merpati.

Aurora tertawa lepas berkali-kali sepanjang sore itu. Dan setiap kali melodi tawa Aurora terdengar, Alexander diam-diam selalu terpaku dan memperhatikannya dengan lekat. Sebab di mata Alexander, Aurora terlihat paling cantik dan memikat justru di saat gadis itu sedang tersenyum dengan tulus tanpa beban.

---

Saat sore perlahan menjelang malam, mereka berdua memutuskan untuk duduk beristirahat di salah satu bangku taman yang menghadap ke arah barat, menikmati pemandangan langit New York yang perlahan berubah warna menjadi jingga keunguan.

Aurora menatap lurus ke depan dengan pandangan kagum. "Indah sekali matahari terbenamnya," puji Aurora lirih.

Alih-alih menatap langit, Alexander justru memutar kepalanya dan menatap lekat-lekat pada profil wajah Aurora dari samping. "Iya, sangat indah," sahut Alexander dengan nada suara yang dalam.

Aurora sama sekali tidak menyadari arah pandangan pria itu karena ia masih terlalu sibuk mengagumi panorama alam di depannya. "Alexander," panggil Aurora tiba-tiba memecah keheningan.

"Hm? Ada apa?" tanya Alexander menyahut lembut.

"Sebenarnya... apa impian terbesar dalam hidupmu?" tanya Aurora penasaran.

Alexander seketika terdiam. Belum pernah ada satu orang pun di dalam lingkaran sosialnya yang menanyakan hal personal seperti itu kepadanya. Biasanya, orang-orang di sekitarnya hanya akan bertanya soal perkembangan bisnis, pembagian warisan, atau total kekayaan keluarganya—bukan tentang apa yang menjadi impian pribadinya.

"Aku... nggak tahu," jawab Alexander jujur dengan senyuman pahit yang terukir di bibirnya.

Aurora menolehkan kepalanya, menatap Alexander dengan dahi berkerut bingung. "Hah? Bagaimana bisa kamu nggak tahu?" tanya Aurora heran.

Alexander menghela napas panjang lalu menjelaskan, "Sejak aku masih kecil, semua orang di sekitarku sudah menentukan bagaimana masa depanku harus berjalan."

Aurora terdiam dan memusatkan seluruh perhatiannya pada penuturan pria di sampingnya itu.

"Aku harus menjadi penerus takhta keluarga, aku harus memimpin jalannya perusahaan besar, dan aku dituntut untuk selalu tampil sempurna tanpa cela di depan publik," tutur Alexander pelan.

Untuk pertama kalinya, Aurora bisa melihat gumpalan kesepian dan beban berat yang tersembunyi di balik senyuman menawan milik Alexander. Di detik itu pula ia akhirnya menyadari satu hal penting: terlahir di keluarga kaya raya tidak selalu menjamin seseorang bisa merasakan kebahagiaan yang utuh.

"Aku rasa..." Aurora membuka suara dengan ragu.

Alexander menoleh dan menatap matanya. "Apa?" tanya Alexander.

"Kamu juga berhak untuk memilih jalannya kebahagiaanmu sendiri, Alex. Jangan cuma hidup demi memenuhi ekspektasi orang lain," ucap Aurora dengan nada tulus yang menenangkan.

Alexander membeku di tempatnya duduk. Kalimat sederhana yang meluncur dari bibir Aurora barusan terasa begitu menghujam dan sangat berarti bagi hatinya yang gersang. Sebab seumur hidupnya, belum pernah ada satu orang pun yang mengatakan hal selembut itu kepadanya.

---

Malam harinya, sebelum mereka benar-benar memutuskan untuk pulang, Alexander mengajak Aurora mampir sebentar ke sebuah kedai kopi untuk membeli minuman hangat.

Saat menerima segelas kopi dari tangan barista, Aurora tiba-tiba tertawa kecil sendirian.

Alexander mengangkat sebelah alisnya heran melihat tingkah tersebut. "Kenapa kamu tertawa?" tanya Alexander bingung.

Aurora mengangkat gelas kopinya ke udara, lalu menunjuknya di depan wajah Alexander. "Nggak apa-apa, cuma terasa lucu aja kalau dipikir-pikir kembali," jawab Aurora geli.

"Lucu kenapa?" tanya Alexander lagi.

"Kita berdua bisa saling kenal seperti sekarang kan awalnya gara-gara insiden tumpahan kopi," jelas Aurora dengan senyum manisnya. "Kalau hari itu aku nggak ceroboh dan menumpahkan kopi panas ke jas mahalmu, mungkin kita nggak akan pernah duduk bersama di sini malam ini."

Alexander tertegun, lalu ia ikut tertawa renyah. "Benar juga, kamu ada benarnya," aku Alexander setuju.

Alexander kemudian menatap wajah Aurora dengan pandangan yang begitu dalam dan intens selama beberapa saat—sebuah tatapan yang entah kenapa langsung membuat atmosfer di antara mereka berubah menjadi intim dan sukses membuat Aurora salah tingkah.

"Kenapa kamu melihatku dengan tatapan seperti itu, Alex?" tanya Aurora gugup sambil memalingkan wajahnya yang mulai memerah.

Alexander tersentak dari lamunannya, lalu ia segera berdehem pelan dan mengulas senyum tipis. "Nggak ada apa-apa, kok," kelit Alexander berbohong.

Padahal, kenyataan yang terjadi di dalam hatinya justru sebaliknya. Ada banyak sekali hal yang ingin ia katakan, dan seluruh isi pikirannya malam ini sepenuhnya hanya berputar pada satu nama: Aurora.

---

Saat mengantarkan Aurora kembali ke gedung apartemennya malam itu, Alexander merasakan ada sebuah debaran dan perubahan besar yang terjadi di dalam hatinya—sebuah rasa baru yang kini sudah tidak bisa lagi ia abaikan atau sangkal keberadaannya.

Begitu sosok Aurora sudah menghilang di balik pintu masuk lobi, Alexander tidak langsung menjalankan mobilnya. Ia memilih untuk tetap duduk diam di balik kemudi, menatap ke arah jendela kamar apartemen Aurora di lantai atas yang perlahan mulai menyala terang.

Tanpa sadar, seulas senyuman tulus terukir di wajah tampan Alexander. Untuk pertama kalinya di dalam hidupnya yang monoton dan membosankan, ia merasa begitu bersemangat untuk menantikan datangnya hari esok. Semua itu terjadi karena sekarang, ia memiliki sosok berharga yang ingin ia temui kembali—seseorang yang telah berhasil membuat dunianya yang dingin terasa jauh lebih hangat.

Seseorang itu bernama... Aurora Quinn.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!