NovelToon NovelToon
Talak Setelah Akad

Talak Setelah Akad

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: YePeEs

Hari pernikahan yang harusnya menjadi hari paling bahagia bagi Zara sketika menjadi mimpi buruk, ia di talak oleh suaminya satu jam setelah akad pernikahan.
zara mendapatkan fitnah dari seseorang yang mistrius, hingga menhancurkan hidupnya. Zara mulai membangun hidupnya dengan menjauh dari keluarganya yang mengusir dirinya.
bagaimana perjuangan Zara setelah Di talak dihari pernikahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YePeEs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

​Suara jangkrik di luar jendela kamar tamu asrama putri malam itu terdengar nyaring. Zara duduk meringkuk di atas kasur kapuknya, memeluk lutut dengan ponsel pintar menyala di genggaman. Jantungnya berdegup agak kencang saat mengetuk ikon telepon.

​"Halo, Dit? Ini aku, Zara."

​"Astaga, Zara! Ini kamu beneran?! Gila ya kamu, ke mana aja sih?! Ponsel dimatiin terus kayak buronan!" Suara pekikan Dita di seberang sana langsung membuat Zara menjauhkan ponsel dari telinganya.

​Zara terkekeh kecil, air matanya hampir menetes karena rindu. "Maaf, Dit. Aku sengaja. Aku cuma butuh waktu buat menenangkan diri. Kamu gimana kabarnya di Jakarta?"

​"Aku baik, tapi kamunya yang bikin jantungan! Gimana di sana? Kamu gak telantar di kaki gunung, kan?"

​"Nggaklah, ih! Di sini tenang banget, Dit. Abah Mukhlas sekeluarga baiknya luar biasa. Malah sekarang aku punya kesibukan baru."

​"Hah? Kesibukan apa? Jangan bilang kamu jadi peternak domba ya, Zar?"

​"Sembarangan! Aku ikut mengaji tiap subuh, terus siangnya ikut bantu-bantu mengajar anak-anak di madrasah ibtidaiyah. Seru tahu!"

​"Serius? Gila, seorang Zara Amanta mengajar anak-anak SD di desa? Aku gak salah dengar, kan? Terus... ada cowok ganteng gak di sana?"

​Zara mendadak terdiam. Wajah tengil Fahri langsung terlintas di otaknya tanpa permisi. "Duh, boro-boro cowok ganteng, Dit. Ada satu santri senior namanya Fahri, rese banget! Mulutnya kayak ember bocor, hobinya nyari ribut sama aku tiap hari."

​"Cie... biasanya nih ya, yang awalnya rese itu bakal berakhir jadi jodoh. Hati-hati, Zar!"

​"Amit-amit, Dit! Gak bakal! Ya udah, aku cuma mau kasih kabar aja kalau aku aman di sini. Aku matiin lagi ya ponselnva, ngeri."

​"Iya, iya. Jaga diri ya, Zar. Kabari aku kalau si Fahri itu mulai macam-macam!"

​Zara menutup telepon dengan senyuman yang terukir di bibirnya. Perasaannya jauh lebih ringan malam itu.

​Keesokan paginya, matahari Cisayong bersinar cerah. Zara diminta Umil menemani Lilis berbelanja bumbu dapur ke pasar kecamatan. Sialnya, sepulang dari pasar dengan dua kantong kresek besar di tangan, mereka harus melewati pangkalan ojek di pertigaan Cipari.

​"Eh, tingali... aya mojang geulis. Tapi mukana jiga familiar nya?" celetuk seorang pemuda berjaket jins yang sedang nongkrong di atas motornya.

​"Lah? Iya bener! Heh, itu kan cewek yang di video viral itu, kan? Yang pernikahannya batal gara-gara... itu!" timpal pemuda satunya sambil tertawa lepas.

​Zara seketika membeku. Darahnya berdesir dingin. Tangannya yang memegang kantong kresek gemetar hebat.

​"Neng, bener Neng Zara yang di video itu? Wah, aslinya lebih bening ya. Kok bisa main di hotel sama cowok lain sebelum nikah? Sini atuh main sama kita-kita juga," panggil pemuda berjaket jins dengan nada meledek yang menjijikkan.

​Lilis yang ada di samping Zara langsung melotot. "Heh! Jaga mulut teh ya! Tong sagawayah ngomong!" (Heh! Jaga mulut itu ya! Jangan sembarangan ngomong!)

​"Alah, Lilis... maneh mah sok membela. Itu kan emang cewek kota yang kotor, buangan dari Jakarta! Mau sembunyi di pesantren pula, najis!" Tawa para pemuda ojek itu pecah bersahutan.

​Air mata Zara sudah mengambang di pelupuk mata. Rasa sesak dan ketakutan malam pengusiran itu mendadak menghentak dadanya kembali. Ia ingin lari, tapi kakinya lemas.

​"Wah, rame-rame ada apa nih? Mau bagi-bagi bansos ya?"

​Sebuah suara bariton yang sangat familiar tiba-tiba memecah ketegangan. Dari arah belakang, Fahri muncul sambil menuntun motor bebek tuanya. Peci hitamnya masih terpasang miring, tapi tidak ada senyum tengil di wajahnya kali ini. Matanya dingin, menatap lurus ke arah pemuda ojek yang paling lantang tertawa tadi.

​"Eh, A Fahri... nggak, ini cuma lagi kenalan sama teman Lilis," sahut pemuda berjaket jins, mendadak salah tingkah.

​Fahri menghentikan motornya tepat di antara Zara dan para pemuda itu. Ia turun dari motor, lalu dengan santai merebut dua kantong kresek besar dari tangan Zara yang gemetar.

​"Kenalan? Gaya kenalan kalian kok mirip monyet kelaparan ya? Berisik banget," sindir Fahri santai, tapi nadanya menusuk.

​"Maksud A Fahri apa? Kita kan cuma ngomongin fakta yang ada di internet!" tantang salah satu pemuda ojek, mulai kesal.

​Fahri maju satu langkah, menatap pemuda itu dengan santai namun intimidatif. "Fakta internet? Oh, yang kuotanya kalian beli pakai hasil minta ke emak kalian itu? Dengar ya, Kang ojek yang terhormat... wanita yang kalian sebut 'buangan' ini, tiap hari ngajarin anak-anak kalian di madrasah biar gak goblok kayak bapaknya. Jadi, kalau mulut kalian gak bisa dipakai buat dzikir, minimal dipakai buat ngunyah sandal jepit biar diam."

​"Hah?! Wah, nantangin nih orang!" Pemuda berjaket jins itu berdiri, bersiap maju.

​"Lah? Mau berantem?" Fahri malah terkekeh, menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aduh, maaf ya, saya gak level berantem sama orang yang sabun mandinya masih berbagi sama keluarga. Tapi kalau mau coba, silakan. Kebetulan sendi-sendi saya agak kaku habis ngaji semalaman."

​Melihat gestur Fahri yang begitu tenang dan tidak ada rasa takut sedikit pun, para pemuda ojek itu saling lirik. Mereka tahu betul kalau Fahri adalah pelatih pencak silat anak-anak remaja di desa tersebut.

​"T-tsah... awas aja maneh, Fahri!" ancam pemuda berjaket jins itu sambil mundur, memilih naik kembali ke motornya dengan wajah memerah menahan malu karena jadi tontonan warga sekitar.

​"Heh, jalan yang bener. Malah melamun lagi. Nanti nabrak tiang listrik, saya malas nolonginnya."

​Zara tersentak dari lamunannya. Mereka bertiga kini sudah berjalan memasuki area jalan berbatu menuju pesantren. Lilis berjalan agak jauh di depan, sengaja memberi ruang.

​"Fahri..." panggil Zara lirih. "Makasih ya."

​"Makasih buat apa? Kantong kresek ini berat tahu. Nanti sampai pesantren, kamu harus gantiin dengan buatin saya kopi hitam tanpa gula," sahut Fahri, kembali ke mode tengilnya yang menyebalkan.

​"Ih, serius tahu! Makasih udah belain saya tadi," Zara merengut, walau hatinya merasa sangat hangat. "Tapi... kamu gak malu belain perempuan kayak saya? Yang dibilang kotor sama mereka?"

​Fahri menghentikan langkahnya. Ia menoleh, menatap Zara lekat-lekat. Kilat jenaka di matanya hilang, digantikan oleh keseriusan yang membuat jantung Zara berdegup tidak karuan.

​"Zara, di mata Allah, yang kotor itu bukan orang yang punya masa lalu kelam, tapi orang yang hobi mengumbar aib sesamanya sambil merasa paling suci," ucap Fahri lembut. "Lagian, siapa yang berani bilang kamu kotor? Sini biar saya colok matanya pakai cabai rawit sisa belanjaan ini."

​Zara tertegun, lalu detik berikutnya tawa renyahnya pecah. "Ya ampun, Fahri! Bisa gak sih seriusnya agak lamaan dikit? Merusak suasana banget!"

​"Lah, saya serius tahu! Oh ya, satu lagi..." Fahri kembali berjalan sambil menenteng kresek. "Mulai besok, kalau mau ke pasar harus sama saya. Biar gak ada monyet-monyet pangkalan yang berani mengganggu barang berharga milik pesantren."

​"Barang berharga?" Zara menaikkan sebelah alisnya, heran.

​"Iya, kan nama kamu Zara Amanta, artinya bunga yang berharga. Jadi kesimpulannya, kamu itu aset pesantren yang harus dijaga ketat oleh tangan kanan Abah yang paling tampan ini," ucap Fahri percaya diri sambil mengedipkan sebelah matanya.

​"Duh! Pede banget! Siapa juga yang mau dijaga sama dosen KW kayak kamu!" semprot Zara dengan wajah yang mendadak memerah panas seperti udang rebus.

​Fahri tertawa lepas melihat reaksi salah tingkah Zara. Mereka terus berjalan beriringan di bawah naungan pohon bambu yang rindang. Namun, kedamaian kecil itu mendadak terusik saat mereka berdua sampai di gerbang depan pesantren.

​Di halaman yang biasanya sepi, terlihat sebuah mobil mewah bernomor polisi Jakarta terparkir rapi di depan rumah Abah Mukhlas.

​"Eh? Mobil siapa itu, Fahri? Kok pelatnya 'B'?" tanya Zara dengan perasaan yang tiba-tiba mendadak tidak enak.

​Fahri mengernyitkan dahi, menatap mobil itu dengan saksama. "Gak tahu. Gak biasanya ada tamu mobil mewah dari kota jam segini."

​Belum sempat mereka melangkah lebih dekat, pintu rumah Abah Mukhlas terbuka. Umil keluar dengan wajah yang sangat pucat, matanya langsung mencari keberadaan Zara di halaman.

​"Teh Zara! Alhamdulillah Teteh udah pulang!" seru Umil setengah berlari menghampiri mereka dengan napas terengah-engah.

​"Ada apa, Mil? Kok panik gitu?" tanya Zara, firasat buruknya mulai bangkit.

​"Di... di dalam ada tamu, Teh. Tamunya nyariin Teteh. Katanya mereka tahu Teteh ada di sini dari panggilan telpon" ujar Umil terbata-bata karena takut. "Ada dua orang pria, Teh. Yang satu orang tua mukanya galak banget, yang satu lagi pemuda ganteng tapi auranya serem."

​Mendengar kalimat Umil, dua kantong kresek di tangan Fahri mendadak terasa seperti batu runtuh. Wajah Zara seketika memucat, seluruh tubuhnya melemas.

​Ayah... dan Reza? Bagaimana bisa?!

​Dari balik pintu rumah Abah Mukhlas yang terbuka, sesosok pria paruh baya berpakaian rapi melangkah keluar, diikuti oleh seorang pemuda yang sangat dikenal Zara. Tatapan tajam kedua pria itu langsung mengunci posisi Zara yang berdiri kaku di tengah halaman. Pelariannya di kaki gunung, kini resmi terancam hancur berantakan.

1
Anonim
❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!