Aluna Anna harus menelan kenyataan pahit ketika ibunya, Yusi, memaksanya mengakhiri rencana pernikahan dengan pria yang sangat dicintainya, seorang dokter muda bernama Alvaro Alexander. Di balik keputusan itu tersimpan keinginan Yusi yang dianggap lebih penting daripada kebahagiaan putrinya sendiri: ia ingin Alvaro menikahi Elizabets, adik Anna yang hidup dengan keterbatasan fisik, dengan harapan sang dokter dapat merawat dan membantu kesembuhannya.
Keputusan tersebut menghancurkan hati Anna dan Alvaro. Cinta yang telah mereka bangun harus dikorbankan demi tuntutan keluarga dan rasa tanggung jawab. Di tengah luka dan air mata, Anna berusaha menerima nasib yang tidak pernah ia pilih, sementara Alvaro terjebak antara cinta sejatinya dan kewajiban yang dipaksakan kepadanya.
Namun, ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap, mereka menyadari bahwa cinta sejati tidak mudah dipisahkan oleh keadaan. Mampukah Anna dan Alvaro memperjuangkan kebahagiaan mereka, atau akankah mereka selamanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meindah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 28
Malam menyelimuti rumah keluarga Yusi dengan kesunyian yang terasa menyesakkan. Hujan gerimis yang turun sejak senja seolah menjadi saksi hancurnya harapan seorang wanita yang selama ini memendam cinta.
Di balik pintu kamar yang tertutup rapat, Eliz terduduk di lantai sambil memeluk lututnya. Kedua matanya sembab, pipinya basah oleh air mata yang tak kunjung berhenti mengalir. Ponselnya masih menampilkan pesan yang membuat dunianya runtuh.
"Alvaro berangkat malam ini untuk melanjutkan pendidikan spesialisnya di luar negeri."
Pesan singkat itu terasa seperti pisau yang mengoyak hatinya.
"Kenapa harus pergi sementara kami akan menikah?" lirih Eliz dengan suara bergetar. "Apa aku memang tidak pernah berarti bagimu, Al?"
Tangisnya pecah kembali. Semua rencana yang selama ini ia bangun di dalam angannya hancur dalam sekejap. Gaun pengantin yang pernah ia bayangkan, rumah tangga yang ia impikan, bahkan panggilan "istri" yang ingin ia sandang bersama Alvaro kini tinggal mimpi.
Di ruang tengah, Yusi mondar-mandir dengan wajah penuh kecemasan. Sejak sore putrinya mengurung diri dan menolak makan.
"Eliz... buka pintunya, Nak. Mama bawa makanan kesukaanmu," ucap Yusi lembut sambil mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara isak tangis yang terdengar dari balik pintu.
"Eliz, jangan begini. Mama khawatir."
Beberapa saat kemudian terdengar suara lirih.
"Aku tidak lapar, Ma... biarkan aku sendiri."
Yusi mengembuskan napas panjang. Hatinya ikut remuk melihat putri semata wayangnya menderita seperti itu.
Keesokan paginya keadaan Eliz tidak juga membaik. Semalaman ia menangis hingga matanya bengkak dan tubuhnya mulai lemas karena tidak menyentuh makanan sedikit pun.
"Kalau kamu terus begini, kamu yang akan sakit," bujuk Yusi sambil menyodorkan semangkuk bubur hangat.
Eliz hanya menggeleng pelan.
"Aku tidak sanggup, Ma."
Yusi memegang tangan putrinya yang terasa dingin. Ada amarah yang perlahan muncul di dalam dadanya.
"Seandainya Anna tidak muncul lagi..."
Kalimat itu terhenti begitu saja.
Yusi memejamkan mata.
Ia sadar, menyalahkan Anna bukanlah jawaban.
Anna bahkan tidak pernah meminta Alvaro kembali. Keputusan Alvaro pergi ke luar negeri pun murni berasal dari dirinya sendiri.
"Maafkan Mama sudah berpikir seperti itu," gumam Yusi dalam hati.
"Ini bukan salah Anna. Tidak adil jika aku menuduhnya.
Yusi kembali menatap Eliz yang masih memandangi jendela dengan tatapan kosong.
"Yang salah bukan Anna, Nak. Mungkin memang Alvaro belum bisa membuka hatinya untuk siapa pun."
Eliz tersenyum pahit.
"Kalau begitu... kenapa aku yang harus merasakan sakit sebesar ini?"
Tak ada jawaban.
Yusi hanya memeluk putrinya erat.
" Mama mungkin berpikir aku egois," kata Eliz, disela tangisnya.
" Tidak, Sayang. Mama tahu kalau hatimu begitu lembut.
" Lantas, kenapa Alvaro tidak pernah melirikku, Ma. Berbeda dengan Anna, Alvaro begitu memujanya.
***
Anna menarik napas panjang. Malam itu begitu sunyi. Hanya suara gesekan dedaunan yang diterpa angin dan nyanyian jangkrik yang terdengar dari luar rumah. Jarum jam dinding telah menunjukkan pukul sebelas malam ketika...
Tok... tok... tok...
Suara ketukan pintu memecah keheningan.
Anna yang sedang membaca buku langsung menghentikan kegiatannya. Kepalanya menoleh ke arah pintu utama. Ia mempertajam pendengaran, memastikan bahwa suara itu bukan sekadar halusinasi.
Ia mengembuskan napas lega.
Namun, beberapa detik kemudian...
Tok... tok... tok...
Kali ini terdengar lebih keras.
Jantung Anna berdegup semakin cepat. Berbagai kemungkinan buruk memenuhi pikirannya.
"Siapa malam-malam begini datang bertamu?" gumamnya lirih.
Dengan langkah pelan, Anna meraih gagang sapu yang berada di sudut ruang tamu. Bukan untuk menyerang, melainkan berjaga-jaga jika sesuatu yang buruk benar-benar terjadi.
Setiap langkah menuju pintu terasa begitu berat. Semakin dekat, suara napasnya semakin terdengar jelas. Telapak tangannya mulai berkeringat.
Ia berhenti tepat di depan pintu.
Tak langsung membukanya. Lima menit lamanya Anna berdiri membeku, berharap tamu misterius itu pergi begitu saja. Namun, seseorang di luar masih setia menunggu.
Perlahan, ia membuka sedikit daun pintu.
Begitu wajah orang itu terlihat, mata Anna membelalak lebar. Napasnya tercekat. Jantungnya berdetak tak beraturan.
"Ka... kamu?" bisiknya nyaris tak bersuara.
Orang di hadapannya tersenyum tipis. Tatapannya masih sama seperti sebelum ia merebut segalanya.
"Ada apa kamu menemuiku?" tanya Anna dengan suara dingin. Jemarinya mencengkeram gagang pintu begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Orang itu menyilangkan tangan di dada, lalu menyunggingkan senyum penuh teka-teki.
"Kaget?" tanyanya santai.
Anna tidak menjawab. Tubuhnya justru mundur selangkah. Ia masih sulit mempercayai apa yang sedang dilihatnya.
"Seharusnya kamu tidak datang ke sini," ucap Anna.
"Kenapa? Karena kamu berhasil menghancurkan hidupku?"
" Bukankah kamu yang merebut kebahagiaanku yang sudah di depan mata." Ucap Anna.
" Oh, jadi kamu balas dendam. Kamu sengaja muncul di depan Alvaro agar dia meninggalkan aku.
" Kepergian Alvaro tidak ada hubungannya denganku.
" Lalu, kenapa tatapanmu terlihat tidak bahagia?"
"Bukan... tapi karena kehadiranmu hanya akan membawa masalah."
Orang itu menghela napas panjang. Sorot matanya berubah sendu.
"Aku tidak datang untuk mengganggu hidupmu"
"Lalu?"
"Aku datang untuk mengatakan sesuatu yang seharusnya sudah kusampaikan sebelumnya."
" Omong kosong," sinis Anna.
" Lebih baik kamu pergi dari rumahku," ucap Anna.
Widya yang menginap di rumah kontrakan Anna terbangun ketika mendengar suara percakapan temannya. Rasa penasarannya membuat ia bangkit dari tempat tidur dan mengintip dari balik celah pintu kamar. Cahaya lampu teras yang temaram menampakkan siluet dua orang wanita yang saling berhadapan.
"Siapa wanita itu?" gumam Widya lirih, berusaha mengingat apakah ia pernah melihat sosok tersebut sebelumnya. Namun wajah wanita itu terasa asing. Penampilannya yang begitu kacau, tetapi sorot matanya dipenuhi kebencian, seolah menyimpan banyak rahasia.
Widya mengalihkan pandangannya kepada Anna. Seketika dahinya berkerut.
"Kenapa tatapan Anna begitu tajam padanya?" bisiknya penuh heran.
Setahu Widya, sahabatnya itu selalu bersikap lembut kepada siapa pun. Anna adalah wanita yang murah senyum, ramah, dan hampir tak pernah terlihat marah. Namun malam itu, wajahnya berubah dingin. Tatapannya penuh kewaspadaan, bahkan seakan menyimpan luka yang belum pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Suasana di teras mendadak hening. Hanya suara angin malam yang menyelinap di sela dedaunan, membuat bulu kuduk Widya meremang.
" Katakan, apa tujuanmu?
Wanita itu tersenyum tipis. Senyum yang justru membuat suasana semakin mencekam.
"Aku ingin bernegosiasi denganmu. Suruh Alvaro kembali.
Anna mengepalkan kedua tangannya, seolah berusaha menahan emosi yang selama ini ia pendam.
" Sejak saat itu, aku memutuskan untuk tidak lagi berurusan dengan Alvaro maupun keluarganya. Jadi, kalau kamu ingin mencari Alvaro, jangan cari di sini..
" Aku lihat...kamu semakin berani.
" Jangan campuri urusanku. Mengerti.
Wanita itu menatap Anna semakin nyalang. Deru nafasnya memburu berusaha menahan amarah.