NovelToon NovelToon
Marcella & Olivia

Marcella & Olivia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Pihak Ketiga
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Denny Ramdhani

Lima tahun menjalin hubungan dengan Marcella, hidup Doni terasa begitu tenang. Marcella adalah definisi wanita ideal. Cantik, cerdas, anggun, dan penuh perhatian. Doni yakin masa depannya sudah terkunci pada wanita itu. Namun, keyakinan tersebut mendadak goyah saat suatu hari dia bertamu ke rumah kekasihnya itu, dan bertemu dengan adik kandungnya.

Olivia namanya. Sifatnya bertolak belakang dengan sang kakak. Enerjik, meletup-letup, dan sporty. Pertemuan pertama disambung dengan pertukaran pesan sampai tengah malam menyalakan percikan rasa yang salah di hati Doni. Muncul kedekatan rahasia yang melahirkan dilema: bertahan demi cinta yang telah dijalin lama, atau hanyut oleh debaran baru yang lebih memicu adrenalin.

Terjebak dalam rasa bersalah, Doni melarikan diri dengan menumpahkan seluruh kegelisahan dan rahasianya menjadi sebuah cerita fiksi di NovelToon. Ironisnya, novel itu justru viral dan ikut dibaca oleh kedua saudari itu. Di antara dua rasa, siapakah yang akan terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Ramdhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Syarat-syarat Lain

“Hah, maksudnya?” jawab Doni bingung. “Aku udah penuhin syarat yang kamu kasih kemarin, kan?”

“Iya, Kak Doni. Bener. Seratus buat Kak Doni!” canda Olivia. Melihat wajah panik Doni, Olivia semakin bersemangat untuk menggodanya sampai melahirkan suatu ide yang cukup liar. “Tapi… itu kan, syarat yang kemarin. Hari ini, aku memang nggak ngomong ke Kak Cella. Tapi besok-besok? Nggak ada yang tahu…”

Kekesalan Doni kembali naik ke ubun-ubun. Napas lega yang tadinya dia hembuskan saat melihat chat balasan dari Olivia kepada kakaknya, sekarang menguap. Ide yang keluar dari suara Olivia yang berbisik pelan itu terdengar manis, namun beracun.

“Terus, kamu mau apa?” tanya Doni kesal. Setelah memikirkannya matang-matang, dia tidak punya pilihan lain selain menuruti ide itu. Apa yang Olivia katakan memang benar. Rahasianya ada pada adik kekasihnya itu. Tidak ada yang tahu isi kepala gadis SMA itu, selain dirinya sendiri.

“Nanti kapan-kapan kalau aku pengen ditemenin main lagi… atau dijemput latihan lagi… atau… ditemenin makan… atau… apa lagi, ya… Pokoknya apapun itu, Kak Doni harus standby terus, ya? Nanti aku chat. Okey?” perintah Olivia sambil mengedipkan sebelah matanya.

Doni membeku. Rahangnya mengeras seketika. “Maksudnya? Kamu mau meras aku?"

“Kok meras? Kasar banget bahasanya”, Olivia terkekeh pelan di balik helmnya, lalu menepuk pundak Doni dengan akrab. “Ini namanya saling menolong antar calon keluarga, Kak. Lagian, Kak Doni nggak mau kan kalau nanti tiba-tiba aku salah ngomong ke Kak Cella pas aku lagi kesel, atau lagi badmood, atau…”

“Cukup, cukup…” potong Doni sebelum ocehan Olivia semakin panjang lebar. Dia berbalik memperbaiki posisi duduknya bersiap-siap untuk menyalakan motor. Dengan tatapan kosong dan tangan yang mengepal di atas setang, Doni memandang lurus ke depan. Dia sadar, dia baru saja menandatangani kesepakatan dengan iblis. Selama rahasia itu ada di tangan Olivia, dia tidak akan pernah bisa benar-benar bebas.

“Yaudah, ayo buruan jalan, Kak. Ntar Kak Cella nyampe rumah duluan”, perintah Olivia tanpa dosa.

Dengan sisa-sisa energinya, Doni buru-buru menghidupkan mesin motor. Dia tidak punya waktu, atau energi lagi, untuk berdebat dengan gadis ber-jersey basket itu. Jika Doni tidak buru-buru sekarang, Marcella bisa saja tiba di rumahnya terlebih dahulu, seperti kata Olivia. Dia sudah stres duluan untuk memikirkan alasan apa yang akan dia sampaikan kalau itu terjadi, apalagi kalau membayangkan Marcella melihat pacarnya itu membonceng adiknya.

Dengan bayangan yang mengerikan itu, Doni pun bergegas membawa motornya keluar dari parkiran yang berada di basement mall yang pengap dan langsung membelah jalanan kota yang mulai mendingin dengan beban pikiran yang kini terasa berkali-kali lipat lebih berat.

Sepanjang jalan, Doni hanya bisa terdiam dengan pikiran yang berkecamuk hebat. Angin malam yang menerpa wajahnya sama sekali tidak bisa mendinginkan kepalanya yang terasa mau pecah. Di belakangnya, Olivia duduk dengan santai, sesekali merapatkan cengkeramannya pada jaket Doni saat pacar kakaknya itu terpaksa menyalip kendaraan lain dengan kecepatan tinggi.

Setiap kali motor Doni melewati jalan yang berlubang, dia merasa seperti sedang membonceng sebuah bom waktu yang siap meledak kapan saja dan menghancurkan hubungannya dengan Marcella. Dia menyadari, untuk saat ini dia tidak punya pilihan lain selain menuruti adik pacarnya itu. Menjemput latihan, menemani makan, atau bermain di mall seperti tadi, adalah hal-hal yang jauh lebih mudah yang bisa dia lakukan, daripada harus mengorbankan hubungan lima tahunnya dengan Marcella.

Tak terasa, sekitar dua puluh menit telah berlalu. Dengan kecepatan di atas rata-rata, Doni akhirnya sedikit bernapas lega saat lampu sorot motornya menerangi pagar besi hitam rumah Marcella. Suasana rumah itu masih tampak sepi, dan yang paling penting: belum ada tanda-tanda mobil atau taksi online yang membawa Marcella pulang. Tampaknya mereka benar-benar berhasil tiba lebih dulu.

Doni mematikan mesin motornya tepat di depan pagar. Keheningan malam langsung menyergap. Dia menghembuskan napas panjang, menatap rumah yang masih gelap itu dengan rasa syukur yang teramat sangat. Bayangan yang mengerikan di kepalanya tadi, akhirnya tidak terjadi. Setidaknya untuk saat ini.

Olivia turun dari boncengan, melepas helmnya, lalu merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan sisa-sisa kepanikan atau kelelahan akibat insiden di tangga darurat tadi. Dia kembali menjadi Olivia yang seperti biasa, cuek dan periang.

“Makasih buat hari ini, Kak Doni” ucap Olivia dengan senyum termanisnya sambil menyerahkan helm kembali kepada Doni.

“Iya, sama-sama”, jawab Doni kaku sambil menerima helm itu. Dia lalu melepaskan tas olahraga Olivia yang sejak tadi dia selempangkan di bahunya. “Nih, tas kamu. Buruan masuk. Ntar Cella dateng”, sambungnya. Doni hanya ingin gadis itu segera menghilang dari pandangannya agar dia bisa pulang dan tidur dengan tenang, sebelum semuanya terbongkar.

Namun, alih-alih menerima tas itu, Olivia justru mundur selangkah. Dia melipat kedua tangannya di dada, memandangi tas besarnya yang beralih fungsi menjadi beban Doni, lalu menatap Doni dengan senyuman tipis yang misterius.

“Nggak, ah. Kak Doni aja yang bawa”, kata Olivia santai, layaknya bos wanita yang menyuruh bawahannya.

“Loh, kok gitu? Ini tas kamu, kan? Kenapa jadi aku yang bawa?” Doni mengernyit bingung, tangannya masih tertahan di tali tas.

“Bau, Kak! Aku udah capek banget habis latihan tadi, trus disambung maen. Nyampe kamar nanti aku langsung mau tidur aja sampe besok siang, soalnya mau ada latihan lagi. Jadi nggak ada waktu buat nyucinya”, jawab Olivia dengan alasan yang terdengar begitu enteng.

“Trus, maksudnya?” Doni masih bingung.

“Maksudnya…” Olivia mencondongkan tubuhnya sedikit, menatap mata Doni yang mulai membelalak. “Itu baju kotor sama handuk di dalamnya, minta tolong buat dicuciin ya, Kak Asisten. Jemur yang kering, terus rapihin lagi. Oh iya, sekalian sama tasnya juga dibersihin, biar nggak bau.”

“Yang bener aja, Liv! Masa aku harus nyuciin baju kamu?!” gerutu Doni dengan rahangnya yang terasa mau copot.

“Kan aku udah bilang tadi. Kapanpun aku butuh bantuan, Kak Doni harus selalu standby. Dan sekarang ternyata aku lagi butuh bantuan”, ucap Olivia sambil terkekeh pelan, sebuah kekehan yang terdengar begitu meremehkan di telinga Doni. “Nah, aku jadi punya alasan deh buat main-main ke kosan Kak Doni nanti. Buat ngambil tas olahraga! Oh iya, sekalian aku mau ngecek tumbler limited edition aku yang udah lama ga pernah aku lihat lagi. Kangen, deh.”

Tanpa menunggu jawaban Doni yang sudah membeku dengan mulut setengah terbuka, Olivia berbalik, membuka pagar rumahnya dengan santai, dan berjalan masuk ke dalam kegelapan teras rumah. “Bye, Kak!” teriak Olivia sebelum menghilang di balik pintu utama rumahnya.

Doni terpaku di atas motornya. Ujung jarinya mencengkeram erat tas olahraga di pangkuannya. Ancaman Olivia barusan terasa seperti vonis mati. Gadis itu tidak hanya berhasil memperbudaknya hari ini, tapi sekarang dia sudah menyusun rencana untuk menginvasi wilayah privasi di kosannya sendiri.

TIN! TIN!

Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Doni. Lampu sorot mobil itu mendadak berbelok di ujung gang, perlahan bergerak mendekati rumah Marcella.

Menyadari itu adalah taksi yang membawa Marcella pulang, Doni buru-buru memakai helmnya kembali, menghidupkan mesin motor dengan panik, dan langsung memacu kendaraannya pergi melesat ke arah berlawanan sebelum kekasihnya itu memergokinya membawa tas olahraga sang adik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!