NovelToon NovelToon
Akar Yang Menembus Langit

Akar Yang Menembus Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Action
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: cldazxx

Cerita ini bukan tentang siapa yang tercepat menjadi terkuat, melainkan tentang bagaimana seseorang yang dianggap paling lemah belajar memahami kekuatan yang sesungguhnya: kesabaran, ketahanan, kemampuan menahan badai tanpa tumbang, dan perlahan tumbuh melampaui batas yang dianggap mustahil oleh semua orang. Ia akan bertemu teman yang setia, menghadapi musuh yang meremehkannya, dan akhirnya mengungkap mengapa jalan kuno itu dihapus dari sejarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cldazxx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Jejak di Pegunungan Kabut

Perjalanan ke arah timur memakan waktu tujuh hari penuh. Mereka melewati padang rumput yang luas, menyeberangi sungai yang berarus deras, hingga akhirnya sampai di perbatasan Pegunungan Kabut Kelabu. Kabut tebal selalu menyelimuti lereng gunung ini sepanjang tahun, sehingga pandangan mata terbatas hanya sejauh sepuluh langkah saja. Konon banyak pengembara yang masuk ke sini lalu tersesat selamanya, tersesat baik oleh jebakan alam maupun makhluk buas yang bersembunyi di balik kabut.

"Menurut catatan di gulungan, tempat persembunyian sisa pengikut Jalan Akar berada di lembah tersembunyi di tengah pegunungan ini," kata Lin Mo sambil menatap kabut yang bergerak seperti ombak. "Tapi kabut ini bukan uap air biasa—ia menyatu dengan aliran energi kacau, sehingga membingungkan arah dan merusak kesadaran."

"Kalau begitu bagaimana kita menemukan jalannya?" tanya Zhang Hao sambil memegang erat belati kayu pemberian ayahnya dulu. Ia sudah jauh lebih tenang dan berani dibanding dulu, namun menghadapi tempat misterius seperti ini tetap membuatnya cemas.

Lin Mo tersenyum, lalu menempelkan telapak tangannya ke tanah lembap di pinggir jalan. "Kita tidak perlu melihat dengan mata. Kita merasakan dengan tanah."

Ia memejamkan mata, menyebarkan kesadarannya ke dalam bumi. Kabut mungkin menyembunyikan pemandangan, tapi tidak bisa menyembunyikan getaran batu, aliran air bawah tanah, dan jejak langkah makhluk hidup yang tertanam di tanah. Perlahan, ia bisa membedakan mana jalur yang sering dilalui, mana yang berbahaya, dan mana yang mengarah ke pusat pegunungan.

"Ikut aku," katanya pelan. "Jangan melangkah sembarangan. Tepat di depan ada jurang yang tertutup kabut, dan di sebelah kanan ada sarang makhluk berbatu."

Mereka berjalan beriringan mengikuti jejak yang dirasakan Lin Mo. Benar saja, kurang dari lima puluh langkah di depan mereka terlihat tepian jurang yang dalam, dan di sebelah kanan terdengar suara geraman rendah dari balik bebatuan. Semakin jauh mereka masuk, semakin aneh suasana di sana: pohon-pohonnya melengkung tak beraturan, batunya berwarna abu-abu kusam, dan udaranya terasa dingin menusuk tulang.

Siang berganti sore. Saat mereka sedang beristirahat di gua kecil, Meng Chao menunjuk ke arah dinding batu. "Lihat ini! Ada bekas goresan yang aneh."

Di permukaan batu yang keras terlihat garis-garis dalam yang membentuk pola akar—sama persis dengan lambang yang ada di lencana Lin Mo. Namun di sampingnya ada bekas pukulan yang menghancurkan sebagian pola itu, seolah sengaja dirusak.

"Pasti mereka sudah kejar-kejar di sini," bisik Lin Mo. "Siapa pun lawan mereka, tahu betul tanda Jalan Akar."

Malam harinya, bahaya akhirnya datang. Tiba-tiba kabut di sekitar mereka menjadi sangat pekat, dan suara langkah kaki berbaris terdengar mendekat. Lima sosok muncul dari balik kabut—mengenakan jubah hitam dengan lambang cakar batu yang menyala merah, wajah mereka tertutup topeng besi. Aura yang mereka pancarkan dingin dan ganas, berbeda jauh dengan kekuatan Keluarga Meng maupun Jalan Akar.

"Keluar dari sini," suara berat terdengar dari balik topeng pemimpin mereka. "Pegunungan ini sudah diklaim oleh Sekte Cakar Batu. Siapa pun yang melintas tanpa izin... tinggalkan nyawamu di sini."

"Ini tanah umum," jawab Lin Mo tenang. "Kami hanya lewat mencari teman. Mengapa kalian bersikap seolah tanah ini milikmu sendiri?"

"Tanah di dunia ini milik siapa yang kuat mengambilnya!" Pemimpin itu tertawa kasar, lalu memberi isyarat. "Bunuh mereka semua. Hati-hati dengan anak yang memegang lencana itu—tuan kami ingin barang itu utuh."

Empat orang lainnya langsung menyerang. Mereka tidak menggunakan senjata tajam, melainkan menumbuhkan cakar tajam dari energi batu gelap yang hitam pekat. Setiap cakar yang menghantam tanah meninggalkan lubang hangus dan retakan yang menyebar cepat.

Meng Chao dan Zhang Hao segera maju menahan serangan. Meng Chao menggunakan teknik palu yang kini sudah diperbaiki—tidak lagi memukul sekuat tenaga, melainkan menekan dan mengarahkan tenaga dengan teratur. Zhang Hao bergerak lincah, memanfaatkan celah gerakan lawan untuk menyerang titik lemah. Namun kekuatan musuh jauh lebih tinggi: semuanya berada di tingkat Pembentukan Benih tingkat pertengahan hingga akhir. Perlahan mereka mulai terdesak.

Lin Mo melangkah maju, berdiri di depan teman-temannya. Ia tahu kekuatan Sekte Cakar Batu ini memiliki sifat yang sama dengan akar: menembus, mencengkeram, menghancurkan dari dalam. Tapi caranya salah—seperti akar rumput liar yang merusak fondasi rumah demi tumbuh sendiri.

"Kalian mengira akar hanya untuk merusak?" ucap Lin Mo lantang. Ia menekan telapak kaki kanannya ke tanah. "Lihat cara akar yang benar bekerja!"

Tanah di sekitar musuh tiba-tiba berubah menjadi lunak namun lengket. Akar-akar tipis dari energi cokelat gelap menjulur keluar, bukan untuk melukai, melainkan melilit pergelangan tangan dan kaki mereka dengan kuat namun tidak menyakitkan. Gerakan mereka seketika menjadi lambat dan kaku.

Pemimpin musuh menggeram marah, mencoba memutus ikatan itu dengan energi gelapnya. Namun semakin ia memaksa, semakin erat akar itu melilit—seperti semakin kau mencabut rumput, semakin kuat akarnya menahan tanah.

"Diamlah," kata Lin Mo dingin. "Kalian menyalahgunakan kekuatan bumi, melukai tanah, dan memburu saudara kami. Hari ini bukan waktunya membunuhmu, tapi waktunya kau sadar: bumi menopangmu, bukan milikmu untuk kau siksa sesukamu."

Ia menggerakkan tangannya, dan akar itu perlahan menyusup masuk ke dalam tubuh mereka, menyentuh aliran energi yang kacau dan menyimpang, memaksa mereka merasakan betapa sakitnya tanah setiap kali mereka menyerap energi dengan cara kasar.

Kelima orang itu tiba-tiba berlutut, tubuh mereka gemetar. Mereka merasa seolah sedang didengar oleh bumi itu sendiri, dan rasa bersalah yang selama ini mereka abaikan kini meledak di hati.

"Siapa... kau sebenarnya?" tanya pemimpin itu dengan suara gemetar.

"Lin Mo. Pewaris Jalan Akar Purba," jawabnya tenang. "Sekarang katakan padaku: di mana persembunyian saudara seperjuanganku? Dan mengapa kalian memburu mereka?"

Pemimpin itu menunduk lemas. "Mereka dikepung di Lembah Tertutup di tengah pegunungan. Sekte Cakar Batu ingin memaksa mereka menyerahkan teknik kuno, lalu menghabisi mereka agar tidak ada yang tahu keberadaan mereka lagi. Besok pagi mereka berencana menyerang habis-habisan."

Lin Mo mendongak ke arah kabut yang semakin gelap. Waktunya tidak banyak. Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sendirian. Ia memiliki teman, ia memiliki jalan yang benar, dan ia memiliki bumi yang menopangnya.

"Besok pagi," katanya tegas. "Kita akan pergi ke lembah itu. Dan kita akan menghentikan pembantaian itu."

 

1
Anime aikō-kā
Akar Yang Menembus Langit
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!