"siapa namamu?"
xavier menatap lekat bocah 5 tahun itu yang melotot marah kepadanya, bocah laki-laki dengan rambut gondrong ikal sebahu, memegang sebuah rubrik di tangannya.
mata bocah itu mengingatkan xavier pada wanita itu, wanita sialan yang pergi begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dua puluh delapan.
Sudah 3 hari sejak terakhir kali xavier datang kerumah ini, walau hatinya lega, namun diandra tak bisa berbohong kalau dia kecarian pria itu.
Matanya sesekali mengerling ke arah jalan, berharap mobil pria itu parkir di seberang. Diandra malu, hatinya begitu murahan.
Dia malu mengakui kalau sebenarnya dirinya merindukan pria itu, diandra membenci kenyataan kalau dia masih menyukai xavier.
"mama.." panggilan killian, menarik-narik gaunnya, menyadarkan diandra.
"lian kangen om xavi...!"
Diandra menghela nafasnya kasar, dia juga merindukan kehadiran pria itu.
Ternyata memang jangan terlalu berharap, saat harapan tidak sesuai kenyataan ternyata sangat sakit.
Diandra menghela nafasnya, tatapan mata pelanggan yang penasaran menyadarkan diandra yang tersenyum malu.
Siang ini, dagangan diandra masih lumayan banyak tersisa. Biasanya diandra tetap membuka warungnya sampai dagangannya habis, tapi hari ini diandra sedang tak enak badan.
Masih jam 2 siang, diandra membawa masuk sisa dagangannya yang memang tinggal sedikit, tubuhnya, entah mengapa terasa sangat lelah, mungkin rasa rindu yang mulai tak tahu diri ini, ikut ambil andil membuat tubuh dan pikirannya terasa sangat lelah.
Diandra menyeret langkah kakinya yang terasa berat, sudah seminggu tak ada berita dari xavier, baik telepon atau chat dari pria itu.
"di..."
Diandra berhenti sesaat, samar seakan ia mendengar namanya dipanggil.
"di..."
Diandra perlahan membalikkan tubuhnya, benar, pria itu berdiri di ambang pintu, bersandar di kusen pintu, memanggil namanya lembut.
"xavi..."
Pria itu tersenyum, namun senyum itu di mata diandra sedikit aneh.
"boleh aku masuk?"
Diandra mengangguk, mengamati pria itu yang terlihat lelah.
"lian, dimana?"
"tidur..!" sahutnya pendek, namun tangannya menunjuk ke arah kamar yang pintunya terbuka.
"aku kangen bocah itu!"
"lian juga.." sahut diandra tersenyum lembut, xavier terpana, senyum itu, senyum diandra membuat hatinya yang lelah dan panas beberapa hari ini mendadak dingin, seperti disiram air es.
"apakah kamu juga?"
Diandra terperanjat, wajahnya langsung memerah. Dia tak menjawab, hanya sibuk mengalihkan hatinya yang tersipu dengan pura-pura merapikan alas meja.
Xavier tersenyum simpul, melihat diandra salah tingkah, hatinya berbunga.
"aku pikir, kamu juga merindukan aku, ternyata..."
Diandra kembali memalingkan wajahnya, bibirnya hampir tersenyum seperti orang bodoh.
"kamu sudah makan?" tanya diandra mengalihkan pembicaraan, dia tak mau kelihatan seperti orang idiot di depan xavier.
Kepala xavier menggeleng, "belum, aku langsung kemari dari kantor"
"kamu bolos?" tanya diandra mengernyitkan keningnya, melirik jam dinding. Baru pukul setengah tiga.
"hehehhe.." tawa xavier pelan, namun wajah pria itu malah terlihat sangat tampan mempesona.
Diandra kembali memalingkan wajahnya, pesona xavier masih saja sanggup membuatnya seperti orang bodoh seperti ini.
"kamu mau makan sesuatu?aku bisa memasaknya untukmu!"
"mie instant, boleh?"
Diandra menatap lekat pria itu, sorot mata dan juga raut wajahnya terlihat sangat berbeda dari terakhir kali xavier datang.
"yang pedas, di" pinta xavier, saat diandra bangun dari duduknya, dan diandra hanya mengangguk mengiyakan.
Diandra meletakkan mie di atas nampan dengan segelas air putih, tak habis pikir benaknya, mengapa pria itu terlihat berbeda, ada sesuatu yang aneh. Aura xavier tak semenyeramkan malam itu, saat xavier mengatakan ingin membawa killian bersamanya.
Diandra membawa nampannya hati-hati, hatinya tiba-tiba terenyuh. Pria itu, xavier tertidur di atas sofa dengan kepala tertengadah.
Perlahan diandra meletakkan nampan itu di atas meja, pergi ke kamar mengambil sebuah bantal.
Mata indahnya mengamati xavier, dengan jarak sedekat ini, diandra melihat pria itu sedikit kurusan dan tidak rapi, rambut halus di dagu dan jambangnya terlihat membiru.
Diandra kebingungan, gimana caranya meletakkan bantal ini ke kepala xavier.
Dengan hati-hati diandra mengangkat kepala xavier, memeluk kepala itu dengan sebelah tangan dan meletakkan bantal di bawah kepala.
Ia berusaha sepelan dan setenang mungkin, agar xavier tidak terbangun.
Lega setelah berhasil meletakkan kepala xavier di atas bantal, kini ia berusaha melepas pelukan tangannya dari kepala pria itu.
Diandra terperanjat kaget, mata xavier menatapnya lekat dengan tatapan sayu, wajah diandra tepat di depan wajah itu. Mata diandra membola kaget, deru nafasnya tertahan.
"maaf.."pintanya bersamaan dengan hembusan nafasnya.
Diandra hendak menarik kepala, tapi tangan xavier tiba-tiba merengkuh kepalanya kembali.
Adegan itu begitu cepat, belum diandra menyadari apa yang terjadi, pria itu mencium bibirnya lembut.
Diandra seketika membeku, tanpa disadarinya, diandra memejamkan mata.
Xavier tersenyum manis, perlahan namun pasti dia mencium bibir lembut itu penuh kasih. Xavier merasa wanita itu membalasnya, hati xavier seketika membunga bahagia.
Ciuman itu semakin memanas, xavier menarik pinggul diandra dan menjatuhkan tubuh mungil itu ke atas pangkuannya. Diandra tersentak sadar, matanya seketika membuka lebar.
Diandra mendorong tubuh xavier, dan menarik tubuhnya sendiri. Posisi mereka sangat romantis, nafas diandra memburu, bercampur antara hasrat dan juga malu.
Dia berdiri cepat, hendak beranjak pergi. Namun tangannya dicekal xavier.
"di.." panggil xavier dengan suara paraunya.
Diandra masih sibuk mengatur deru nafas dan debar jantungnya yang tak beraturan.
"aku menyukaimu di!"
Mata diandra membola sempurna, seketika ia membalikkan tubuhnya menatap pria itu penuh selidik.
Xavier perlahan berdiri, merengkuh kedua pundak diandra lembut.
"aku menyukaimu, diandra!"
Diandra menggeleng cepat, ia tak percaya. Pria itu, pria yang mengisi hatinya selama 10 tahun ini juga menyukainya.
xavier menangkup kepala diandra yang menggeleng itu, "kenapa?kamu tak menyukaiku?"
"aa..ku, aku.." gugup diandra menjawab, " kenapa kamu menyukaiku?"
"karena—"
"killian!" sambar diandra cepat, "kamu menyukaiku karena aku ibunya killian?"
Xavier menggeleng, "tidak, aku menyukaimu karena kamu adalah diandra"
Diandra mengernyitkan keningnya bingung, tak paham.
"aku menyukaimu sejak pertama kali aku melihatmu di restoran itu, di"
"bukan karena aku wanita yang melahirkan anakmu?"
"tidak.." geleng xavier yakin, "aku menyukaimu karena kamu adalah diandra"
"aku nggak paham maksudmu" geleng diandra bingung.
Xavier tersenyum manis, ia merengkuh bahu diandra mengajaknya duduk di sofa.
"aku menyukaimu, saat pertama kali kamu keluar dari dapur itu, keluar dengan wajah kesal dan menarik topi chef itu dari kepalamu"
Diandra menatap pria itu lekat, menunggu xavier menjelaskannya lagi.
"dan rasa suka itu berubah menjadi cinta, setelah aku tahu kamu adalah wanita yang aku cari-cari selama ini"
Wajah diandra memerah jengah, saat xavier mengatakan cinta barusan.
"saat kamu menghilang dari kontrakanmu itu, aku hampir gila di"
Diandra kembali melengos jengah, wajahnya sudah memerah sampai ke telinganya.
"maukah kamu menerima cintaku, di?,"
Diandra menatap xavier, suara pria itu sendu, mata birunya menatap diandra penuh harap.
"aku tahu di, kamu juga punya perasaan yang sama denganku kan?, ciuman tadi sudah menjawabnya, di"
Diandra tertunduk malu, xavier memang pria berpengalaman, hanya dari gesture tubuh saja pria ini bisa tahu perasaan orang lain.
"diandra...!" panggil xavier lagi, kini jemarinya mengelus lembut pipi diandra.
"bolehkah aku memanggilmu, sayang?"
Diandra semakin tersipu, wajahnya sudah memerah. Namun ia tetap mengangguk walau anggukannya terlihat malu-malu.
"terima kasih sayang"
Xavier mengecup lembut kedua jemari diandra yang berada dalam genggamannya.
Bersambung...