Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.
Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.
Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.
Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.
Seorang penegak hukum menikahi penjahat?
Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Kebenaran yang Tertunda
Chantika akhirnya menjawab, "Semalam aku diajak Saras ke hotel untuk bertemu dengan calon investor. Aku—"
"Kak! Kakak ke mana aja?"
Suara Saras tiba-tiba terdengar dari lantai atas. Ia bergegas menuruni tangga. Saking paniknya, ia sampai lupa pada rasa nyeri di pangkal pahanya.
"Aku cari Kakak ke mana-mana." Napasnya terdengar sedikit terengah. "Aku bahkan sampai bolak-balik ke kamar Tuan Bryan. Aku juga lapor ke resepsionis. Petugas keamanan ikut bantu nyari Kakak. Aku telepon berkali-kali, tapi ponsel Kakak gak aktif."
Chantika mengernyit. Ia benar-benar belum tahu apakah Saras bersekongkol dengan Bryan atau justru sama-sama dimanfaatkan.
"Aku kehilangan ponsel, jadi gak bisa memberi kabar," jawab Chantika singkat.
"Tunggu." Rahardja mengangkat tangan, menghentikan percakapan mereka. "Kalian tadi bilang bertemu calon investor?"
Tatapannya kini tertuju pada Saras. "Kok kamu bilang semalam menginap di rumah teman?" tanyanya sambil menatap putri keduanya itu tajam.
Wajah Saras sempat menegang. Namun hanya sepersekian detik. Ia segera memasang ekspresi bersalah.
"Aku... aku takut Papa marah karena aku pergi sama Kakak, tapi malah pulang sendirian." Suaranya mulai bergetar. "Aku panik. Aku cari Kakak sampai frustrasi."
Ia menundukkan kepala. "Sebenarnya aku semalaman tidur di mobil sambil menunggu Kakak keluar."
Rahardja masih menatap putri keduanya beberapa saat, seolah sedang menimbang apakah alasan itu masuk akal atau tidak.
Meski masih menyimpan keraguan terhadap penjelasan Saras, Rahardja akhirnya mengalihkan pandangannya kepada Chantika.
"Lalu sebenarnya semalam kamu ke mana?"
Chantika menarik napas pelan. "Semalam aku keracunan, Pa."
"Apa?" seru Saras, berpura-pura terkejut.
Mata Rahardja langsung membelalak. "Keracunan?" ulangnya. "Bagaimana bisa?"
Chantika menggeleng pelan. "Aku juga gak tahu. Yang kuingat, setelah bertemu calon investor, tubuhku tiba-tiba terasa sangat lemas. Setelah itu... ingatanku putus."
Rahardja mengernyit. Wajahnya berubah serius. "Lalu?"
"Ada seseorang yang menolongku."
"Siapa yang menolong Kakak?" tanya Saras cepat. Nada suaranya terdengar terlalu penasaran.
Chantika menatap adiknya beberapa saat sebelum menjawab. "Kenalan lama."
Rahardja mengembuskan napas panjang. "Syukurlah masih ada orang yang menolongmu." Tatapannya melembut, tetapi nada suaranya tetap tegas. "Apa pun yang terjadi, Papa tetap harus tahu. Kalau benar kamu keracunan, ini bukan masalah sepele."
Chantika mengangguk pelan. "Iya, Pa."
Rahardja lalu menoleh bergantian kepada kedua putrinya. "Mulai sekarang, jangan menemui calon investor atau klien di tempat seperti hotel tanpa pengamanan yang jelas. Papa tidak mau kejadian seperti ini terulang."
"Iya, Pa," jawab Chantika dan Saras hampir bersamaan.
Namun, di balik jawaban itu, keduanya menyimpan pikiran yang sangat berbeda.
Chantika mulai merangkai kepingan-kepingan kejadian semalam.
Sedangkan Saras justru dihantui ketakutan. "Siapa orang yang menolong kakak?"
Setelah percakapan di ruang tengah berakhir, Chantika melangkah menuju lantai dua.
Belum sempat membuka pintu kamarnya, Saras segera menyusul dan menghentikannya di lorong.
"Kak..."
Chantika menoleh.
Saras menggenggam kedua tangannya dengan wajah penuh kecemasan. "Sebenarnya semalam apa yang terjadi, Kak?"
Chantika terdiam.
Saras buru-buru melanjutkan, seolah takut kakaknya salah paham. "Semalam aku kembali ke kamar Tuan Bryan, tapi beliau bilang Kakak sudah pergi. Setelah urusan tanda tangan investasi selesai, aku langsung keluar mencari Kakak."
"Aku telepon berkali-kali, tapi nomor Kakak gak aktif."
"Aku lalu ke resepsionis dan minta mereka mengecek CCTV. Petugas keamanan bilang Kakak berada di area privat, jadi mereka gak bisa masuk sembarangan."
Saras menundukkan kepala sejenak sebelum kembali menatap Chantika.
"Aku bahkan sempat mau masuk ke sana, tapi mereka melarangku. Katanya aku harus menunggu izin."
Suaranya mulai bergetar. "Aku nunggu lama... lama banget, Kak. Sampai akhirnya aku frustasi."
Ia menarik napas panjang.
"Aku gak berani pulang karena takut terjadi sesuatu sama Kakak. Jadi aku tidur di mobil semalaman sambil berharap Kakak keluar."
Mata Saras tampak berkaca-kaca.
"Percaya sama aku, Kak." Suaranya lirih. "Aku benar-benar gak tahu kalau akan terjadi hal seperti ini."
Chantika menatap adiknya dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Penjelasan Saras terdengar begitu masuk akal. Begitu pula ekspresi cemas yang ditunjukkannya. Namun, Chantika belum tahu apakah semua itu benar.
Apa Saras benar-benar mencarinya semalaman? Apa ia benar-benar menunggu di hotel seperti yang diceritakannya?
Ia belum bisa memastikan.
"Sudahlah." Chantika mengembuskan napas pelan. "Istirahat dulu. Kamu pasti juga capek."
Ia tersenyum tipis. "Kakak juga capek. Mau masuk ke kamar dulu."
Chantika memutar gagang pintu kamarnya.
"Kak..."
Suara Saras kembali menghentikannya.
"Siapa orang yang menolong Kakak semalam?"
Chantika menoleh. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. "Nanti juga kamu akan tahu."
Tanpa mengatakan apa pun lagi, ia membuka pintu lalu masuk ke dalam kamarnya.
Klik.
Pintu tertutup.
Saras masih berdiri memandang daun pintu itu.
"Siapa orang itu?" gumamnya pelan.
Ia mengingat ucapan petugas keamanan hotel.
"Kami memahami kekhawatiran Ibu. Namun, lokasi terakhir yang terekam CCTV merupakan area privat. Kami tidak dapat memasukinya tanpa izin."
Area itu hanya bisa diakses tamu VIP atau orang-orang penting.
"Kalau benar begitu..." Saras mengernyit. "Berarti yang menolong Kakak bukan orang biasa."
Ia mengepalkan tangan pelan.
"Siapa dia?"
Sementara itu, Chantika berdiri bersandar di balik pintu kamarnya yang baru saja tertutup. Ingatannya kembali melayang pada kejadian pagi tadi.
Enzo.
Pria itu begitu tampan, tenang, dan perhatian. Tanpa sadar bayangan tubuh atletis Enzo kembali terlintas di benaknya. Pipinya langsung memanas.
"Gimana dia bisa punya tubuh sebagus itu..." gumamnya lirih.
Seketika Chantika menepuk dahinya sendiri.
"Astaga... apa yang kupikirkan?"
Ia menggeleng cepat, berusaha mengusir bayangan pria itu dari kepalanya.
"Nggak. Ada hal yang lebih penting." Sorot matanya berubah serius. "Aku harus kembali ke hotel."
Chantika mengepalkan tangan.
"Benarkah Saras mencariku sampai semalaman... atau semua itu hanya alibi yang sudah dipersiapkannya?"
Tatapannya berubah tajam.
"Besok aku akan kembali ke hotel. Kalau dia berbohong... CCTV akan mengungkap semuanya."
...🔸🔸🔸...
..."Kebohongan yang paling berbahaya bukanlah yang terdengar jahat, melainkan yang terdengar paling masuk akal."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Ssmangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya Kak 🙏🙏🙏
Aku sudah ketimggalan kauh mih Kak Nana... 😁😁😁 Jadi belum bisa lomen sampai puluhan komen... 😁😁😁 Ketinggalan jauh banget nih Kak... 😁😁😁🙏
Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Tuan Rahardja nggk bisa Kamj tipu Saras... 😂😂😂 Dia bukan orang baru, di dunia bisnis... 😂😂😂 Sekaramg Apalagi alasan ysng akan kamu berikan? ha? 😂😂😂
Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏