Lin Xiurong dahulu adalah putri manusia yang mati secara tragis karena dibunuh oleh kekasihnya sendiri, Yao Tian, akibat fitnah dan permainan takdir. Kebencian, cinta, dan luka yang tidak selesai membuatnya jatuh ke Alam Bawah. Di sana, ia tidak mati, tidak hidup, dan perlahan berubah menjadi iblis terkuat.
Ribuan tahun kemudian, Lin Xiurong berhasil membunuh Raja Iblis lama dan menjadi penguasa Alam Kegelapan. Semua makhluk takut padanya, tetapi tidak ada yang tahu bahwa penguasa paling kejam itu hanya menunggu satu orang: Yao Tian.
Namun, saat Yao Tian akhirnya datang, ia tidak datang sebagai kekasih yang mengingat janji lama. Ia datang sebagai murid Kaisar Dewa yang ditugaskan untuk membunuh Lin Xiurong.
Masalahnya, Lin Xiurong masih mencintainya.
Dan Yao Tian tidak ingat bahwa perempuan yang ingin ia bunuh adalah perempuan yang pernah ia cintai sampai mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dendam Qi An
Qi An menunggu Yao Tian di halaman latihan sebelum fajar neraka. Halaman itu luas, dikelilingi pilar batu hitam, dan lantainya penuh bekas tebasan lama. Di tempat itu, Lin Xiurong dulu melatih sepuluh pengikutnya sampai setengah mati, lalu menyembuhkan mereka agar bisa dilatih lagi. Bagi Qi An, halaman itu bukan sekadar tempat latihan. Itu tempat ia belajar bahwa kesetiaan tidak cukup jika tidak diikuti kekuatan.
Yao Tian datang setelah merasakan tarikan kecil dari tanda kutukan di tangannya. Ia tahu Qi An yang sengaja mengirim pesan melalui racun sisa di tubuhnya. Cara yang tidak sopan, tetapi sangat Qi An.
“Ambil pedangmu,” kata Qi An.
Yao Tian menatapnya. “Apakah ini perintah Lin Xiurong?”
“Tidak. Ini permintaanku.”
“Kalau begitu aku bisa menolak.”
Qi An tersenyum manis. “Bisa. Tapi aku akan menganggap penolakanmu sebagai bukti bahwa dewa hanya berani menusuk perempuan yang percaya padanya.”
Yao Tian tidak bergerak selama beberapa detik. Lalu ia menghunus pedangnya.
Qi An tertawa pendek. “Bagus. Setidaknya kau masih punya sedikit harga diri.”
Mereka mulai tanpa aba-aba. Qi An bergerak seperti bayangan beracun. Pedangnya tidak selalu mengarah ke titik mematikan, tetapi setiap serangan membawa racun yang berbeda. Racun untuk melumpuhkan, racun untuk membakar saraf, racun untuk mengacaukan penglihatan. Yao Tian bertahan dengan pedang putihnya, menangkis tanpa menyerang balik terlalu keras.
Itu justru membuat Qi An semakin marah.
“Jangan pura-pura mulia,” bentaknya. “Serang aku.”
“Aku tidak ingin membunuhmu.”
“Kau pikir kau bisa?”
Qi An menghilang dari hadapan Yao Tian dan muncul di belakangnya. Pedangnya hampir menyentuh leher Yao Tian, tetapi pria itu memutar tubuh, menahan bilah itu dengan sarung pedang. Ledakan kecil terjadi. Keduanya terpental beberapa langkah.
Qi An menyerang lagi. Kali ini lebih ganas. Setiap tebasannya membawa kemarahan yang tidak seluruhnya ditujukan pada Yao Tian. Yao Tian bisa merasakannya. Ada luka lama di balik gerakan Qi An, luka yang sudah dijadikan senjata hingga pemiliknya lupa cara berhenti.
“Kenapa kau begitu membenciku?” tanya Yao Tian di sela pertarungan.
“Karena kau pantas dibenci.”
“Karena masa lalu yang tidak kuingat?”
Qi An menendang dadanya. Yao Tian mundur, tetapi tetap berdiri.
“Karena Yang Mulia mengingatnya sendirian!” teriak Qi An. “Kau mati, lupa, lalu menjadi dewa suci. Dia jatuh ke Alam Bawah, dicabik, dibakar, dipaksa membunuh agar tidak dibunuh. Kau tahu di mana aku pertama kali bertemu dengannya?”
Yao Tian tidak menjawab.
Qi An tertawa pahit. “Di lubang pembuangan. Aku bukan iblis kuat. Aku anak kecil yang dijual ke pedagang roh karena wajahku dianggap cukup bagus untuk dipelihara sebagai mainan. Aku kabur, lalu hampir dimakan anjing neraka. Yang Mulia menemukan aku bukan karena belas kasihan. Dia bilang aku terlalu berisik untuk mati.”
Pedangnya kembali menyerang. Yao Tian menahan.
“Dia memberiku nama baru, makanan, tempat, dan alasan untuk menjadi kuat. Dia tidak pernah berkata menyayangiku. Tapi setiap kali aku hampir mati, dia menarikku kembali dan berkata aku belum boleh kalah.”
Qi An menekan pedangnya lebih kuat. “Lalu kau datang. Satu wajah, satu nama, dan perempuan yang kulihat berdiri di atas mayat raja iblis bisa gemetar hanya karena kau menyapa. Bagaimana aku tidak membencimu?”
Yao Tian merasakan kata-kata itu lebih menyakitkan daripada tebasan. Ia tidak pernah melihat ribuan tahun yang dilalui Lin Xiurong. Ia hanya menerima pecahan ingatan, sementara Qi An hidup di sampingnya sepanjang luka itu tumbuh.
Pertarungan semakin keras. Song Xiaolian datang setelah mendengar ledakan ketiga, tetapi ia tidak langsung menghentikan mereka. Ia berdiri di tepi halaman dengan wajah cemas. Tidak jauh dari sana, Lin Xiurong juga muncul tanpa suara. Ia mengenakan jubah luar, wajahnya masih pucat, tetapi matanya tajam.
“Haruskah kita hentikan?” bisik Song Xiaolian.
Lin Xiurong memperhatikan Qi An. “Belum.”
“Dia benar-benar ingin membunuh Yao Tian.”
“Qi An sudah ingin membunuh banyak orang. Itu bukan berita baru.”
“Tapi kali ini berbeda.”
Lin Xiurong tidak membantah. Ia tahu. Justru karena berbeda, ia membiarkannya. Dendam yang disimpan terlalu lama bisa berubah menjadi racun di dalam keluarga sendiri. Qi An perlu mengeluarkannya sebelum perang yang lebih besar datang.
Di tengah halaman, Qi An akhirnya berhasil melukai lengan Yao Tian. Darah dewa menetes ke lantai. Qi An menatap darah itu dengan senyum dingin.
“Ternyata dewa juga berdarah.”
Yao Tian memegang lukanya. “Aku tidak pernah mengira sebaliknya.”
“Bohong. Kalian semua mengira berada di atas.”
“Mungkin dulu aku begitu.”
Jawaban itu membuat Qi An berhenti sebentar.
Yao Tian menatapnya dengan sungguh-sungguh. “Aku tidak akan meminta maaf atas hal yang tidak kuingat hanya agar terlihat baik. Itu akan menghina luka kalian. Tapi untuk hal yang kulakukan sekarang, aku bertanggung jawab. Aku menusuk Lin Xiurong. Aku memilih percaya perintah langit sebelum mencari kebenaran. Untuk itu, kau boleh membenciku.”
Qi An tertawa marah. “Kau memberiku izin?”
“Tidak. Aku menerima kenyataan.”
Qi An menyerang dengan seluruh kekuatannya. Pedangnya mengarah ke jantung Yao Tian. Kali ini Yao Tian tidak menangkis dengan bilah. Ia membiarkan pedang itu mendekat, lalu menahan sisi tajamnya dengan telapak tangan kosong.
Darah Yao Tian mengalir di pedang Qi An. Racun yang menempel di bilah pedang masuk ke kulitnya, membuat urat di tangannya menghitam. Namun Yao Tian tidak melepaskan genggaman.
“Jika membunuhku membuatmu merasa lebih baik, lakukan,” katanya. “Tapi jika setelah itu Lin Xiurong harus menanggung sakit dari ikatan ini, kau akan melukai orang yang ingin kau lindungi.”
Qi An membeku.
Itulah bagian paling kejam dari kutukan. Membunuh Yao Tian sekarang mungkin akan memuaskan dendam Qi An, tetapi efeknya bisa menghancurkan Lin Xiurong. Ia membenci kenyataan itu. Ia membenci bahwa hidup Yao Tian kini terhubung dengan hidup tuannya. Ia membenci bahwa membunuh musuh tidak lagi menjadi pilihan sederhana.
Tangannya gemetar. Pedang itu hanya perlu didorong sedikit lagi. Namun ia tidak melakukannya.
Lin Xiurong akhirnya melangkah ke tengah halaman. “Cukup.”
Qi An segera melepaskan pedang dan berlutut. “Hamba bersalah.”
“Ya.”
Qi An menunduk lebih rendah.
“Tapi tidak sepenuhnya,” lanjut Lin Xiurong. “Bangun.”
Qi An mengangkat wajah, terkejut.
Lin Xiurong menatapnya dengan lembut yang jarang muncul. “Aku tahu kau marah untukku. Tapi jangan biarkan kemarahanku yang lama memakan hidupmu juga. Aku sudah cukup bodoh menunggu seseorang ribuan tahun. Kau tidak perlu ikut bodoh dengan membenci orang itu selama ribuan tahun berikutnya.”
Mata Qi An memerah. “Aku hanya tidak ingin kau terluka lagi.”
“Aku tahu.”
Yao Tian menatap mereka berdua. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar mengerti bahwa keluarga tidak selalu lahir dari darah. Kadang keluarga lahir dari orang-orang yang sama-sama terlempar ke neraka, lalu memilih tidak saling meninggalkan.
Lin Xiurong menoleh kepadanya. “Dan kau. Jangan terlalu sering menawarkan diri untuk mati. Kedengarannya menyebalkan.”
Yao Tian menunduk. “Baik.”
Qi An menyeka darah di wajahnya, lalu mendengus. “Aku masih membencimu.”
“Aku tahu,” jawab Yao Tian.
“Tapi untuk sementara, jangan mati.”
Yao Tian menatapnya. “Itu terdengar hampir seperti perhatian.”
Qi An langsung mengangkat pedang lagi. “Tarik ucapanmu.”
Di tepi halaman, Song Xiaolian akhirnya tertawa pelan. Bahkan Lin Xiurong, meski sangat tipis, tampak hampir tersenyum.
Untuk sesaat yang singkat, sebelum perang kembali mengetuk pintu, halaman latihan itu terasa seperti rumah.
Setelah duel berakhir, Qi An menghilang selama beberapa jam. Ia tidak kembali ke kamar, tidak ke ruang racun, dan tidak ke sisi Lin Xiurong seperti biasa. Song Xiaolian menemukannya di atap gudang senjata, duduk sambil menatap Kota Hantu yang mulai sepi.
“Berapa lama kau mau merajuk?” tanyanya.
“Aku tidak merajuk.”
“Kau duduk di atap seperti anak yang tidak diberi manisan.”
Qi An menoleh dengan tersinggung. “Aku iblis racun tingkat tinggi.”
“Yang sedang merajuk.”
Qi An tidak punya jawaban yang cukup kuat, jadi ia kembali menatap kota. Song Xiaolian duduk di sebelahnya. Mereka berdua diam cukup lama. Di kejauhan, suara prajurit memperbaiki gerbang terdengar seperti denting logam pelan.
“Aku takut,” kata Qi An akhirnya.
Song Xiaolian tidak mengejek. “Aku tahu.”
“Jika Yao Tian mengingat semuanya dan Yang Mulia memaafkannya, apa yang tersisa dari semua luka itu? Apa ribuan tahun penderitaannya hanya menjadi jalan memutar untuk kembali pada pria yang sama?”
Song Xiaolian menghela napas. “Memaafkan tidak berarti penderitaan menjadi kecil. Dan mencintai lagi tidak berarti luka lama dianggap tidak ada.”
“Aku tidak suka jawaban dewasa.”
“Aku juga tidak. Tapi kita sudah terlalu tua untuk jawaban mudah.”
Qi An menunduk. Ia masih tampak seperti pemuda sembilan belas tahun, tetapi jiwanya sudah melewati terlalu banyak musim neraka. Song Xiaolian menyentuh bahunya.
“Yang Mulia bukan anak kecil yang akan direbut darimu hanya karena Yao Tian kembali.”
“Aku tahu.”
“Tidak. Kau takut dia tidak membutuhkan kita lagi.”
Qi An ingin membantah, tetapi kalimat itu menusuk tepat. Lin Xiurong adalah pusat hidupnya. Jika suatu hari perempuan itu memilih berjalan bersama Yao Tian, apakah tempatnya di sisi sang raja akan berubah?
Song Xiaolian tersenyum lembut. “Keluarga tidak hilang hanya karena seseorang punya cinta.”
Qi An bergumam, “Kita bukan keluarga. Kita pelayan.”
“Kalau begitu kenapa kau berani memarahi raja seperti adik manja?”
Qi An terdiam.
Di bawah mereka, Lin Xiurong lewat bersama Yao Tian, berdebat soal rute menuju Sumur Janji. Qi An memperhatikan, lalu menghela napas panjang.
“Aku masih membencinya,” katanya.
“Boleh.”
“Tapi mungkin aku tidak perlu membunuhnya hari ini.”
Song Xiaolian tersenyum. “Kemajuan besar.”