"Meja bundar.. apa itu??"
"Meja yang jadi mitos kelam warga sini. Katanya, kalau sampai ada pendatang yang masuk ke sini dan hilang, udah pasti nggak akan balik, mereka semua pasti mati."
"Siapa kakek sebenarnya??"
"Kakek bukan orang biasa, dia.."
Kara, seorang gadis berusia tujuh belas tahun, terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya dan pindah ke desa terpencil bersama ayahnya. Desa itu sunyi, tertutup, dan dipenuhi tatapan curiga dari warga yang enggan berbicara tentang masa lalu. Di rumah peninggalan kakeknya, Kara menemukan sebuah meja bundar tua yang tergeletak di ruang bawah tanah berukuran pas untuk delapan orang, dengan ukiran aneh di setiap sisinya yang seolah menyimpan rahasia terpendam.
Bisakah Kara mengungkap apa sebenar nya meja bundar itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS.4. Mimpi.
Kara sedang berdiri di depan sebuah pintu, tapi dia kaget karena dia kembali ke rumah lama nya bukan di ambang pintu rumah kakek nya. Hanya saja suasana nya tidak seperti rumah nya biasanya, cahaya nya suram dan remang, dan dia tahu itu adalah kamar ayah dan ibunya di rumah lama mereka.
"Loh kok aku balik lagi kesini!?" Kara panik karena dia sendirian di sana.
Kara lalu hendak berbalik pergi dari sana, tapi langkah nya terhenti saat dia mendengar suara rintihan perempuan dari kamar orang tua nya. Kara tidak tahu siapa yang sedang merintih di dalam sana, tapi karena itu kamar orang tua nya.. Kara pun membuka pintu kamar itu tapi..
"BRUGH!!"
"Aw!" Kara terjatuh dari ranjang nya ke lantai, dan karena lantai nya terbuat dari kayu.. maka ayah Kara yang ada di bawah pun bisa mendengar nya.
"Dek, kamu kenapa?" Teriak ayah nya dari bawah. Kara masih terkulai kesakitan karena bahu nya yang membentur lantai.
Karena Kara yang tidak menjawab, akhir nya ayah nya naik ke atas dengan tergesa - gesa, terdengar langkah nya dari luar kamar Kara yang sedang menaiki tangga.
"Ckrek!!"
"Lho, kenapa toh dek?!" Ayah nya bergegas menghampiri Kara yang masih mengaduh kesakitan.
"Jatuh yah, dari atas kasur." Ucap Kara, masih memegangi bahunya.
"Ya ampun, kok bisa si dek.. Tidur nya jangan ke pinggir - pinggir toh.." Ucap ayah Kara, dia lalu membantu Kara bangun.
"Sakit tanganku, yah" Ucap Kara sambil sedikit merengek.
"Hhh, keseleo jangan - jangan." Ucap ayah nya dan langsung memijat - mijat tangan Kara yang masih kesakitan dengan khawatir.
Itu ayah nya, Kara tau itu ayah nya. Ayah nya adalah seorang pria yang sangat menyayangi keluarga nya, ayah nya akan sangat khawatir jika sesuatu terjadi kepada keluarga nya dan mungkin Kara bisa bilang ayah nya itu adalah family man. Ada banyak sekali laki - laki di dunia ini yang mungkin menyandang status sebagai ayah, tapi belum tentu bisa di panggil ayah.
Tapi bagi Kara.. ayah nya adalah satu dari sekian banyak ayah yang baik yang akan menjadi garda paling depan untuk melindungi anak - anak nya. Wajah penuh khawatir itu adalah wajah ayah nya yang selalu Kara lihat jika dia atau kakak nya terluka atau sedih.
"Masih sakit ndak, dek?" Tanya ayah nya, Kara mengangguk.
"Aduh, sebentar ayah ambil minyak pijat." Ucap ayah nya dengan panik dan hendak bangun tapi Kara menahan nya.
"Nggak usah yah, nanti juga lama - lama sakit nya ilang." Ucap Kara..
"Ko bisa kamu jatoh toh, nduk.. jangan kepinggir lagi tidur nya, ketengah." Ucap ayah nya, Kara menyengir.
"Hehe.. tadi mimpi aneh yah, gara - gara mimpi itu aku jatuh." Ucap Kara, ayah nya mengernyit.
"Mimpi apa memang nya? Sampe jatuh begitu.''Tanya ayah Kara, masih memijat lengan Kara, Kara pun mencoba mengingat mimpi nya..
"Aku mimpi.. aku ada di rumah lama yah, aku lagi berdiri di depan pintu kamar ayah sama ibu dan aku denger juga suara orang nangis. Tapi pas mau aku buka pintu nya dan mau liat siapa yang nangis di dalem sana, tiba - tiba aku bangun gara - gara jatuh dari kasur." Jawab Kara.
Mendengar jawaban Kara, pijatan tangan ayah nya tiba - tiba berhenti dan wajah ayah nya yang semula penuh kekhawatiran itu tiba - tiba diam. Kara pikir ayah nya pasti sedih karena bagaimanapun ayah nya baru beberapa hari lalu resmi bercerai dengan ibunya Kara sebelum akhir nya ibu nya Kara memutuskan pergi membawa kakak nya Kara.
"Kamu kangen rumah itu, dek?" Tanya ayah nya dengan wajah serius sambil menatap Kara.
"Hmm.. kangen tapi udah nggak sama lagi rasanya. Ya udah lah, toh cuma mimpi.. yang penting aku sama ayah di sini." Ucap Kara, barulah ayah nya tersenyum.
"Anak ayah.." Ucap ayah Kara lalu memeluk Kara.
Sebenarnya Kara memang merindukan rumah itu, dia sedih jika mengingat semua yang sudah terjadi kepada keluarga nya yang semula dia pikir sangat harmonis. Tapi Kara tidak mau melihat ayah nya sedih, Kara tau ayah nya sangat mencintai ibunya Kara dan sangat terpukul dengan keputusan ibunya yang sepihak untuk bercerai dan membawa pergi anak sulung mereka yaitu kakak nya Kara.
Meski Kara sendiri juga hancur dan sedih mendapati keluarga nya yang bahagia itu kini terpecah belah, tapi dia mencoba untuk biasa saja di depan ayah nya.
"Tidur lagi ya, sudah malam.." Ucap ayah nya dan Kara mengangguk.
Ayah Kara lalu keluar dari dalam kamar Kara, tinggal lah Kara sendiri sekarang dan kembali bersiap tidur meski di kepala nya masih memikirkan mimpi nya yang mengerikan itu.
KEESOKAN HARINYA.
Kara sudah bangun dan dia kemudian turun ke bawah, Beda dengan kemarin saat dia baru datang dalam kondisi sedang hujan besar dan langit nya yang gelap, kali ini Kara bisa melihat pemandangan rumah itu yang ternyata sangat bagus di mata Kara. Saat Kara melihat ke sekeliling nya, dia merasa tempat itu tidak semengerikan seperi saat kemarin dia datang.
"Ternyata rumah antik nggak serem - serem amat." Gumam Kara, dia lalu berjalan keluar dari rumah.
Saat Kara sudah mutar - mutar untuk melihat - lihat sekitaran halaman rumah itu, Kara malah kebingungan karena dia tidak melihat keberadaan ayah nya di depan. Akhir nya Kara pun berjalan menuju ke halaman samping rumah, dan dia keget saat melihat mobil ayah nya malah tidak ada di sana.
"Eh!! Kok mobil ayah nggak ada!" Kara panik, rasanya tidak mungkin kalau sampai ayah nya pergi tanpa memberi tahu nya lebih dulu.
"Ayah!" Panggil Kara, dia adalahi anak yang penakut dan tidak pernah mau di tinggal sendiri di rumah.
Kara hendak berjalan kembali masuk kedalam tapi samar - samar dia melihat ada pergerakan seseorang yang sedang beraktivitas di kebun yang tak jauh dari tempat Kara berdiri.
"Lho, itu ayah.." Kara pun lega, Kara lalu berjalan mendekati ayah nya.
Kara heran karena ayah nya seperti sedang menginjak - injak tanah merah yang basah, seperti ayah nya baru saja mengubur sesuatu di sana.
"Yah." Panggil Kara, dan ayah Kara pun terkejut.
"Hh!!" Ayah Kara sangat terkejut, Kara pun terkekeh melihat ayah nya kaget.
"Hahaha! Ayah kaget yah." Ucap Kara masih sambil terkekeh, ayah nya yang semula pias akhir nya ikut terkekeh juga setelah melihat Kara terkekeh.
"Adek! kaget ayah.." Ucap ayah Kara sambil terkekeh dan mengusap dada nya.
"Ayah lagi ngapain si?" Tanya Kara, dia mencoba menengok apa yang sedang ayah nya kerjakan.
Ayah nya pun menggeser badan nya, dan di sana lah Kara melihat ada dua pohon yang baru di tanam oleh ayah nya, pohon nya tidak begitu besar dan tinggi nya hanya sedikit lebih tinggi dari badan Kara yang tinggi nya sekitar 160 cm, pohon itu mungkin sekitar 200 cm.
"Itu apa, yah?"
BERSAMBUNG!
di aku g ada notif lho kk