Vonis dokter menjadi titik balik dalam hidup Zulfa dimana dirinya hanya bisa memiliki anak melalui program bayi tabung. Di tengah harapan yang rapuh, sang ibu mertua yang selama ini tampak penuh dukungan, diam-diam menyusun rencana yang mengguncang, ia menyuruh Arslan, putra semata wayangnya, untuk berselingkuh.
Arslan menolak keras tunduk pada keinginan ibunya. Ia tetap berdiri di sisi sang istri, menguatkan setiap langkah Zulfa meski harapan berkali-kali runtuh. Namun, konflik tak berhenti di sana. Sang ibu sengaja menghadirkan masa lalu Arslan ke permukaan, mengancam keutuhan rumah tangga yang mereka bangun dengan susah payah.
Di tengah tekanan, air mata, dan kegagalan program bayi tabung yang terus menerpa, Zulfa dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya, antara terus berjuang atau berhenti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vitamaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fathiya punya masa lalu tapi saya punya Arslan
"Selamat siang, Tante," sapa Fathiya lembut setelah mendapat izin masuk ke kamar Farah. Di sana, Farah tampak terbaring lemah di atas ranjang. Menyadari kedatangannya, Farah segera berusaha bangkit dan menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang.
"Bagaimana kondisi Tante setelah rutin minum obat dan vitaminnya?" tanya Fathiya dengan nada ramah, seraya duduk di tepi ranjang.
"Ya begitulah... masih terasa nyeri sedikit," jawab Farah pelan.
"Baik, saya periksa dulu, ya. Sekalian saya akan ambil sampel darah untuk pemeriksaan lanjutan," ujar Fathiya, dibantu seorang perawat di sampingnya.
Dengan peralatan medis yang dibawanya, Fathiya mulai memeriksa kondisi Farah. Ia memasang jarum dengan hati-hati, menarik darah ke dalam tabung kecil yang nantinya akan dibawa ke laboratorium. Farah sempat meringis, wajahnya menegang saat jarum itu menembus kulitnya.
"Sebentar saja, Tante...," bisik Fathiya menenangkan.
Setelah selesai, ia merapikan alat-alatnya, lalu kembali menatap Farah dengan tersenyum.
"Nanti saya akan resepkan obat tambahan. Obatnya akan dikirim langsung ke sini oleh pihak rumah sakit."
Belum lama percakapan itu berlangsung, pintu kamar kembali terbuka. Zulfa masuk bersama seorang pelayan yang membawa nampan berisi makanan dan minuman untuk makan siang Farah.
"Maaf mengganggu, sudah waktunya Mama makan siang," ucap Zulfa sopan.
Namun saat ia hendak mengambil mangkuk berisi sup hangat, suara Farah menghentikannya.
"Biar Fathiya saja yang menyuapi Mama. Berikan makanannya ke Fathiya."
Kalimat itu sederhana, tetapi cukup untuk kembali menggores hati Zulfa. Selama beberapa hari terakhir, dialah yang dengan sabar menyuapi ibu mertuanya. Namun hari ini... perannya seakan dengan mudah digantikan.
"Kamu tidak keberatan, kan, Fath?" tanya Farah penuh harap.
"Dengan senang hati, Tante," jawab Fathiya, lalu mengambil mangkuk dari tangan Zulfa.
"Kali ini biar saya yang menggantikan tugas Mbak Zulfa. Mbak bisa istirahat dulu."
Nada suaranya halus, tetapi terasa seperti garis batas yang tak terlihat.
Zulfa hanya tersenyum tipis, meski hatinya terasa runtuh perlahan. Ia mengangguk singkat, lalu berbalik keluar bersama pelayan.
Namun setelah pelayan itu kembali ke dapur, langkah Zulfa justru terhenti di depan kamar. Pintu yang tadi tidak tertutup rapat menyisakan celah kecil. Tanpa sadar, ia kembali mendekat—bukan untuk masuk, melainkan untuk mengintip dan mendengar apa yang terjadi di dalam.
Dari celah itu, ia melihat pemandangan yang membuat dadanya semakin sesak.
Fathiya duduk di sisi ranjang, dengan sabar menyuapi Farah. Sesekali keduanya tertawa ringan, berbincang akrab seolah telah lama saling mengenal. Suasana hangat itu terasa begitu dekat.
"Apa dulu mereka seakrab ini?" batin Zulfa bergetar.
Ada rasa cemburu yang perlahan menggerogoti hatinya. Tanpa ia sadari, air mata jatuh membasahi pipinya.
Dulu... ibu mertuanya juga pernah bersikap manis seperti itu kepadanya. Bahkan jauh lebih hangat. Saat itu, Zulfa merasa benar-benar diterima sebagai bagian dari keluarga ini.
Namun semuanya berubah sejak vonis dokter itu keluar—vonis yang menyatakan bahwa dirinya sulit memiliki keturunan.
Sejak saat itu, sikap Farah perlahan menjadi dingin. Jarak di antara mereka kian terasa nyata. Kata-kata lembut berganti sindiran halus, perhatian berubah menjadi tuntutan yang tak pernah terucap secara langsung, tetapi terasa begitu menekan.
Dan kini... di hadapannya, Zulfa melihat seseorang yang seolah mampu menggantikan posisinya dengan begitu mudah.
Di dalam kamar, tawa kecil kembali terdengar.
Zulfa menutup mulutnya, menahan isak yang hampir pecah.
Namun tanpa ia sadari, langkah kaki seseorang mendekat dari belakang.
"Sedang apa kamu di sini?" suara bariton Arslan terdengar, namun cukup mengejutkan.
Zulfa tersentak. Ia segera menghapus air matanya dengan cepat, berusaha menyembunyikan perasaannya.
"Aku... cuma memastikan Mama sudah makan," jawabnya pelan tanpa berani menatap.
Tatapan Arslan beralih ke pintu yang sedikit terbuka, ia melihat di dalam kamar tersebut ada ibunya dan juga Fathiya, lalu pandangannya kembali lagi pada wajah Zulfa yang terlihat memerah.
Untuk sesaat, ia terdiam. Seolah baru memahami sesuatu yang selama ini luput dari perhatiannya.
"Sini, ikut aku." Arslan menarik lembut jemari istrinya, menuntunnya ke sofa di lantai satu. Ia menyuruh Zulfa duduk, tanpa melepaskan genggaman tangannya, seolah tak ingin memberi ruang bagi jarak di antara mereka.
"Apa kamu ingin kita pulang saja?" tanyanya pelan. Nada suaranya tenang, tetapi ada ketegasan yang tak biasa.
Zulfa menatapnya sekilas, lalu menggeleng halus. "Mama kamu masih sakit. Kenapa harus pulang secepat ini?"
Ia berusaha terdengar biasa saja, namun sorot matanya tak mampu menyembunyikan luka yang baru saja tergores.
Arslan menghela napas panjang. "Maaf ya... kalau sikap Mama bikin kamu terluka lagi."
Zulfa menggeleng cepat. "Berhentilah meminta maaf atas kesalahan yang tidak kamu lakukan."
Hening sejenak menyelimuti mereka.
"Kalau begitu, ayo kita pulang saja," ucap Arslan lagi, kali ini lebih tegas. "Disini sudah banyak orang yang menjaga mama. Baiknya kita pulang saja."
Zulfa hanya menghela napas pendek, tak lagi berusaha menolak. "Baik... aku berkemas dulu."
"Segera berkemas. Aku akan bilang Papa kalau kita akan pulang sekarang."
Zulfa mengangguk pelan, lalu beranjak menuju kamar. Dengan gerakan cepat, ia mulai merapikan pakaian mereka, melipat satu per satu, lalu memasukkannya ke dalam koper. Tangannya bergerak cekatan, tetapi pikirannya melayang entah ke mana.
Setelah semuanya beres, ia mengambil handuk dan hendak masuk ke kamar mandi. Namun belum sempat ia melangkah lebih jauh, terdengar ketukan di pintu.
Zulfa membuka pintu itu.
"Maaf, Nyonya Zulfa mengganggu. Nyonya Farah meminta Anda untuk ke kamarnya sekarang," ujar pelayan itu sopan.
Zulfa mengangguk, meski kebingungan mulai menyelimutinya. Ia meletakkan kembali handuk yang sudah digenggamnya ke atas sofa, lalu segera berjalan menuju kamar ibu mertuanya.
"Ada apa Mama memanggil Zulfa?" tanyanya hati-hati saat sudah berdiri di sisi ranjang.
Farah menatapnya tajam. "Kamu mau pulang?"
Pertanyaan itu terasa seperti tuduhan.
Zulfa menunduk, lalu mengangguk pelan.
"Kamu tidak lihat kalau saya masih sakit? Kamu sudah capek merawat saya, ya?"
Pertanyaan bertubi itu membuat dada Zulfa bergetar. Ia membuka mulut, mencoba menjelaskan.
"Bukan begitu, Ma. Arslan yang—"
"Kalau kamu ingin pulang, pulang saja sendiri. Tidak usah mengajak anak saya. Saya masih butuh dia."
Kata-kata itu jatuh seperti palu, menghantam tanpa memberi ruang bagi penjelasan.
Zulfa terdiam. Lagi-lagi ia yang disalahkan. Lagi-lagi ia yang harus menanggung semuanya.
"Baik, Ma... Zulfa akan bicara pada Arslan untuk tetap tinggal di sini."
Kepalanya tertunduk lesu. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan melangkah keluar dengan langkah gontai.
Namun bahkan sebelum ia sempat menata kembali perasaannya, langkahnya terhenti di tengah koridor lantai atas.
Dari sana, ia bisa melihat ke arah ruang keluarga di bawah.
Dan di sanalah... jantungnya seperti berhenti berdetak sesaat.
Arslan dan Fathiya duduk berdua di sofa. Entah sejak kapan mereka berada di sana. Posisi mereka tidak terlalu dekat, tetapi cukup untuk terlihat akrab. Percakapan di antara keduanya mengalir ringan—diselingi senyum.
Zulfa terpaku. Tak mampu menangkap pembicaraan mereka.
Apa yang mereka bicarakan?
Apa mereka sedang membahas masa lalu?
Apa membahas masa lalu semenyenangkan itu?
Tangannya mencengkeram pagar pembatas lantai atas. Pandangannya tak lepas dari dua sosok di bawah sana.
Dan untuk pertama kalinya... rasa takut itu muncul begitu nyata.
Takut kehilangan.
Takut tergantikan.
"Apa mamamu masih di kamarnya?"
Zulfa tersentak. Suara Tante Yevi tiba-tiba muncul dari belakang, membuatnya menoleh dengan jantung berdegup lebih cepat.
"Iya... Mama masih di kamarnya."
Yevi mengikuti arah pandang Zulfa, matanya menyipit, seolah menangkap sesuatu yang menarik.
"Oh..." Ia menghela napas pendek, lalu berdecak pelan. "Jadi dari tadi kamu sibuk memperhatikan keakraban mereka."
Zulfa terdiam, tapi sorot matanya tak bisa menyembunyikan kegelisahan.
"Kamu sadar nggak sih," lanjut Yevi dengan nada menusuk, "seharusnya yang ada di posisi kamu itu Fathiya, bukan kamu."
Alis Zulfa mengernyit. "Maksud Tante apa bicara seperti itu?"
"Nggak usah pura-pura nggak tahu deh." Bibir Yevi melengkung sinis. "Kamu tahu, kan, Fathiya itu bagian dari masa lalu Arslan. Jadi jangan heran kalau Fathiya sedang berjuang mengambil kembali apa yang menjadi miliknya sejak awal."
Zulfa mengepalkan tangannya, namun Yevi belum berhenti.
"Biar aku kasih tahu kenapa mereka masih terlihat begitu akrab, padahal hampir sepuluh tahun nggak pernah bertemu." Ia menjeda sejenak, menikmati perubahan raut wajah Zulfa. "Karena ikatan batin mereka masih terhubung. Fathiya itu cinta pertama Arslan—dan sebaliknya."
Zulfa menelan ludah, dadanya terasa sesak.
"Mereka dulu pacaran sejak masih sekolah. Lamaaa sekali..." Yevi kembali berhenti, kali ini senyumnya semakin tajam. "Dan mungkin hubungan mereka dulu sudah terlalu jauh. Bahkan aku pernah, tanpa sengaja, memergoki mereka berciuman dengan durasi cukup lama... tepat di tempat mereka sekarang duduk ..."
"Cukup!!!"
Suara Zulfa meledak. Wajahnya memerah, urat di lehernya menegang. Dadanya naik turun, menahan sakit yang mendadak menyeruak. Meski itu hanya masa lalu, tetap saja terasa seperti luka yang baru disayat.
"Kalau memang wanita itu lebih pantas di posisi saya," lanjutnya dengan suara bergetar namun penuh amarah, "lalu kenapa dia sebodoh itu menolak lamaran Arslan?"
Napasnya tersengal.
"Dan tolong sampaikan pada keponakan Anda yang cantik itu... jaga image seragam putihnya. Jangan jadi perempuan penggoda." Tatapannya membakar. "Karena dia terlihat menjijikkan!!"
"ZULFAAA!"
Bentakan Yevi menggema keras, memantul hingga ke seluruh penjuru rumah.
"Jaga mulutmu!"
"Mulut siapa yang sebenarnya perlu dijaga?" balas Zulfa, suaranya bergetar namun tetap tegas. Tatapannya tak goyah sedikit pun, meski wanita di hadapannya tampak siap menerkamnya hidup-hidup.
"Kalau Fathiya punya masa lalu saya punya Arslan."
Sejenak hening, tapi sorot mata Zulfa justru semakin mengeras.
"Sekali lagi, saya yang memiliki Arslan."
Di lantai bawah, Arslan dan Fathiya tersentak mendengar keributan di lantai atas. Tanpa pikir panjang, Arslan segera berlari menaiki tangga, langkahnya tergesa.
"Ada apa ini?" tanyanya dengan napas memburu.
Yevi menatapnya dingin. "Didik istrimu dengan baik, supaya tahu cara menjaga lisannya."
Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan pergi.
Arslan berdiri kaku, kebingungan. Pandangannya beralih pada Zulfa yang kini sudah berlinang air mata.
"Apa yang terjadi, Zulfa?" Ia menyentuh bahu istrinya dengan lembut.
Namun Zulfa menepis tangan itu dengan kasar.
Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan berlari menuju kamar. Langkahnya sempat terhenti saat melewati Fathiya. Ia menatap wanita itu tajam—penuh luka, penuh amarah—seolah melihat sosok yang merampas ketenangannya.
Fathiya hanya bisa membalas dengan tatapan bingung, tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Detik berikutnya, Zulfa kembali melangkah, menghilang di balik pintu kamar yang tertutup keras.
Arslan segera menyusul dengan perasaan kalut. Ia benar-benar tak mengerti apa yang membuat Zulfa begitu terpukul hingga menangis seperti itu. Apa karena ia melihatnya bersama Fathiya?
Arslan mencoba menerka, tetapi ia merasa tidak melakukan apa pun yang melampaui batas. Perbincangan mereka hanya seputar kondisi ibunya dan rencana pengobatan selanjutnya. Tidak lebih dari itu.
Namun justru di situlah ia semakin khawatir—takut Zulfa kembali salah paham.
Dengan hati-hati, Arslan membuka pintu kamar.
Pemandangan di hadapannya membuat dadanya terasa sesak. Zulfa duduk membelakanginya, tubuhnya bergetar oleh isak tangis yang tertahan.
Arslan melangkah mendekat perlahan.
"Zulfa... ada apa sebenarnya? Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku?"
Ia menangkup bahu istrinya, memaksanya berbalik. Wajah Zulfa basah oleh air mata. Tanpa berkata apa-apa, Arslan mengusap pipinya dengan lembut, berusaha meredakan tangis itu.
"Apa yang Tante Yevi katakan padamu? Apa dia melukai hatimu? Atau..." Arslan terdiam sejenak, menelan keraguannya sendiri. "Kamu cemburu melihatku dengan Fathiya?"
"Semuanya..." jawab Zulfa lirih namun tegas.
Ia memalingkan wajahnya lagi, seolah tak ingin Arslan melihat betapa rapuhnya ia saat ini.
Arslan menghela napas panjang. Ia menggenggam jemari Zulfa, lalu mengecupnya singkat, seolah ingin meyakinkan bahwa ia masih ada di pihaknya.
"Aku minta maaf... tadi aku hanya membicarakan kondisi Mama dan masalah pengobatan untuk mama. Tidak lebih dari itu. Kami juga tidak lama berbincang..."
Ia berhenti sejenak, suaranya melembut.
"Sekali lagi aku minta maaf kalau itu membuatmu terluka dan salah paham."
Zulfa hanya terdiam, tak mampu menjawab. Ia sendiri bingung dengan perasaannya—mengapa bayang-bayang masa lalu Arslan begitu mudah mengguncangnya. Padahal, ia tahu betul, pria di hadapannya itu selalu berusaha menyayanginya.
***
Setelah berhasil memancing emosi Zulfa dengan membakar api cemburu yang sejak tadi di pendamnya—Yevi melangkah santai menuju kamar Farah. Senyum tipis masih tersisa di sudut bibirnya, seolah menikmati hasil dari permainan yang baru saja ia ciptakan.
Di dalam kamar, Farah tampak duduk di balkon dengan kursi rodanya, menghadap taman yang mulai temaram. Pantas saja ia tidak mendengar keributan tadi, batin Yevi.
"Mbak Farah, gimana keadaanmu sekarang?" sapa Yevi, lalu duduk di kursi yang tersedia.
"Sudah agak mendingan," jawab Farah pelan, sembari meletakkan cangkir susu hangat yang tadi disiapkan pelayannya.
"Tadi aku dengar ada suara teriakan dari luar. Apa ada yang jatuh? Aku mau keluar, tapi nggak ada yang bantu," lanjutnya, nada penasarannya tak bisa disembunyikan.
Yevi terkikik pelan, menutup mulutnya. "Kupikir kamu nggak dengar apa-apa."
Farah menoleh, matanya langsung berbinar penuh rasa ingin tahu.
"Kamu tahu nggak, Mbak..." Yevi mendekat sedikit, menurunkan suaranya seperti membisikkan rahasia. "Baru saja aku bikin Zulfa marah besar. Dia cemburu lihat Arslan dan Fathiya duduk berdua di bawah."
"Oh ya?" Wajah Farah tampak lebih hidup, seakan menemukan hiburan baru. "Jadi... Arslan sama Fathiya mulai dekat lagi?"
"Kalau dilihat dari cara mereka berinteraksi sih... sepertinya begitu."
Senyum Farah perlahan merekah, namun menyimpan sesuatu yang sulit diartikan.
"Bagus kalau begitu. Kita nggak perlu susah payah mendekatkan mereka kalau mereka sendiri masih saling menyimpan rasa."
"Berarti rencana kita yang kemarin nggak perlu diterusin?" tanya Yevi, memastikan.
Farah menggeleng pelan. Senyum di wajahnya berubah tipis, dingin.
"Justru harus tetap dilanjutkan," ujarnya lirih, namun penuh tekanan. "Kita hanya perlu mendorong sedikit lagi... supaya mereka benar-benar kembali bersama."
Yevi terdiam sejenak, menatap Farah dengan sorot ragu. "Aku kira Mbak Farah bakal membatalkan rencana ini... apalagi dengan kondisi kesehatan Mbak sekarang."
Namun Farah kembali menggeleng. Kali ini matanya menajam.
"Tidak," ucapnya tegas. "Justru penyakit ini bisa jadi senjata."
Yevi mengangkat alis, menunggu penjelasan.
"Arslan mulai merasa bersalah," lanjut Farah, suaranya terdengar tenang, tapi menyiratkan perhitungan yang matang. "Dia terlalu lama mengabaikan ibunya... lebih memilih bersama istrinya daripada menemaniku."
Ia berhenti sejenak, menatap lurus ke depan.
"Dan rasa bersalah itu..." bibirnya melengkung tipis, "...bisa membuatnya menuruti apa pun yang aku inginkan."
Keheningan sejenak menggantung di antara mereka, sebelum akhirnya Yevi tersenyum samar, seolah memahami arah permainan ini.
"Yang penting," kata Farah pelan namun penuh penekanan, "rencana kita harus berhasil."