Hannah pernah kehilangan segalanya—rumah tangga, impian menjadi seorang ibu, dan kepercayaan pada cinta. Saat ia mulai menata hidupnya kembali, Rayyan hadir tanpa memaksa, hanya perlahan membuktikan bahwa cinta yang tulus tidak pernah lahir dari paksaan. Namun ketika masa lalu kembali muncul, Hamnah harus memilih, tetap hidup bersama luka, atau memberi kesempatan pada hati untuk percaya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nathasya90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DBL4
HARAPAN DAN REALITA
Amplop cokelat itu masih berada dalam genggaman Hannah ketika ia berdiri beberapa saat di depan pintu rumah. Isinya hanya beberapa lembar hasil pemeriksaan, tetapi entah kenapa terasa jauh lebih berat daripada tas kerja yang ia bawa di bahunya. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya memasukkan kunci ke lubang pintu.
Baru saja pintu terbuka, suara Romi langsung menyambutnya dari ruang keluarga.
"Sudah pulang?"
Hannah mengangguk kecil sambil melepas sepatu.
"Iya."
Romi segera bangkit dari sofa. Tatapannya langsung jatuh pada amplop yang masih berada di tangan istrinya.
"Itu hasil pemeriksaannya?"
Hannah mengikuti arah pandangan suaminya, lalu tanpa sadar menggenggam amplop itu sedikit lebih erat.
"Iya."
"Gimana hasilnya?"
Belum sempat Hannah menjawab, rasa lelah yang sejak tadi ia tahan justru semakin terasa. Seharian bekerja, kemudian mengambil hasil pemeriksaan di rumah sakit, lalu pulang dengan kepala yang dipenuhi begitu banyak pikiran. Jangankan menjelaskan hasilnya, untuk sekadar berdiri saja rasanya ia ingin segera merebahkan tubuh.
"Aku mandi dulu ya, Mas," ucapnya pelan. "Gerah."
Romi tampak sedikit kecewa karena pertanyaannya belum dijawab, tetapi ia mengangguk.
"Iya."
Hannah langsung berjalan menuju kamar. Ia tahu Romi pasti penasaran. Namun saat ini ia belum siap membicarakan apa pun sebelum menenangkan pikirannya sendiri. Air hangat yang mengalir dari pancuran sedikit demi sedikit membantu mengurangi penat di tubuhnya. Ia memejamkan mata cukup lama, membiarkan suara air memenuhi keheningan. Berkali-kali ia mencoba menyusun kalimat di kepalanya. Bagaimana kalau hasilnya nanti tidak sesuai harapan? Bagaimana kalau justru mereka harus menerima kenyataan yang jauh lebih berat daripada yang selama ini mereka bayangkan? Entah sudah berapa menit ia berada di dalam kamar mandi sampai akhirnya suara ketukan pelan terdengar dari luar.
"Na?"
Hannah membuka mata.
"Iya, Mas?"
"Lama?"
"Nggak kok."
"Ya sudah."
Suara langkah kaki Romi kembali menjauh. Hannah mengembuskan napas pelan. Ia tahu suaminya sedang gelisah. Begitu keluar dari kamar mandi, aroma bawang putih yang sedang ditumis langsung menyambut penciumannya.
Hannah berhenti di depan pintu dapur. Romi berdiri membelakanginya dengan celemek yang bahkan belum sempat dilepas dari gantungan. Di atas kompor, sebuah wajan kecil berisi nasi goreng yang tampaknya masih dalam proses dimasak. Gerakannya terlihat kikuk. Sesekali ia membuka layar ponsel yang disandarkan di dekat tempat bumbu, lalu kembali mengaduk isi wajan dengan wajah serius. Hannah tidak langsung menyapanya. Untuk beberapa detik, ia hanya memandangi punggung suaminya sambil menahan senyum tipis yang akhirnya muncul begitu saja.
"Kamu lagi ngapain?"
Romi sedikit terkejut. Ia buru-buru mematikan api kompor sebelum menoleh.
"Eh... udah selesai mandinya?"
Hannah mengangguk. "Iya."
Romi tersenyum canggung.
"Aku... cuma pengin bikin makan malam."
Hannah mengalihkan pandangan ke arah wajan, lalu ke meja dapur yang dipenuhi berbagai bumbu yang masih terbuka. "Resep dari internet?"
Romi terkekeh pelan.
"Ketahuan ya?"
Hannah mengangguk kecil.
"Soalnya bawang putihnya masih utuh begitu."
Romi ikut menoleh ke arah talenan.
"Iya juga ya..."
Keduanya sama-sama tertawa pelan. Tawa yang sederhana, tetapi cukup mengurangi ketegangan yang sejak tadi memenuhi rumah mereka. Hannah kemudian berjalan mendekat.
"Boleh aku lihat?"
"Boleh."
Ia mengambil spatula dari tangan suaminya, lalu mengaduk nasi goreng yang hampir matang.
"Sebentar lagi jadi kok."
Romi berdiri di sampingnya tanpa berkata apa-apa. Beberapa kali ia tampak ingin membuka pembicaraan, tetapi kembali mengurungkannya. Hannah menyadari itu. Ia mematikan kompor, lalu mulai membagi nasi goreng ke dua piring.
"Mas."
"Hm?"
"Makasih."
Romi menatap istrinya.
"Untuk apa?"
"Udah berusaha bikin makan malam untuk kita."
Romi tersenyum kecil.
"Tadi aku kepikiran..."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"...kayaknya aku salah waktu nanya."
Hannah ikut terdiam.
"Tadi kamu kelihatan capek."
"Aku memang capek."
"Maaf."
Hanya satu kata. Namun cukup membuat Hannah mengangkat wajah. Ia tahu Romi bukan meminta maaf karena bertanya soal hasil pemeriksaan. Suaminya sedang meminta maaf karena tidak peka.
Hannah menggeleng pelan.
"Nggak apa-apa."
Mereka membawa piring masing-masing ke meja makan. Tidak banyak percakapan yang terjadi selama beberapa menit pertama. Hanya suara sendok yang sesekali beradu pelan dengan piring. Barulah setelah makan malam hampir selesai, Hannah meraih amplop cokelat yang sejak tadi ia letakkan di samping meja. Ia mengusap permukaannya pelan sebelum meletakkannya tepat di depan Romi.
"Mas."
Romi menghentikan aktivitas makannya.
"Hm?"
"Aku sudah ambil semua hasil pemeriksaanku."
Tatapan Romi turun ke arah amplop itu.
Hannah menarik napas panjang.
"Dan aku pengin kita ke rumah sakit lagi."
Romi tidak langsung menjawab.
"Kali ini..."
Hannah menatap lurus ke arah suaminya.
"...aku nggak mau datang sendirian."
Jangan lupa kasih ⭐⭐⭐⭐⭐ biar othor makin semangat up nya ya.
Ditunggu semua komenannya.
Love sekeboon buat kalian💐