Pada masa putih abu-abu. Jeviza menjalin cinta dengan Keandra, tetapi baru 1 tahun pacaran, hubungan keduanya harus berakhir karena sebuah kesalah pahaman. Lalu keduanya dipertemukan lagi setelah 2 tahun berpisah, lebih gilanya, Jevi dan Kean berada di satu rumah. Seatap dengan mantan itu lah yang terjadi setelah perpisahan.
Mantan tapi masih cemburu, cinta tapi gengsi menjadi bumbu kehidupan keduanya setelah berada di satu rumah yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Lagi
Jeviza memalingkan wajahnya saat melihat Kean dan teman-temannya datang, di sana ada Gio, Januar dan satu lagi cowok yang tidak Jevi kenali, tetapi mereka tidak hanya berempat saja, ada satu gadis yang sudah Jevi kenali dari hari pertama OSPEK kemarin, Vio. Satu-satunya gadis yang kini sedang berjalan bersama dengan Kean dan teman-temannya.
"Semoga nggak liat, please," gumam Jeviza menunduk dan menoleh ke arah lain.
Tapi keinginan Jevi itu harus ditelan bulat-bulat, suara Januar sebagai kakak pembimbingnya tadi tiba-tiba meneriaki namanya. Membuat Jevi mau tidak mau menoleh dan memaksakan senyumnya.
"Je! Jeviza." Januar melambaikan tangan. Tersenyum ramah pada Jeviza yang duduk di halte depan kampus.
"Hai, kak," balasnya ramah, tetapi suara terdengar sedikit bergetar, Jeviza gugup setengah mati hanya karena disapa oleh Januar.
Bukan yang menyapa Jeviza yang membuatnya gugup, tetapi orang yang berjalan di belakang Januar, cowok yang bahkan sempat melirik ke arahnya sebentar tadi, sebelum akhirnya kembali menatap ke lain arah.
Segitu bencinya, lo sama gue, kak?
Batin Jevi merasa jika tatapan mata Kean, tatapan akan kebencian padanya.
Harusnya gue yang benci lo
Januar berlari kecil ke arah Jeviza, menatap ke sekitar gadis itu yang sudah mulai sepi, hanya ada beberapa mahasiswi yang Januar yakin tidak dikenal oleh Jevi.
"Yang lain kemana?" tanya Januar tidak melihat adanya ketiga teman Jeviza.
"O-oh, Sisil sama yang lain udah balik duluan kak," jelas Jevi mendapat anggukan kepala Januar.
"Lo nggak balik juga?" tanya Januar melihat Jeviza seorang diri, masih duduk di halte kampus.
Jevi menggeleng pelan. "Gue lagi nunggu yang mau jemput kak."
"Woy, Nu. Udah akrab aja baru 2 hari," seru Gio melihat interaksi Januar dan Jeviza.
"Nggak lagi modus kan?" lanjutnya lagi.
"Diem, lo nggak dibutuhkan buat ngomong," balas Januar membuat Jeviza tampak terkekeh.
Tanpa sengaja tatapan mata Jeviza san Kean kembali bertemu, namun hanya seperkian detik saja, karena lagi, dan lagi Kean memutuskan tatapan keduanya.
"Gue mau ke kafe depan, lo mau ikut nggak?" tanya Januar mendapat gelengan kepala Jeviza.
Yang benar saja Jevi ditawari gabung bersama mereka, yang ada Jeviza mati berdiri karena tatapan sinis Vio dan adanya Keandra.
"Enggak kak, makasih, duluan aja."
"Oke, gue duluan ya Je, banyak banget yang harus dibahas soalnya."
Jeviza mengangguk diselingi senyum yang manis.
Januar kembali melangkah bersama yang lain, dan begitu berat rasanya untuk Jevi abaikan. Lagi-lagi sorot mata Jevi mengarah pada mereka, lebih tepatnya pada satu cowok yang kini menggunakan kemeja putih digulung sampai siku tanpa almamater seperti biasanya.
Pundak yang terlihat paling tegap, paling tinggi dan sepertinya terasa sanga nyaman untuk bersandar.
Kean terlihat paling tinggi dan paling beda di antara mereka, pantas cowok itu menjadi pusat perhatian teman-temannya, bukan hanya teman-temannya, tetapi mungkin hampir seisi kampus.
Terdengar berlebihan dan lebay, tetapi itu yang membuat Jeviza lebih sadar diri agar semakin menghindar dan tidak bertemu lagi dengan cowok itu.
Suara klakson seketika menyadarkan lamunan Jeviza. Ia menoleh dan mendapati mobil Arlo sudah berada di depannya. Memasang senyum kesalnya, Jeviza mulai mendekat dan masuk ke dalam.
"Lama ya? Sorry Je, mas baru ketemu orang dulu tadi."
Jeviza mengangguk paham. "Nggak papas mas, gue juga baru keluar kok tadi."
Mobil mulai meninggalkan daerah kampus. Menyisakan Jeviza yang sedang memilih-milih lagu untuk didengarkan.
"Mas Arlo suka lagu apa? Jangan dangdut ya mas, gue bukan nggak suka tapi lagi males aja," ujar Jeviza mendapat tawa khas Arlo.
"Terserah kamu aja Je, mas gini-gini juga berjiwa muda."
Jeviza mengangguk dengan kekehan, lalu mulai memutar lagu kesukaannya. Arlo pun tidak protes, apa yang dia katakan tadi memang benar, laki-laki yang sudah berusia hampir 35 tahun itu mendengarkan lagu apa saja, telinga Arlo di desain menerima lagu dengan genre apa saja.
Sementara di lain tempat.
Kean dan teman-temannya baru saja selesai membahas untuk OSPEK besok, ada perubahan mengingat cuaca yang biasanya panas mendadak mendung dan bahkan gerimis, seperti tadi pagi misalnya.
"Nu, lo care juga ya sama maba itu," ujar Vio menutup laptopnya.
Januar menoleh,menatap Vio dengan aneh.
"Gue emang peduli sama siapa aja, apa lagi maba yang butuh bimbingan," jawab Januar membuat Vio tertawa.
Lalu Vio melirik ke arah Kean yang memang lebih banyak diam dan tetap tidak peduli seperti biasanya.
"Bagus sih, asal bukan Ke aja yang care sama mereka."
Kean yang disebutkan namanya mendongak, menatap pada Januar, bukan Vio, dengan ujung bibir sedikit terangkat ke atas.
Januar yang ditatap demikian oleh Kean kebingungan, tatapan itu jelas bukan tatapan biasa, seperti ada maksud lain, tetapi Januar sungkan untuk menanyakan.
"Maba yang mana sih? Yang tadi itu? Dari jakarta?" tanya Gio diangguki Januar. "Yoi."
Gio terdiam sejenak, seperti sedang berpikir yang entah membuat otaknya kebingungan sendiri mencari jawaban atas pikirannya.
"Jujur ya, mukanya kaya nggak asing, tapi gue nggak tahu dia siapa," ungkap Gio berusaha mengingat-ingat.
Tetapi buntu, Gio tetap tidak mengingat apapun tentang gadis yang mereka maksud.
"Kaya lo kenal aja," celetuk Vio menyeruput ice tea thailand miliknya.
"Gue emang nggak kenal, tapi kaya pernah liat, tapi dimana ya gue liatnya?"
"Ck, semua cewek cakep dibilang pernah liat mulu, tobat bro," ujar Bian yang sedari tadi tidak bersuara. Sama seperti Kean yang banyak diamnya.
"Ngapain tobat? Gue nggak mimpi dewasa sama tuh cewek," ujar Gio membela diri.
Kean beranjak dari duduknya. Ia mengambil tasnya dan pamit pada teman-temannya.
"Gue cabut dulu," ujarnya berlalu.
"Ke, tunggu!"
Vio hampir saja mengejar jika saja Gio tidak menahan.
Vio menatap kesal Gio, melepaskan cekalan tangan Gio dari pergelangan tangannya.
"Lo kenapa sih? Cemburu lo sama Kean?"
Gio mendelik, ikut menatap kesal Vio.
"Lo jangan ganggu dulu, Kean butuh waktu sendiri, kemarin gue ke apartnya mamanya telepon," jelas Gio membuat Vio mendengus.
"Ya, terus kenapa? Gue cuma mau pulang bareng aja, bukan mampir ke apartnya."
"Tetep aja nggak bisa, kalau nyokap apa bokapnya udah telepon, pasti menyangkut tentang perusahaan orang tuanya. Dia butuh sendiri untuk tenang dan mendinginkan otak."
"Sepaham, Kean di kampus udah dituntut ini itu sebagai ketua BEM, belum lagi keluarganya, stres si kalau gue jadi dia," ujar Januar membuat Gio dan Bian terkekeh.
"Sayangnya lo bukan dia, jadi lo masih waras buat modusi maba," celetuk Gio membuat Januar menghela napas dalam dengan gelengan kepala.
"Untuk yang tadi, gue nggak modus," gumam Januar mengingat tentang Jeviza.
bomloppp deh😍
tahan ke,,, tahan!!!