Aurora sudah terlihat cantik dengan riasan wajah natural flowles dan glowing. ia mengenakan gaun pengantin impiannya rancangan sahabatnya sendiri Vera.
Di sudut ruangan rias Maxime yang tak lain sahabat Aurora berdiri mengamati kecantikannya dengan takjub.
Tiba-tiba sebuah kabar buruk datang jika pengantin pria yaitu Andre tidak datang melainkan pergi tanpa kabar sejak semalam. kepanikan seketika melanda terutama Aurora sampa jatuh pingsan dan harus di tenangkan oleh teman dan keluarganya. hingga waktu yang di tentukan Andre tak juga datang. demi menyelamatkan nama keluarga besar akhirnya Maxime bersedia menikahi Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nur danovar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 28 Baku Hantam
Max turun dari mobil ia berjalan menuju lobi dan tanpa di duga Max berpapasan dengan Andre yang baru keluar dari lift. Andre tersenyum cerah mengejek Maxime. kedua pria itu berdiri berhadapan saling menatap tajam.
"Mau apa kemari? mengganggu Rora lagi?" tanya Max santai tapi di dalam hatinya bergemuruh amarah.
"Yah aku baru saja menemui Aurora mantan kekasih ku" kata Andre semakin memanasi Maxime.
Max mengepalkan tangannya menahan amarahnya.
"Berhenti mengganggu Rora atau kau tahu akibatnya" kata Max.
"Aku tidak mengganggunya coba saja tanya pada Rora apakah ia merasa terganggu karena aku datang? pasti jawabannya tidak karena aku masih bertahta di hatinya sementara kau berjuang untuk memenangkan cintanya, cih.. kasihan sungguh kasihan" ejek Andre yang berhasil membuat Max melayangkan tinjunya.
Darah segar menetes dari hidung Andre. Andre membalas pukulan Max. sekejap lobi kantor langsung ramai, Wisnu mencoba memisah dan menenangkan bosnya.
"Sudah bos jangan ladeni dia" kata Wisnu ikut kesal.
Sementara Andre terkekeh sembari mengusap darah yang mengalir dari hidungnya.
"Ada apa ini?" Antoro dan Aurora menghampiri Max dan Andre.
Aurora terkejut mendapati Andre berdarah, ia segera beralih menatap wajah Max memastikan apakah Max juga berdarah atau tidak.
"Max kau tidak apa-apa?" Rora mendekati Max dan menatap wajah suaminya.
Max hanya diam masih menahan amarahnya dan tetap menatap tajam ke arah Andre.
"Oke cukup anak-anak ini di kantor jadi jangan membaut gaduh. Andre kau sebaiknya pergi karena tidak ada yang mengharapkan mu ada disini" kata Antoro tegas.
"Ayo Max kita ke ruangan ku saja" kata Aurora menyelusupkan tangannya diantara jemari tangan Max.
Max menggenggam lembut tangan Rora berjalan menuju ruang kerja Rora di ikuti Wisnu.
"Kenapa dia kemari?" tanya Max kesal.
"Tadi pagi ada buket bunga dia tas meja kerjaku aku pikir itu dari mu ternyata dari Andre. lalu dia muncul di ruangan ku untuk bicara dan mencoba membujukku"
"Membujuk apa?" Max melonggarkan dasinya karena amarahnya sendiri membuat dasi itu serasa mencekik lehernya.
"Max tenanglah, aku membuang bunga pemberiannya lihat itu" Rora menunjuk tempat sampah yang terdapat buket bunga mawar di dalamnya.
Max sedikit tenang melihatnya ia lega Rora tidak terpengaruh oleh Andre tapi ia juga cemas. Andre licik ia pasti menggunakan segala cara untuk kembali pada Rora.
"Oke sekarang kenapa kau kemari?" Rora melangkah mendekati Max lalu merapikan dasi suaminya dan menyentuh perlahan wajah Max yang tadi di pukul Andre. Max melingkarkan sebelah lengannya di pinggang Rora sembari menunduk agar Rora tidak kesulitan merapikan dasinya.
"Aku ingin melihat mu" kata Max.
Aurora tersenyum ia mengecup pipi Max. Wisnu yang melihat kemesraan itu langsung berjalan perlahan keluar dari ruang kerja Aurora.
***
Global School
Catherine duduk di kantin seorang diri, ia sedikit mengantuk karena semalam tidak bisa tidur. kakaknya mendiamkannya karena marah.
Kenapa kak Maxime over protective banget sama aku?
Catherine melihat sekeliling beberapa siswa sedang duduk dengan pacar mereka. semetara Catherine sulit sekali hanya sekedar berteman dengan lawan jenis. giliran ada yang mau pacaran dengannya tapi cuma sandiwara belaka.
Abian muncul di hadapan Catherine ia duduk sembari meletakkan segelas kopi dingin.
Catherine menatap kopi itu lalu bergantian melihat Abian sebelum ia memalingkan wajahnya karena malas melihat berandalan itu di hadapannya. Abian memang terkenal siswa problematik disekolah. papanya saja sudah tidak peduli padanya. hidupnya urakan dan tidak jelas. suka menindas dan membully. kalau bukan karena Abian anak pejabat penting ia pasti sudah di keluarkan dari sekolah ternama itu.
"Jangan jual mahal! kita pacaran jadi lihat wajah ku" kata Abian menatap Catherine.
"Pacaran? tinggal menghitung hari juga pacaran kita selesai" kata Catherine ketus.
"Dasar anak manja!" kata Abian tak kalah ketus.
"Anak manja?! siapa yang kau maksud anak manja? kau sendiri tidak bisa bermanja-manja dengan orang tua mu ya karena mereka sudah tidak peduli padamu!"
Abian terdiam dengan mimik wajah marah. ia berdiri dari duduknya dan berjalan pergi begitu saja. sementara itu Catherine menyesali ucapannya yang sepertinya keterlaluan. ia menatap Abian yang berjalan menjauh.
Cathe paling tidak jangan bawa-bawa orang tuanya, bodoh!
Catherine mengomeli dirinya sendiri. ia benar-benar merasa bersalah telah membuat Abian tersinggung. padahal selama beberapa hari pacaran dengan Abian ia merasa senang juga. Abian memperhatikannya dan mengajaknya jalan-jalan dengan motor lalu pergi nonton dan menemani Catherine berbelanja di mall.
Aduh kenapa aku jadi merasa aneh begini ya sama Abian...
Catherine melangkah dari kantin ia mencari Abian untuk meminta maaf.