NovelToon NovelToon
Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Reinkarnasi / Romantis
Popularitas:226
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Selama 500 tahun, seorang arwah wanita dikutuk oleh dewa menjadi “Roh Bulan” dan disegel di dalam lukisan kuno di sebuah kuil akibat kesalahan fatal yang dilakukannya di masa lalu. Hidup dalam kesunyian abadi, ia hanya bisa melihat dunia dari balik lukisan tanpa mampu menyentuh siapa pun.
Hingga suatu malam, seorang pria tanpa sengaja membebaskannya dari segel kuno. Semakin lama bersama, arwah wanita itu mulai jatuh cinta padanya. Namun keduanya perlahan menyadari bahwa mereka ternyata telah terikat sejak 500 tahun lalu, dan pria itu mungkin adalah alasan sebenarnya di balik kutukan Roh Bulan yang menghancurkan hidup mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 17 Rasa Khawatir yang Tak Bisa Disembunyikan

Malam mulai turun di luar rumah sakit. Cahaya lampu kota memantul samar dari jendela kamar rawat Ravin yang masih dipenuhi suara alat monitor berdetak pelan. Ayah Ravin berdiri dekat jendela dengan wajah lelah, sementara ibu Ravin duduk di samping ranjang anaknya sambil menggenggam tangan Ravin erat, seolah takut kehilangan lagi.

“Kita nggak bisa terus begini,” ucap ayah Ravin pelan namun berat. “Aku sudah cari informasi rumah sakit luar negeri yang mungkin bisa menangani kondisi Ravin lebih baik.”

Ibu Ravin langsung menggeleng cepat. Matanya memerah karena terlalu sering menangis beberapa hari terakhir.

“Tidak,” katanya lirih namun tegas. “Perjalanan sejauh itu terlalu berisiko untuk kondisi Ravin sekarang.”

“Tapi kalau di sini tidak ada perkembangan?” tanya ayah Ravin lagi, suaranya mulai meninggi meski masih tertahan.

“Aku yakin anak kita akan sadar,” katanya, suaranya bergetar namun tetap memaksa tegar. “Ravin pasti bangun. Dia nggak mungkin ninggalin kita.”

Ayah Ravin terdiam cukup lama sebelum akhirnya menghela napas pasrah. Ia tahu mantan istrinya bertahan hanya dengan harapan yang tidak mau runtuh.

Tak lama kemudian ia menatap Selina dan ibu Ravin bergantian.

“Kalian pulang saja malam ini,” katanya pelan. “Aku yang jaga Ravin.”

Selina tampak ragu. “Ayah nggak apa-apa sendiri?”

“Ayah cuma ingin menemani kakakmu,” katanya singkat.

Ibu Ravin berdiri perlahan, tapi matanya masih enggan lepas dari tubuh anaknya di ranjang. Lalu ia terdiam, seperti baru teringat sesuatu.

“Ngomong-ngomong…” ucapnya pelan, keningnya berkerut. “Arum ke mana ya?”

Selina ikut tersadar. “Benar juga… sejak di rumah sakit waktu itu dia hilang begitu saja,” katanya lirih.

Ibu Ravin menatap kosong, suaranya pelan saat

berkata, “Mudah-mudahan anak itu baik-baik saja.”

Di sisi lain, malam kerajaan terasa jauh lebih tenang namun dingin. Cahaya obor bergetar di sepanjang lorong istana saat Ravin berjalan mengikuti Arkara menuju kediaman Aruna.

“Tempat ini jauh lebih nyaman daripada bagian istana lain,” ucap Arkara pelan sambil tersenyum kecil.

Ravin hanya mengangguk singkat. Matanya mengamati setiap sudut bangunan megah itu, tapi pikirannya terasa berat.

Begitu mereka masuk, para pelayan langsung menunduk hormat. Selir Ratih yang berada di dalam ruangan tampak lega melihatnya.

“Syukurlah kau kembali dengan selamat,” ucap Selir Ratih lembut sambil menyentuh wajah Ravin sebentar.

Ravin hanya diam, tidak sepenuhnya merespons. Semua ini terasa asing, seperti memakai kehidupan orang lain yang bukan miliknya.

Setelah makan malam selesai, ia menarik Arkara ke paviliun kecil di halaman belakang. Angin malam berhembus pelan, membawa dingin yang menusuk.

“Ada apa sebenarnya, pangeran?” tanya Arkara pelan.

Ravin terdiam sebentar, lalu berkata hati-hati, “Aku sempat jatuh.”

Arkara langsung menegang. “Jatuh?”

Ravin mengangguk samar. “Kepalaku terbentur cukup keras. Sejak itu ada beberapa hal yang terasa kabur,” katanya pelan.

Tatapan Arkara langsung berubah cemas. “Jangan bilang pangeran kehilangan ingatan?”

“Tidak separah itu,” jawab Ravin cepat. “Hanya… beberapa hal kecil.”

Arkara menghela napas lega, tapi masih terlihat khawatir. “Kalau begitu pangeran harus istirahat lebih banyak.”

Ravin mengangguk, lalu bertanya, “Ceritakan padaku tentang kerajaan ini.”

Arkara tampak ragu sesaat sebelum akhirnya mulai menjelaskan. Suaranya mengalir tentang struktur keluarga kerajaan, posisi raja, ratu, dan para bangsawan.

“Putra mahkota sangat dihormati rakyat,” katanya pelan. “Beliau tenang dan bijaksana.”

Ravin mendengus pelan. “Lalu hubunganku dengan dia?”

“Pangeran sangat dekat dengan beliau,” ucap Arkara hati-hati. “Meski berbeda ibu, kalian tetap saudara.”

Ravin menatap kosong ke taman gelap di depan mereka. “Dekat…?” gumamnya. Tidak terasa seperti itu.

“Kalau Arum?” tanyanya lagi.

Nama itu membuat Arkara sedikit terdiam sebelum menjawab, “Nona Arum dulu sering datang ke istana. Beliau dekat dengan pangeran… dan juga putra mahkota.”

Ravin langsung menangkap nada yang rumit di sana.

“Dan Ajeng?”

“Putri Ajeng dijodohkan dengan putra mahkota untuk urusan politik kerajaan,” jawab Arkara singkat.

Ravin bersandar ke kursi kayu, kepalanya terasa penuh. Semakin banyak ia tahu, semakin kusut semuanya.

Dan entah kenapa… setiap kali nama Arum disebut, dadanya terasa tidak stabil, seperti ada sesuatu yang menariknya tanpa alasan jelas.

Angin malam berhembus pelan melewati paviliun itu.

“Sejak dulu pangeran sangat mencintai Nona Arum,” kata Arkara pelan.

Ravin langsung mengangkat pandangannya.

“Semua orang dekat pangeran tahu itu,” lanjut Arkara.

“Aruna mencintai Arum?” ulang Ravin pelan.

Arkara mengangguk.

“Sama seperti putra mahkota.”

Hening turun seketika.

Ravin diam lama, mencoba mencerna informasi itu. Bukan hanya dirinya yang terjebak dalam perasaan rumit ini—bahkan kehidupan asli Aruna pun ternyata sama.

“Lalu Arum memilih siapa?” tanyanya akhirnya.

Arkara terdiam cukup lama sebelum menjawab, “Nona Arum mencintai putra mahkota.”

Jawaban itu membuat dada Ravin terasa panas tanpa alasan yang bisa ia jelaskan.

“Tapi kerajaan menjodohkan putra mahkota dengan Nona Ajeng,” lanjut Arkara pelan, “demi kestabilan politik.”

Ravin tertawa kecil hambar. “Dan Arum hilang?”

Arkara mengangguk. “Setelah itu, Nona Arum menghilang.”

“Dan Aruna pergi mencarinya,” gumam Ravin pelan.

“Pangeran pergi tanpa kabar,” jawab Arkara. “Semua istana panik.”

Ravin menghela napas panjang. “Gila…” katanya pelan. “Mirip banget sama hidupku.”

Arkara mengernyit, tapi tidak bertanya.

Tak lama, Arkara melanjutkan dengan suara lebih pelan.

“Dulu… Selir Ratih adalah permaisuri.”

Ravin langsung menoleh. “Apa?”

Arkara menunduk sedikit, seolah takut salah bicara.

“Beliau dulu istri kesayangan raja,” katanya hati-hati. “Sebelum ratu sekarang datang ke istana. Setelah itu… kedudukannya turun.”

Ravin terdiam.

“Ini benar-benar kacau,” gumamnya pelan.

Arkara hanya diam.

Di kediaman ratu, pagi itu suasana dipenuhi kesibukan.

Para pelayan mondar-mandir membawa kain dan perhiasan. Cermin besar di tengah ruangan memantulkan sosok Ratu Shima yang berdiri anggun dalam balutan gaun kebesaran.

“Yang Mulia benar-benar sempurna,” ucap salah satu pelayan pelan.

Shima tersenyum tipis sambil menatap pantulan dirinya.

“Inilah jati diriku,” katanya pelan.

Pelayan lain menunduk hormat. “Tidak ada yang lebih pantas memakai simbol kerajaan selain Yang Mulia.”

Shima tidak menjawab. Ia hanya menatap kotak kayu hitam yang dibuka di hadapannya.

Tusuk konde kerajaan.

Kilau emasnya memantulkan cahaya pagi dengan megah.

“Bawa ke sini,” katanya tenang.

Ia mengambilnya perlahan, seolah sedang menyentuh puncak dari semua perjuangan hidupnya.

“Pada akhirnya…” ucapnya pelan, “aku sampai juga di sini.”

Namun di balik tatapan itu, ada bayangan masa lalu yang tidak pernah benar-benar hilang.

Semua yang ia korbankan.

Semua yang ia hancurkan.

Dan semua yang tidak akan pernah ia sesali.

“Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan,” katanya pelan, memasang konde itu di rambutnya.

Ruangan itu langsung terasa sunyi.

Dan di tengah keheningan itu, Ratu Shima akhirnya benar-benar terlihat seperti penguasa yang tidak lagi bisa digoyahkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!