Vanya yang mabuk parah dan ditinggal pacarnya malam itu, berjalan sendirian. Lalu didatangi oleh dia orang begal yang hendak memperkosanya, untungnya ada Reyhan soerang pengemudi ojol yang melihat mereka, Reyhan menolong vanya yang pingsan dari begal itu. Namun setelah Vanya sadar dan teriak warga memergokinya dan di fitnah berbuat mesum.
Vanya dan Reyhan dipaksa untuk dinikahkan, dan ayah Vanya yang merasa harga dirinya jatuh menyetujui pernikahan itu dan kemudian memberi syarat kontrak satu tahun kepada Reyhan yang memberatkan Reyhan.
Vanya menganggap bahwa Reyhan bagian dari begal itu, sehingga Vanya membencinya.
namun karena kebaikan Reyhan dan kekonyolannya Vanya akhirnya vanya merasa salah dengan prasangkanya, setelah bukti-bukti terkuak.
Setelah habis kontrak satu tahun itu Reyhan pergi, dan Vanya menyesal dan kehilangannya lalu mencarinya sampai seperti orang gila...
bagaimana kisah mereka, dan bagaimana akhir mereka??
kisah CHICK-LIT ROMANCE
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: KOMPROMI DI ATAS RERUNTUHAN HATI
Kamar kecil di paviliun belakang itu kini terasa tak ubahnya sebuah makam bagi kenangan yang belum sempat tumbuh. Vanya berdiri mematung di tengah ruangan yang pengap, dikelilingi oleh kesunyian yang mencekik tenggorokan. Matanya menyapu setiap sudut gudang yang kini kosong melompong. Ia menatap selimut lipat milik Reyhan yang masih tertata rapi di atas kasur busa tipis—sebuah tatanan perfeksionis yang selalu dilakukan pria itu setiap pagi sebelum ia menyalakan mesin mobil dan bertindak sebagai supir pribadinya. Aroma samar parfum maskulin yang bersahaja, bercampur dengan bau sabun murah dan kayu tua, masih tertinggal pekat di udara.
Vanya memejamkan mata erat-erat, menahan denyut di pelipisnya yang mendadak kumat. Setiap jengkal ruangan ini seolah memiliki lidah dan meneriakkan kehadiran pria itu.
Mengapa kau harus meninggalkan bekas seburuk ini di rumahku, Rey? batinnya menjerit, terluka.
Kebencian yang semula membara membakar dadanya kini perlahan memudar, berganti menjadi rasa perih yang aneh dan membingungkan. Ia merasa seperti "terbunuh" oleh sepi, namun di saat yang sama, ia merasa dikhianati oleh ingatannya sendiri. Jemari Vanya yang gemetar menyentuh laci meja kayu yang berdebu—tempat di mana ia menemukan kotak obat maag yang dibelikan Reyhan untuknya beberapa waktu lalu. Seketika, kebenciannya meletup kembali, panas, tajam, dan menghanguskan.
"Tentu saja... itu pasti bagian dari trik busukmu," pikir Vanya dengan senyum getir yang dipaksakan. "Memberi perhatian-perhatian kecil, bermuka polos, membangun rasa percaya secara perlahan, lalu menghancurkan kehormatanku dari dalam. Kamu pasti sedang tertawa di dalam sel sana, kan? Menertawakan betapa bodohnya seorang Vanya Hutama karena sempat meragukan tuduhan Derian!"
Ia mengusap dadanya yang terasa sangat sesak, seolah pasokan oksigen di paviliun itu telah habis diisap oleh kebohongan. Keputusan harus diambil, dan ego besarnya menolak untuk terlihat lemah. Bagi Vanya, Reyhan hanyalah sebuah kesalahan besar, sebuah noda hitam dalam lembaran hidupnya yang harus segera dibilas bersih. Ia harus mengubur dalam-dalam rasa ragu yang tersisa.
Negosiasi di Balik Meja Kristal
Sementara itu, di ruang makan utama rumah utama yang megah dan beralaskan marmer Italia, suasana jauh dari kata damai. Di bawah pendar lampu gantung kristal yang mewah, sebuah transaksi berkedok penyelamatan sedang berlangsung. Derian duduk dengan punggung tegak di depan Bramantyo Hutama, menatap pria paruh baya yang tampak ringkih itu dengan tatapan predator yang tersamar sempurna di balik senyum manis nan santun.
"Semua berkas dan jaminan hukumnya sudah saya siapkan, Om Bram," ujar Derian dengan nada suara yang dikalibrasi sedemikian rupa agar terdengar seperti seorang pahlawan tanpa pamrih. Ia menggeser sebuah tablet premium berisi grafik proyeksi keuangan ke hadapan Bramantyo. "Koneksi investor saya dari Singapura sudah memberikan lampu hijau. Mereka setuju untuk menyuntikkan dana segar sebesar 50 miliar rupiah langsung ke rekening Hutama Group. Tapi..." Derian sengaja menggantung kalimatnya, memberikan efek tekanan psikologis.
"Tapi apa, Derian?" suara Bramantyo terdengar parau dan lelah.
"Mereka punya syarat mutlak, Om. Sebagai institusi finansial asing, mereka harus melihat stabilitas dan komitmen jangka panjang dari keluarga pemilik perusahaan. Mereka menuntut agar pertunangan antara Vanya dan saya segera diresmikan ke publik. Itu adalah jaminan bahwa aset mereka dipegang oleh manajemen keluarga yang solid."
Bramantyo memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Angka-angka di layar tablet itu tampak seperti benang kusut yang siap menjerat lehernya. Perusahaan yang ia bangun dengan darah, keringat, dan air mata selama tiga puluh tahun ini benar-benar sedang di ujung tanduk kematian. Saham anjlok ke titik terendah, utang vendor menumpuk, dan opini publik pasca-insiden pembegalan Vanya membuat nama Hutama Group dinilai tidak aman.
"Kenapa harus secepat ini, Derian? Vanya baru saja keluar dari rumah sakit. Mentalnya belum stabil," keluh Bramantyo, mencoba menawar waktu.
"Dunia bisnis tidak mengenal kata 'nanti' atau 'tunggu dulu', Om Bram. Kalau besok malam dana talangan ini tidak cair, minggu depan kreditor dari bank bumn akan mulai menyita gedung kantor pusat kita. Apakah Om tega melihat Vanya hidup susah? Kehilangan semua fasilitas mewahnya?" Derian mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap langsung ke dalam manik mata Bramantyo. Suaranya merendah, terdengar sangat manipulatif dan penuh intimidasi terselubung. "Saya sangat mencintai Vanya, Om. Saya hanya ingin memastikan dia tetap menjadi putri kesayangan Om Bram yang hidup dalam kemewahan dan kehormatan. Pertunangan ini adalah satu-satunya jembatan keselamatannya."
Bramantyo terdiam membisu untuk waktu yang lama. Pikirannya mendadak melayang pada percakapan pribadinya dengan Reyhan di ruang interogasi kantor polisi kemarin pagi. Kejujuran pria itu, ketenangannya yang di luar nalar seorang supir, dan bagaimana ia tidak sedikit pun memohon ampun atau mengemis belas kasihan. Hati kecil Bramantyo berbisik ada yang salah dengan semua ini. Namun, realita di depannya jauh lebih mendesak. Melihat Derian yang begitu sigap membawa solusi konkret dan uang puluhan miliar, Bramantyo merasa terjepit di antara insting bisnisnya dan rasa tanggung jawabnya sebagai seorang ayah.
"Baiklah," ucap Bramantyo akhirnya. Kalimat itu meluncur dari bibirnya dengan berat, seperti sebuah deklarasi kekalahan seorang jenderal tua. "Susun acaranya. Lakukan pertunangannya besok malam."
Dilema di Bawah Rembulan
Malam harinya, rumah kediaman keluarga Hutama tampak terang benderang oleh lampu-lampu taman, namun tidak bagi jiwa Vanya. Gadis itu duduk termenung di balkon kamarnya, memandang hamparan langit Jakarta yang hitam pekat tanpa bintang. Angin malam berembus memainkan rambut panjangnya, namun ia tak peduli pada rasa dingin yang menusuk kulit.
Tok... tok... tok...
Suara pintu diketuk perlahan memecah lamunannya. Bramantyo masuk ke dalam kamar, langkahnya nampak berat dan wajahnya terlihat sepuluh tahun lebih tua dari usia aslinya.
"Vanya," panggil ayahnya dengan kelembutan yang menyayat hati.
Vanya menoleh, matanya yang indah kini nampak berkaca-kaca menahan beban. "Papa sudah selesai bicara dengan Derian di bawah?"
Bramantyo mengangguk perlahan, lalu berjalan mendekat dan duduk di kursi anyaman samping putrinya. Ia meraih jemari Vanya yang terasa sedingin es, menggenggamnya erat dengan rasa bersalah yang membuncah. "Perusahaan kita sedang berada di ujung tanduk finansial, Vanya. Papa benar-benar terpojok dan tidak punya pilihan lain yang rasional. Derian... dia membawa investor besar yang bisa menyelamatkan seluruh sisa aset kita. Tapi, mereka meminta kepastian hukum atas hubungan kalian. Mereka meminta pertunanganmu segera diumumkan."
Hening mendadak merayap di antara ayah dan anak itu. Vanya merasakan ada sesuatu yang menyumbat tenggorokannya, membuatnya sulit untuk sekadar menelan ludah. Ini adalah momen yang seharusnya menjadi mimpi indah bagi setiap wanita muda di kelas sosialnya—bertunangan dengan seorang pria tampan dari kalangan jetset yang selama lima tahun ini dianggap sebagai "pangeran mahkota" yang dinantikan keluarga. Namun, entah mengapa, ruang di dalam dadanya terasa kosong, hampa, seolah hatinya telah mati rasa.
"Apa Papa memaksaku untuk menerima ini?" tanya Vanya pelan, nyaris berbisik.
Bramantyo menarik napas dalam, matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam. "Papa hanya ingin yang terbaik untuk masa depanmu, kebahagiaanmu, dan kelangsungan hidup ribuan karyawan kita, Vanya. Jika kamu benar-benar tidak bersedia... katakan sekarang. Papa akan menolak dana dari investor Derian dan kita akan mencari cara lain, meski itu berarti kita harus siap kehilangan rumah ini dan menyatakan kebangkrutan total."
Vanya kembali terdiam. Pikirannya justru melayang kembali pada sosok Reyhan yang mendekam di sel penjara yang dingin. Kenapa? Kenapa di saat seperti ini wajah menyebalkan si Kecoa itu yang muncul di otakku? bisik Vanya mengutuk dirinya sendiri.
Ia mencoba mengumpulkan seluruh sisa harga dirinya. Rasa benci dan kecewanya terhadap Reyhan sengaja ia jadikan bahan bakar utama untuk memantapkan hatinya malam ini. Sementara Derian... Derian adalah cinta pertamanya. Logika chiklit-nya berputar; dulu Derian memang pernah mengecewakannya karena paksaan menikah dari orang tua Derian sendiri, dan pria itu bahkan berani membatalkan perjodohan tersebut hingga kabur ke luar negeri demi menjaga kesetiaan cintanya pada Vanya. Bagi Vanya yang sedang dimanipulasi keadaan saat ini, tindakan Derian di masa lalu adalah bukti ketulusan yang nyata. Jika ia bertunangan dengan Derian besok malam, maka ia akan benar-benar menutup bab buku paling menyakitkan dan memalukan bernama Reyhan dalam hidupnya.
"Aku akan melakukannya, Papa," jawab Vanya dengan nada suara yang mendadak datar dan sedingin salju. "Aku setuju untuk bertunangan dengan Derian besok malam."
Bramantyo menatap putrinya dengan campuran antara rasa lega yang luar biasa dan rasa bersalah yang menggores sanubarinya. "Kamu benar-benar yakin dengan keputusan ini, Sayang? Papa tidak mau kamu menderita."
"Ya, aku sangat yakin. Mungkin ini memang takdir dan jalan hidup yang seharusnya aku lalui," jawab Vanya, matanya menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. "Derian adalah pria yang nyata, dia yang ada di sini untuk menyelamatkan kita semua. Sedangkan Reyhan... dia penjahat, dan dia sudah seharusnya berada di tempat yang kotor itu saat ini."
Keputusan yang Menyakitkan
Setelah ayahnya keluar dari kamar, Vanya menarik napas dalam-dalam, menahan sesak yang mendadak menghunjam dadanya. Ia merasa seolah-olah ia baru saja menyerahkan kunci kebebasan jiwanya sendiri ke dalam genggaman tangan Derian untuk selamanya. Namun, ego dan rasa marahnya telah membutakan mata batinnya. Kebencian terhadap pengkhianatan Reyhan yang semu membuatnya merasa bahwa berkorban demi Derian adalah satu-satunya tindakan yang "benar" dan terhormat.
Di sisi lain kota, jauh dari kemewahan dan pendar lampu kristal, di balik jeruji besi sel tahanan yang berbau karat, atmosfer terasa sangat berbeda. Reyhan duduk dengan tenang di atas dipan semen. Di sudut sel, Bruno berdiri tegap dengan tangan bersedekap, matanya yang garang terus mengawasi celah pintu sel dengan kewaspadaan tingkat tinggi.
"Tuan Muda... mohon maaf jika saya keliru, tapi menurut informasi dari jaringan intelijen kita di luar, Nona Vanya akan melangsungkan pesta pertunangan mewah dengan Derian besok malam," bisik Bruno dengan suara berat tanpa mengubah posisi berdirinya. "Derian juga sudah memastikan kepada pihak bank bahwa dana talangan fiktif dari investor Singapura itu akan cair segera setelah acara tiup lilin dan tukar cincin selesai. Siasatnya berjalan lancar, Tuan."
Reyhan tidak langsung menjawab. Ia justru bangkit berdiri dengan susah payah, menumpu berat tubuhnya pada kaki kirinya yang sehat, lalu menatap pantulan wajahnya di selembar cermin pecah yang tertempel di dinding sel yang berjamur. Sudut bibirnya yang robek akibat pengeroyokan kemarin memberikan kesan badas pada wajah tampannya.
Matanya menyipit tajam, memancarkan kilat sedingin es—kilat khas dari seorang penerus tunggal Dinasti Dirgantara.
"Biarkan mereka berpesta sepuasnya, Bruno. Biarkan mereka berdansa di atas kebohongan dan percaya bahwa mereka telah memenangkan permainan ini," ucap Reyhan dengan nada suara yang sangat tenang namun penuh dengan daya hancur murni. "Semakin tinggi mereka terbang dengan sayap-sayap palsu itu, akan semakin hancur tubuh mereka saat aku menjatuhkannya kembali ke bumi."
"Apakah kita perlu menggerakkan tim hukum untuk menghentikan paksa acara besok malam, Tuan Muda?" tanya Bruno, siap menerima perintah eksekusi.
"Tidak perlu," jawab Reyhan mantap, senyum sinis terukir di wajahnya. "Kita akan biarkan Vanya memilih jalannya sendiri dengan bebas. Karena hanya dengan cara itu, dia akan membuka matanya dan tahu dengan pasti... siapa pria yang benar-benar memegang erat tangannya saat dunianya runtuh, dan siapa bajingan yang justru mendorong tubuhnya ke dalam jurang kehancuran."
Pesta di Atas Kepalsuan
Malam berikutnya, kediaman keluarga Hutama disulap menjadi sebuah istana romantis yang dipenuhi ribuan bunga mawar putih segar. Musik klasik dari kuartet gesek mengalun indah, membelah udara malam yang hangat. Lilin-lilin aromaterapi menyala di setiap meja bundar, memantulkan cahaya temaram pada gelas-gelas sampanye yang berdenting. Namun bagi Vanya, yang kini berdiri dalam balutan gaun brokat putih yang luar biasa indah, setiap denting gelas kristal itu terdengar tak ubahnya seperti bunyi lonceng kematian bagi kebebasan mimpinya sendiri.
Ia memandang Derian yang berdiri di sampingnya, mengenakan setelan tuxedo hitam yang sangat pas di tubuhnya. Pria itu tersenyum lebar kepada para tamu undangan, menggenggam erat tangan Vanya seolah sedang memamerkan barang rampasan perang yang paling berharga.
Vanya memaksakan sebuah senyuman tipis di bibirnya yang dilapisi gincu merah, namun sepasang matanya tetap kosong, redup, dan mati.
"Ini semua demi menyelamatkan perusahaan Papa, Vanya," bisiknya berulang kali pada dirinya sendiri di dalam hati, seperti sebuah mantra penenang. "Ini demi Papa... dan demi membuang semua sisa guna-guna sialan dari supir gembel itu."
Jauh di dalam lubuk hatinya, ia sangat berharap rasa benci dan jijiknya pada Reyhan cukup kuat untuk mematikan semua keraguan dan suara hati kecil yang perlahan-lahan mulai menggerogoti kewarasannya. Namun, Vanya yang malang tidak pernah tahu, bahwa takdir seorang Dirgantara tidak pernah bekerja sesuai dengan logika sempit manusia biasa. Di balik jeruji besi yang dingin, sang naga telah selesai menghitung detik, bersiap meruntuhkan seluruh panggung sandiwara Derian dalam satu kali sentuhan kebenaran yang mematikan.
cerita drama seorang CEO dan gadis angkuh yang jatuh cinta padanya. dibalut dengan komedi biar tidak membosankan