NovelToon NovelToon
Kontrak Cinta Sang Kepala Pelayan

Kontrak Cinta Sang Kepala Pelayan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author:

Punya ijazah S1 Akuntansi dengan predikat Cum Laude ternyata tidak berguna di hadapan tagihan rumah sakit yang mencapai ratusan juta. Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Arini terpaksa membuang gengsinya dalam-dalam dan melamar menjadi kepala pelayan di penthouse mewah milik Adrian—seorang CEO muda kaya raya yang terkenal sedingin es kutub utara.Kerja keras Arini yang super rapi dan cerdas perlahan menarik perhatian sang Kakek pemilik takhta konglomerasi. Salah paham pun terjadi. Demi mempertahankan posisinya sebagai pewaris tunggal, Adrian terpaksa berbohong dan mengenalkan pelayannya itu sebagai calon istri.Sebuah kontrak pernikahan satu tahun akhirnya disodorkan di atas meja marmer.Gaji ratusan juta, seluruh utang lunas, dengan satu syarat mutlak: Dilarang saling jatuh cinta.Mampukah Arini bertahan menghadapi sikap dingin sang konglomerat di bawah satu atap yang sama? Ataukah pernikahan pura-pura ini justru akan mencairkan hati sang es kutub utara yang selama ini membeku?

Bab 28 (Penerus Tahta dan Tangan yang kaku)

Fajar baru saja menyingsing di ufuk timur Jakarta, menembus kaca jendela paviliun privat rumah sakit dengan cahaya keemasan yang menenangkan. Ruang perawatan kelas VVIP itu kini telah diselimuti oleh kedamaian yang mendalam pasca-badai persalinan yang menegangkan beberapa jam lalu.

Arini berbaring bersandar di atas ranjang medis yang sudah dirapikan. Wajahnya masih tampak lelah, namun binar kebahagiaan seorang ibu memancar dengan sangat indah dari sepasang matanya. Di samping ranjang, sebuah boks bayi transparan berbahan akrilik premium menampilkan sesosok mungil yang sedang tertidur lelap, terbungkus selimut rajut berwarna biru muda.

Adrian berdiri terpaku di sisi boks tersebut. Sang CEO muda yang biasanya memegang kendali penuh atas ribuan karyawan dan keputusan bisnis triliunan, kini tampak sangat tidak berdaya. Kedua tangan kekarnya menggantung kaku di udara, ragu-ragu untuk menyentuh makhluk mungil berkulit kemerahan yang memiliki garis rahang sangat mirip dengannya.

"Mas... kenapa hanya ditatap terus sejak tadi? Gendong anakmu," goda Arini lembut, suara seraknya terdengar sangat manis di keheningan pagi.

Adrian menoleh, menatap Arini dengan tatapan mata elang yang kini melunak sepenuhnya oleh rasa cemas yang menggemaskan. "Sayang... tubuhnya terlalu kecil. Aku takut tanganku yang kasar ini akan menyakitinya atau membuatnya terbangun."

Arini tertawa kecil, rasa gemas membuncah di dadanya melihat sang "Es Kutub Utara" mendadak mati kutu di depan seorang bayi seberat tiga kilogram. "Dia tidak akan rusak hanya karena kamu gendong, Mas. Sini, bawa dia ke dekatku."

Dengan napas yang tertahan dan gerakan yang teramat sangat hati-hati seolah sedang memegang kristal paling langka di dunia, Adrian perlahan menyurukkan kedua lengan kekarnya ke bawah tubuh bayinya. Pria itu menopang kepala dan punggung mungil sang anak dengan presisi yang luar biasa kaku. Bahunya menegang sempurna, dan dahi tampannya bahkan kembali meneteskan peluh dingin karena tingkat konsentrasi yang melebihi saat ia memimpin rapat umum pemegang saham.

Begitu tubuh mungil itu berhasil bersandar aman di dada bidangnya, sebuah kehangatan yang asing namun sangat magis seketika menjalar ke seluruh pembuluh darah Adrian. Sang bayi menggeliat kecil, lalu jemari tangannya yang super mungil secara intuitif bergerak mencengkeram erat ibu jari tangan Adrian yang besar.

Sentuhan kecil itu laksana hantaman pemungkas yang meruntuhkan seluruh sisa-sisa dinding keangkuhan di dalam diri Adrian. Air mata haru kembali menggenang di pelupuk mata sang konglomerat. Ia membawa bayinya duduk di tepi ranjang Arini, lalu menundukkan kepala untuk mengecup lembut pipi bayinya, sebelum beralih mendaratkan sebuah lumatan dalam yang intens, hangat, dan penuh rasa sayang di bibir merah muda Arini.

"Dia sangat mirip denganmu saat tidur, Mas," bisik Arini manis, bersandar pada bahu kokoh suaminya sembari menatap buah cinta mereka bersama.

"Dia memiliki matamu yang cerdas, Sayang," balas Adrian serak, mengecup puncak kepala Arini dengan keposesifan mutlak yang kini telah bertambah satu objek lagi.

Tok! Tok! Tok!

Pintu paviliun privat itu mendadak diketuk dengan ritme yang sangat bersemangat. Belum sempat Adrian menyahut, pintu ganda terbuka lebar menampilkan Kakek Wijaya yang melangkah masuk dengan tongkat perak dan senyuman yang begitu lebar hingga gurat keriput di wajah tuanya seolah hilang. Di belakangnya, Yudha mengekor dengan koper perak dan dua asisten yang membawa keranjang bunga raksasa serta tumpukan dokumen resmi.

"Di mana cicitku?! Di mana penerus sah Wijaya Group?!" seru Kakek Wijaya dengan suara yang menggelegar penuh sukacita, mengabaikan protokol ketenangan rumah sakit.

Adrian bangkit berdiri secara perlahan, menyerahkan bayinya ke dalam pelukan hangat sang Kakek dengan sangat hati-hati. Kakek Wijaya menerima bayi itu dengan tangan yang bergetar haru, matanya seketika berkaca-kaca menatap wajah mungil sang penerus takhta dinasti mereka.

"Luar biasa... Dia sangat tampan, mirip sekali dengan waktu kamu bayi, Adrian!" ucap Kakek Wijaya tulus, lalu menoleh ke arah Arini dengan tatapan penuh rasa hormat dan kasih sayang seorang ayah. "Arini, Sayang... Terima kasih. Kamu telah melengkapi kesempurnaan keluarga ini."

"Ini sudah menjadi kebahagiaan saya juga, Kek," jawab Arini anggun.

Kakek Wijaya kemudian melirik Yudha, memberikan isyarat kecil yang langsung direspons dengan sigap oleh sekretaris pribadi tersebut. Yudha membuka koper peraknya, mengeluarkan selembar dokumen tebal berlapis kain beludru hitam bercap hukum resmi, lalu menyerahkannya kepada Adrian dan Arini.

"Pak Adrian, Nona Arini, selamat atas kelahiran putranya," ujar Yudha profesional dengan senyuman lebar yang tulus. "Atas perintah langsung dari Kakek Wijaya yang disahkan oleh notaris subuh tadi, sebuah akta hibah saham atas nama putra pertama Anda telah resmi diterbitkan. Lima belas persen saham kepemilikan utama Wijaya Group kini telah dialihkan sebagai hadiah kelahiran untuk sang pewaris baru."

Arini seketika membelalakkan matanya, otak akuntansinya langsung menghitung secara otomatis nilai dari lima belas persen saham konglomerasi raksasa tersebut yang nilainya setara dengan puluhan triliun rupiah. "Kek... ini terlalu berlebihan untuk seorang bayi yang baru lahir beberapa jam."

"Tidak ada kata berlebihan untuk masa depan Wijaya Group, Arini," potong Kakek Wijaya tegas namun sarat akan kehangatan. Beliau menatap Adrian dan Arini yang kini saling menggenggam erat jemari tangan mereka di atas kasur. "Harta ini adalah miliknya kelak, namun tugas terbesar kalian adalah mendidiknya dengan cinta nyata yang kalian miliki saat ini. Sesuatu yang dulu sempat hilang dari masa lalu Adrian."

Adrian menarik napas dalam-dalam, menatap lembar dokumen saham tersebut, lalu beralih menatap lekat-lekat manik mata Arini. Selembar kertas kontrak palsu setahun lalu yang awalnya mengikat mereka karena uang dua ratus juta, kini telah menjelma menjadi sebuah takdir nyata yang mengikat mereka dengan cinta sejati dan takhta puluhan triliun.

"Aku akan menjaganya dengan seluruh hidupku, Kek. Begitu juga dengan ibunya," ucap Adrian dengan nada suara yang berat, rendah, dan penuh komitmen mutlak, sembari mengecup punggung tangan Arini di bawah saksi kebahagiaan baru keluarga Wijaya yang kini telah utuh seutuhnya.

1
sakura
Hallow guys xixi mimin minta maaf karna seminggu ga update tapi tenang aja udah sekarang updatenya doble”. jangan lupa like,komen, dan share yaa cinta-cintaku🫶🏻
sakura
jangan lupa kasih like nya ya manteman,biar authornya ini jadi semangat buat nulisnya xixi😗🫶🏻🙆🏻‍♀️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!