NovelToon NovelToon
Shower Of Blood

Shower Of Blood

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:209
Nilai: 5
Nama Author: ShAdOwFaNg

"Ugh..
aku harus..."

Theo seorang pemuda yang sedang bersepeda, menemukan sebuah cafe di daerah bukit bernama Bukit Dingin.

tiba-tiba, terjadi hal yang aneh pada Theo yang membawanya ke dunia lain.
cerita ini mengisahkan perjalanan Theo di dunia lain.
penasaran dengan perjalanan Theo?
segera baca kelanjutannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShAdOwFaNg, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 23 : Takut

Ketika Theo masuk ke dalam ruang jiwanya, "Gila! Buah madunya membesar. Hmm... Mungkin sekitar dua kali lipat."

"Kakak!" White diikuti lebah itu datang ke Theo.

"Hei, nona lebah. Kok bisa sih itu buah jadi dua kali lipat?"

"Hehe, Buah Besar." Lebah itu mengucapkan beberapa kata dengan suara pemalunya.

"Kak, dia itu ratu lebah loh. Keren kan? Jadi dia bisa bikin banyak sarang lebah kak, hihihi White suka sama teman baru, hehehe."

"White..." Theo mengelus tubuh White dan langsung disambut White dengan raut wajah yang senang.

"Ok, sekarang... Nona lebah, um tidak. Aku mau memanggilmu Queency? Atau siapa ya?"

Zzzzz...

"Hmm... Gimana kalo namamu, Cutie?"

"Yeeey. Cutie," ucap lebah itu sambil berputar-putar.

"Cutie, kamu mau buah madu itu?" Theo menunjuk salah satu buah yang paling besar dan mengeluarkan madu.

Lebah itu hanya menggeleng, lalu ia berkata.

"Bunga... Buah... Manis."

"Hahaha, kamu sangat pemalu ya. Baiklah, kalo gitu aku ambil buahnya ya." Theo mengelus lebah itu, lalu Theo membiarkannya pergi.

"Kak, White mau bantu, White mau bantu."

White mendongakkan kepalanya, berharap diizinkan untuk membantu Theo.

"Tidak, pisau ini bahaya, nanti kamu bisa kepotong." Theo segera menjauhkan White dari pisau di tangannya.

Namun, karena White terus merengek. Akhirnya Theo memberikan White pisau kukrinya.

"Kalau begitu, kamu pakai pisau kukri yang lebih ringan ini ya."

"Hore! White bisa bantu kak Theo. Hore, hehehehe."

Theo dan White segera bergerak, mereka memanen buah dan langsung memotongnya.

Setelah itu, biji buah dikeluarkan dan dagingnya dikumpulkan.

"Ok waktunya kita coba. White tolong masukan sepotong buah ke sini."

Setelah Theo memasang kain, White langsung menaruh sepotong buah seukuran ruas jari. Di sisi lain, Theo memutar alat itu sehingga alat itu bisa berputar dan memeras buah madu.

"Lihat! Keluar, hore, air madunya keluar."

White kegirangan melihat proses tersebut, tidak lupa Theo sudah menaruh wadah untuk menyimpan air madu yang keluar.

"Baiklah, segini dulu."

Theo mengisi tong besar, kira kira seperdelapan dari tong itu. Lalu, Theo menuangkan sisa endapan dari wine yang diberikan oleh Paul.

"Ok, sekarang aku mau mempercepat waktunya. Oh iya." Theo mengatur supaya ruang di dalam tong benar-benar kosong dengan sihirnya, lalu ia mempercepat waktu di dalam tong.

Blubuk

terlihat banyak gelembung naik, ditambah ada sedikit perubahan warna di dalam tong besar itu.

"Ok, sekarang ayo kita isi sampai penuh."

Theo segera melanjutkan proses pemerasan buah.

"Akhirnya selesai, waktunya kita percepat."

Setelah selesai membuat tiga tong wine, Theo mendapatkan kurang lebih lima belas botol endapan wine.

"Ok, sekarang akan aku kasih ke Paman Paul."

Ketika Theo keluar, Theo dapat melihat hari masih siang. Ia segera turun, lalu ia memanggil Paman Paul.

"Paman, bisa tolong aku?"

"Hahaha, baiklah."

Paul datang ke arah Theo, tepat di gudang penyimpanan bir.

"Paman, aku mau memberikan tiga tong wine buah madu lagi. Aku tidak mau dibayar sekarang. Namun, aku mau paman menggunakan uang penjualan ini untuk membentuk cabang di ibukota. Bagaimana?"

"Hmm... Baiklah, lagipula aku sebenarnya sudah punya cabang yang sangat kecil di ibukota."

Theo segera menggenggam tangan Paul, lalu ia masuk ke dalam ruang jiwanya bersama Paul.

"Gila, benar-benar gila." Paul terkejut ketika ia melihat tiga tong besar wine.

Tinggi tong kira-kira sebahu, dan lebarnya sekitar dua lengan.

"Akan ku keluarkan paman, lalu wine ini. Sepakat?"

"Tentu."

Theo segera mengeluarkan Paul, lalu ia mengeluarkan wine satu persatu.

"Huft, hari yang melelahkan."

Theo segera keluar, lalu ia bermain mengobrol dengan White.

"Udah lama ya White? Sekitar tiga bulan sejak kakakmu Snow."

"Iya kak, oiya sebentar lagi White akan memulai fase ganti kulit kak. Jadi, White kayanya perlu makan banyak deh. Hehehe, sebentar lagi White bakal menyelip kakak."

"Hahaha, terserah kamu White. Tapi aku berjanji White, aku akan ngasih kamu banyak makanan hahahahahaha."

Tak terasa, hari telah berubah malam. White sudah mulai mengantuk dan tertidur. Di sisi lain, Theo mulai mengingat kejadian pembunuh bayaran kemarin.

"Ugh... Aku nggak bisa tidur. Huft... Dasar pembunuh sialan. 'Tenang saja'? Menurutmu aku masih bisa tenang saja kah? Dasar Silas, padahal, akan lebih aman kalo aku tidur bareng dia."

Swiing

"Ha! Apa itu?"

Malam itu, Theo merasa ketakutan dengan segala suara di luar jendelanya. Matanya mulai menghitam, tubuhnya pun menjadi lemas.

Tak terasa, Theo bisa melewati hari dengan aman. Meski, dia harus membayar keamanan itu dengan harga waktu tidurnya.

Tok tok tok.

Dari luar terdengar suara ketukan pintu.

Theo langsung membuka pintu, lalu ia menatap Lucy dengan mata sayu yang menghitam.

"Theo? Theo! Ada apa denganmu?!" Lucy terlihat khawatir dengan kondisi Theo yang lemas, sayu, dan kantung matanya yang tebal.

"Aku semalam tidak bisa tidur. Rasanya aku diawasi."

"Hah? Diawasi? Bukankah sudah aman? Silas kan bilang sudah aman."

Lucy mencoba menenangkan Theo, tapi Theo masih panik dan stress dengan teror dari pembunuh bayaran.

"Tidak bisa, aku tidak bisa berhenti memikirkan pembunuh itu."

"Kalo gitu..." Lucy pergi ke kamarnya, lalu ia kembali dengan sebatang wewangian dupa.

"Ayo kita masuk kamarmu." Lucy menarik tangan Theo, lalu ia menidurkan Theo di atas ranjang.

Ia membakar dupa itu, lalu ia menancapkannya pada sebuah pot bunga di samping ranjang.

"Wah... Wangi lavender, dan chamomile?"

"Yup, kamu benar. Sekarang coba kamu tutup matamu." Lucy mulai memegang tangan Theo, lalu ia memijatnya.

"Ha? Aku mengantuk? Hah... Ah... Rasanya... Berat. Aku... Me..Ngan...tu."

Theo segera tidur lelap di tengah kalimatnya.

Setelah Theo tertidur, Lucy segera membereskan selimut Theo. Lalu, ia mendekati Theo.

Cup

Lucy mengecup kening Theo, lalu ia berkata, "Selamat tidur, sayang."

Lucy menatap wajah Theo, terpampang senyum bahagia di wajahnya. Lalu, Lucy segera keluar dengan langkah yang senyap, memastikan Theo tidak bangun oleh suara langkah nya.

"Hoahmm... Emhh..."

Theo melenguh ketika ia terbangun dan meregangkan badannya. Tidak terasa, langit terah berubah jingga. Theo segera turun ke bawah, tapi di hatinya ada sebuah pertanyaan besar.

"Lucy!" Theo turun ke tavern dan mencari Lucy.

"Dia sedang pergi ke gereja. Mereka kan lagi mengurus izin dan segala administrasi mu. "

Paul keluar dari ruang gudang sambil membawa wine yang sudah dimasukkan dalam botol.

"Kalau gitu, aku kembali ke kamar ya paman."

Theo kembali ke kamarnya, tapi karena ia ingat memesan beberapa barang. Theo keluar dan berjalan ke arah toko tong.

"Hei, anak muda. Kebetulan aku sudah selesai membuat semua pesanan mu."

"Oh baiklah kek, makasih ya kek. Oiya kek, bagaimana kakek bisa tau namaku? Padahal kan aku belum menulis apa-apa."

"Hohoho, aku..."

...****************...

End Ch 23 : Takut

Jangan lupa like, comment dan favorit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!