Brielle Ardelia Noor selalu hidup bak putri kerajaan—dikelilingi keluarga hangat, kakak-kakak jahil, dan Daddy yang selalu memanjakannya.
Sampai suatu malam… hidupnya berubah.
Demi menyelamatkan perusahaan keluarga, Brielle harus menerima perjodohan dengan putra keluarga rival.
Masalahnya?
Calon suaminya adalah cowok dingin, menyebalkan… dan seorang bocah cadel yang paling ingin ia hindari.
Namun, siapa sangka—di balik tutur katanya yang tak sempurna, tersembunyi cinta paling tulus yang belum pernah sebelumnya Brielle temui
•“Katanya dia cadel dan aneh…
Tapi kenapa cuma dia yang mampu bikin Princess Noor jatuh paling dalam?” ✨
•“Dijodohkan demi bisnis? Brielle siap memberontak.
Tapi semuanya berubah saat si bocah cadel itu mulai memanggilnya… ‘istri’.” 💍
" kenapa harus bocah kek lu sih, yang jadi Suami gw~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bad obsession
Malam itu, rumah keluarga Garendra sunyi seperti biasanya. Tidak ada suara tawa. Tidak ada keributan hangat seperti rumah keluarga Noor. Yang terdengar hanya langkah pelan Nevran menaiki tangga mansion besar itu. Wajahnya datar. Tangannya masuk ke saku jaket. Namun berbeda dari biasanya—malam ini ada sesuatu yang aneh dalam sorot matanya. Sesuatu yang lebih gelap. Lebih dalam.
Ceklek.
Pintu kamar Nevran terbuka perlahan. Dan detik berikutnya—cowok itu tersenyum. Namun bukan senyum biasa. Senyum itu… menyeramkan.
Obsesi
Kamar besar bernuansa gelap itu tampak sangat rapi. Terlalu rapi. Namun jika seseorang melihat lebih teliti—mereka akan ketakutan. Karena seluruh sisi kamar itu dipenuhi Brielle. Foto Brielle saat tertawa. Foto Brielle saat tidur di kelas. Foto Brielle saat sedang makan. Foto Brielle saat marah. Bahkan—foto Brielle saat diam menatap hujan dari jendela sekolah. Semua ada. Lengkap. Tersusun rapi di dinding besar seperti galeri pribadi. Dan di bawah setiap foto tertulis tanggal, jam, bahkan lokasi. Seolah Nevran mengingat seluruh hidup gadis itu secara detail.
Bukan hanya itu. Di sudut kamar berdiri sebuah manekin perempuan. Tinggi tubuhnya. Bentuk tubuhnya. Rambut panjangnya. Semuanya dibuat menyerupai Brielle. Bahkan manekin itu mengenakan hoodie putih yang pernah dipakai Brielle beberapa bulan lalu.
Nevran berjalan mendekat perlahan. Jemarinya menyusuri satu per satu foto di dinding. Tatapannya lembut. Terlalu lembut untuk seseorang seperti dirinya. Lalu ia berhenti pada satu foto terbaru. Foto Brielle sore tadi. Saat gadis itu panik setelah dicium olehnya. Wajah merah. Mata gemetar. Cantik. Sangat cantik.
Nevran mengangkat foto itu perlahan. Lalu—cup. Cowok itu mencium foto tersebut pelan. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Dan makin lama, senyumnya makin lebar.
“Cantik…”
Suaranya rendah, penuh obsesi. “Cepat atau lambat, sayang…” Tatapannya menggelap. “…lo bakal jadi milik gua.”
Dan detik berikutnya—Nevran tertawa kecil. Pelan. Namun menyeramkan. Sangat menyeramkan.
Ceklek!
Senyum Nevran langsung hilang. Tatapannya berubah dingin total. Pintu kamar terbuka sedikit. Dan refleks—sret! Sebuah belati kecil meluncur cepat ke arah pintu.
DUK! Belati itu menancap tepat beberapa senti dari kepala seseorang.
“Ssshh…” Desisan pelan terdengar. Rakael Garendra berdiri di sana sambil mengangkat alis. Wajahnya masih santai meski nyaris ditusuk anak sendiri.
Nevran menatap tajam. “Pak tua.”
Rakael melirik dinding kamar itu perlahan. Lalu terkekeh kecil. “Sudah kuduga.” Tatapannya menyapu seluruh foto Brielle. “Pasti ada yang gak beres sama kamar lo.”
“Keluar.” Suara Nevran dingin. Tajam.
Namun Rakael malah masuk semakin dalam. Tatapannya jatuh pada manekin mirip Brielle. Lalu kembali ke anaknya. “Kau bisa menakutinya, boy.”
Nevran tersenyum tipis. “Aku mencintainya.”
“Bukan begitu cara cinta bekerja.”
“Hm.” Nevran duduk santai di sofa sambil memainkan belati kecil lain di tangannya. “Aku cuma mencintainya lebih dalam.”
Rakael menghela napas panjang. “Ini obsesi.”
“Nggak peduli.”
“Kau bisa menghancurkan gadis itu.”
Nevran tertawa kecil. Sinis. “Setidaknya…” Tatapannya perlahan naik. “…aku cuma mencintai satu wanita.”
Deg. Rakael langsung diam.
Sedangkan Nevran melanjutkan dengan suara lebih dingin. “Bahkan kalau gadis gua lumpuh…” Jemarinya menggenggam foto Brielle erat. “…atau cacat sekalipun…” Tatapannya berubah gelap. “…gua gak bakal nyari kesenangan dari perempuan lain.”
Skak. Rakael langsung membeku. Untuk pertama kalinya ia tidak bisa membalas ucapan anaknya sendiri. Karena Nevran benar. Dan mereka berdua tahu itu.
“Kenapa, pak tua?” Nevran tersenyum kecil. Menyeramkan. “Gak jadi nasehatin gua?”
Rakael mengepalkan tangan pelan. “Nak…” Suaranya lebih rendah sekarang. “Kau gak tahu yang sebenarnya.”
“Apa yang sebenarnya?” Nevran langsung memotong cepat. Emosinya naik drastis. “Kebenaran kalau waktu mama didiagnosis mandul…” Tatapannya penuh kebencian. “…kau malah nghamilin perempuan lain?!”
Hening.
“ATAU…” Nevran berdiri tiba-tiba. Belati di tangannya jatuh begitu saja ke lantai. “Fakta kalau mama hampir gila karena tahu semuanya?!”
“Nevran—”
“DIEM!” Untuk pertama kalinya, suara Nevran benar-benar terdengar penuh emosi. Bukan dingin. Bukan datar. Tapi hancur. “Lo tau kenapa gua gak bisa ngomong normal kayak orang lain di luar sana?!” Tatapannya memerah. “Ini semua karena lo, pak tua!”
Deg. Kilasan masa kecil langsung menghantam pikirannya.
---
Flashback—
Hujan deras malam itu mengguncang mansion Garendra. Petir menyambar. Sedangkan seorang anak kecil berusia lima tahun berlari ketakutan menyusuri lorong rumah.
“Nevran…” Suara wanita menangis terdengar dari dalam kamar. Nevran kecil membuka pintu perlahan. Dan detik itu juga—brak! Sebuah vas bunga pecah tepat di samping tubuh mungilnya.
“MAMA!”
Ibunya terduduk di lantai. Rambut berantakan. Wajah penuh air mata. Tatapan kosong. “Nak…” Wanita itu tertawa kecil. Namun tawanya menyeramkan. “Laki-laki itu jahat…”
Nevran kecil gemetar. “M-ma…”
“TIDAK BOLEH SELINGKUH!” Teriakan histeris itu menggema.
Wanita tersebut tiba-tiba menarik tubuh Nevran kecil kasar. Lalu—sret! Cambuk tipis menghantam punggung kecilnya.
Plak!
“Akh!”
“JANGAN JADI SEPERTI AYAHMU!”
Plak! Cambukan kedua.
Nevran kecil menangis keras. Tubuh mungilnya gemetar ketakutan. Namun ibunya malah makin histeris. “JANGAN SAKITI WANITA!”
Plak!
“JANGAN SELINGKUH!”
Plak!
“JANGAN BUAT DIA GILA!”
Darah tipis mulai muncul di punggung Nevran kecil. Namun wanita itu mendadak berhenti. Tatapannya kosong. Tangannya gemetar. Lalu ia memeluk Nevran kecil erat sambil menangis histeris. “Mama minta maaf… Nevran sayang mama kan? Nevran gak bakal ninggalin mama kan?”
Anak kecil itu hanya menangis dalam pelukan ibunya. Ketakutan. Sangat takut. Namun tetap memeluk balik wanita itu. Karena bahkan setelah semua rasa sakit itu—ibunya tetap orang yang paling ia cintai.
Hari demi hari berlalu seperti neraka. Kadang ibunya sangat lembut. Menyuapi Nevran kecil sambil bernyanyi. Namun beberapa jam kemudian—wanita itu bisa berubah histeris. Melempar barang. Menangis. Memukul. Mencambuk. Sampai akhirnya—Nevran kecil mulai gagap karena trauma berat. Dan bekas cambukan di punggungnya masih ada sampai sekarang.
---
Kembali ke masa sekarang—
Nevran tertawa kecil. Namun matanya merah. “Kalau lo gak selingkuh…” Suaranya pecah. “…mungkin mama gak bakal sehancur itu.”
Rakael terdiam.
Sedangkan Nevran menatapnya penuh kebencian. “Dan mungkin…” Cowok itu menggertakkan rahang. “…gua gak bakal jadi monster kayak sekarang.”
---
Bersambung
bantu support juga yaa😇