Gara-gara wine tumpah Aruna Wijaya harus menikah kontrak dengan seorang iblis berwajah tampan Devara Mahesa.
Tanda tangan kontrak diatas materai menjadi penanda Aruna resmi terjerat dalam pelukan hangat Devara yang mematikan dan penuh dendam rahasia.
Hingga Bayu datang, seorang dokter keluarga Wijaya yang menyimpan kenangan masa lalu kelam Aruna menawarkan kebebasan.
Apakah Aruna akan menerima tawaran Bayu lepas dari iblis?, ataukah akui dendam diatas materai itu sudah menjadi candu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DDM|28|Salah Paham..?
Siang hari di gedung tinggi Mahesa Grop, didalam ruangan pribadi Devara, Aruna duduk di sofa pojok ruang kerja. Gara-gara kejadian kemarin Ia mendapat hukuman untuk menemani Devara 24 jam hari ini.
Ia ingin menolak namun teringat kembali kata-kata Marisa sebelumnya, justru membuat Devara jatuh cinta kepadanya adalah hal yang sangat tidak mungkin, apalagi kali ini Devara tak menghiraukannya sama sekali.
Dia hanya menatap Devara yang tengah sibuk bekerja, tumpukan dokumen serta laptop yang terbuka, pandangan serius. Aruna sangat bosan, beberapa kali Ia ingin keluar namun selalu dilarang olehnya.
Kali ini, Ia kembali berulah. Perlahan berjalan mendekati Devara yang tengah fokus dengan laptopnya bahkan tak menyadari kalau Aruna sudah berada disampingnya.
"Apa itu gambar gedung?" Ujarnya lirih disamping wajah Devara.
Devara langsung bergerak mundur memberi jarak, matanya membulat terkejut. Ia segera beralih dari duduknya. "J..jangan mendekat" Ujarnya gugup.
Aruna tertawa pelan melihat ekspresi pria itu yang tak seperti biasanya. Klik... Pintu ruangan Devara terbuka tanpa ketukan. Mereka berdua langsung menatap asal suara secara bersamaan.
Alana masuk langsung berjalan ke meja Devara, pandangannya tajam menuju Aruna yang berjarak dekat dengan Devara, Ia langsung menyenggol bahu Aruna dengan kasar dan mendekati Devara.
"Dia ngapain disini sayang..?" Ujar Alana sambil menggandeng tangan Devara lalu melirik Aruna seolah jijik padanya.
“Aku nggak suka liat dia di sini, Dev.” ujarnya kembali.
Devara diam, melepaskan tangan Alana perlahan lalu duduk kembali di kursinya.
Aruna yang diam sedari tadi mendekati meja Devara kembali. "Katanya harus bersama 24 jam" ujarnya sambil bersender di meja Devara.
Alana kesal karena ucapan Aruna yang tak ditepis Devara sama sekali, Ia langsung mendorong Aruna menjauh kembali, lalu melemparkan lembaran undangan yang sudah Ia bawa didalam tas-nya.
“Bulan depan, gue bakalan nikah sama dia.” ujar Alana sambil menyilangkan tangannya dan tersenyum, senyum kemenangan.
Devara langsung beralih dari duduknya, tangannya menepuk keras keatas meja. "Bulan depan..?" ujarnya datar.
Aruna terkejut dengan apa yang diucapkan Alana, dia maju satu langkah mendekati mereka.
“Kalian… mau menikah?”
Suasana beku dua detik.
Alana langsung nyerang. “Lo siapa berani nanya? Tahanan juga punya etika!”
Saking emosinya, dia mendorong Aruna sampai Aruna jatuh dari sofa.
Devara bereaksi. Buat pertama kalinya dia tidak diam. Dia seret lengan Alana keluar ruangan. Sebelum pintu ketutup, Aruna dengar Devara bilang rendah
“Nanti aku ke apartemen kamu.”
Pintu ketutup.
Devara balik masuk. Wajahnya masih tegang. Aruna sudah duduk lagi di sofa, diam, cuma ngelirik dari ekor mata.
Devara coba abaikan. Jalan ke meja, buka laptop. Tapi tidak bisa fokus. Tatapannya balik lagi ke Aruna.
Akhirnya dia berjalan mendekati sofa, berdiri di depan Aruna. Suara rendah.
“Jangan ikut campur sebelum gue selesai ngomong—”
Aruna motong. Dia angkat kepala, senyum tipis, menang.
“Terus aku bakal kamu buang pas udah jadi suami sah orang?”
Rahang Devara mengeras beberapa detik. Dia cengkram tangan Aruna, keras.
“Kamu tetap bersama saya. Sampai kapanpun.”
Aruna tidak menjawab. Cuma melepaskan genggaman Devara pelan, terus buang muka ke jendela.
...----------------...
Di lorong, Alana langsung ambil HP. Tangannya gemetar marah. Dia telpon Bayu
“Lo masih mau Aruna kan? Gue baru diusir. Gue kasih lo jadwal dia. Lo gerak sekarang, sebelum gue beneran nikah sama Devara.”
"Masih, oke saya tunggu jadwalnya secepatnya" balas Bayu dari ujung teleponnya.
Klik.. Telepon ditutup.
Ditempat lain, Malam harinya jam 9, Andre dapat perintah antar Aruna pulang ke Penthouse, Aruna menunggu Andre di lobby perusahaan.
Tiba-tiba Bayu muncul dari arah parkir. seperti sudah menunggu sedari tadi.
“Run.” panggilnya dengan lembut.
Aruna kaget. “Dok ngapain di sini?”
Bayu mendekat, suara pelan: “Aku bisa bawa kamu ke Amerika. Ketemu Pak Wijaya Sekarang.”
Aruna mundur. Ia sudah menolak Bayu ketiga kalinya. Tapi kata “Amerika” dan “Papa” bikin dia sedikit goyah.
Dari balik tiang, Andre nguping. Dia tidak berani keluar.
Aruna ragu, tapi bisik: “Nanti aku temuin dokter lagi… .”
Bayu senyum. “Aku tunggu Run.”
Bayu pergi. Aruna masih bengong. Andre buru-buru kirim pesan ke Devara.
Jam 9.15, apartemen Alana.
Devara datang karena janji akan datang ke apartemen Alana, Ia pikir mau bahas undangan. Ternyata Devara langsung nolak.
“Aku belum siap nikah bulan depan. Terlalu cepat.”
Alana meledak “Kamu pikir aku main-main? papa udah sebar tanggalnya!”
Cekcok besar saat itu. Pintu kebanting.
Waktu mereka sedang ribut besar, HP Devara getar. Pesan dari Andre.
“Pak, Bayu baru ketemu Bu Aruna di lobby. Bilang bisa bawa dia ke Amerika ketemu ayahnya.”
Darah Devara dingin. Dia langsung putus pembicaraan.
“Aku pulang.”
Alana nahan “Dev—”
Devara tidak menoleh. Keluar apartemen, banting pintu.
Di mobil, Devara ngebut pulang. Di kepalanya cuma satu Bayu. Australia. Aruna mau pergi.
Klik.
Pintu kamar Aruna kebuka tanpa ketok.
Devara berdiri di ambang pintu. Jasnya masih rapi, tapi tidak dengan napasnya. Matanya merah. Dia sudah ngebut dari apartemen Alana langsung ke sini.
Aruna baru mau berdiri, tapi Devara udah masuk, banting pintu.
“Kamu nggak akan bisa pergi dari saya, Run.”
Suara Devara datar. Tapi tangannya sudah nyengkram leher Aruna. Tidak mencekik cuma menahan. Api di matanya tidak bisa bohong.
Aruna tidak meronta. Dia malah ketawa. Hambar.
“Udah nggak dibutuhin lagi kan? Kamu mau nikah sama Alana.”
Devara diam satu detik. Dia tidak bentak. Tapi tangannya ngepal keras sampai buku jarinya putih.
Tok. Tok. Tok.
Pintu kebuka lagi.
Marisa masuk. Wajahnya tegang. Di tangannya ada map merah tebal. Dia banting map itu ke meja.
“Ini apa, Dev?” Suara Marisa tinggi, sengaja keras.
Map itu kebuka. Isinya surat nikah kontrak. Nama Devara. Nama Aruna. Tanda tangan diatas materai 10.000.
Marisa pura-pura kaget. Padahal dia udah tau dari awal.
“Nikah kontrak? Kalian main dibelakang saya selama ini?”
Devara tidak bisa mengelak. Map itu bukti. Marisa sengaja menjebak Devara saat itu.
Marisa pura-pura marah besar. “Bagus. Jadi selama ini Aruna cuma kontrak buat kamu? Sekarang saya tau alasan kamu nggak mau lepasin dia.”
Aruna ngeliatin Devara. Di situasi seperti ini, dia baru sadar Devara kejebak. Dan Marisa yang pegang kendali.
Devara masih diam. Tangan yang tadi nyengkram leher Aruna, sekarang terkepal di sisi tubuhnya.
Marisa masih berdiri di tengah kamar. Map merah di meja udah kebuka, isinya surat nikah kontrak Devara-Aruna.
Devara akhirnya angkat suara. Suaranya rendah, bukan bentakan.
“ Kita memang nikah kontrak buat nahan Wijaya. Karena saya tau dia korupsi di Mahesa. Karena dia yang bikin Papa mati.”
Aruna nengok. Ini pertama kalinya Devara mau bongkar semuanya.
Marisa nggak jawab. Dia angkat HP.
“Andre. Masuk.”
Andre masuk bawa map cokelat kedua. Marisa rebut, langsung lempar ke lantai depan Devara. Isinya berhamburan.
Devara ngebungkuk, ambil salah satu lembar. Matanya melebar.
Bukan bukti korupsi.
Tapi foto lama Mahesa dan Wijaya lagi ketawa bareng, meresmikan Mahesa Group. Ada surat persahabatan. Ada kwitansi lunas.
Tulisan besar di salah satu dokumen: “Utang Wijaya Pratama kepada Mahesa Mahendra LUNAS, 2018.”
Dua tahun sebelum Mahesa mati.
“Gak.. Gak mungkin" suara Devara pecah.
Dia udah tau Mahesa dan Wijaya sahabatan dari dulu. Tapi dia nggak pernah tau kalau utang Wijaya udah lunas tanpa sepengetahuannya.
Jadi selama ini… dendamnya sia-sia.
“Terlambat, Dev.” Potong Marisa. “Kamu main api, sekarang kamu kebakar sendiri.”
Marisa keluar. Tinggalin Devara yang masih jongkok di lantai, ngeliatin kwitansi lunas itu. Tangannya gemetar.
Aruna di pojok ranjang, ngeliatin punggung Devara. Di kepalanya cuma satu 'Jadi aku dinikahin… karena kesalahpahaman?'