NovelToon NovelToon
GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Balas Dendam
Popularitas:873
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

GAJAH MADA – Perjalanan Sang Penakluk Dunia
Darah jelata, didikan sang penguasa, takdir sang penakluk samudra.
Selamat dari pembantaian faksi hitam Mahapati berkat mukjizat perisai emas gaib, bayi kasta rendah bernama Mada diasuh secara rahasia oleh Rama Sidacerma—nama samaran Patih Nambi, Mahapatih Pertama Majapahit yang memalsukan kematiannya.
Di bawah didikan brutal sang mantan perdana menteri, Mada tumbuh menjadi kesatria berotot baja. Ia terlahir dengan takdir tertinggi: sepasang mata sakral Niti Sastra yang mampu memprediksi masa depan, dan Khodam Senopati Zirah Emas —entitas raksasa pelindung serupa dewa perang.
Demi menuntaskan dendam dan membersihkan Majapahit dari pengkhianat, ia merantau ke Trowulan sebagai Gajah Mada. Merangkak dari prajurit kasta terbawah, ia bangkit memimpin Pasukan Bhayangkara hingga mengumandangkan Sumpah Palapa yang menyatukan Nusantara.
Namun, di puncak kejayaannya, sebuah konspirasi mistis luar logika telah menantinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Ujian Raga Sembilan Penjuru

Fajar belum lagi menyingsing di atas cakrawala Kota Raja Trowulan ketika terompet perunggu militer Majapahit bertalu-talu dengan nada yang memekakkan telinga. Suara itu melengking tinggi, memecah keheningan kabut pagi dan membubarkan paksa mimpi ratusan pemuda di barak penampungan barat. Tanpa ampun, para prajurit penjaga menggedor pintu-pintu kayu dengan gagang tombak mereka, berteriak sekeras mungkin agar seluruh pendaftar Tamtama segera mengosongkan ruangan dan berkumpul di tengah alun-alun seleksi dalam hitungan seratus denyut jantung.

Mada bangkit dari dipan bambunya tanpa kepanikan sedikit pun. Sementara pemuda-pemuda di sekitarnya saling bertabrakan karena panik, mencari kain pinggang atau tanda pendaftaran mereka yang terselip dalam kegelapan, Mada melangkah tenang dengan gerakan yang sangat efisien. Pakaian katun kasarnya yang lusuh kembali melekat di tubuh jangkungnya. Tanda kayu bernomor 047 terikat erat di pergelangan tangan kirinya. Di balik ketenangannya, lubang spiritualnya tetap terkunci rapat, menyembunyikan Keris Nogo Kumolo yang tersimpan senyap di balik kain pinggangnya.

Ketika Mada melangkah keluar, embun pagi yang dingin langsung menerpa wajahnya. Di tengah alun-alun luas yang dikelilingi oleh pagar pancang kayu jati, kabut tipis masih merayap di atas tanah basah. Di barisan paling depan, berdiri belasan instruktur militer bertubuh kekar. Mereka mengenakan zirah kulit hitam tanpa lengan yang memperlihatkan otot-otot besar penuh parut luka perang. Di tangan kanan masing-masing instruktur, tergenggam sebilah cambuk rotan panjang yang sesekali dihentakkan ke udara, menciptakan suara lecutan yang membuat nyali para pemuda desa menciut.

Kepala instruktur, seorang pria bermata satu dengan bekas luka tebasan melintang di pipinya, melangkah maju ke sebuah panggung tanah yang agak tinggi. Ia memandangkan pandangannya yang dingin ke arah lima ratus lebih pemuda yang kini berdiri berdesakan dengan tubuh bergetar menahan dingin dan rasa cemas.

"Dengar, para kerbau liar dari desa!" teriak kepala instruktur tersebut. Suaranya menggelegar hebat, bergema di antara dinding-dinding bata merah benteng luar karena diperkuat oleh aliran hawa murni tingkat dasar yang ia miliki. "Hari ini adalah babak penyaringan pertama untuk menguji apakah raga kalian memang layak memikul nama besar ketentaraan Majapahit, atau kalian hanya seonggok daging tak berguna yang hanya tahu cara menghabiskan jatah beras kerajaan! Di militer, kami tidak butuh orang yang manja!"

Ia menjulurkan tangan kanannya yang kekar, menunjuk ke arah tumpukan log kayu jati basah yang berderet rapi di tepi alun-alun. Setiap log kayu tersebut memiliki diameter sewarna pelukan orang dewasa dengan panjang sekitar dua depa. Kayu-kayu itu sengaja direndam di dalam kolam air semalaman agar bobotnya meningkat drastis hingga mencapai seratus kilogram atau lebih.

"Ujian pertama kalian adalah Ketahanan Raga Sembilan Penjuru!" lanjut sang kepala instruktur dengan nada kejam. "Setiap orang wajib memilih dan memikul sebatang log kayu jati di atas pundak kalian. Setelah itu, kalian harus berlari melintasi jalur lumpur hisap di lembah barat, lalu mendaki bukit berbatu hingga mencapai puncak penonton di atas sana! Jaraknya adalah tiga mil perjalanan! Siapa pun yang menjatuhkan kayu dari pundaknya, atau tiba di puncak setelah matahari melewati ubun-ubun kepala, langsung dicoret dari daftar, dicambuk sepuluh kali, dan diusir dari kota raja tanpa ampun! Sekarang, ambil bagian kalian!"

Begitu perintah itu selesai diteriakkan, kekacauan langsung pecah di tepi alun-alun. Ratusan pemuda berebut menuju tumpukan kayu, mencoba mencari log kayu yang paling kecil atau yang terlihat agak kering agar beban mereka sedikit lebih ringan. Saling sikut dan teriakan makian menggema di udara pagi yang mulai menghangat oleh kepanikan.

Mada tidak ikut berebut. Ia berjalan dengan langkah yang diukur dengan tenang menuju barisan kayu yang paling ujung, tempat di mana log-log kayu berukuran paling besar dan paling basah ditinggalkan karena tidak ada yang berani mengambilnya. Ketika tangannya yang kokoh mencengkeram kulit kayu jati yang kasar dan menghitam karena air, Mada merasakan bobotnya yang luar biasa berat. Bagi manusia biasa tanpa latihan, mengangkat kayu ini dari tanah saja sudah bisa membuat urat pinggang mereka putus.

Namun, di dalam batinnya, Mada tahu bahwa ini adalah saat yang tepat untuk menguji hasil penempaan fisiknya selama bertahun-tahun di Hutan Tarik bersama mendiang gurunya. Menggunakan kemampuan takaran energinya, ia mengunci seluruh aliran hawa murni emas dan keistimewaan Kulit Tembaga miliknya agar tidak meledak keluar dan memicu kecurigaan. Ia hanya mengandalkan kekuatan murni dari kepadatan otot dan susunan tulang raganya yang telah mengeras alami.

Dengan satu hentakan napas yang teratur, Mada mengangkat log kayu jati raksasa itu dan meletakkannya di atas bahu kanan tegapnya. Gerakannya terlihat lambat dan berat, sengaja diciptakan untuk memberi kesan bahwa ia sedang mengerahkan seluruh tenaga desanya. Ia membiarkan wajahnya meringis tipis dan pundaknya sedikit miring ke bawah, sebuah sandiwara yang sempurna untuk menyatu dengan ratusan pendaftar lainnya.

Gong!

Suara dengungan gong perunggu raksasa menandai dimulainya ujian yang brutal tersebut. Ratusan pemuda mulai bergerak maju, melintasi gerbang barat alun-alun menuju jalur lembah. Dalam waktu singkat, barisan pendaftar langsung hancur berantakan saat mereka menginjakkan kaki di jalur lumpur hisap yang sedalam lutut orang dewasa. Lumpur yang pekat dan lengket itu seolah memiliki ribuan tangan gaib yang menarik kaki mereka ke bawah, sementara log kayu di pundak terus menekan tanpa henti.

Baru berjalan setengah mil, neraka dunia yang sesungguhnya mulai memakan korban. Pekikan kesakitan terdengar di mana-mana. Beberapa pemuda desa bertumbangan ke dalam lumpur, memuntahkan cairan lambung karena dada mereka sesak kehabisan napas. Ada pula yang berteriak histeris ketika tulang belikat mereka bergeser dari engselnya akibat tidak kuat menahan beban kayu yang bergoyang-goyang tidak stabil. Di sepanjang tepi jalur, para instruktur terus berjalan dengan wajah dingin, mencambuk tanah atau punggung mereka yang mulai melambat untuk memaksa raga mereka melampaui batas kemanusiaan.

Mada berada di barisan tengah, menjaga posisinya agar tidak terlalu mencolok di depan namun tidak tertinggal di belakang. Setiap kali kakinya ambles ke dalam lumpur hitam yang pekat, otot-otot pahanya yang sekeras kayu sonokeling bekerja dengan presisi matematis, mendorong tubuhnya ke depan dengan hentakan yang stabil. Di balik baju katun kasarnya yang kini basah kuyup oleh keringat bercampur lumpur, napas Mada diatur dengan ritme dua hitungan masuk dan dua hitungan keluar, sebuah teknik pernapasan dasar ksatria purba yang menjaga jantungnya tetap berdetak dengan tenang di tengah tekanan ekstrem.

Bagi Mada, ujian memikul kayu ini sebenarnya tidak lebih berat daripada tugas harian yang diberikan Rama Sidacerma saat ia masih berusia sepuluh tahun di Hutan Tarik. Saat itu, ia harus memikul batu kali raksasa sambil mendaki pohon jati tanpa menggunakan tangan. Namun, di sini, ia harus bermain peran dengan sangat rapi. Ia membiarkan napasnya terdengar memburu dengan berat di telinga orang di sekitarnya, dan sesekali sengaja membiarkan tubuh jangkungnya limbung seolah hampir kehilangan keseimbangan karena kelelahan.

Saat rintangan mencapai puncaknya di tanjakan bukit berbatu yang licin oleh lumut dan sisa air hujan, medan pertempuran raga ini menjadi semakin mengerikan. Jalan setapak yang sempit hanya menyisakan ruang untuk dua orang berjalan berdampingan, dengan jurang dangkal penuh batu runcing di sisi kiri. Di tempat inilah mental para pemuda benar-benar diuji sampai hancur.

Seorang pemuda bermata sipit yang berjalan di samping kiri Mada mendadak kehilangan cengkeramannya pada kayu yang ia pikul. Log kayunya bergeser ke belakang, membuatnya kehilangan keseimbangan di atas batu yang licin. Pemuda itu memekik ketakutan saat tubuhnya mulai tergelincir ke arah jurang, sementara kayu berat di pundaknya bersiap menghantam kepala pendaftar lain yang berada tepat di bawah jalurnya.

Melihat bahaya yang mengancam nyawa orang lain, insting perlindungan di dalam diri Mada bergerak lebih cepat daripada pikirannya. Tanpa melepaskan log kayu raksasanya sendiri yang berada di pundak kanan, Mada melakukan satu langkah miring ke kiri. Dengan gerakan refleks yang sangat cepat namun dibuat terlihat kasar seperti tindakan panik, ia menjulurkan lengan kirinya yang bebas, menangkap ujung log kayu pemuda yang tergelincir itu dengan cengkeraman satu tangan yang luar biasa kokoh.

Brak!

Benturan dua kayu jati itu menciptakan suara dentuman yang keras. Lengan kiri Mada menahan beban tambahan seratus kilogram dari kayu pemuda tersebut selama beberapa hitungan napas, menjaga agar tubuh pemuda itu tidak jatuh ke jurang. Untuk sesaat, seluruh berat dari dua log kayu besar itu bertumpu pada satu poros kaki kanan Mada yang berpijak di atas batu hitam yang licin. Jika perwira tinggi kanuragan melihat ini, mereka akan tahu bahwa kekuatan otot murni Mada sudah setara dengan seekor gajah dewasa. Namun, Mada dengan cepat menghentakkan kakinya ke depan, menarik pemuda itu kembali ke jalur aman dengan satu tarikan kasar yang terlihat seperti keberuntungan murni dari orang bertubuh besar.

"Tetap pegang kayumu jika masih ingin melihat matahari esok hari," bisik Mada dengan suara yang rendah dan berat, menyamarkannya di antara deru angin bukit agar tidak terdengar oleh instruktur yang berada di dekat mereka.

Pemuda yang diselamatkan itu menatap Mada dengan mata yang dipenuhi rasa tidak percaya sekaligus rasa syukur yang mendalam. Ia mengangguk dengan tubuh gemetar, memperbaiki posisi kayunya, lalu melanjutkan pendakian dengan sisa tenaga yang ada.

Sementara itu, di atas puncak bukit batu yang menjadi garis akhir ujian, terdapat sebuah panggung kayu megah yang dipayungi oleh kain sutra kuning keemasan, warna khas kebesaran kerajaan. Di atas panggung tersebut, duduk beberapa pejabat tinggi istana dan para perwira tinggi militer Majapahit yang bertugas mengawasi jalannya seleksi massal ini. Mereka duduk dengan tenang sambil menikmati cawan berisi air madu, sesekali berdiskusi kecil mengenai kualitas para pendaftar tahun ini yang dianggap sebagian besar dari mereka sangat menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Namun, di barisan paling depan panggung tersebut, duduk seorang jenderal veteran bertubuh tegap dengan zirah besi perunggu yang penuh guratan perang. Dialah Senopati Kudamerta. Sepasang matanya yang tajam bagaikan elang gunung tidak sedetik pun melihat ke arah barisan depan peserta, tempat di mana beberapa anak kepala daerah atau murid padepokan lokal berlari dengan pameran hawa murni abu-abu yang menggebu-gebu untuk mencari perhatian. Pandangan sang jenderal sepuh justru terpaku diam pada sosok pemuda jangkung berbaju lusuh di barisan tengah yang baru saja melakukan aksi penyelamatan satu tangan di tepi tebing.

Senopati Kudamerta perlahan mengelus janggutnya yang mulai memutih. Sebagai seorang panglima yang telah memimpin ribuan pasukan dalam berbagai pertempuran besar memadamkan pemberontakan, ia memiliki kepekaan batin yang jauh di atas rata-rata orang di tempat itu. Ia melihat sesuatu yang ganjil dan sangat menarik pada diri pemuda yang tertera nomor pendaftaran 047 di lengannya tersebut.

"Menarik sekali..." bisik Senopati Kudamerta di dalam hatinya, matanya menyipit dengan tajam, mengunci fokus pandangannya pada setiap pergerakan Mada. "Dia memikul log kayu yang paling besar dan paling jenuh dengan air di jalurnya. Langkah kakinya terlihat tergelincir di lumpur, napasnya terdengar memburu dari jarak jauh, wajahnya pun memperlihatkan kepayahan... tapi ritme detak jantung di dadanya dan cara otot-otot punggungnya bergerak sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan yang fatal atau kerusakan urat raga. Yang paling aneh, dia sama sekali tidak menggunakan satu jengkal pun tenaga dalam atau hawa murni untuk melapisi tubuhnya. Kekuatan murni dari tulang dan dagingnya berada di tingkat yang tidak masuk akal untuk ukuran anak desa biasa. Pemuda ini... dia seperti seekor harimau purba yang sengaja berjalan merangkak di antara kawanan domba bodoh agar tidak menonjolkan taringnya."

Matahari baru saja naik sekitar tiga jengkal dari ufuk timur, memancarkan cahaya keemasan yang mengusir kabut sepenuhnya, ketika kaki besar Mada menginjakkan kaki di atas garis batas batu hitam di puncak bukit. Ia menyelesaikan ujian pertamanya di urutan kesebelas dari total lima ratus lebih peserta yang memulai perjalanan dari alun-alun bawah.

Begitu melewati garis akhir, Mada menjatuhkan log kayu jati raksasanya ke tanah dengan suara dentuman yang keras yang menggetarkan debu di sekitarnya. Sesuai dengan rencana penyamaran raga yang ia susun, ia langsung menjatuhkan tubuh jangkungnya ke atas tanah berbatu, terduduk sambil memegangi kedua lututnya yang gemetar. Ia membiarkan dada bidangnya naik turun dengan sangat cepat, terengah-engah dengan hebat seolah-olah seluruh pasokan udaranya telah habis diperas oleh rintangan bukit tadi. Ia juga menggunakan jari-jarinya untuk menyeka keringat deras yang membanjiri dahinya, menampilkan akting sempurna sebagai seorang pemuda desa yang berhasil bertahan hidup hanya karena modal nekat dan keberuntungan fisik.

Beberapa instruktur mendekatinya, memeriksa nomor kayu di pergelangan tangannya, lalu menuliskan tanda kelulusan babak pertama di atas lembaran lontar kecil milik Mada. Mereka tidak melihat ada yang istimewa selain fakta bahwa pemuda dari Hutan Tarik ini memiliki urat daging yang sangat tebal dan keras, tipe prajurit Tamtama yang sangat ideal untuk dijadikan tameng berjalan di barisan paling depan saat menyerbu benteng musuh.

Gajah Mada tetap bertahan dalam posisinya yang terduduk lesu selama beberapa waktu, membiarkan para pendaftar lain yang baru tiba tumbang di sekitarnya dengan tangisan dan erangan lelah. Namun, di bawah kelopak matanya yang menunduk khidmat menatap tanah, sepasang mata hitamnya kembali berubah menjadi sedalam sumur purba yang dingin dan penuh perhitungan. Ia tahu, ujian ketahanan raga murni ini barulah babak pembuka yang paling mudah dari seluruh rangkaian seleksi militer Majapahit. Di esok hari, ujian ketangkasan senjata dan siasat pertempuran kelompok akan menuntutnya untuk bermain dengan lebih cerdas lagi, terutama karena ia bisa merasakan bahwa sepasang mata elang dari jenderal sepuh di atas panggung sutra tadi kini tidak lagi melepaskan pandangan darinya. Takdirnya untuk merangkak naik dari dasar ketentaraan kerajaan baru saja digulirkan di atas bukit batu Trowulan ini.

1
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
nina hariah
cerita nya seru dan menarik
nina hariah
semangat terus updatenya author
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
EunHwa
kak mampir donk kak ke kara saya🙏
nina hariah
next author
nina hariah: semangat terus updatenya
total 1 replies
nina hariah
semangat terus updatenya 👍
Argo Sujendro: sudah diupdate, tinggal menunggu disetujui, semoga menikmati ya kak
total 1 replies
nina hariah
next author
Argo Sujendro: oke gasss
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!