Perang antara manusia dan iblis telah mencapai titik terburuk.
Kerajaan Beltrum berada di ambang kehancuran setelah kalah dari sihir suci Zetobia.
Dalam keputusasaan, mereka melakukan sesuatu yang tabu
memanggil manusia dari dunia lain.
Zeta, seorang mahasiswa biasa, tiba-tiba terseret ke dunia asing yang dipenuhi sihir dan darah.
Bukan sebagai pahlawan manusia…
melainkan harapan terakhir bagi bangsa iblis.
Namun satu pertanyaan besar muncul akankah ia menjadi penyelamat… atau justru kehancuran bagi kedua dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Noviar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 ZETA MULAI JAGO
Hutan itu terasa sangat sunyi, hanya ada hembusan angin sejuk yang menyapu dedaunan. Zeta melangkah masuk lebih dalam, niatnya sudah bulat ia akan berlatih sendiri. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di benaknya. Seharusnya ada monster atau binatang yang ukurannya normal. Harusnya dari tadi ia sudah dihadang oleh gerombolan Goblin atau Serigala Hutan.
"Ke mana semua monster? Hutan ini terasa aneh... terlalu sepi," gumam Zeta sambil terus waspada.
"HUAAAAAARRRRRRRR!!"
Sebuah raungan menggelegar memecah keheningan hutan. Tanah yang diinjak Zeta terasa sedikit bergetar. Zeta tersentak, jantungnya berpacu cepat. "Apa itu?! Suaranya sangat keras... apakah itu Minotaur?"
Bukannya takut, senyum lebar justru tersungging di wajah Zeta. "Oke! Mari kita lihat sesiap apa aku sekarang. Hahaha! Aku tidak sabar mencoba sihir angin yang sudah mulai kubiasakan ini!"
Zeta berlari menuju sumber suara. Namun, setibanya di sebuah area terbuka, langkahnya terhenti. Matanya membelalak melihat pemandangan di depannya. Tiga sosok raksasa Minotaur terkapar tak bernyawa dengan luka cabikan yang mengerikan. Di tengah-tengah mereka, berdiri seekor makhluk legendaris Griffon.
"Griffon... elang raksasa itu?" Zeta menelan ludah. "Wah wah hutan yang menarik Isinya sudah di luar nalar. Tapi kalau dia bisa membantai tiga Minotaur sekaligus, artinya dia dua kali lebih kuat. Lawan yang sepadan!"
Zeta melangkah maju, menantang keberadaan sang pemangsa langit. Begitu menyadari kehadiran Zeta, Griffon itu memutar lehernya dan mengeluarkan pekikan tajam yang memekakkan telinga. Ia langsung melesat menyerang, namun Zeta sudah siap.
"Ayo, maju! Akhirnya ada lawan yang tangguh!" seru Zeta.
Zeta menghentakkan tangannya ke depan. "Hempasan Angin!"
Gelombang udara padat menghantam dada Griffon itu dengan telak, membuatnya terpental beberapa meter. Griffon yang marah segera mengepakkan sayap lebarnya, terbang rendah lalu meluncur dari atas. Ia mengibas sayapnya, melepaskan puluhan bulu tajam serupa duri baja ke arah Zeta.
"Tidak semudah itu!" Zeta merentangkan tangannya. "Pelindung Angin!"
Seketika, sebuah penghalang transparan berwarna hijau muncul melingkarinya. Bentuknya seperti hologram namun memiliki kepadatan angin yang luar biasa. Duri-duri tajam itu berdenting keras saat menghantam pelindung tersebut, lalu berjatuhan ke tanah tanpa menyentuh kulit Zeta sedikit pun.
Melihat serangannya gagal, Griffon itu menukik cepat dengan cakar yang siap merobek mangsa. Zeta bergerak lincah, menghindar ke kiri dan ke kanan dengan gerakan yang semakin ringan.
"Teruskan, Griffon! Aku merasa gerakanku mulai lebih lincah!" tantang Zeta dengan penuh semangat.
Tiba-tiba, Griffon itu melakukan manuver cepat dan menyerang dari titik buta di belakang Zeta. Namun, sebelum cakar itu menyentuh punggungnya, Pelindung Angin otomatis bangkit secara instingtif, menahan benturan keras sang monster.
Zeta berbalik dengan cepat. Ia memusatkan seluruh energi angin di kepalan tangannya hingga udara di sekitarnya berputar kencang. "Rasakan ini!"
BUAGH!
Pukulan Zeta yang dibalut ledakan energi angin menghantam telak tubuh Griffon, membuatnya terhempas sangat jauh hingga menabrak beberapa pohon besar. Tak memberi celah, Zeta melompat tinggi ke udara, mengejar posisi monster yang masih terhempas jauh. Di udara, ia mengarahkan satu telapak tangannya ke bawah.
Zeta melepaskan sihir puncaknya sebuah tembakan energi angin murni yang terkonsentrasi tajam layaknya laser hijau yang mematikan.
Dhuarrrr!
Serangan itu menghujam tepat di jantung sang Griffon. Monster legendaris itu mengeluarkan suara serak terakhirnya sebelum akhirnya jatuh terhempas ke tanah dan tak lagi bergerak. Zeta mendarat dengan tenang, menyaksikan lawannya yang kini telah mati di tangannya.
Zeta berdiri mematung di samping bangkai Griffon yang masih mengepulkan uap panas. Ia menatap telapak tangannya sendiri dengan tatapan tak percaya yang perlahan berubah menjadi seringai kepuasan yang mengerikan.
"Hahaha... benar. Sesuai dugaanku!" tawa Zeta pecah, mengguncang kesunyian hutan yang mencekam. "Sihir ini... dia bergerak sesuai imajinasi dan kehendakku. Aku bisa menciptakan variasi apa pun yang terlintas di kepalaku!"
Wajah Zeta berubah drastis. Sisi gelap yang selama ini terpendam di dunia asalnya kini mencuat ke permukaan. Tatapannya menjadi sok dingin. "Hehehe, para kesatria Zetobia itu? Mereka akan sangat mudah kukalahkan. Dengan kekuatan ini, jalan pulang ke dunia asalku sudah di depan mata. Lagipula, mereka pasti bodoh. Mereka tidak paham konsep sihir yang sebenarnya, atau memang mereka terlalu kaku untuk berimajinasi."
Namun, di tengah kesombongannya, sebuah siulan angin yang berat dan tajam membelah udara dari arah samping.
WUUUUTTT BOOM!
Sebuah palu raksasa berbahan granit menghantam rusuk Zeta dengan kecepatan peluru. Tubuh Zeta terpental hebat sejauh lima meter, menghantam pohon besar hingga batangnya retak dan daun-daunnya rontok seketika.
"AAAAAAGGGHHH! SAKIT! SIALAN!" Zeta berteriak histeris sambil memegangi perutnya. Rasa sakitnya begitu nyata, seolah organ dalamnya bergeser. Ini bukan lagi sekadar simulasi atau mimpi; sensasi mual dan nyeri yang menusuk ini membuktikan bahwa nyawanya benar-benar dipertaruhkan. "Gila... rasanya aku mau muntah. Sial! Kampret! Siapa yang berani menyerangku tiba-tiba?!"
DUK! DUK! DUK!
Tanah bergetar hebat, irama langkah kaki yang berat membuat air di genangan hutan melonjak. Dari balik kabut debu, muncul sesosok monster yang jauh lebih mengerikan dari Minotaur biasa. Ia adalah sang Pemimpin Minotaur. Ukurannya dua kali lipat lebih besar, kulitnya sekeras lempengan besi, dengan sebuah pedang raksasa di tangan kiri. Tangan kanannya yang berotot bergerak memungut kembali palu besar yang baru saja menghempaskan Zeta.
"Itu... Apakah pimpinan minotour badannya jauh lebih besar dari minotour sebelum nya?" Zeta terengah, air ludahnya terasa pahit karena menahan sakit. "Sepertinya dia datang untuk membalaskan dendam pada griffon ini yang telah membunuh teman temannya. Tapi kenapa aku yang di serangnya apa dia pikir aku yang mengendalikan griffon, cih ku habisin saja dia” ucap zeta
Sang Minotaur itu menggeram, matanya merah menyala tanda berserk. Ia kembali mengayunkan palu raksasanya. Saat senjata maut itu melesat, Zeta bersiap melompat menghindar, namun keberuntungan sedang tidak berpihak padanya.
"Kampret! Tersangkut?!" Zeta memaki saat menyadari kakinya terjerat akar pohon tua yang mencuat akibat benturan tadi.
Palu itu sudah hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya. Dalam desakan maut, insting Zeta mengambil alih. "PELINDUNG ANGIN!"
BRAAAKKK! Palu itu tertahan oleh dinding udara padat berwarna hijau hologram yang berputar hebat. Tekanan antara palu dan pelindung itu menciptakan gelombang kejut yang menyapu bersih rumput di sekitar mereka. Memanfaatkan momentum, Zeta memutus akar di kakinya dan melesat maju seperti peluru. Sang Minotaur menghantamkan pedangnya ke tanah, menciptakan retakan besar, namun Zeta sudah lebih dulu berada di udara.
Zeta menggunakan tekanan angin di bawah kakinya untuk melenting lebih tinggi, berpindah tepat di atas kepala Minotour itu. "Makan ini, Minotour sialan!" Zeta menghantamkan tendangan tumit yang diperkuat ledakan angin tepat di ubun-ubun Minotaur, membuat Minotaur seberat satu ton itu tertunduk dan terhuyung mundur.
Minotaur itu mengamuk, menyerang secara membabi buta. Zeta terus menghindar, bergerak lincah seperti daun yang dimainkan badai. Matanya menyisir tanah sampai ia melihat sebuah pedang lama yang sudah sedikit berkarat.
"Untung aku melihat pedang tergeletak jadi aku bisa menebas minotour itu!" Zeta menyambar pedang itu. Ia tidak memedulikan karatnya. Ia menyalurkan aliran sihir angin secara paksa ke bilah besi tersebut.
Seketika, pedang itu bergetar hebat. Aura hijau yang tajam menyelimuti bilahnya, memanjang dan mengeluarkan suara dengungan frekuensi tinggi yang mematikan.
"Sekarang…rasakan pedang yang bersatu dengan sihir angin ku Minotour Sialan.!" teriak Zeta dengan mata menyala.
Zeta menerjang dengan kecepatan sonik. Ia mengayunkan pedangnya dalam serangkaian tebasan yang mustahil diikuti mata manusia. Setiap tebasan tidak hanya memotong daging, tapi mengirimkan gelombang angin tipis yang merobek bagian dalam tubuh sang Minotaur.
Zeta tidak memberi celah untuk bernapas. Ia memusatkan seluruh sisa energinya pada satu serangan penutup. Pedang itu seolah berubah menjadi pilar cahaya angin yang masif. Zeta melesat maju, menusukkan pedangnya tepat ke jantung sang Raja Minotaur.
CRASH!
Energi angin itu menembus tubuh tebal sang monster hingga meledak di bagian punggungnya, menciptakan lubang besar yang menganga. Sang pimpinan minotour itu mematung, pedang raksasanya jatuh berdenting, dan perlahan tubuh besarnya itu tumbang ke tanah, memicu dentuman keras yang mengakhiri pertarungan.
Zeta berdiri di samping mayat pimpinan minotour itu, membuang pedang berkaratnya yang kini hancur menjadi serpihan kecil karena tak kuat menahan energinya. Ia terengah-engah, namun sebuah tawa kecil yang dingin kembali keluar dari mulutnya. Hutan itu kini hancur di sekelilingnya, membuktikan bahwa "Zeta" telah menjadi kuat dan mampu mengendalikan sihirnya.
cerita awal lumayan good, pantas untuk like dan hadiah 👍