Berawal dari niatan membantu sang kekasih mencari uang tambahan melamar, Alina justru harus kehilangan kehormatannya.
Ya, gadis itu terlalu mencintai kekasihnya. Sampai-sampai ia rela ikut menanggung beban yang harusnya bukan menjadi tanggung jawabnya. Sebuah pengorbanan untuk pria yang salah, yang atas kuasa Tuhan justru membawanya menemukan cinta yang benar.
Apa yang terjadi padanya?
Baca selengkapnya hingga selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aldiantt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
04. Janji dan Kesepakatan
04:30
Alarm ponsel di saku celana itu berbunyi. Vincent yang tertidur di sofa ruang tengah itupun terbangun. Padahal belum genap tiga jam ia memejamkan mata, tapi alarm sudah berbunyi saja. Pria itu memang sudah terbiasa bangun pagi.
Vincent melenguh. Ia sedikit meliuk di atas sofa guna meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. Badannya terasa sakit semua, sedangkan kepalanya juga berat. Sepertinya ia minum terlalu banyak semalam.
Vincent perlahan membuka matanya. Pandangan matanya terarah ke segala penjuru ruangan.
"Kanapa gue di sini?" ucapnya pelan dengan suaranya yang masih parau. Laki-laki itu bangkit dari tidurnya dan mendudukkan tubuh itu di sofa. Dilihatnya di sana, ruang tengah tempatnya tertidur sangat berantakan. Beberapa barang seperti asbak nampak pecah, botol alkohol terguling, jas, kemeja, hingga celananya pun juga tergeletak di lantai berdampingan dengan beberapa helai robekan kain di sana. Sedangkan dirinya, ia tak berbusana. Hanya sepotong boxer putih yang menempel di tubuh bagian bawahnya.
Ada apa ini? Apa yang terjadi? Batinnya. Vincent meletakkan kedua tangannya di sofa. Berniat untuk menyangga tubuhnya lantaran ia masih merasa pusing. Namun...
Laki laki itu menoleh ke arah kiri. Sebelah telapak tangannya menyentuh benda cair. Sudah hampir kering, namun masih terasa lembab.
"Darah?" lirihnya. Sebuah bercak merah nampak menempel di sofa abu-abu itu.
Darah siapa ini? Batinnya lagi.
"Hiks..." Suara itu berhasil memecah lamunan Vincent. Laki-laki itu terhenyak. Ada suara tangisan seorang wanita di ruangan itu. Laki-laki itu menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya disana, di sudut ruangan, di samping sebuah bangku panjang, seorang wanita nampak duduk sembari memeluk lututnya. Penampilannya berantakan. Wajahnya terbenam diantara dada dan lutut. Ia menangis terisak-isak. Membuat tubuh mungilnya nampak naik turun.
Vincent yang menyadari keberadaan wanita itu lantas buru-buru menyambar celananya.
"Siapa kamu?! Ngapain kamu di rumah saya?!" Tanya laki-laki itu seraya mengancingkan celananya. Alina tak menjawab. Ia makin pilu. Laki-laki itu bahkan tidak sadar bahwa ia sudah merenggut mahkota Alina.
Vincent mengayunkan kakinya ragu. Wanita itu masih menyembunyikan kepalanya. Didekatinya wanita yang terisak-isak itu lalu menyentuh pundaknya. Gerakannya sangat pelan. Baru seujung jari tangan itu menyentuh pundak Alina, gadis itu sudah terjingkat. Ia terlonjak lalu reflek meringsut, menjauh dari pria tampan itu.
Kepala itu akhirnya terangkat. Wajah yang lebam bekas tamparan berulang, mata bengkak karena terus menangis, serta memar dan sedikit darah mengering di ujung bibir itu kini dapat dilihat dengan jelas oleh mata tajam Vincent.
Laki-laki itu terkejut. "Astaga! Wajahmu..." ucapnya.
Alina meringsut lagi. Ia kembali menyembunyikan wajahnya sembari merapatkan tubuhnya. Seolah takut pria itu kembali berlaku kurang ajaarr padanya. Vincent yang bingung nampak diam sejenak. Dilihatnya wanita itu lagi. Bukan hanya wajahnya yang acak-acakan, tapi pakaiannya juga compang camping.
Laki laki itu memejamkan matanya. Mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Ia tidur di ruang tengah yang berantakan, tak berbusana, pakaian, asbak hingga sobekan kain berserakan di lantai. Ada botol alkohol, ada darah di sofa, ada seorang wanita yang menangis.
.
.
.
.
Astaga! Ia ingat sekarang! Semalam setelah ditinggal pergi oleh Alicia, ia memutuskan untuk pergi ke club hingga hampir pagi. Ia juga ingat, Murni sempat mengirimkan pesan singkat padanya, memberitahukan bahwa ART penggantinya sudah tiba dan sudah berada di rumah.
Jadi, apakah gadis ini adalah pembantu itu? Dan apakah terjadi sesuatu yang fatal semalam??
Astaga....!!
Vincent memejamkan matanya seraya mengusap wajahnya hingga ke kepala. Bodoh sekali kau, Vincent! Apa yang sudah kau lakukan pada gadis desa ini??!
Laki laki itu menarik nafas panjang lalu membuangnya. Dengan rasa menyesal ia mengayunkan kakinya mendekati gadis itu. Ia kemudian berjongkok, tepat di samping wanita itu.
"Emm...halo, kamu," ucap Vincent memecah keheningan. Alina tak menjawab. Laki laki itu diam sejenak
"Emm...siapa namamu?" lanjutnya.
Alina tak menjawab. Ia mencoba menghentikan tangisannya. Namun begitu sulit. Suasana hening sejenak.
"Oke. Saya tahu, sepertinya diantara kita sudah terjadi sesuatu hal semalam," ucapnya. "Saya minta maaf. Sangat minta maaf. Saya tidak sadar. Saya sedang mabuk."
Alina berkali kali menarik nafas panjang untuk menghentikan tangisannya. Sebuah usaha yang dapat ditangkap dengan jelas oleh mata tajam Vincent.
"Apapun yang sudah terjadi diantara kita. Sesuatu yang mungkin sedikit banyak saya pahami berdasarkan atas kondisi saya, kamu, dan ruangan ini. Semua ini saya anggap murni kesalahan saya. Sekali lagi saya minta maaf. Dan saya janji, saya akan bertanggung jawab. Jika terjadi sesuatu hal pada kamu berkaitan dengan kejadian malam ini, kamu bisa bilang sama saya. Saya akan bertanggung jawab!" ucapnya.
Alina masih belum menjawab. Alih-alih lega, wanita itu justru makin menangis. Memangnya apa yang bisa dipertanggung jawabkan oleh pria itu? Dia tidak bisa mengembalikan kesuciannya yang kadung terenggut.
Alina kembali mengusap air matanya yang terus mengalir. Vincent yang merasa iba sekaligus tak enak hati itu kemudian bangkit. Ia mengambil kotak obat serta kompres lalu kembali mendekati Alina. Kini pria itu nampak duduk bersila di samping Alina.
Alina diam-diam menatap pria itu.
"Menangislah kalau kamu masih ingin menangis. Saya tahu, perempuan biasanya melakukan hal itu untuk mengurangi beban pikirannya," ucap Vincent seraya memeras kain kompresnya. Ia kemudian menggerakkan tangannya hendak menempelkan benda itu ke wajah Alina namun gadis itu menolak.
"Saya bisa sendiri, Tu-Tuan," ucap Alina lirih. Vincent mengangkat satu sudut bibirnya. Alina kemudian mengambil alih kain hangat itu.
"Siapa namamu?" Tanya Vincent.
"A-Alina, Tuan," jawab gadis itu sambil menunduk. Duduknya pun kini sangat rapat.
"Baiklah, Alina. Saya tahu kamu adalah pembantu pengganti Murni selama seminggu di sini. Saya mengizinkan kamu beristirahat malam ini. Dan sebagai permintaan maaf, gajimu nanti akan saya naikkan dua kali lipat. Tapi saya minta satu sama kamu..." ucap Vincent. Alina menatap sang majikan.
"Simpan semua ini rapat-rapat. Apa yang terjadi diantara kita cukup kita yang tahu. Saya tidak mau ada orang lain yang tahu masalah ini. Kalau sampai ada satu orang saja yang tahu tentang ini, itu berarti salah kamu. Dan saya tidak akan pernah memaafkan itu."
"Saya harap kamu tidak macam-macam. Karena saya bisa menjamin, kamu akan menyesal jika bermasalah dengan saya! Kamu paham?" tanya Vincent terdengar tenang, tegas, dan angkuh. Alina diam sejenak. Mau tak mau, setuju tak setuju ia pun harus mengangguk pada akhirnya.
Vincent mengangkat satu sudut bibirnya.
"Bagus! Kalau begitu istirahatlah. Dan jangan lupa untuk selalu tutup mulut!" ucap Vincent yang kemudian bangkit dan berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
...----------------...
Alina
Wah, tanpa mama Theressa sadari, Vincent udah memberi dia cucu loh.. Di perutnya Alina.. 😜
Semangat yah Kak ngurus toddler nya /Determined/