Cerita ini berpusat pada seorang wanita yang terjebak dalam pernikahan kontrak atau "pernikahan pajangan" dengan pewaris takhta perusahaan besar (Chaebol). Peran utamanya adalah menjadi pendamping sempurna di acara publik, namun di balik layar, hubungan mereka mungkin dingin atau penuh benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Sangkar Emas dan Hati yang Membatu
Lampu kristal di ruang tengah kediaman Jacob berpendar mewah, namun suasananya sedingin es. Di sofa kulit yang mahal, Davit Jacob duduk dengan wibawa yang menekan, sementara di hadapannya, Devan Jacob berdiri dengan rahang mengeras dan kepalan tangan yang memutih.
"Aku tidak akan menikahinya, Pa. Aku punya Viona," suara Devan rendah, namun sarat akan penolakan.
Davit meletakkan cangkir porselennya dengan denting tajam yang menggema. "Viona? Gadis dari kalangan biasa itu? Yang ayahnya bahkan tidak memiliki aset satu persen pun dari perusahaan kita?"
"Aku mencintainya, bukan derajatnya!" balas Devan lantang.
"Cinta tidak akan menjaga saham Jacob Group tetap di puncak," sahut Davit dingin. "Dengar, Devan. Viona Damian tidak akan pernah mendapatkan restu di rumah ini. Dia bukan siapa-siapa. Dia hanya noda yang akan merusak citra keluarga kita. Pernikahanmu dengan Vanya Benjamin sudah final. Keluarga Benjamin memiliki pengaruh politik dan bisnis yang kita butuhkan."
"Papa hanya memanfaatkanku sebagai pion bisnis!"
"Dan kau akan tetap menjadi pion yang patuh jika ingin tetap menyandang nama Jacob," potong Davit tanpa emosi. "Jika kau memilih gadis itu, silakan keluar dari gedung ini tanpa sepeser pun uang. Dan jangan harap Viona bisa hidup tenang di kota ini. Aku bisa menghancurkan kariernya dalam satu malam."
Devan terdiam. Amarahnya memuncak, namun ia tahu kekuasaan ayahnya bukan gertakan semata. Di sudut ruangan, Kenzi, sekretaris pribadinya, hanya bisa menunduk, merasakan aura mencekam yang memenuhi ruangan.
Di saat yang sama, di kediaman Benjamin, suasana tak kalah kaku. Edward Benjamin duduk di kepala meja makan yang panjang, didampingi Monica Benjamin yang tampak sibuk memeriksa jadwal fitting baju.
Vanya Benjamin duduk diam, memandangi piringnya tanpa selera. Di sampingnya, Nikolas Benjamin dan istrinya, Raisa, sesekali bertukar pandang cemas. Dua keponakannya, Josua dan Gempita, sudah dibawa ke kamar oleh pengasuh agar tidak mendengar pembicaraan orang dewasa.
"Vanya, Devan Jacob adalah pasangan yang setara untukmu," ujar Edward tanpa melihat putrinya. "Pernikahan ini akan memperkuat posisi kakakmu di perusahaan."
"Tapi Pa, Devan sudah punya kekasih. Semua orang tahu itu," suara Vanya terdengar parau.
"Itu urusan pria. Tugasmu adalah menjadi istrinya yang sah. Jadilah pasanga yang paling cantik di sisi Devan," sahut Monica santai sambil makan. "Ingat Vanya, kau adalah seorang Benjamin. Derajatmu jauh di atas gadis gadis itu."
Vanya memejamkan mata. Di rumah ini, ia hanyalah sebuah aset. Ia melirik Sisilia, sekretarisnya yang berdiri tak jauh dari sana, memberikan tatapan simpati yang hanya bisa dibalas Vanya dengan senyum pahit.
Larut malam, Devan berdiri di balkon apartemennya, menatap kerlap-kerlip lampu kota dengan mata merah karena amarah. Pintu terbuka, Viona Damian masuk dengan wajah cemas, diikuti Marko, asistennya.
"Devan... bagaimana hasilnya?" tanya Viona lembut, menyentuh lengan Devan.
Devan membalikkan badan, menatap wajah wanita yang ia cintai itu, lalu beralih menatap Marko yang berdiri kaku. Devan menarik napas berat. "Papa tidak akan pernah memberimu restu, Viona. Dia menyebutmu... "
Air mata menggenang di mata Viona. "Lalu? Kau akan menikahinya? Vanya Benjamin itu?"
Devan mengepalkan tangannya. "Aku harus melakukannya untuk melindungimu. Jika aku melawan sekarang, dia akan menghancurkanmu." Devan memeluk Viona erat, namun matanya menatap tajam ke kegelapan malam. "Tapi aku berjanji satu hal. Dia boleh mendapatkan status sebagai istriku, tapi dia tidak akan pernah mendapatkan tempat di hidupku. Vanya Benjamin hanya akan menjadiwanita kesepian."
Setelah pembicaraan yang menyesakkan di apartemen Viona, pagi yang melelahkan pun tiba. Devan melangkah masuk ke dalam sebuah butik gaun pengantin mewah di pusat kota dengan langkah terburu-buru. Wajahnya ditekuk, memancarkan aura permusuhan yang sangat kental. Di sana, di tengah ruangan yang dikelilingi cermin-cermin kristal, seorang wanita telah menunggu.
Vanya berdiri dengan canggung di dekat manekin. Ia mengenakan gaun sutra simpel yang sangat pas di tubuhnya, namun raut wajahnya menunjukkan kegelisahan. Saat pintu kaca butik terbuka dengan kasar, Vanya menoleh.
"Kau Vanya?" tanya Devan tanpa basa-basi. Suaranya dingin, seolah sedang bicara dengan rekan bisnis yang paling tidak disukainya.
Vanya sedikit terkejut dengan nada suara pria yang akan menjadi suaminya itu. Ia mencoba memberikan senyum tipis yang sopan. "Iya. Hallo, Devan? Aku—"
"Cepat cari gaunmu. Pilih yang mana saja terserah kau. Aku harus buru-buru pergi, banyak urusan yang lebih penting dari sekadar melihat potongan kain," potong Devan tajam. Ia bahkan tidak berhenti untuk menyalami atau menatap Vanya lebih dari satu detik. Pria itu langsung menghenyakkan bokongnya di sofa beludru, mengeluarkan ponsel, dan jari-jarinya mulai menari dengan cepat di atas layar.
Vanya terpaku. Ia kebingungan dan merasa dadanya sesak. Bayangan tentang pernikahan yang setidaknya dimulai dengan rasa hormat sirna seketika. Di belakangnya, Sisilia hanya bisa menghela napas panjang sambil memegang tas tangan Vanya, matanya memberikan dukungan moral yang diam.
"Silakan, Nona Vanya. Ini adalah koleksi terbaik kami dari Paris," ucap pegawai butik dengan sangat ramah, berusaha mencairkan suasana yang membeku.
Vanya akhirnya melangkah masuk ke dalam ruang ganti. Tak lama kemudian, ia keluar dengan mengenakan gaun off-shoulder putih bersih dengan detail brokat buatan tangan yang sangat rumit. Gaun itu memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna, membuatnya tampak seperti dewi yang turun dari langit.
"Wah, cantik sekali, Nona! Gaun ini sepertinya memang ditakdirkan untuk Anda. Benar-benar sempurna dan sangat anggun!" puji pegawai butik dengan tulus. Matanya berbinar melihat bagaimana Vanya tampak begitu bersinar.
Vanya menatap pantulan dirinya di cermin besar. Ia menarik napas dalam, lalu perlahan menoleh ke arah Devan. "Devan... bagaimana menurutmu yang satu ini?"
Namun, Devan tidak bergeming. Ia masih sibuk dengan ponselnya. Sesekali sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis—sebuah senyum yang Vanya tahu pasti bukan untuk dirinya, melainkan untuk seseorang di ujung sana yang sedang berbalas pesan dengannya. Viona.
"Devan?" panggil Vanya sekali lagi, sedikit lebih keras.
Devan mendongak sebentar, matanya melirik sekilas tanpa minat sama sekali ke arah gaun yang dikenakan Vanya. "Bagus. Pakai saja itu. Sudah selesai kan? Aku pergi sekarang. Kenzi, urus pembayarannya."
Tanpa menunggu jawaban, Devan berdiri dan melangkah keluar butik dengan langkah lebar. Vanya hanya bisa terdiam membeku di atas podium kecil tempatnya mencoba gaun. Pujian pegawai butik tadi seketika terasa hambar. Di tengah kemewahan butik itu, Vanya menyadari bahwa dirinya bukan sedang dipersiapkan untuk menjadi seorang pengantin, melainkan hanya sedang dipoles untuk menjadi pajangan yang akan dipamerkan kepada dunia.
Sesilia mendekat, menyentuh tangan Vanya yang dingin. "Nona, ingin mencoba satu lagi?"
Vanya menggeleng lemah, matanya masih menatap pintu butik yang masih berayun setelah ditinggalkan Devan. "Tidak perlu, Sesilia. Gaun ini sudah cukup untuk sebuah pernikahan tanpa jiwa.