Riski seorang Fans Sepak bola fanatic saat pulang nonton pertandingan di tabrak mobil dan akhirnya terlempar Ke Dunia Lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RRS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Sayap dari Tanah Buton Menuju Catalunya
Pagi itu di Jakarta, langit tampak mendung, seolah ikut merasakan beratnya langkah seorang bocah berusia enam tahun yang akan menyeberangi belahan dunia. Setelah malam terakhirnya meringkuk di emperan toko, Riski tidak lagi sendirian. Sebuah mobil sedan hitam jemputan dari pihak yayasan yang bekerja sama dengan FC Barcelona sudah menunggu di depan gedung sekretariat.
Sebelum benar-benar berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta, Riski meminta satu permintaan terakhir kepada pendampingnya. Ia ingin menghubungi panti asuhan di Bau-Bau. Dengan tangan kecil yang sedikit gemetar, ia memegang gagang telepon umum. Saat suara Ibu Pengasuh terdengar di seberang sana, air mata Riski hampir jatuh.
"Ibu, ini Riski. Riski sudah mau berangkat ke luar negeri," ucapnya dengan suara cempreng yang berusaha dikuatkan. "Hadiah dari panitia lomba kemarin ternyata beasiswa sekolah bola di Spanyol. Doakan Riski ya, Bu. Riski akan kirim uang kalau sudah sukses nanti."
Suara tangis haru meledak dari seberang telepon. Doa-doa tulus mengalir untuk keselamatan dan kesuksesan bocah yatim piatu itu. Setelah menutup telepon, Riski menarik napas dalam. Ia tahu, di tas ranselnya yang lusuh, terdapat serbet makan berisi janji masa depan. Kebohongan kecil tentang asal-usul hadiah itu terpaksa ia lakukan; ia belum siap menjelaskan tentang sistem ajaib yang mengatur hidupnya.
Perjalanan transatlantik itu memakan waktu hampir 20 jam. Di dalam pesawat Boeing 747 yang menderu, Riski duduk di kursi ekonomi, menatap hamparan awan dari balik jendela kecil. Dunia terasa begitu luas bagi anak sekecil dirinya. Ia sempat transit di Doha sebelum akhirnya mendarat di Bandara El Prat, Barcelona.
Saat pintu pesawat terbuka, udara musim dingin Eropa yang tajam—sekitar 8 derajat Celcius—langsung menusuk kulitnya. Riski menggigil hebat; ia tidak pernah merasakan dingin seperti ini di pesisir Buton. Seorang pria asing dengan syal biru-merah sudah menunggunya. Tanpa banyak bicara, Riski dibawa menuju komplek latihan Ciutat Esportiva Joan Gamper.
"Selamat datang di La Masia," ujar pemandu tersebut singkat.
Riski tidak diberikan waktu untuk beristirahat lama. Pihak akademi ingin langsung melihat kemampuan bocah yang disebut Albert Capellas sebagai "si ajaib dari Indonesia". Ia diberikan seragam latihan Blaugrana dan diminta segera menuju lapangan rumput yang hijau sempurna. Di sana, tim U-10 sedang bersiap untuk gim internal 8 lawan 8.
Begitu kakinya menyentuh rumput lapangan, sebuah layar biru muncul di hadapannya.
[Ding! Misi Seleksi Akhir & Adaptasi Aktif!]
[Nama Misi: Mata Sang Elang Catalunya]
[Tujuan: Cetak 1 Gol dan 1 Assist dalam gim internal pertama!]
[Hadiah Misi:]
Seluruh Stats meningkat +1 Poin
Uang Cash Rp 300.000 (Otomatis masuk ke Inventory)
Riski menatap anak-anak Spanyol di sekelilingnya. Mereka rata-rata berusia 9 hingga 10 tahun, bertubuh tegap dan jauh lebih besar darinya. Beberapa dari mereka menunjuk Riski sambil tertawa, menganggap bocah enam tahun itu hanyalah lelucon.
"Berikan bolanya pada si kecil, biar dia jatuh tersungkur!" ejek salah satu gelandang lawan dalam bahasa Spanyol yang belum dimengerti Riski.
Gim dimulai. Di sepuluh menit pertama, Riski benar-benar kesulitan. Setiap kali ia mencoba membawa bola, pemain lawan yang lebih besar akan menabraknya hingga terpental. Namun, statistik Phy: 19 miliknya membuatnya mampu bangkit dengan cepat. Ia menyadari satu hal: ia tidak boleh bermain fisik. Ia harus bermain dengan otak.
Menit ke-15, momen itu tiba. Riski menjemput bola hingga ke garis tengah. Dengan statistik Dri: 21, bola seolah menjadi bagian dari kakinya. Ia melakukan gerakan body feint yang membuat dua pemain lawan bertabrakan. Melihat striker timnya melakukan lari diagonal, Riski melepaskan operan terobosan melengkung (Pas: 18) yang sangat presisi. Bola membelah pertahanan lawan dan mendarat tepat di kaki sang striker. Gol!
[1 Assist Terkunci]
Pelatih tim muda yang mengawasi dari pinggir lapangan mulai memajukan posisi duduknya. Ia mencatat sesuatu dengan cepat. Namun, Riski belum selesai. Ia butuh satu gol.
Menjelang akhir gim, Riski merebut bola dari kaki bek lawan yang terlalu percaya diri. Ia melakukan lari menusuk dari sisi kiri. Meskipun kecepatannya tidak maksimal (Pac: 14), kontrol bolanya yang sempurna membuatnya sulit dihentikan. Saat kiper maju untuk menutup ruang, Riski melakukan tendangan chip yang sangat tenang melewati kepala kiper. Bola memantul pelan masuk ke gawang.
[1 Gol Terkunci]
PRIIIIIITTT! Peluit panjang dibunyikan. Anak-anak yang tadinya meremehkan kini menatap Riski dengan pandangan tak percaya. Bocah dari Indonesia itu baru saja mengacak-acak pertahanan mereka.
[Ding! Misi Berhasil!]
[Mengkalkulasi Hadiah...]
Sensasi hangat merayap ke seluruh tubuh Riski. Ia merasa tubuhnya sedikit lebih bugar dan sentuhannya terhadap bola terasa semakin tajam.
Riski berjalan menuju ruang ganti, mengusap keringat di dahinya yang kedinginan. Ia membuka layar sistem untuk melihat perkembangan terbarunya.
Statistik Riski (Update Akhir Bab 7):
Pac: 15 (+1)
Sho: 22 (+1)
Pas: 19 (+1)
Dri: 22 (+1)
Def: 17 (+1)
Phy: 20 (+1)
Overall: 19.1
Informasi Keuangan (Inventory):
Saldo Sebelumnya: Rp 875.000
Pendapatan Misi: Rp 300.000
Total Saldo Saat Ini: Rp 1.175.000
Riski tersenyum tipis melihat saldo yang kini menembus angka satu juta rupiah. Di Barcelona, ia tidak perlu memikirkan biaya makan atau tempat tinggal karena semuanya ditanggung klub, namun memiliki tabungan sebesar itu memberikan rasa aman yang luar biasa bagi seorang yatim piatu sepertinya.
Ia duduk di bangku ruang ganti, menatap seragam Barcelona yang basah oleh keringat. Perjalanan ribuan mil dari Bau-Bau akhirnya membawanya ke sini. Ia telah membuktikan diri di hari pertama, namun ia tahu ini hanyalah permulaan. Di La Masia, setiap hari adalah pertempuran untuk bertahan hidup