NovelToon NovelToon
Lima Putra Raja Biadab: Memori Koma Dan Makam Terkutuk

Lima Putra Raja Biadab: Memori Koma Dan Makam Terkutuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan / TimeTravel / Misteri
Popularitas:172
Nilai: 5
Nama Author: Herwanti

Aura membuka mata melihat dirinya sudah ada di ruangan putih dengan peralatan medis. Awalnya Aura hanya binggung, hingga dia merasa kalau dia bermimpi panjang." Sebenarnya apa yang sudah terjadi denganku,:guman Aura melihat sekitarnya. Tampak orang tua yang dia rindukan sudah ada didepan matanya. Apa yang terjadi dengan Aura sebenarnya, ingin tahu kisahnya silakan datang membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Pintu Naga yang Terikat dan Rahasia Makam Tujuh Tingkat

Pintu besi besar dengan ukiran naga yang terikat oleh pita merah itu berdiri sebagai penghalang terakhir antara mereka dan misteri utama kompleks bawah tanah ini. Aroma busuk dari laboratorium pengawetan di lantai sembilan masih tercium tipis, mendesak mereka untuk segera bergerak maju.

Falix melangkah mendekat, tubuhnya yang tegap mengerdilkan mekanisme kunci yang rumit. Dia memiringkan kepalanya, memandang bingung pada roda-roda alur dan simbol-simbol kuno yang mengelilingi pusat pintu.

“Kurasa ini adalah jalan masuk ke aula makam sebenarnya,” ujar Falix, suaranya bergema sedikit di koridor sempit itu. Dia mengulurkan tangan dan mendorong sedikit permukaan pintu yang dingin. “Tapi bagaimana kita bisa membukanya? Aku merasa ini sangat berat, mungkin perlu mekanisme hidrolik.”

Aura yang sedang berdiri di sampingnya, melirik sekilas ke arah Falix. Senyum kecil yang nyaris tak terlihat tersungging di bibirnya, namun mata cokelatnya memancarkan pandangan yang tajam.

Hati kecil Aura berbicara dalam otak kecilnya,”Ya ampun. 'Mekanisme hidrolik'? Setelah semua yang kita lihat spesimen berusia ratusan tahun, ritual kuno, perang antar Klan ia masih berpikir ini adalah pintu gudang modern? Orang ini... agak bodoh atau memang keturunan dari Bani seperti ini? Mereka selalu terlalu lugas, terlalu fokus pada kekuatan fisik daripada logika yang tersembunyi. Kenapa juga aku bertemu dengan kedua keturunan mereka, Kieran dan Falix dalam satu perjalanan yang kacau ini? Aneh sekali.”

Ucap hati Aura lagi,”Sudahlah. Menghakimi tidak akan membuka pintu. Untuk sekarang, fokus pada yang ada di depan. Kita harus melewati pintu ini sebelum memikirkan silsilah keluarga mereka yang membosankan.”

Aura menghela napas pelan, kemudian kembali memasang senyum tipis, menunjukkan kepada Falix bahwa dia sedang mendengarkan.

Jack, yang selama ini mengamati interaksi dan suasana tegang di antara mereka, beringsut mendekat. Dia menyentuh lengan Aura dengan lembut, sorot matanya penuh kekhawatiran.

“Aura, kamu baik saja, kan?” tanya Jack. “Sejak kita melihat isi botol-botol itu, wajahmu terlihat...”

Aura menoleh dan mengangguk meyakinkan. “Aku baik-baik saja, Jack. Hanya sedikit terkejut, tapi aku sudah bisa mengatasinya. Bau itu saja yang agak mengganggu.”

Kieran, yang memiliki sifat lebih tenang dan analitis dibandingkan Falix, tidak tertarik pada obrolan ringan. Dia telah berjongkok di depan kunci pintu sejak mereka tiba, jarinya mengikuti alur-alur berukir. Kunci itu jelas bukan kunci fisik, itu adalah semacam teka-teki geser atau kombinasi.

Setelah beberapa saat menganalisis simbol-simbol yang tampak seperti konstelasi bintang kuno yang berputar, Kieran menyadari bahwa dia membutuhkan kekuatan kasar untuk mencoba menggerakkan beberapa lempengan logam yang macet.

“Falix!” panggil Kieran, suaranya rendah dan serius. “Kemari, bantu aku. Lempengan kunci ini sudah berkarat. Coba tekan roda luar ini, sementara aku memutar bagian dalamnya.”

Falix dengan senang hati meninggalkan spekulasinya tentang hidrolik dan bergegas membantu Kieran, mendorong bahunya yang lebar ke pintu untuk memberikan tekanan yang stabil.

Sementara kedua pria itu bergumul dengan pintu, Aura memilih untuk mundur ke sisi koridor yang sedikit lebih bersih. Dia memberi isyarat kepada Jack untuk tetap diam dan tidak mengganggu proses itu. Berdiri di sana, menyaksikan perpaduan antara kekuatan dan kecerdikan yang diperlukan untuk membuka 'segel' kuno, pikiran Aura mulai melayang.

Kenyataan yang baru saja dia lihat pengawetan tubuh berusia ratusan tahun di bawah tanah kota modern memberinya ide yang gila, sensasional, dan benar-benar tak tertahankan untuk tidak ditulis.

Di saat semua sibuk pikiran Aura mencari ide untuk membuat novel baru. ‘Rahasia Makam Bertingkat.’ Ya, itu judulnya. Sempurna. Tapi aku harus membuatnya lebih menggigit, lebih... kontroversial. Makam ini bukan hanya kuburan biasa. Itu adalah inti dari seluruh konflik Klan.

Pikiran Aura berpacu, mengembangkan ide novel barunya dengan kecepatan kilat.

“Di jantung ibu kota yang tersembunyi dari peta, terbentang kompleks Makam Tujuh Tingkat, sebuah labirin bawah tanah yang konon menyimpan rahasia penciptaan. Selama berabad-abad, tempat ini hanya dikenal sebagai mitos, dijaga oleh sumpah darah klan tertua, dan dikelilingi oleh legenda aneh: makam tersebut hanya menerima jiwa yang jendernya ambigu, atau mereka yang berani melintasi batasan identitas, mematahkan norma sosial yang paling mendasar…”

Aura merasakan lonjakan energi kreatif yang luar biasa. Konsep itu akan menarik perhatian pembaca. Itu akan menantang, mendalam, dan memiliki semua elemen horor bawah tanah dengan sentuhan sosial yang tajam.

“Pasti ini akan menarik untuk didengar, dan lebih menarik untuk ditulis,” kata hati Aura, hampir tidak sabar untuk keluar dari tempat terkutuk ini dan segera mengetik naskah barunya. Penemuan makam yang benar-benar ada, berlevel-level di bawah bumi, dengan setiap lantai menyimpan kengerian ilmiah yang berbeda, adalah hadiah dari takdir, meskipun hadiah itu berbau Natron dan busuk.

Tepat pada saat yang sama, fokusnya terputus.

Terdengar bunyi “KLEK!” yang keras dan memekakkan telinga dari mekanisme kunci. Itu diikuti oleh bunyi gesekan logam yang berat, seolah-olah gembok kuno telah dibuka.

Kieran dan Falix segera mundur selangkah. Pintu besi yang dihiasi naga itu, yang terasa begitu berat dan mati beberapa saat yang lalu, mulai bergeser ke dalam. Itu tidak berayun; melainkan meluncur perlahan ke samping, masuk ke dinding di sebelahnya dengan raungan gemuruh yang memindahkan debu kuno dari dinding dan langit-langit.

Semua orang langsung waspada. Jack, yang berdiri di samping Aura, secara naluriah mengangkat senternya, sementara tentara Arga memegang erat-erat gagang pisaunya yang tersembunyi. Kieran dan Falix, meski kelelahan, langsung mengambil posisi siaga.

Pintu itu terbuka sepenuhnya, memperlihatkan pemandangan di baliknya.

Udara di depan mereka berbeda. Dingin, kering, dan yang terpenting, bersih. Bau busuk dari Lantai Sembilan lenyap, digantikan oleh aroma tanah kering, batu dingin, dan keharuman seperti rempah-rempah yang samar-samar.

Mereka sekarang berdiri di ambang Aula Makam Utama.

Cahaya dari senter mereka menembus kegelapan, tetapi kegelapan ini berbeda ia terasa luas dan dalam. Pemandangan itu sangat kontras dengan koridor sempit yang penuh botol-botol kaca yang baru saja mereka tinggalkan.

Mereka tidak menemukan jaring laba-laba, atau tumpukan debu, sebaliknya, yang mereka temukan adalah sebuah ruang besar dengan arsitektur yang megah. Dindingnya diukir dengan relief-relief yang tampak lebih tua dari klan mana pun yang mereka ketahui. Di tengah aula, di atas dataran yang ditinggikan, berdiri sebuah sarkofagus yang sangat besar, diselimuti oleh simbol-simbol yang belum pernah mereka lihat. Ruangan itu begitu besar hingga sinar senter mereka tidak bisa mencapai batasnya.

Mata mereka menyipit, waspada terhadap bahaya apa pun jebakan panah, gas beracun, atau mungkin penjaga yang tersisa.

Tapi ruangan itu sunyi. Hening. Seolah-olah waktu sendiri telah berhenti di tempat ini, menunggu kedatangan mereka.

Apa yang akan mereka temukan di dalam sana? Apa yang diwakili oleh sarkofagus itu? Dan yang paling penting, apakah Makam Tujuh Tingkat ini adalah akhir dari perjalanan mereka, atau hanya awal dari horor yang sesungguhnya?

Aura menatap ke dalam kegelapan, wajahnya tegang. Penulis dalam dirinya berteriak kegirangan, sementara naluri bertahan hidupnya berteriak untuk berhati-hati.

“Ini dia,” bisik Aura, suaranya nyaris tidak terdengar, memecah keheningan yang menakutkan. “Ini Makam yang sebenarnya.”

1
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Herwanti: terima kasih sudah berkunjung
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!