NovelToon NovelToon
Three Princes And The Cat Who Knows Too Much

Three Princes And The Cat Who Knows Too Much

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Epik Petualangan / Keluarga & Kasih Sayang / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:243
Nilai: 5
Nama Author: Rootea

Rumi terlempar ke dunia otome game yang sedang digandrungi. Tapi, dia bukan tokoh utama wanitanya.... Dia cuma seekor kucing!

Berbekal pengetahuan akan seluruh akhir cerita bersama tiga pangeran, Rumi bertekad mengatur jalur romansa agar semuanya berakhir bahagia.

Namun, kehidupan tidak pernah sesederhana permainan game....

Tiga pangeran berarti tiga jalan hidup. Tiga pilihan. Dan hubungan yang perlahan menghancurkan dari dalam.

Apakah yang dia ketahui masih cukup? Ataukah, pada akhirnya Rumi tidak bisa melakukan apa-apa....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rootea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28 - Upacara Pernikahan

Hari yang dinantikan pun tiba.

Mansion Keluarga Grendahl di ibu kota telah ramai sejak sebelum matahari menunjukkan diri. Semenjak pernikahan itu diputuskan, bahkan sebelum secara resmi diumumukan ke seluruh negeri, kesibukan telah melanda keluarga Grendahl. Althea bukan hanya akan jadi bagian dari keluarga kerajaan—ia akan menjadi istri dari putra mahkota; permaisuri di masa depan. Ada banyak hal yang perlu dipersiapkan. Segalanya haruslah sempurna. Tidak ada ruang untuk kesalahan.

Para pelayan bergerak kesana kemari seolah tanpa henti. Terlepas dari udara musim dingin yang menyusup dari sela jendela, kehangatan memenuhi hampir seluruh ruangan di mansion itu. Lilin dinyalakan hampir di setiap penjuru, menyala hangat menemani aroma lembut minyak wangi.

“Lady Althea, tolong angkat sedikit tangan anda.”

“Bagian belakang gaun perlu sedikit diperbaiki.”

“Jangan terlalu kencang menarik talinya.”

“Tolong pejamkan mata sebentar.”

Berbagai arahan terdengar di sana-sini.

Di hadapan cermin besar dengan bingkai emas, Althea mematut diri. Sejumlah pelayan telah menghabiskan cukup banyak waktu mendandani. Gaun pengantin berwarna putih itu membalut tubuhnya dengan lembut. Berlapis-lapis kain menyerupai kabut menjuntai panjang hingga menyapu lantai. Benang emas tipis disulam membentuk sulur kecil di ujung kain, berkilau setiap kali terkena cahaya—sentuhan halus dari warna representatif sang putra mahkota. Sejumlah kristal kecil dirangkai menyerupa jejak salju yang menempel di permukaan gaun. Leher jenjang dihiasi liontin amethyst yang tidak pernah lepas dari sana.

Rambut cokelat muda yang berkilau indah ditata rapi dengan kepangan halus menyerupa lingkar mahkota. Di sela-sela kepangan itu bunga-bunga kecil baby’s breath dan ornamen emas diselipkan satu persatu hingga menyatu dengan helai rambut. Sisa rambutnya dibiarkan tergerai panjang dalam gelombang lembut di punggung.

Seorang pelayan memberikan sentuhan terakhir—rangkaian kamelia putih diselipkan di puncak kepangan, menyatu dengan tudung transparan yang menjuntai panjang melewati ujung gaun.

“Woaaahhh. Cantik sekali!”

“Lady Althea sungguh terlihat bagai Dewi.”

Beberapa wanita bangsawan, rekan terdekat Keluarga Grendahl, telah berdatangan. Satu persatu dari mereka memenuhi ruangan itu dengan ucapan selamat dan rentetan pujian.

“Seperti mimpi aku bisa menyaksikan hari ini.”

“Anda sungguh penyelamat Kaelros, Lady Althea.”

“Semoga naga suci memberkati pernikahan ini.”

Ucapan-ucapan itu datang bersama senyum hangat dan tatapan penuh harapan.

Rona merah yang menghiasi wajah Althea membuat gadis itu semakin menawan. “Ah… kalian membuatku sangat gugup,” ia berujar pelan. “Kekuatan sihirku tidak seberapa…”

“Kami mempercayaimu, Lady Althea.” Seorang lady paling senior di sana menyahut. Tangannya menyentuh lembut lengan sang calon pengantin. “Kami sungguh bersyukur.”

“Anda adalah harapan kami.”

Buket bunga putih diserahkan. Aromanya lembut menenangkan.

Di luar jendela, lonceng kota berdentang pelan.

Waktu keberangkatan telah tiba.

...*...

...*...

...*...

Kereta pengantin yang disiapkan istana telah menunggu tepat di depan mansion Grendahl. Althea meninggalkan bangunan setelah mantel pendek berbulu putih gading disampirkan di bahunya.

Bahkan sebelum pintu gerbang dibuka, sorak-sorai telah terdengar.

Jalanan ibu kota telah dipenuhi rakyat sejak pagi. Bendera Kaelros berkibar di sepanjang jalan utama. Rangkaian bunga putih dengan pita emas menghiasi balkon-balkon bangunan yang akan dilewati jalur utama. Kelopak bunga diterbangkan di udara mengiringi kereta yang bergerak perlahan.

“Lady Althea!”

“Selamat atas pernikahannya!”

“Semoga keberkahan naga memberkati!”

Berbagai seruan terdengar dari segala arah. Dari jendela kereta yang dibiarkan terbuka, Althea tersenyum dan melambaikan tangan.

Pasukan ksatria kerajaan berjalan di depan dan belakang kereta, mengawal kepergian menuju Kuil Suci. Arak-arakan meriah itu berlangsung hingga kaki Gunung Vyrion. Setelah berminggu-minggu dilanda kemuraman, hari ini Kaelros tampak nyata bersuka cita.

Ketika gema lonceng dari menara kuil terdengar semakin nyaring, sedikit demi sedikit sorak-sorai pun mereda. Semakin dekat dengan tujuan, suasana berubah khidmat.

Tangga batu putih Kuil Suci Thaelgor menjulang tinggi di tengah udara musim dingin. Matahari pagi menyinari bangunan itu dalam cahaya keemasan yang lembut. Pintu besar yang menjulang telah terbuka, siap menerima berlangsungnya upacara suci.

...*...

...*...

...*...

Dari salah satu lengkungan kubah dalam kuil, aku bisa menyaksikan semuanya dengan jelas.

Para pendeta Kuil Suci telah memenuhi ruangan utama sejak kami tiba. Mereka berbaris membentuk separuh lingkaran di sekitar altar batu raksasa yang terletak di pusat bangunan. Cahaya lilin menerangi pilar-pilar tinggi, mempertegas ukiran naga yang memenuhi dinding.

Di depan altar, Caelian berdiri. Lebih dari biasanya, pakaian putih-emas yang membalut tubuhnya hari itu begitu megah. Mantel putih dengan bulu-bulu halus tersampir berat di pundak. Ornamen emas menjalar serupa akar hidup, berkilau di bawah cahaya. Rambut pirang pucatnya ditata rapi, mempertegas garis wajah yang sempurna. Sepasang mata biru bersinar lebih terang dari mahkota di kepalanya.

Caelian selalu punya kemampuan unik untuk menguasai ruangan biarpun ia hanya berdiri diam. Presensinya serupa figur legenda. Megah. Indah. Tak tergapai. Tidak seperti manusia biasa.

Suara berat seorang pria terdengar memberitahukan kedatangan rombongan Althea.

Himne lembut mulai memenuhi dinding kuil. Serupa pengiring langkah Althea yang memasuki ruang suci.

Ketika Althea tiba di hadapan sang putra mahkota, ruangan itu hening. Seakan semua yang ada di sana tengah menahan napas. Sejenak, dua insan itu saling menatap, sebelum nyaris bersamaan menghadap altar.

Pendeta Agung, berdiri di samping mereka, mulai memimpin doa-doa dalam bahasa kuno. Gema yang terdengar cukup membuat merinding.

Asap dupa perlahan memenuhi udara.

Janji suci dikumandangkan.

Ikatan baru keluarga kekaisaran Kaelros dibacakan.

Upacara pernikahan ini sedikit berbeda dengan yang terjadi dalam game. Keberadaan Kuil Suci memang tidak banyak—atau bahkan sama sekali tidak—disebut. Seingatku, upacara pernikahan dalam game lebih mirip dilakukan di gereja, dilaksanakan singkat dengan pertukaran kata “aku bersedia”, pemasangan cincin, dan berciuman seperti dalam film-film itu.

Apa yang terjadi di sini, sungguh berbeda.

Setelah bertukar cincin, setelah Pendeta Agung meresmikan pernikahan, kedua mempelai meneteskan darah dari ujung jari masing-masing ke dalam bejana berisi air. Kemudian, bersama-sama, mereka menuangkan air itu ke tubuh patung naga di pusat altar.

Setelah ritual itu selesai, para pendeta membuka jalan menuju menara di bagian tertinggi kuil. Hanya segelintir orang yang diizinkan naik. Dari balkon melingkar itu, nyaris seluruh ibu kota Valtheris terlihat di bawah langit musim dingin yang pucat. Udara yang berhembus cukup menggigit. Namun, tampaknya tidak menurunkan keinginan rakyat memenuhi jalanan sejak tadi.

Wadah berisi dupa turut dibawa ke atas balkon. Kedua mempelai kembali meneteskan darah mereka dari ujung jari, kali ini ke atas bara dupa yang menyala perlahan.

Asap putih menguar lebih pekat, membawa rempah yang hangat.

Setelah itu, bersama lonceng yang berdentang berat, Althea melangkah ke ujung balkon. Gaun putih dan tuduh transparannya berkibar tertiup angin. Samar, lamat-lamat, gadis itu merapal—mantra sihir, tampaknya.

Mula-mula, tidak ada hal berbeda yang aku lihat.

Lalu, perlahan, cahaya pucat keunguan muncul dari tempat gadis itu berpijak. Tidak seberapa besar dan tidak menyilaukan pandangan. Lembut. Hangat. Seperti bara api unggun yang bertahan dalam gelap di bawah terpaan angin musim dingin. Samar-samar cahaya itu menyebar bersama asap dupa. Terhembus ke arah ibu kota.

Perlindungan untuk Kaelros yang diikat dalam darah suci keluarga kekaisaran; demikian sang pendeta agung mengumandangkan. Diiring doa yang bergema ke segala penjuru.

Di bawah sana, rakyat Kaelros menundukkan kepala mereka.

Beberapa hal di dunia ini memang tidak bisa dijelaskan secara logika.

Seseorang pernah berkata begitu. Sedikit banyak aku setuju. Terlebih sejak datang kemari, banyak hal yang terlalu rumit untuk aku benturkan pada nalar sehingga lebih sering tidak aku pedulikan. Contohnya saja kedatanganku ke sini dan fakta bahwa aku sekarang seekor kucing. Mungkin memang seperti inilah dunia baru yang harus aku jalani. Banyak hal yang tidak bisa dijelaskan.

Seperti juga sihir untuk meredam miasma itu.

Bagaimana melihat pengaruhnya?

Tidak tahu.

Apakah hanya orang-orang dengan kekuatan sihir tertentu yang bisa melihat efeknya?

Mungkin begitu.

Yang jelas orang-orang di sini tampak yakin bahwa upaya mereka berhasil. Ritual perlindungan yang harus dilakukan rutin oleh Althea dan Caelian, kabarnya. Untuk melindungi negeri.

Bagaimanapun juga, ini adalah akhir bahagia.

Sesuai dengan keinginanku.

Upayaku yang tidak sedikit telah sejalan dengan bagaimana semesta bergerak. Protagonis wanita menikah dengan putra mahkota.

Ini jalur yang paling aman untuk kami.

Aku ingat sewaktu mengambil jalur ini dalam game. Aku menggunakan uang asli untuk membeli gaun paling cantik waktu itu. Gaun yang aku pilih memang berbeda dengan yang dikenakan Althea saat ini. Putih bukanlah warna yang cocok dengan tone kulitku. Aku memilih warna pink seperti warna sakura.

Aku juga ingat pesta yang mewah. Musik mengalun di seluruh aula. Ada berbagai tarian memukau. Makanan lezat seolah tidak pernah habis. Obrolan dan tawa memenuhi ruangan.

Pesta yang meriah.

Seperti saat ini.

Kengerian miasma seolah tidak pernah ada.

Seharusnya memang seperti ini.

Bahagia.

Tapi,

Kenapa ya… rasanya ada yang mengganjal.

Entah kenapa pernikahan ini terasa… dipaksakan.

Bukankah aneh aku berpikir begitu? Ini adalah pernikahan yang diinginkan seluruh negeri, termasuk aku. Hubungan Caelian dengan Althea juga tidak buruk. Mereka pasangan serasi. Aku yakin mereka saling mencintai.

Jadi, seharusnya, yang aku rasakan ini tidak perlu....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!