Amira 3 Tahun Jadi TKI, melunasi hutang keluarga suami
meninggalkan dua anaknya yang masih kecil
saat pulang di mendapatkan
arjuna anak sulungnya usia 7 tahun sedang di pukul oleh seorang wanita
wanita itu adalah istri muda suaminya
anak keduanya saat itu usia 1 tahun tidak ada di rumah
Hati Amira hancur namun dia harus tetap hidup
sebuah kisah kebangkitan wanita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rezeki datang tak di undang
Malam tiba. Dewi dan Arjuna sudah tertidur walau hanya beralaskan kardus bekas.
Amira dan Nanda duduk berdua di balkon sambil melihat bintang-bintang.
“Lucu ya, kita tinggal di ruko yang seharusnya dua juta per bulan jadi 500.000,” ucap Nanda.
“Lebih lucu lagi, kita sudah punya tempat tinggal, tapi tidur masih pakai kardus.”
“Tenang saja, Amira. Ini semua hanya permulaan,” ucap Nanda.
“Ya, ini awal yang bagus,” ucap Amira. “Besok aku mau beli kompor gas dan peralatan dapur. Aku mau jualan gorengan keliling, Mah.”
“Kalau bisa jangan dagang keliling, Amira. Dagang di sini saja,” saran Nanda.
“Aku juga maunya seperti itu. Bahkan aku sudah punya ide untuk menjual makanan khas Taiwan dan Korea, tapi kita butuh modal setidaknya lima juta, Bu.”
“Banyak juga ya. Kirain mamah hanya butuh modal 500 ribu.”
“Uang 500.000 dapat apa, Mah? Dapat etalase saja tidak cukup.”
“Ya sudah, dagang keliling ya, dagang keliling, Mira,” akhirnya Nanda tidak berharap terlalu banyak.
“Ya, malam ini kita harus banyak berdoa. Semoga ada rezeki nomplok yang datang,” Amira penuh harap.
“Mamah doakan semoga besok ada orang baik yang memberi kita uang banyak.”
“Jangan terlalu mengharapkan hal seperti itu, Mah. Kita berdoa saja, mudah-mudahan Tuhan memberikan kita kemampuan untuk menghasilkan uang yang banyak,” Amira meluruskan pikiran Nanda.
“Ya, baiklah. Mamah sebagai orang tua hanya bisa mendoakan, Mira.”
“Makasih, Mah,” Amira tulus mengatakan hal itu.
“Sudah malam, Mah. Lebih baik kita tidur,” ucap Amira.
Mereka berdua masuk ke ruko, melihat Dewi yang tidurnya berantakan, kakinya menempel di muka Arjuna, sedangkan Arjuna tidur dengan tenang.
Amira menyelimuti mereka dan membenarkan posisi tidur Dewi.
Amira dan Nanda memejamkan mata, dan sebelum tidur berharap esok akan lebih baik dari hari ini.
Amira memejamkan mata sambil membayangkan uang berlimpah datang padanya. Setelah membayangkan itu, dia mengucapkan syukur berulang-ulang seolah uang itu sudah ada di tangannya.
Pagi datang dengan begitu cepat. Amira bangun terlebih dahulu. Karena tidak ada peralatan masak, mereka terpaksa membeli makan.
Mereka berempat berjalan-jalan sambil mencari makan.
Sebuah warteg yang ramai pengunjung menjadi pilihan Amira karena ada tulisan “gratis es teh manis”.
Mereka berempat makan dengan tenang di meja yang sama. Saat itu sudah banyak pengunjung.
Tiba-tiba masuk seorang wanita dengan dandanan lusuh sambil membawa mangkuk bekas.
“Tolong saya,” ucapnya.
Seorang wanita paruh baya memberikan uang receh, namun wanita lusuh itu menolak pemberian itu.
“Saya bukan pengemis. Saya hanya menjual harta saya yang paling berharga. Kalau anak saya tidak sakit, saya tidak akan menjual harta paling berharga saya.”
Perempuan yang akan memberikan uang receh itu memasukkan kembali uangnya ke dompet, kemudian bertanya, “Memangnya apa yang mau nenek jual? Saya tidak bisa beli ginjal, loh, Bu. Tapi saya bisa kasih nama dokter yang sedang membutuhkan ginjal.”
“Saya tidak menjual ginjal saya.”
“Lalu apa yang akan nenek jual?”
“Saya akan jual mangkuk ini dengan harga murah, 500.000 saja,” ucap wanita itu.
“Kamu kalau menipu jangan keterlaluan ya. Siapa juga yang mau beli mangkuk cap ayam seperti itu dengan harga 500.000? Paling harga 5.000.”
“Tolonglah, demi biaya berobat anak saya.”
“Saya tidak bisa beli dengan harga semahal itu.”
“Ya sudah kalau tidak mau beli,” ucap wanita lusuh itu.
Wanita lusuh itu kemudian menawarkan kepada beberapa orang. Amira memperhatikan dengan saksama.
Tidak ada satu pun yang menerima.
Hingga ada seorang lelaki membentak wanita lusuh itu.
“Hei, nenek tua, kalau mengemis, mengemis saja! Tidak usah menipu orang! Mangkuk butut seperti itu kamu jual dengan harga 500.000!”
“Aku tidak mengemis. Aku menjual harta saya ini satu-satunya.”
“Pergi sana!” bentak pria itu kesal, lalu mendorong wanita itu hingga jatuh.
Namun wanita itu terus merangkak. “Tolong saya, Pak.”
“Pergi sana!” pria itu hendak menendang wanita lusuh itu.
“Hentikan!” Nanda yang tak tahan melihat adegan lelaki menganiaya wanita itu berteriak.
“Siapa kamu? Kamu sama-sama gembel, pasti sudah bersekongkol dengan wanita ini, kan? Kalian memang penipu!”
“Diamlah,” ucap Amira kesal. “Kalau Bapak tidak mau menolong, setidaknya jangan menghina.”
Lelaki itu tampak diam dan kembali duduk.
“Bu, memang anak Ibu sakit apa?” tanya Amira sambil memegang pundak wanita itu dan mendudukkannya di kursi.
Ada seorang lelaki memakai hoodie masuk ke warung nasi. Dia tidak duduk, hanya berdiri dan tidak kunjung memesan.
“Nih, Bu, minum dulu,” Amira memberikan teh manis pada wanita itu.
“Anak saya sakit ginjal,” jawab wanita itu.
“Sakit ginjal mana cukup dengan uang 500.000,” ucap Amira.
Wanita lusuh itu tampak memutar bola mata.
“Ya, kurangnya hanya segitu, Nak,” ucap wanita lusuh itu.
Dia menatap Amira dengan penuh harap. “Bagaimana kalau kamu saja yang beli?”
“Baiklah, saya akan beli, tapi saya hanya punya uang 400.000. Yang 100.000 untuk kami makan hari ini,” Amira menjelaskan kondisi keuangannya.
“Amira, jangan lakukan itu. Beri saja dia uang 100.000, Amira,” ucap Nanda.
“Ya, tolonglah, demi anak saya,” wanita itu mengiba. Air mata turun membasahi pipinya.
“Cengeng sekali dia,” gerutu Nanda dalam hati.
“Saya hanya bisa beli dengan harga 400.000.”
“Nak, jangan mau. Biasanya orang seperti itu penipu,” kata seseorang.
Amira berkata dengan penuh bijaksana, “Menipu atau tidak bukan urusan saya. Saya menolong dia demi nyawa manusia.”
“Kami hanya mengingatkan saja. Banyak penipuan dengan modus seperti itu.”
“Tidak masalah. Biarkan saya ditipu, asal jangan orang lain menipu saya.”
“Benarkah itu?” ucap wanita lusuh itu.
“Tentu saja. Jadi bagaimana, apakah Ibu mau menjual mangkuk itu kepada saya?”
Nanda menarik tangan Amira dan berbisik, “Amira, jangan gila kamu. Nanti besok makan apa kita?”
Amira hanya tersenyum mendengarkan bisikan ibunya.
“Baiklah, kalau begitu saya jual mangkuk itu,” wanita lusuh memberikan mangkuk itu kepada Amira.
Amira memberikan uang 400.000 kepada wanita lusuh itu.
Wanita itu menerimanya dengan wajah terharu. Dia mencium uang itu seolah benda paling berharga.
Setelah menerima uang, wanita lusuh itu keluar dari warteg.
“Amira, coba kamu gosok-gosok mangkuk itu,” Nanda masih heran dengan sikap Amira. Dalam hatinya, Amira ini bodoh atau memang terlalu baik? Sudah tahu hanya punya uang sedikit, malah diberikan kepada orang lain.
“Kenapa harus digosok-gosok, Bu?” tanya Amira.
“Ya, kali saja nanti keluar jin yang mampu mengabulkan semua keinginan kita,” jawab Nanda, dengan raut tak rela karena uang yang tinggal sedikit itu diberikan kepada orang lain.
“Tenang saja, Mah. Sebentar lagi ada orang yang akan memberikan uang kepada kita.”
“Kenapa bisa begitu, Amira?”
“Tenang saja, kita akan ketiban rezeki nomplok, Bu,” Amira berkata dengan yakin.
besok ibu trus simbok ato biyung🤣🤣🤣
sebagai pelampiasan dewi karena g di izinkn anjani masuk ruko jadilah preman nya yg di hajar dewi dan dililit anjani🤣🤣🤣🤔