NovelToon NovelToon
High School Love On

High School Love On

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Idola sekolah / Romansa Fantasi
Popularitas:803
Nilai: 5
Nama Author: Rustina Mulyawati

Masa-masa sekolah memang paling indah dan mendebarkan. Banyak drama dan kisah cinta yang begitu manis. Ini hanya kisah tentang anak-anak remaja yang duduk di SMA. Tentang, persahabatan, cinta, pendidikan, dan keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rustina Mulyawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 20 Sangat Merepotkan

Aksa kebingungan sendiri karena tidak tahu harus melakukan apa pada Adit yang masih pingsan. Sudah berbagai cara Aksa mencoba untuk membangunkan nya, namun Adit masih saja tidak bangun dari pingsannya.

"Ah, benar-benar merepotkan. " Aksa bergumam sendirian dengan frustasi karena tidak ada orang lewat yang bisa ia mintai tolong karena malam juga sudah sangat larut.

Aksa hendak akan meninggalkan Adit disana, tapi ia mengurungkan niatnya. Walau bagaimanapun juga berbahaya meninggalkannya dengan keadaan seperti itu. Apalagi lingkungan disini sangat sepi. Padahal hari ini Aksa sangat lelah habis bekerja. Malah harus direpotkan oleh Adit yang pingsan karena takut hantu.

Dan ia tidak punya pilihan selain menggendong Adit di punggungnya. Walaupun tubuh Adit sangat berat, Aksa tetap menggendongnya dan berjalan dengan tertatih-tatih menyeimbangkan langkahnya supaya tidak terjatuh.

"Aeuh! Berat sekali! " gerutu Aksa mempercepat langkahnya karena ingin segera sampai di rumah. Lagi pula ia juga tidak tahu alamat rumah Adit. Jadi terpaksa ia membawanya pulang ke rumah. Untungnya jarak untuk sampai ke rumah tidak terlalu jauh. Tapi tetap saja itu membuat Aksa sangat kelelahan. Setibanya di rumah Aksa membuka pintu dan masuk ke dalam lalu menjatuhkan tubuh Adit di sofa.

Santi sengaja tidak pernah mengunci pintu sampai Aksa pulang. Karena takut kalau ia ketiduran saat Aksa pulang bekerja. Namun, seperti biasa Santai yang sudah terlelap tidur selalu terbangun setiap kali putranya pulang bekerja. Jadi ia keluar dari kamar untuk menyambutnya.

"Siapa ini? " tanya Santi kepada Aksa yang terkapar di lantai meregangkan otot pinggangnya yang pegal karen menggendong Adit. Nafasnya masih keluar masuk tidak ber aturan. Nafasnya masih terengah-engah. Aksa tidak langsung menjawab dan mencoba untuk mengontrol nafasnya terlebih dahulu. Lalu, sesaat kemudian ia duduk dan menoleh kepada Santi.

"Ibu tidak usah pedulikan dia, " Aksa menjawab dengan nada yang berat dan tercekat.

Santi menyadari wajah Aksa yang terluka. Lantas, dengan spontan ia menghampiri putranya itu sambil menatap wajahnya yang penuh luka dengan cemas.

"Kenapa dengan wajahmu? Kamu berkelahi? " tanya Santi menyelidiki dengan panik.

"Bukan begitu. Aku terjatuh dari motor dan terluka saat mengantarkan pizza. Maaf karena sudah membuat Ibu khawatir, " sesal Aksa beralasan dan berbohong soal lukanya.

"Tidak papah. Ibu yang harusnya minta maaf karena kamu terluka karena salah Ibu juga, " sahut Santi ikut merasa bersalah karena tidak bisa memberikan yang terbaik untuk putranya.

"Ibu? Kenapa Ibu bilang begitu? Baiklah, aku akan berhati-hati kedepannya. Aku janji tidak akan membuat Ibu khawatir lagi. Maafkan aku, " Aksa memeluk hangat Santi sebagai bentuk penyesalannya.

"Iyah iyah sudah. Kamu sudah makan? " tanya Santi kemudian.

Aksa tersenyum kecil. "Belum."

"Auh! Sudah berapa kali Ibu bilang, jangan sampai kamu telat makan walaupun sedang sibuk. Baiklah, Ibu akan menyiapkan makan malam untukmu. Tunggu sebentar! " ujar Santi mengomelinya karena sayang.

"Kalau begitu, aku mau mandi dulu yah, Bu. " Aksa berdiri dari duduknya di susul oleh Santi.

"Iyah, sana! "

Lantas, Aksa pergi untuk membersihkan diri, sementara Santi pergi ke dapur menyiapkan makan malam untuk putra tersayang. Ternyata Adit sebenarnya sudah bangun dari pingsannya. Ia hanya berpura-pura dan tidak sengaja mendengarkan percakapan hangat itu antara Ibu dan anak. Ia sangat iri karena tidak pernah melakukan hal itu dengan Ibunya. Saling menegur karena khawatir satu sama lain. Adit iri karena ia tidak pernah merasakan bagaimana rasanya diomeli oleh Ibunya. Tidak terasa sebutir air mata jatuh di sudut mata kanannya. Adit segera menyeka air mata itu dan kembali memejamkan matanya pura-pura tidur dengan pulas.

Sesaat kemudian, Aksa selesai mandi dan keluar untuk makan. Melihat Adit yang tertidur pulas membuat Aksa menghela nafas kasar. Aksa pun tidak menghiraukannya dan menuju meja makan lalu duduk untuk menikmati makan malamnya.

"Ibu? Ibu tidur saja. Istirahatlah! Aku akan makan dengan cepat dan membereskannya nanti. "

"Tidak papah. Ibu akan menunggu sampai kamu selesai. "

"Tidak usah. Ibu pasti lelah, masuklah ke kamar dan tidur, " ujar Aksa lagi terkekeh sambil beranjak menghampiri Ibunya dan menariknya untuk kembali ke kamar.

"Baiklah. Kalau begitu, Ibu masuk dulu. " Santi akhirnya pergi ke kamarnya dengan ribuan rasa lelah yang sudah menumpuk di bahunya. Dan sorot matanya jelas menampakkan rasa kantuk yang berat. Jadi, ia pun tertidur pulas setelah kembali ke kamar.

Aksa tidak langsung makan, dan menendang sofa yang Adit tiduri. "Bangun! Gue tahu loh sudah bangun. Ayo, makan dulu, " ujar Aksa dengan nada datarnya membangunkan Adit yang memang sedang berpura-pura tidur.

Mau tidak mau Adit pun bangun dan duduk. Melihat Aksa yang sudah lebih dulu ke meja makan, ia segera menyusul dan duduk berhadapan dengan Aksa.

"Gue pikir loh bakalan ninggalin gue. Gak disangka loh ternyata peduli juga sama gue, " oceh Adit dengan senyuman sumringah di wajahnya.

"Jangan banyak mengoceh cepat makan! " timpal Aksa sambil melahap satu suap makanannya.

"Iyah." Adit akan menolak tawarannya dan melahap makanan tersebut dengan terharu. Karena sudah lama ia tidak merasakan masakan rumahan seperti ini. Setiap harinya ia hanya makan makanan instan seperti mie, burger, pizza, atau sosis. Sampai tidak terasa air mata lolos begitu saja dari kedua sudut matanya.

Adit terisak sesaat namun segera menyeka air matanya dan menikmati makanan tersebut. Aksa yang menyadari hal itu menatapnya heran.

"Loh kenapa? Jangan sampai ingusmu jatuh ke makanannya! " seru Aksa memberinya peringatan yang tegas.

"Tentu saja tidak! Tapi, masakan Ibumu benar-benar sangat enak, " tukas Adit yang tidak bisa berhenti melahap makanannya.

Walau Aksa merasa sedikit heran dengan sikap Adit. Tapi ia mengingatkannya kepada Devina yang juga bersikap sama seperti Adit saat pertama kali menyicipi masakan Ibunya. Jadi Aksa berasumsi bahwa ada kemiripan dalam kehidupan yang dijalani antara Devina dan Adit yaitu terletak pada orang tua mereka.

Setelah mereka selesai makan, Aksa merapihkan piring-piring kotor itu dan membawanya ke wastafel untuk langsung dicuci.

"Tidak usah tidak usah, biar gue yang mencucinya." Adit menawarkan diri dengan antusias untuk mencuci piring-piring kotor tersebut karena merasa tidak enak sudah ikut makan gratis di rumahnya. Terlebih lagi mungkin dia akan menginap disana.

"Baiklah. Kalau begitu cuci sampai bersih sampai kesat dan mengkilap. Gue masuk ke kamar dulu. Ah loh malam ini tidur saja di sofa. Gue tidak terbiasa tidur dengan orang lain, " sahut Aksa dengan dingin sambil melengos pergi ke kamar untuk tidur meninggalkan Adit yang sedang mencuci piring sendirian.

1
SANG
Semangat terus pantang mundur👍💪👍💪
SANG
Like iklan plus komen👍💪👍💪👍💪
Rustina Mulyawati: Terima kasih Kakak..
total 1 replies
SANG
Aku kasih suka ya👍💪
SANG
Keren banget💪👍💪
SANG
Ceritanya seru
T28J
lanjutkan kak 👍
T28J
anjay nganter doang 3 juta 🤣👍
T28J
hadiir kakak 🙏
Rustina Mulyawati: Terima kasih udah mampir👍 Moga suka sama jalan ceritanya. ☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!