NovelToon NovelToon
INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Harem / Kultivasi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Noxalisz

Di dunia kultivasi yang luas, Xiao Chen adalah anomali—diturunkan dari langit dengan ketampanan dan kekuatan absolut tanpa batas. Dibesarkan di Hutan Sunyi oleh Qing Yan, ia tumbuh tanpa memahami asal-usulnya. Saat berusia 15 tahun, ia memulai perjalanan menjelajahi dunia, mengungkap misteri dirinya, menghadapi berbagai faksi, serta membangun hubungan dengan wanita dan kekuatan yang mengguncang tiga alam.

bonus langsung 10 episode pertama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelabuhan Summerhold

Pada hari ketiga puluh tujuh, Bintang Utara akhirnya mencapai ujung Lautan Beku.

Di cakrawala, menjulang dinding-dinding es raksasa—tebing-tebing putih setinggi ratusan meter yang menandai awal Benua Utara. Tapi sebelum mencapai daratan utama, kapal harus singgah di sebuah kota pelabuhan yang dibangun di atas gunung es terapung: Summerhold.

"Ironi sekali namanya," kata Freya saat kapal mulai merapat. "Summerhold—benteng musim panas—tapi ini adalah salah satu tempat terdingin di Benua Utara."

"Kenapa dinamakan begitu?" tanya Wei Ling.

"Karena konon, ini adalah satu-satunya tempat di Benua Utara di mana es mencair selama musim panas. Itu sebelum zaman es permanen dimulai, sekitar lima ribu tahun yang lalu."

Summerhold adalah pemandangan yang kontras. Di atas gunung es raksasa, manusia telah membangun kota dari batu dan kayu yang diperkuat formasi. Ratusan lampu minyak dan kristal penghangat menerangi jalan-jalannya yang sempit, menciptakan suasana hangat di tengah lautan beku. Pelabuhannya penuh dengan kapal-kapal udara dari berbagai ukuran—beberapa adalah kapal dagang, beberapa adalah kapal pemburu yang kembali dari ekspedisi ke wilayah liar.

Begitu Bintang Utara merapat, suhu di luar langsung menusuk kulit. Para penumpang yang turun harus memakai jubah bulu tebal, dan bahkan kultivator tingkat menengah pun bisa merasakan dinginnya.

Xiao Chen turun dengan jubah tipisnya. Tidak berubah.

"Apa dia tidak kedinginan?" bisik seorang pelaut dari kapal sebelah.

"Orang itu... lihat rambutnya."

"Itu dia! Pengembara berambut putih yang kudengar dari selatan!"

"Katanya dia bisa menciptakan apa pun dari udara..."

"Katanya setiap wanita yang melihatnya langsung jatuh cinta..."

"Omong kosong. Itu pasti—" Pelaut ketiga berhenti bicara saat Xiao Chen berbalik dan menatapnya. Bukan tatapan tajam. Hanya sekilas. Tapi cukup untuk membuat pelaut itu melupakan kalimatnya.

"...oke, mungkin bukan omong kosong."

Di dermaga, seorang wanita muda berambut perak—ciri khas penduduk asli Benua Utara—sedang memeriksa muatan kapal. Dia mengenakan jubah bulu biru tua dengan emblem gunung es, dan pedang pendek di pinggangnya. Kultivasinya di Tahap Pendirian Fondasi tingkat 7.

Begitu dia melihat Xiao Chen, clipboard di tangannya terjatuh.

"Itu... itu dia," bisiknya pada rekannya.

"Siapa?"

"Pengembara surgawi! Yang dari laporan selatan!"

"Laporan? Laporan apa?"

"Paviliun Harta Surgawi mengirim pesan ke semua cabang utara. Tentang seorang pria berambut putih dan mata ungu yang... yang..." Dia menelan ludah. "...yang katanya sangat tampan sampai bisa membuat wanita pingsan."

"Aku tidak percaya—" Rekannya menoleh, melihat Xiao Chen, dan kata-katanya menghilang di tenggorokan. "...oh."

"'Oh'? Hanya 'oh'?"

"Aku... aku perlu duduk."

Sementara para wanita lainnya mengurus perbekalan dan penginapan, Xiao Chen berjalan-jalan di pasar Summerhold. Xiao Yu menggandeng tangannya, mata cokelatnya yang besar menatap takjub pada segala sesuatu.

"Ayah, lihat! Patung es itu bergerak!"

"Itu bukan patung. Itu golem es. Penduduk sini membuat mereka untuk membantu pekerjaan."

"Bisa kita punya satu?"

"Mungkin nanti."

"Janji?"

"Janji."

Di pasar, reaksi terhadap Xiao Chen sama seperti di tempat lain—hanya dengan variasi lokal. Para wanita Benua Utara, yang terkenal keras dan mandiri, mencoba untuk tidak menunjukkan ketertarikan. Tapi gagal total.

Seorang pandai besi wanita—berotot, dengan lengan penuh bekas luka bakar—sedang menempa pedang saat Xiao Chen lewat. Pandangannya beralih sekejap, dan palu godamnya meleset, menghantam landasan dengan bunyi yang salah.

"Ini... ini bukan seperti biasanya," gerutunya, wajahnya merah.

"Kau tersipu!" seru magangnya. "Aku belum pernah lihat kau tersipu!"

"Diam, atau kau yang akan kugodam!"

Di kios berikutnya, seorang gadis remaja dengan rambut perak diikat dua—mungkin empat belas tahun—sedang menjual kristal es. Mulutnya terbuka saat melihat Xiao Chen, dan kristal di tangannya mulai mencair.

"Kak... kristalnya..." bisik adiknya.

"Apa? Oh—oh tidak!" Gadis itu buru-buru menyelamatkan kristalnya, tapi matanya terus melirik Xiao Chen yang semakin menjauh. "Siapa dia? Kenapa dia setampan itu?!"

"Aku tidak tahu, Kak. Tapi kakak ngiler."

"Aku TIDAK ngiler!"

Sementara itu, Liu Ruyan dan Xu Mei sedang mencari informasi di cabang Paviliun Harta Surgawi setempat. Cabang di Summerhold jauh lebih kecil dari yang di Kota Zamrud—hanya bangunan dua lantai dengan beberapa rak dan dua petugas.

"Direktur Liu!" seru petugas di meja depan, seorang pria tua berkacamata. "Kami mendengar kau akan datang! Ini kehormatan besar!"

"Tidak perlu formalitas. Aku sudah bukan direktur lagi." Liu Ruyan meletakkan beberapa gulungan di meja. "Aku butuh informasi tentang Puncak Es Abadi."

Wajah pria tua itu langsung pucat. "Puncak Es Abadi? Direktur—eh, Tetua Liu—tempat itu adalah wilayah terlarang. Bahkan Sekte Formasi Kuno—"

"Ya, aku tahu. Tapi aku butuh peta, catatan ekspedisi, apa pun yang bisa membantu."

Pria tua itu ragu-ragu, lalu mengangguk. "Kami punya satu catatan. Tapi isinya... mengganggu."

"Tunjukkan."

Dia menghilang ke ruang belakang dan kembali dengan sebuah gulungan kuno yang disegel formasi. Begitu segelnya dibuka, energi dingin keluar dari gulungan itu.

"Ini catatan dari ekspedisi terakhir ke Puncak Es Abadi, seribu tahun yang lalu. Ditulis oleh satu-satunya yang selamat." Pria tua itu menelan ludah. "Dia menulis ini sebelum... sebelum dia mati."

Xu Mei dan Liu Ruyan membaca isinya bersama-sama. Tulisan tangan di gulungan itu gemetar, hampir tidak terbaca:

"...Kami menemukan tangga. Tangga dari es yang tidak mencair. Di puncaknya, sebuah kuil. Tapi kuil itu bukan untuk dewa. Itu adalah penjara. Di dalamnya, sesuatu menunggu. Sesuatu yang sangat tua. Kami pikir itu harta, tapi itu adalah kutukan. Mereka semua dibekukan—tubuh mereka menjadi es, jiwa mereka terperangkap selamanya. Hanya aku yang lolos. Tapi aku bisa mendengarnya. Suaranya. Memanggil. 'Kembalikan... apa yang dicuri...' Aku akan kembali. Aku harus kembali. Suaranya terlalu kuat..."

Di akhir gulungan, ada gambar kasar yang digambar dengan tangan gemetar: sebuah bola es besar, dan di dalamnya, melayang sepotong kain emas.

"Ini dia," bisik Xu Mei. "Potongan kelima."

"Dan sesuatu yang lain," tambah Liu Ruyan. "Sesuatu yang menjaga kain itu."

Di penginapan malam harinya, mereka berkumpul untuk membahas temuan mereka.

Xiao Chen membaca gulungan itu dengan saksama. "Jadi ada penjaga. Sesuatu yang bisa membekukan jiwa."

"Kau pernah menghadapi yang seperti itu?" tanya Lin Yao.

"Aku tidak ingat. Tapi dari apa yang kurasakan... ini berbeda dari penjaga batu di Lembah Seribu Bintang. Atau jiwa-jiwa di Menara Gurun. Ini sesuatu yang lebih tua."

"Lebih berbahaya?"

"Mungkin."

Wei Ling meletakkan tangannya di lengan Xiao Chen. "Kita akan tetap ikut."

"Aku tahu." Xiao Chen menatap mereka semua. "Tapi kali ini, kalian akan menunggu di kaki gunung. Aku akan naik sendiri."

"Apa?!"

"Tidak!"

"Kau tidak bisa—"

"Dengar." Suara Xiao Chen tetap tenang, tapi ada otoritas di dalamnya yang membuat semua orang diam. "Penjaga ini bisa membekukan jiwa. Artinya, bahkan jika tubuh kalian tidak terluka, jiwa kalian bisa diambil. Aku tidak bisa memperbaiki itu—belum. Jika kalian kehilangan jiwa, aku mungkin tidak bisa mengembalikannya."

Keheningan yang berat.

"Aku tidak akan mengambil risiko itu," lanjut Xiao Chen. "Kalian terlalu penting bagiku."

Liu Ruyan adalah yang pertama mengangguk. "Dia benar."

"Liu—" protes Xu Mei.

"Aku tidak suka, tapi dia benar. Kita tidak tahu cara melawan jiwa beku. Dia berbeda. Dia mungkin bisa melawannya."

Wei Ling menatap Xiao Chen dengan mata berkaca-kaca. "Kau janji akan kembali?"

"Selalu."

Lin Yao mengepalkan tangannya. "Kalau kau tidak kembali dalam tiga hari, aku akan naik sendiri."

"Aku juga," tambah Freya.

"Dan aku," kata Xu Mei.

Xiao Chen tersenyum kecil. "Aku tidak akan butuh tiga hari."

Malam itu, Wei Ling datang ke kamar Xiao Chen.

Dia tidak mengatakan apa-apa saat masuk. Hanya berjalan ke arahnya, memeluknya erat-erat, dan membenamkan wajahnya di dadanya.

"Aku takut," bisiknya.

"Kau tidak perlu takut."

"Puncak itu... penjaga itu... bagaimana kalau kau tidak kembali?"

"Aku akan kembali." Xiao Chen mengangkat dagunya, menatap matanya. "Aku punya terlalu banyak alasan untuk kembali."

Air mata mengalir di pipi Wei Ling. "Aku tidak bisa kehilanganmu. Kau adalah... kau adalah segalanya bagiku. Sebelum kau datang, aku hanya gadis sekte kecil yang tidak punya masa depan. Lalu kau muncul, dan tiba-tiba aku punya mimpi. Aku punya tujuan. Aku punya... cinta."

"Kau punya semuanya itu karena dirimu sendiri," kata Xiao Chen lembut. "Aku hanya membantumu melihatnya."

"Tapi kau tetap alasannya." Wei Ling mendongak, air matanya jatuh ke jubah Xiao Chen. "Aku mencintaimu. Aku sudah mencintaimu sejak malam pertama di kapal, dan aku akan terus mencintaimu sampai dunia ini berakhir."

Xiao Chen mengusap air matanya dengan ibu jari. "Aku..."

"Diam." Wei Ling meletakkan jarinya di bibir Xiao Chen. "Aku tahu kau sulit mengatakannya. Kau tidak perlu memaksakan diri."

"Itu bukan paksaan." Xiao Chen meraih tangannya, mencium jari-jarinya. "Wei Ling, gadis pertama yang kutemui di dunia ini. Gadis yang membelaku saat semua orang curiga. Gadis yang rela meninggalkan rumahnya demi mengikutiku ke ujung dunia. Bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu?"

Wei Ling menatapnya, air matanya mengalir lebih deras. "Kau... kau benar-benar..."

"Aku mencintaimu, Wei Ling. Aku tidak mengatakan itu karena kau memintanya. Aku mengatakan itu karena itu benar."

Wei Ling tidak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya berdiri di sana, menatap Xiao Chen, air matanya mengalir tanpa suara. Lalu dia menciumnya.

Ciuman itu berbeda dari sebelumnya. Tidak ada rasa malu. Tidak ada keraguan. Hanya cinta yang meluap dari setiap sudut hatinya. Bibir mereka bertemu, dan Wei Ling membuka mulutnya, mengundang lidah Xiao Chen masuk. Tangannya naik ke rambut putihnya, mencengkeram lembut helaiannya yang halus. Sementara itu, tangan Xiao Chen melingkari pinggangnya, menariknya lebih dekat hingga tubuh mereka saling menempel.

"Aku ingin malam ini," bisik Wei Ling di antara ciuman. "Aku ingin... mengungkapkan semuanya."

"Kau sudah melakukannya."

"Belum semuanya."

Dia melepaskan jubah tidurnya sendiri. Kain putih itu meluncur ke lantai, memperlihatkan tubuhnya yang sekarang sudah lebih matang dari beberapa bulan lalu. Payudaranya lebih penuh, putingnya berwarna merah muda yang sudah mengeras karena gairah. Pinggangnya ramping, pinggulnya melengkung, dan di antara kedua pahanya, ada sehelai rambut cokelat tipis yang sudah dibasahi cairan bening.

"Kau semakin cantik setiap hari," bisik Xiao Chen.

"Kau selalu bilang begitu."

"Karena itu selalu benar."

Dia menarik Wei Ling ke dipan, membaringkannya dengan lembut. Tubuhnya melengkung di atasnya, dan dia mulai mencium lehernya—perlahan, mengecup setiap sentimeter kulitnya yang hangat. Wei Ling mendesah, matanya terpejam, tangannya bermain di rambut putih Xiao Chen.

Mulut Xiao Chen turun ke payudaranya. Bibirnya menutupi puting kirinya, menghisapnya perlahan. Lidahnya berputar-putar, menciptakan sensasi basah dan hangat yang membuat Wei Ling melengkungkan punggungnya. Tangannya yang bebas memainkan puting kanannya, mencubitnya ringan, memutarnya di antara jari-jari.

"Ayah—Xiao Chen—" desah Wei Ling, mengoreksi dirinya sendiri. "Rasanya... luar biasa..."

"Aku baru mulai."

Mulutnya beralih ke puting kanan, memberikan perhatian yang sama. Sementara itu, tangannya turun lebih rendah, menyusuri perutnya yang rata, melewati pusarnya, dan berhenti di atas rambut cokelat tipis di antara pahanya. Jari-jarinya menyentuh labianya yang sudah bengkak dan basah.

"Kau selalu sebasah ini," bisiknya.

"Hanya untukmu."

Satu jari masuk, dan Wei Ling mendesah panjang. Dua jari, dan dia mengerang. Tiga jari, dan dia sudah mencengkeram seprai dengan erat. Jari-jari Xiao Chen bergerak masuk dan keluar, menciptakan suara basah yang memenuhi kamar. Ibu jarinya menemukan klitorisnya yang menonjol, menekannya dengan gerakan melingkar yang membuat Wei Ling melihat bintang-bintang.

"Aku—aku akan—"

"Belum." Xiao Chen menarik jarinya, dan Wei Ling mengerang frustrasi.

"Kenapa kau berhenti?!"

"Karena aku ingin mencoba sesuatu." Xiao Chen membalikkan posisinya, berbaring di dipan. "Sekarang, kau di atas."

Wajah Wei Ling merah padam. "Aku... aku belum pernah—"

"Kau yang mengendalikan. Sesuai kecepatanmu."

Wei Ling ragu-ragu sejenak, lalu mengangguk. Dia mengangkangi pinggang Xiao Chen, memposisikan dirinya di atas penisnya yang sudah sepenuhnya ereksi—panjang, tebal, melengkung sedikit ke atas. Ujungnya yang merah sudah mengeluarkan cairan bening.

"Pelan-pelan," bisik Xiao Chen. "Tidak usah terburu-buru."

Wei Ling menurunkan dirinya perlahan. Ujung penisnya menyentuh vaginanya yang basah, dan dia mendesah. "Ini... ini selalu terasa besar..."

"Kau sudah melakukannya berkali-kali."

"Tapi posisi ini berbeda."

Dia terus menurunkan dirinya, sentimeter demi sentimeter, sampai akhirnya penis Xiao Chen masuk sepenuhnya. Wei Ling mendesah panjang, merasakan setiap sudut vaginanya terisi penuh. Dia meletakkan tangannya di dada Xiao Chen untuk keseimbangan, dan mulai bergerak.

Perlahan pada awalnya. Naik dan turun, merasakan setiap sensasi. Tapi seiring waktu, ritmenya semakin cepat. Pinggulnya berputar-putar, menciptakan gesekan yang membuatnya terengah-engah. Payudaranya berguncang dengan setiap gerakan, dan rambut cokelatnya yang tergerai menempel di pipinya yang berkeringat.

"Kau... kau suka?" tanyanya, napasnya memburu.

"Kau luar biasa."

"Katakan... katakan lagi..."

"Kau luar biasa, Wei Ling. Selalu."

Air mata bahagia mengalir di pipinya—bukan karena sedih, tapi karena emosi yang terlalu kuat. Dia terus bergerak, semakin cepat, semakin dalam, dan Xiao Chen bertemu dengan gerakannya, mendorong ke atas setiap kali dia turun. Kepala penisnya mengenai serviksnya, dan Wei Ling menjerit kecil.

"Aku—aku dekat—"

"Lepaskan. Aku ingin melihat wajahmu."

Wei Ling melepaskan. Orgasme menghantamnya seperti gelombang—kuat, panjang, menghancurkan semua tembok yang tersisa. Vaginanya berkontraksi kuat di sekitar penis Xiao Chen, dan dia meneriakkan namanya dengan suara serak. Air matanya, keringatnya, cairannya—semuanya bercampur menjadi satu saat dia gemetar hebat di atas Xiao Chen.

Ketika orgasmenya mulai mereda, Xiao Chen menariknya turun dan membalikkan posisinya. Sekarang dia di atas, dan Wei Ling terlentang di bawahnya, matanya setengah terpejam, napasnya masih tersengal.

"Aku ingin yang kedua kalinya," bisik Xiao Chen di telinganya.

"Aku... aku tidak tahu apakah aku bisa..."

"Kau bisa."

Dia mendorong masuk lagi—masih basah, masih hangat, masih luar biasa. Kali ini gerakannya lebih lambat, lebih dalam, lebih penuh perasaan. Dia menatap mata Wei Ling sepanjang waktu, tidak pernah melepaskan kontak.

"Aku mencintaimu," bisiknya setiap kali dia mendorong masuk.

"Aku mencintaimu," jawab Wei Ling setiap kali, air matanya mengalir.

Mereka mencapai puncak bersamaan. Xiao Chen melepaskan spermanya ke dalam Wei Ling, hangat dan kental, sementara Wei Ling mengguncang di bawahnya dengan erangan panjang. Mereka terkulai bersama, napas tersengal, tubuh saling bertautan.

"Kau... kau benar-benar mencintaiku?" bisik Wei Ling.

"Aku benar-benar mencintaimu."

"Itu... itu pertama kalinya kau mengatakannya tanpa diminta."

"Aku tahu."

Wei Ling tersenyum di dadanya. "Itu lebih baik dari semua orgasme yang pernah kumiliki."

"Itu pujian?"

"Pujian tertinggi."

Mereka berbaring dalam pelukan, mendengarkan suara angin es di luar jendela. Summerhold mungkin adalah salah satu tempat terdingin di Benua Utara, tapi di dalam kamar ini, semuanya terasa hangat.

Keesokan paginya, Wei Ling bangun dengan senyum di wajahnya.

"Ayah!" Xiao Yu mengetuk pintu. "Kak Wei Ling ada di dalam? Sarapan sudah siap!"

Wajah Wei Ling langsung merah. "Aku—aku di sini! Sebentar!"

Xiao Chen sudah berpakaian, menyeringai. "Mereka semua tahu kau di sini."

"Aku tahu. Tapi tetap saja..."

"Kau tidak perlu malu."

"Aku selalu malu. Itu karakternya."

Xiao Chen tertawa kecil, lalu membuka pintu. Xiao Yu berdiri di sana, menatap mereka berdua dengan mata berbinar.

"Ayah, Kak Wei Ling, kalian tadi malam—"

"Wei Ling!" seru Wei Ling, memotongnya. "Ayo sarapan! Aku lapar sekali!"

Dia berlari keluar kamar, menarik Xiao Yu bersamanya. Gadis kecil itu tertawa riang, tidak menyadari apa yang baru saja terjadi.

Xiao Chen mengikuti mereka dengan langkah santai, senyum tipis di wajahnya. Hari ini mereka akan berangkat ke Puncak Es Abadi. Mungkin ada bahaya menunggu. Mungkin ada misteri yang belum terpecahkan. Tapi untuk sekarang, dia hanya menikmati pagi yang dingin ini, bersama keluarganya yang terus bertumbuh.

1
TGT
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!