NovelToon NovelToon
Aku Dipaksa Menjadi Pelakor

Aku Dipaksa Menjadi Pelakor

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:644
Nilai: 5
Nama Author: Siti_1234

Raisa anak kedua dari keluarga dengan ibu tunggal bernama Sri, Sri telah lama menjadi tulang punggung keluarga setelah suami nya meninggal saat Raisa masih kecil.
Kakak nya yang lebih tua bernama Ratna menikah dengan Rio dari keluarga yang berada.
masalah muncuk ketika Ratna dan Rio yang sudah lima tahun menikah masih belum juga memiliki keturunan karna kesuburan Ratna kurang,, tekanan yang di berikan keluarga Rio membuat Ratna memiliki niat untuk membuat Raisa hamil anak suami nya ..
Niatan itu di ungkap kan Ratna kepada ibu dan adik nya walau pun tanpa sepengetahuan suami nya sendiri..

Apa yang harus di lakukan Raisa untuk bisa membantu kesulitan Ratna kakak nya,, Apa dia akan menerima nya dan setuju menjadi pelakor apa menolak nya..?

Jangan lewatkan cerita nya untuk mengetahui kelanjutan nya🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti_1234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 23: "PERJALANAN BARU YANG DIMULAI DENGAN PERPISAHAN"

******

Raisa duduk di ruang tamu rumah Sri Wahyuni, kedua tangannya menggenggam gelas teh hangat dengan kuat. Sudah beberapa hari dia menyembunyikan kabar beasiswa yang dia terima untuk melanjutkan studi di luar negeri. Malam ini, dia merasa sudah waktunya untuk memberitahu segalanya kepada ibu nya.

“Ibu…” mulai Raisa dengan suara lembut. Sri Wahyuni yang sedang menjahit kain batik berhenti dan menoleh dengan wajah yang penuh perhatian. “Aku punya sesuatu yang harus aku ceritakan.”

Dengan suara yang kadang terhenti karena tangisan, Raisa menceritakan semua yang telah terjadi—mulai dari perasaan Rio padanya, hubungan rahasia mereka, hingga keputusan Rio untuk memilih Ratna dan Bara. Setiap kata yang keluar dari mulutnya membuat Sri Wahyuni semakin pucat wajahnya.

Setelah Raisa selesai bercerita, Sri Wahyuni hanya bisa berdiri dan membungkus anak bungsunya itu dengan pelukan erat. Dia tidak bisa berkata apa-apa—rasa bersalah dan kesedihan membuat lidahnya terasa kaku. Setelah lama diam, dia akhirnya berkata dengan suara gemetar, “Maafkan aku, Nak. Aku tidak menyadari bahwa kamu sedang mengalami semua itu sendirian. Aku seharusnya lebih peka terhadapmu.”

“Aku tidak menyalahkanmu, Ibu,” jawab Raisa dengan suara lembut. “Aku hanya ingin kamu tahu kenapa aku harus pergi jauh dari sini.” Dia kemudian mengambil amplop putih dari tasnya dan memberikannya kepada Sri Wahyuni. “Aku diterima beasiswa untuk melanjutkan studi di Jerman. Aku akan pergi besok pagi.”

Sri Wahyuni menangis mendengarnya. “Kamu tidak akan memberitahu Kakakmu dan Rio ya?”

Raisa menggeleng perlahan. “Tidak, Ibu. Lebih baik begitu. Aku ingin memulai hidup baru tanpa ada hubungan dengan masa lalu yang menyakitkan itu.”

Malam itu, setelah memastikan Sri Wahyuni sudah tidur, Raisa keluar rumah dengan membawa sebuah tas kecil berisi dua botol minuman keras. Dia tahu bahwa ini adalah malam terakhirnya di Semarang, dan dia ingin mengucapkan selamat tinggal pada satu-satunya teman yang pernah dia miliki—meskipun dia tahu bahwa Reza tidak akan pernah menjadi miliknya.

Ketika sampai di kos-kosan Reza, dia melihat lampu kamar nya masih menyala. Dia mengetuk pintu dengan lembut dan masuk setelah mendengar suara “masuk”. Reza sedang duduk di depan meja kerja dengan membaca buku, terkejut melihat Raisa datang dengan membawa minuman.

“Raisa? Apa yang kamu lakukan di sini pada jam seperti ini?” tanya Reza dengan khawatir.

“Aku ingin merayakan sesuatu,” jawab Raisa dengan senyum yang paksa. Dia meletakkan botol minuman di atas meja dan membukanya. “Minum bersama aku sekali saja ya, Reza. Sebelum aku pergi jauh dari sini.”

Reza merasa ada sesuatu yang tidak beres, namun dia tidak bisa menolak wajah Raisa yang tampak sangat ingin melakukan itu. Mereka mulai minum sambil berbincang tentang hal-hal sepele—kuliah, masa depan, dan kenangan kecil mereka bersama. Namun seiring dengan bertambahnya jumlah minuman yang mereka konsumsi, wajah Raisa mulai menunjukkan ekspresi yang penuh dengan kesedihan.

“Aku tahu kamu akan menyatakan cintamu pada Maya besok atau nanti,” ucap Raisa dengan suara yang sudah sedikit tidak jelas karena mabuk. Dia melihat wajah Reza dengan mata yang berkaca-kaca. “Kamu tahu cara mencium kekasih baru mu tidak?”

Reza hanya bisa berdiri diam, tidak tahu harus menjawab apa. Dia melihat wajah Raisa yang tampak sangat sakit hati dan ingin membantunya, namun tidak tahu caranya.

“Kalau tidak tahu… biar aku ajarkan saja,” ucap Raisa dengan cepat, tanpa aba-aba menarik kerah baju Reza dan menarik wajahnya untuk menciumnya dengan dalam. Ciuman itu penuh dengan emosi—kesedihan, cinta yang tidak terbalas, dan rasa ingin melampiaskan semua masalah yang dia alami.

Reza awalnya terkejut dan tidak bisa bergerak, namun lama kelamaan dia mulai terbawa suasana dan merespons ciuman itu. Namun sebelum ciuman itu semakin dalam, Raisa tiba-tiba menggoyangkan badan nya dan kemudian pingsan jatuh ke lantai.

“RAISA!” teriak Reza dengan panik. Dia segera menangkap tubuhnya agar tidak terbentur keras ke lantai dan meletakkannya di atas kasur. Dia meraba dahinya yang sangat panas dan segera mengambil handuk basah untuk menepuk-nepuk wajahnya.

Setelah beberapa saat, Raisa mulai sadar dengan perlahan. Dia melihat wajah Reza yang penuh dengan khawatir dan segera merasa malu dengan apa yang telah dia lakukan. “Maafkan aku, Reza,” ucapnya dengan suara lembut. “Aku tidak tahu apa yang sedang aku lakukan. Aku hanya merasa sangat kesepian dan ingin melupakan semua masalahku sejenak saja.”

Reza duduk di sisi kasur dengan wajah yang penuh dengan pemahaman. “Itu tidak apa-apa, Raisa. Tapi kamu harus memberitahu aku apa yang sebenarnya sedang kamu alami. Kamu tidak bisa menyendiri dengan semua masalahmu itu.”

Raisa hanya bisa menangis diam-diam. Dia tidak bisa memberitahu Reza tentang kepergiannya besok pagi, karena dia takut akan merasa lebih sakit hati. Setelah merasa cukup tenang, dia berdiri dengan bantuan Reza dan berkata, “Aku harus pergi sekarang, Reza. Terima kasih sudah mau menghabiskan malam ini dengan aku.”

Sebelum Reza bisa berkata apa-apa, Raisa sudah keluar dari kamar nya dan pergi meninggalkan dia dengan hati yang penuh dengan keraguan dan kekhawatiran.

Di pagi hari berikutnya, Sri Wahyuni mengantar Raisa ke bandara. Saat pesawat mulai lepas landas, Raisa melihat kota Semarang yang semakin jauh dengan mata yang penuh dengan air mata. Dia berdoa agar semua orang yang dia tinggalkan bisa bahagia, dan berharap bahwa di negeri yang jauh itu dia bisa menemukan diri nya kembali dan memulai hidup yang baru tanpa beban masa lalu.

Di rumah Rio dan Ratna, ketika mereka mengetahui bahwa Raisa telah pergi ke luar negeri tanpa memberi tahu mereka, kedua nya hanya bisa berdiri diam dengan wajah yang penuh dengan penyesalan. Mereka tahu bahwa mereka telah kehilangan orang tersayang dalam hidup mereka, dan tidak ada cara untuk memperbaiki kesalahan yang telah mereka buat.

......................

...****************...

...----------------...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!