NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN VAMPIR TERKUAT DARI TIDUR PANJANG

KEBANGKITAN VAMPIR TERKUAT DARI TIDUR PANJANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:220
Nilai: 5
Nama Author: Arafi Arif Dwi Firmansyah

Kurza adalah vampir terkuat dimasa lalu, entah apa yang ada dipikiranya sehingga dia memutuskan untuk beristirhat/tidur di dalam sebuah goa . sebelum Putri Kerajaan Alabas tanpa sengaja membangunkan Kurza dari tidurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arafi Arif Dwi Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14. Kemunculan Iblis

Malam itu, Kurza membiarkan Khiya bersandar di bahunya, memberikan rasa aman sebelum mereka berangkat menuju takdir baru di ibu kota. Esok pagi, saat matahari terbit, mereka akan memulai perjalanan menuju Alabas, meninggalkan desa itu selamanya. Matahari baru saja mengintip di ufuk timur ketika Kurza menuntun kuda hitam besarnya keluar dari desa. Ia melompat ke atas pelana dengan gerakan yang sangat tangkas, lalu mengulurkan tangannya yang kuat kepada Khiya.

‎"Naiklah," ucap Kurza singkat.

‎Khiya menyambut tangan itu dan duduk di depan Kurza. Khiya merasa ada yang aneh, dan bertanya "Tuan, kenapa tuan tidak meminta darahku? Agar tuan bisa terlindungi dari sinar Matahari." tanya Khiya dengan raut wajah yang cemas. "Tidak Khiya. kemarin cukup banyak darahmu yang ku hisap, itu lebih dari cukup untuk melindungiku dari sinar Matahati." jawab Kurza.

‎Karena mereka hanya menggunakan satu kuda, posisi mereka menjadi sangat rapat. Kurza melingkarkan lengannya di sisi tubuh Khiya untuk memegang kendali kuda, membuat gadis itu seolah berada dalam dekapan pelindung yang kokoh.

‎"Pegang erat surai kuda atau lenganku jika kau merasa tidak stabil," perintah Kurza saat kuda itu mulai memacu langkahnya meninggalkan debu-debu desa.

‎Sepanjang perjalanan menuju ibu kota Alabas, pemandangan berubah dari hutan lebat menjadi padang rumput yang luas. Angin pagi yang dingin menerpa wajah mereka, namun Khiya merasa hangat karena punggungnya menempel langsung pada dada bidang Kurza. Setiap derap langkah kuda membawa mereka semakin dekat ke arah cakrawala, di mana puncak-puncak menara kastel Alabas mulai terlihat samar di balik kabut pegunungan.

‎Kurza memacu kudanya tanpa lelah. Sebagai vampir, staminanya jauh melampaui manusia biasa, dan ia ingin segera sampai di rumahnya sebelum matahari mencapai puncaknya. Perjalanan menuju ibu kota Alabas memakan waktu tiga hari penuh. Karena Kurza ingin menjaga profil tetap rendah sebelum mencapai kekuasaannya, ia memilih untuk tidak menonjolkan diri. Mereka singgah di desa-desa kecil di sepanjang jalan dan mencari penginapan paling sederhana yang bisa ditemukan.

‎Malam kedua, mereka berhenti disebuah kedai tua dengan kamar sempit yang hanya berisi satu ranjang kayu keras dan sebuah lampu minyak kecil yang meredup. Suara kayu lantai yang berderit dan dinding tipis penginapan murahan itu sangat kontras dengan kemewahan kastel yang sering diceritakan Kurza.

‎"Maafkan tempat ini, Khiya," ucap Kurza sambil meletakkan bajunya di kursi kayu yang reyot. "Ini hanya persinggahan sementara. Aku tidak ingin kehadiran kita tercium oleh orang - orang kerajaan sebelum kita sampai." seru Kurza, Khiya duduk di tepi ranjang, merasa sedikit pegal setelah seharian berada di atas kuda. "Tidak apa-apa, Tuan. Setidaknya di sini tenang." jawab Khiya.

‎Meskipun penginapannya murah dan fasilitasnya minim, kehadiran Kurza di dalam ruangan sempit itu membuat suasana terasa intens. Kurza mendekat, duduk di lantai di hadapan Khiya sambil memeriksa kondisi kaki gadis itu yang mungkin lecet karena perjalanan jauh.

‎"Satu hari lagi, dan kau tidak akan pernah perlu menginap di tempat seperti ini lagi," janji Kurza sambil menatap mata Khiya di bawah temaram lampu minyak. "Besok, saat matahari terbenam, kita akan melihat menara kastel dari jarak dekat." ucap Kurza.

‎Di dalam kamar penginapan yang sempit dan remang itu, Khiya menatap Kurza yang tampak sedikit pucat karena menahan lapar selama perjalanan. Dengan tangan yang sedikit gemetar namun penuh tekad, ia melonggarkan kerah pakaiannya, menyingkap lehernya yang halus di hadapan sang vampir.

‎"Tuan Kurza... ambillah darahku," bisik Khiya pelan. "Perjalanan besok masih jauh, dan aku tidak ingin kau kehilangan kekuatanmu saat kita sampai di Alabas."

‎Kurza tertegun sejenak. Ia menatap leher Khiya, lalu kembali ke matanya. Ada dorongan insting yang kuat di dalam dirinya, namun ia tetap berusaha menjaga kendali. "Kau tahu apa yang kau tawarkan, Khiya?." Tanya Kurza. "Aku sudah memutuskan sejak meninggalkan desa, kalau saya siap kapan pun,  dimana pun tuan membutuhkan darahku silahkan tuan. hisap darahku" jawab Khiya mantap.

‎Kurza perlahan mendekat, tangannya yang dingin membelai pipi Khiya sebelum jemarinya beralih ke leher gadis itu. Ia bisa merasakan detak jantung Khiya yang berpacu kencang di bawah kulitnya. Dengan gerakan yang jauh lebih lembut daripada saat ia menghisap darah putri raja di masa lalu, Kurza membenamkan taringnya. Khiya terkesiap, rasa sakit yang singkat segera digantikan oleh sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Sementara Kurza menyesap esensi kehidupan dari gadis yang akan menjadi pelayan barunya itu. Penyatuan darah di penginapan murahan ini menjadi segel tidak resmi bahwa Khiya kini benar-benar milik Kurza.

‎Setelah selesai, Kurza menyeka sudut bibirnya dan menatap Khiya yang tampak sedikit lemas namun wajahnya merona.  Tidurlah sekarang, besok kau akan butuh banyak tenaga untuk melihat rumah barumu." Ketika Khiya tertidur lelap, Kurza perlahan keluar dari kamar, dan berkeliling didesa kecil yang sekarang ia singgahi.

‎Kurza melangkah menyusuri jalanan desa yang sepi. Desa ini tampak begitu rapuh dibandingkan kemegahan Alabas. Kurza berjalan melewati rumah-rumah kayu yang reyot, matanya yang merah mampu menembus kegelapan, memperhatikan setiap detail kecil dari pengemis yang meringkuk di sudut jalan hingga bayangan - bayangan yang mengintai di balik jendela.

‎Ia berhenti di sebuah jembatan kecil, menatap pantulan bulan di air sungai yang keruh. Pikirannya melayang kembali ke Miyuki yang ia tinggalkan di kastel. Ia tahu, meskipun ia baru saja menandai Khiya sebagai pelayan barunya, posisi Miyuki tidak akan pernah tergantikan. Kehadiran Khiya hanyalah bidak baru dalam papan catur politik dan militer yang sedang ia mainkan.

‎Tiba-tiba, indra tajamnya menangkap sesuatu yang tidak beres. Ada aroma belerang dan busuk yang samar aroma yang sangat ia kenali dari selatan. Sisa-sisa pasukan iblis ataukah mata-mata yang mengikuti mereka?Kurza menyeringai kecil, memperlihatkan taringnya yang masih menyimpan sisa darah Khiya. "Sepertinya malam ini tidak akan berakhir membosankan," gumamnya pelan.

‎Kurza menajamkan indra penciumannya yang kini telah diperkuat oleh darah Khiya. Bau belerang itu tidak tajam, melainkan samar dan licin seperti sesuatu yang mencoba bersembunyi di balik bau tanah basah dan asap kayu bakar penduduk desa.Ia melompat ke atas atap salah satu rumah, bergerak seringan bayangan. Dari ketinggian, ia memperhatikan arah angin.

‎Bau itu berasal dari pinggiran desa, tepatnya dari sebuah gudang tua yang tampak terbengkalai di dekat hutan.Setibanya di depan gudang tersebut, Kurza tidak langsung mendobrak masuk. Ia merasakan getaran aura yang gelap, namun anehnya terasa akrab. "Bukan Malphas," gumamnya dalam hati, "ini lebih rendah, namun lebih licik."

Kurza segera melompat kembali ke atap dan memandang ke arah pusat desa yang mulai nampak redup karena lampu - lampu minyak dipadamkan untuk tidur. Dengan penglihatan vampirnya yang tajam, ia mulai menyisir aura setiap rumah. Benar saja, di antara kerumunan aura manusia yang redup dan hangat, ia melihat beberapa titik aura yang berbeda dingin, bergejolak, namun dibungkus dengan sangat rapi oleh sihir penyamaran.Di sebuah kedai kecil yang masih menyisakan sedikit aktivitas, ia melihat seorang pria yang tampak seperti tukang kayu biasa sedang tertawa bersama warga lainnya.

Namun, Kurza bisa melihat bayangan pria itu di bawah cahaya obor tidak bergerak sesuai dengan tubuhnya; bayangannya memiliki tanduk dan ekor yang panjang. "Mereka sudah ada di sini, hidup di antara manusia, menunggu saat yang tepat untuk mencabik - cabik desa ini dari dalam," pikir Kurza.Situasi ini menjadi rumit. Jika ia menyerang secara membabi buta, warga desa akan menganggap Kurza sebagai pembunuh berdarah dingin yang menyerang warga tak bersalah. Jendral iblis Valac telah memasang jebakan sosial yang licik.Kurza kembali ke kamar penginapan dengan gerakan secepat kilat. Ia menatap Khiya yang masih tertidur lelap, lalu beralih ke sudut ruangan yang gelap.

"Kenapa iblis bisa membaur dengan manusia? Ada apa ini" gumamnya dengan raut wajah yang masih terheran - heran. Sepanjang malam Kurza terjaga memikirkan kejadian yang baru saja iya lihat. Karena selama dia hidup tidak pernah melihat iblis membaur bersama manusia. Hal ini membuat Kurza semakin ingin cepat sampai ke Kastel dan bertemu Raja untuk mempertanyakan apa yang sudah ia lihat.

Bersambung. . .

1
T28J
hadiir kakak 🙏
Arafi Arif Dwi Firmansyah: Terima kasih bosku.
total 1 replies
putri kurnia
lanjutannya dooong, penasaran bgt ini 😍
putri kurnia
bikin penasaran kelanjutannya
Arafi Arif Dwi Firmansyah: sabar ya. malam ini bab 4 selesai.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!