NovelToon NovelToon
Kemampuan Tak Pernah Sama

Kemampuan Tak Pernah Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:518
Nilai: 5
Nama Author: Geb Lentey

Setiap orang punya kemampuan yang berbeda-beda, ada yang berbakat di olahraga, ada yang berbakat di ilmu pengetahuan, ada juga yang berbakat di seni. Kayla seorang siswa yang membuktikan bahwa setiap orang bisa berubah asal punya kemauan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Geb Lentey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Hari seleksi lomba matematika akhirnya tiba.

Sejak pagi, suasana sekolah terasa berbeda bagi Kayla. Lebih sunyi, lebih berat, seolah semua langkah yang ia ambil hari ini terasa lebih berarti. Kayla duduk di bangkunya. Tangannya memegang pulpen. Namun jemarinya sedikit dingin.

"Aku bisa…"

"Aku sudah belajar…"

Ia mencoba menenangkan dirinya. Salsa yang duduk di sampingnya menepuk pelan bahunya.

"Tenang ya, Kay. Kamu pasti bisa."

Kayla tersenyum kecil.

"Iya… semoga."

Namun jauh di dalam hatinya rasa tegang itu nyata. Beberapa siswa lain yang ikut seleksi juga terlihat serius. Ada yang membaca catatan. Ada yang menghafal rumus. Guru masuk ke kelas. Membawa lembar soal.

"Ini adalah seleksi untuk menentukan perwakilan sekolah," kata pak Budi dengan tegas.

"Kerjakan dengan jujur dan maksimal." lanjutnya

Kertas soal dibagikan satu per satu. Saat lembar itu sampai di tangan Kayla jantungnya berdegup lebih cepat. Ia menatap soal itu. Menarik napas dalam. Lalu membalik halaman pertama. Soal pertama. Kayla membaca perlahan. Alisnya sedikit berkerut.

"Ini… lebih susah dari yang aku bayangkan…" kata Kayla

Ia menelan ludah. Namun ia tidak panik. Ia mulai menulis. Langkah demi langkah. Pelan. Hati-hati. Soal kedua. Lebih sulit. Kayla berhenti sejenak. Pikirannya kosong. Suara detak jam terdengar lebih jelas. Teman-teman di sekitarnya mulai menulis cepat.

"Aku gak boleh kalah…"

Ia menutup matanya sebentar. Mengingat semua latihan yang sudah ia lakukan. Semua malam yang ia habiskan untuk belajar. Semua usaha yang tidak ingin ia sia-siakan. Ia membuka mata. Dan mencoba lagi. Perlahan ia mulai menemukan cara.

"Oh… ini bisa dipecah…" gumam Kayla

Tangannya mulai bergerak lebih cepat. Waktu berjalan. Setengah waktu sudah habis. Kayla sampai di soal yang paling sulit. Ia membaca berulang kali. Namun kali ini ia benar-benar buntu. Panik mulai datang. Tangannya mulai gemetar.

"Gimana ini…?" dalam batinnya

Ia melihat ke sekeliling. Beberapa siswa terlihat yakin. Beberapa juga terlihat bingung. Kayla menarik napas panjang.

"Aku gak boleh berhenti di sini…"

Ia mencoba cara lain. Salah. Coba lagi. Masih salah. Air matanya hampir jatuh. Namun ia menahannya.

"Ini bukan tentang sempurna…"

"Ini tentang usaha…" batinnya

Ia mencoba sekali lagi. Dan perlahan ia menemukan pola.

"Ini… harusnya gini…"

Tangannya menulis cepat. Langkah demi langkah tersusun. Dan akhirnya selesai. Kayla bersandar sebentar. Waktu tinggal beberapa menit. Ia mengecek ulang jawabannya. Tidak semua sempurna. Namun ia sudah memberikan yang terbaik.

"Stop. Waktu habis." kata pak Budi

Guru mengumpulkan kertas. Kayla menyerahkan lembar jawabannya dengan tangan sedikit gemetar. Begitu keluar kelas napasnya terasa lega.

Salsa langsung menghampiri.

"Gimana?!" tanya Salsa penasaran

Kayla tertawa kecil.

"Tegang banget…" jawab Kayla yang masih gemeteran

"Susaaah?" tanya Salsa sekali lagi

"Banget." Kayla sambil tersenyum

Salsa tertawa.

"Berarti semua juga susah."

Kayla tersenyum. Untuk pertama kalinya ia tidak langsung memikirkan hasil. Ia hanya merasakan satu hal, lega. Karena ia tidak menyerah. Di kejauhan, Arga berdiri. Melihat Kayla. Namun kali ini Kayla tidak mencari tatapannya. Ia berjalan bersama Salsa. Dengan langkah ringan. Karena hari ini ia sudah melewati satu ujian besar. Bukan hanya soal matematika. Tapi tentang kepercayaan dirinya sendiri. Dan apapun hasilnya nanti, Kayla tahu ia sudah menang.

Hari pengumuman hasil seleksi akhirnya tiba. Sejak pagi, suasana kelas terasa berbeda. Lebih sunyi, lebih tegang. Beberapa siswa berbisik pelan.

"Aduh deg-degan banget…"

"Iya, takut banget gak lolos…"

Kayla duduk di bangkunya. Tangannya menggenggam ujung buku. Ia terlihat tenang. Namun di dalam hatinya ada gelombang yang tidak bisa dijelaskan.

"Apapun hasilnya… aku sudah berusaha." batinnya

Ia mengulang kalimat itu dalam hati. Pintu kelas terbuka. Guru matematika masuk. Membawa selembar kertas. Semua langsung diam.

"Baik, hasil seleksi sudah saya pegang," kata guru.

Jantung Kayla langsung berdegup lebih cepat.

"Kalian semua sudah berusaha dengan baik."

Beberapa detik terasa sangat lama.

"Kami akan mengambil tiga siswa terbaik untuk mewakili sekolah."

Seluruh kelas menahan napas. Guru mulai membaca.

"Juara ketiga…"

Kayla menunduk. Tidak berani berharap terlalu tinggi.

"...Kayla Azzura."

Waktu seperti berhenti Kayla terdiam. Ia tidak langsung bergerak.

"Kayla?" panggil guru.

Salsa langsung mengguncang bahunya.

"KAY! Itu kamu!" Salsa berteriak

Kayla menatap ke depan. Masih seperti tidak percaya.

"Iya, Bu…" jawabnya pelan.

Kelas mulai bertepuk tangan. Salsa tersenyum lebar.

"Aku bilang juga apa!" kata Salsa

Kayla berdiri perlahan. Langkahnya ringan tapi hatinya penuh. Ia maju ke depan kelas. Tangannya sedikit gemetar saat menerima kertas hasil. Namun kali ini bukan karena takut. Melainkan karena haru. Juara 3. Bukan yang terbaik.Namun, jauh dari dirinya yang dulu. Ia teringat masa SD peringkat 9 rasa malu, rasa tidak percaya diri. Dan sekarang ia berdiri di sini. Dengan usahanya sendiri. Guru tersenyum bangga pada Kayla.

"Pertahankan, Kayla. Ini awal yang baik."

Kayla mengangguk.

"Iya, Bu."

Ia kembali ke tempat duduknya. Salsa langsung memeluknya.

"Kamu keren banget!"

Kayla tertawa kecil. Matanya sedikit berkaca-kaca.

"Iya ya… aku bisa sampai sini…"

Untuk pertama kalinya ia benar-benar merasakannya. Bukan sekadar angka. Tapi bukti bahwa ia berubah. Di luar kelas, kabar itu mulai tersebar.

"Kayla juara 3 katanya!"

"Wah… hebat juga ya dia…"

Beberapa orang yang dulu meremehkannya mulai melihat dengan cara berbeda. Di kejauhan, Arga berdiri. Mendengar kabar itu. Ia tersenyum kecil.

"Beneran berubah ya…" gumamnya.

Namun kali ini ia tidak mendekat. Ia hanya melihat dari jauh. Sementara itu, Kayla duduk di kelas. Menatap hasilnya sekali lagi. Ia menarik napas dalam. Lalu tersenyum. Di dalam hatinya, ia berkata:

"Aku gak harus jadi nomor satu…

tapi aku sudah jadi versi yang lebih baik."

Dan hari itu Kayla tidak hanya memenangkan seleksi. Ia memenangkan kepercayaan pada dirinya sendiri.

1
Ditzz
semangat buat kakaknya😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!