Naura hanya seorang gadis yang jatuh cinta terlalu dalam… dan harus membayar semuanya dengan kehilangan.
Ditinggalkan oleh lelaki yang ia cintai 'tanpa pernah tahu bahwa itu semua hanyalah kebohongan kejam'. Naura memilih pergi, membawa luka dan kehidupan baru yang tumbuh dalam rahimnya sendirian.
Selama delapan belas tahun, ia bertahan di tengah kemiskinan, mengorbankan segalanya demi satu alasan: anaknya, Genesis.
Namun saat dunia Genesis hanya tersisa ibunya… takdir kembali merenggut satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Kini, di antara sepi, kehilangan, dan batas tipis antara kewarasan dan kegilaan…
Satu minggu kemudian, Alexa datang menyelamatkan Genesis yang sedang terpuruk setelah Naura meninggal.
Namun ternyata, Alexa adalah Naura...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Hari-hari berganti dengan cepat, namun bagi Genesis, waktu terasa berjalan dengan ritme yang berbeda. Selama berminggu-minggu setelah kepergian ibunya, dunianya terasa abu-abu, datar, dan tanpa warna. Setiap pagi ia bangun dengan beban yang sama beratnya, dan setiap malam ia tidur dengan rasa hampa yang sama mendalamnya.
Namun, sejak kehadiran gadis yang menyebut dirinya Alexa itu, ada sesuatu yang perlahan berubah. Tidak drastis, tidak tiba-tiba, tapi cukup terasa untuk membuatnya sadar bahwa ia masih bernapas, bahwa ia masih hidup.
Pagi itu, seperti biasa, suara aktivitas di dapur membangunkannya. Bukan lagi suara kesunyian yang mencekam, melainkan suara air yang mengalir, suara pisau yang menimpa talenan, dan aroma masakan yang selalu berhasil membuat perutnya keroncongan.
Genesis duduk di tepi kasur, mengusap wajahnya kasar. Ia menatap punggung Alexa yang sedang sibuk di sana dengan perasaan campur aduk. Gadis ini aneh. Sangat aneh.
Dari penampilannya, dari cara orang-orang mencarinya kemarin sore (meski berhasil diusirnya dengan kasar), jelas sekali Alexa berasal dari dunia yang berbeda. Dunia yang bersih, mewah, dan jauh dari segala kekurangan. Tapi entah kenapa, saat berada di rumah sempit dan kumuh ini, ia tidak pernah melihat sedikit pun rasa jijik atau enggan di wajah gadis itu.
Alexa bergerak luwes, seolah ia memang lahir dan besar di sini. Cara ia menyapu lantai, cara ia mencuci piring kotor yang menumpuk, hingga cara ia mengatur barang-barang agar terlihat lebih rapi… semuanya dilakukan dengan telaten dan penuh kasih sayang.
“Sudah bangun? Mandi yuk, nanti makanannya dingin,” suara itu terdengar lagi. Lembut, menenangkan, dan entah kenapa selalu berhasil menenangkan kegelisahan di hati Genesis.
“Hmm,” Genesis hanya mengeluarkan suara gumaman sebagai jawaban. Ia berdiri dan berjalan menuju halaman belakang.
Saat ia kembali dengan badan yang segar, meja makan kecil mereka sudah tertata rapi. Nasi hangat, lauk sederhana yang entah bagaimana selalu terlihat lezat buatan Alexa, dan dua gelas air putih. Dua piring. Selalu dua piring.
Mereka duduk berhadapan, sama seperti hari-hari sebelumnya.
“Makan dulu,” kata Alexa sambil menyodorkan sendok garpu.
Genesis mengambilnya dan mulai menyantap makanannya. Gerakannya tidak lagi lambat dan terpaksa seperti dulu. Sekarang, ia makan dengan lahap. Perutnya terisi, dan yang lebih penting, hatinya terasa lebih hangat.
“Enak?” tanya Alexa dengan senyum tipis, matanya berbinar menanti jawaban.
Genesis mengangguk, mulutnya masih penuh. “Enak. Lo tuh aneh ya, masakan seadanya aja bisa seenak ini.”
Alexa tertawa kecil, suara tawanya renyah dan membuat suasana rumah yang tadinya suram menjadi lebih hidup. “Karena dimasak dengan hati dong, pasti enak lah.”
Genesis menatapnya sejenak. Ada perasaan aneh yang timbul saat melihat senyum itu. Rasanya damai. Rasanya… seperti rumah. Ia buru-buru menunduk kembali menyendok nasi, menyembunyikan semburat merah tipis yang tiba-tiba muncul di pipinya.
Sejak Alexa tinggal, rumah ini berubah. Dinding yang tadinya terasa lembap dan suram kini terlihat lebih terang karena selalu disapu bersih. Bau apek yang dulu selalu menguar perlahan berganti dengan aroma sabun cuci dan masakan. Bahkan kasur tempat ia tidur pun kini selalu terlihat rapi dan berbau bersih setiap kali ia bangun.
Alexa melakukan segalanya. Ia tidak membiarkan Genesis mengangkat satu pun jari untuk urusan rumah tangga.
“Kamu kan harus kerja, kamu capek. Biar aku aja yang urus ini semua,” begitu alasannya setiap kali Genesis menawarkan bantuan.
Dan anehnya, Genesis membiarkannya. Ia membiarkan gadis asing ini mengatur dunianya. Ia merasa nyaman. Ia merasa… dirawat. Sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan sejak kesehatan ibunya menurun drastis.
Sore harinya, Genesis pulang dari kerja. Langit mulai berwarna jingga kemerahan, menandakan matahari akan segera terbenam. Seperti biasa, rasa lelah dan pikiran negatif biasanya mulai menghantuinya saat perjalanan pulang.
Buat apa aku kerja keras? Buat siapa aku pulang? Pertanyaan-pertanyaan bodoh itu selalu muncul.
Tapi hari ini berbeda. Saat kakinya melangkah memasuki gang sempit itu, ada satu titik terang di ujung sana. Ada seseorang yang menunggunya pulang. Ada seseorang yang akan menyambutnya dengan senyuman dan bertanya, “Hari ini capek nggak?”
Langkahnya menjadi lebih ringan. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya, bukan karena lelah, tapi karena sebuah antisipasi yang ia sendiri tidak mengerti artinya.
“Aku pulang,” ucapnya saat mendorong pintu.
Di dalam, Alexa sedang duduk di lantai sambil melipat pakaian kotor yang sudah dicucinya bersih. Gadis itu langsung mendongak, wajahnya langsung bersinar saat melihatnya.
“Eh, sudah pulang! Cepat mandi, aku sudah siapin air hangat. Biar badanmu enakan,” kata Alexa dengan antusias. Ia berdiri dan mengambil jaket serta tas kerja dari tangan Genesis seolah itu adalah hal yang paling wajar di dunia.
Genesis terpaku melihat gerakan cepat itu. Air hangat? Di rumah sekeras ini? Ia menatap bak mandi di belakang dan benar saja, airnya sudah disiapkan dengan suhu yang pas.
“Lo… nyalain kompor buat air mandi gue?” tanyanya tak percaya.
“Iya dong, kan kamu pulangnya capek. Kalau mandi air dingin nanti masuk angin,” jawab Alexa santai sambil membereskan barang-barangnya. “Ayo cepat, nanti airnya dingin lho.”
Genesis tidak menjawab. Ia hanya masuk ke kamar mandi dengan perasaan yang berkecamuk. Air hangat itu membasahi tubuhnya, menghilangkan rasa pegal dan lelah seharian. Tapi yang lebih terasa hangat adalah di dalam dadanya.
Sudah berapa lama ia tidak diperlakukan seperti ini? Sudah berapa lama ia tidak merasa diperhatikan sedetail ini? Hanya ibunya yang pernah melakukan hal-hal kecil tapi bermakna seperti ini. Dan sekarang, gadis asing ini melakukannya juga.
Saat ia keluar sudah berganti baju bersih, ia melihat meja makan sudah penuh dengan makanan hangat. Malam ini menunya lebih baik, mungkin Alexa membeli sedikit lauk dengan uang sisa yang entah dari mana ia dapatkan.
Mereka makan malam bersama. Obrolan mereka mulai lebih banyak dari biasanya. Tidak hanya soal makan atau cuaca, tapi mulai membahas hal-hal ringan.
“Kerja di sana berat nggak?” tanya Alexa sambil menuangkan air ke gelas Genesis.
“Biasa aja. Capek sih iya, tapi ya gitu deh, buat bertahan hidup,” jawab Genesis singkat. Ia menatap wajah gadis di depannya.
“Lo sendiri? Lo anak orang kaya kan? Kenapa mau bertahan hidup di tempat kayak gini sama gue?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Genesis sendiri tidak tahu kenapa ia bertanya begitu. Mungkin karena ia takut, takut kalau suatu hari nanti orang tua gadis ini datang lagi dan membawanya pergi, meninggalkannya sendirian lagi dalam kegelapan.
Alexa tersenyum, tapi senyumnya kali ini terlihat sedikit sedih, sedikit menyimpan rahasia.
“Karena… di sini aku merasa tenang,” jawabnya pelan, matanya menatap lurus ke arah Genesis, menembus jauh ke dalam jiwanya.
“Di sini aku merasa punya tujuan. Dan… aku nggak mau ninggalin kamu sendirian.”
Jantung Genesis berdegup kencang mendengar jawaban itu. Kalimat itu sederhana, tapi menghantamnya begitu keras. Aku nggak mau ninggalin kamu sendirian.
“Gue cowok, gue kuat,” jawabnya berusaha terlihat tangguh, meski suaranya sedikit bergetar.
“Iya aku tahu kamu kuat,” kata Alexa lembut. “Tapi orang kuat juga butuh tempat buat istirahat. Butuh seseorang yang nemenin.”
Keheningan kembali menyelimuti mereka, tapi kali ini keheningan yang manis. Genesis menatap gadis di depannya lekat-lekatkan. Wajahnya cantik, sangat cantik, tapi yang membuatnya terpana adalah aura yang dipancarkannya. Aura keibuan, aura ketenangan, dan aura cinta yang begitu besar.
Perlahan tapi pasti, bayang-bayang gelap yang selama ini menghantuinya mulai menipis. Rasa sakit karena kehilangan ibunya memang masih ada, masih terasa perih jika diingat, tapi kini ia tidak lagi hancur berkeping-keping.
Ia mulai stabil.
Ia mulai bisa tertawa kecil saat Alexa menceritakan hal-hal lucu (walau kadang cerita itu terdengar aneh dan seolah berasal dari masa lalu). Ia mulai bisa tidur nyenyak di malam hari tanpa terbangun karena mimpi buruk. Ia mulai memiliki alasan untuk bangun pagi dan bekerja keras.
“Udah malem, tidur yuk,” ajak Alexa sambil membereskan piring kotor.
“Iya,” Genesis mengangguk.
Sebelum tidur, seperti kebiasaan yang mulai terbentuk, Genesis duduk di tepi kasurnya. Ia menatap foto kecil ibunya yang terbingkai rapih di meja.
“Bu…” bisiknya pelan. “Gen sekarang nggak sendirian lagi. Ada yang nemenin Gen. Dia baik banget, Bu. Baik banget…”
Ia tersenyum, senyum tulus yang sudah lama tidak muncul di wajahnya.
“Genesis janji bakal kuat. Genesis bakal jaga dia juga, kayak Ibu jaga Genesis dulu.”
Di sudut ruangan, Naura, yang kini berada di tubuh Alexa, melihat pemandangan itu dari balik kelopak matanya yang hampir terpejam. Air mata menetes pelan dari sudut matanya, membasahi pipi.
Anaknya mulai sembuh. Anaknya mulai stabil.
Dan itulah kebahagiaan terbesar baginya. Meskipun ia harus menyembunyikan identitasnya, meskipun ia harus menjadi orang lain, asalkan Genesis bisa tersenyum lagi, asalkan anaknya tidak lagi hancur, ia rela melakukan apa saja.
Malam itu, mereka tidur dengan damai. Dua jiwa yang terikat oleh darah, namun terpisah oleh takdir, mulai menapaki jalan baru yang penuh dengan misteri dan rasa yang belum terdefinisi.