Yvone Faranes adalah seorang Mafia yang memiliki keahlian dalam bidang persenjataan, meracik obat-obatan dan racun, tewas akibat konspirasi dari beberapa orang. Bukannya ke alam baka, Yvone justru terbangun di tubuh gendut milik Rose Reinhart.
Rose Reinhart adalah istri dari Arsen Reinhart 32 tahun, yang meninggal dunia akibat overdosis obat-obatan yang dikonsumsinya. Semasa hidup, ia selalu dihina dan direndahkan oleh keluarga suaminya karena kondisi fisiknya yang gendut dan jelek.
Bahkan Arsen, suaminya sendiri enggan menyentuhnya lantaran tubuhnya itu. Tidak hanya itu, Rose kerap dihina karena tak kunjung memberikan keturunan bagi keluarga Reinhart.
Hingga kehadiran Renata, disebut-sebut akan menjadi pengganti Rose untuk memberikan apa yang keluarga Reinhart inginkan.
Kini, Rose berbeda. Dengan keahlian milik Yvone yang berada di tubuhnya, ia merubah penampilannya dan memberi pelajaran pada orang-orang yang menindasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElleaNeor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Terluka
Yvone membuang napas kasar. Luka gores didapatkan di lengan, tampak blazer yang ia kenakan robek dan menampilkan cairan merah pekat mengalir dari sana.
Yvone menatap pria itu. “Cuma segini saja kemampuanmu?” ucapnya remeh.
“Nona! Jangan, Anda terluka!” Wanita cantik itu berteriak. Mencoba untuk menghentikan Yvone yang terus melakukan provokasi.
Namun, sebenarnya apa yang dilakukan Yvone bukanlah sekedar pertolongan semata. Melainkan sebuah pelampiasan atas apa yang terjadi hari ini. Malangnya pria ini yang menjadi sasaran.
Yvone hanya merespon dengan gumaman, “Berisik!” Yvone lalu menatap pria bertopeng. “Ayo maju, Berengsek!”
Pria bertopeng kembali menyerang. Pisau bergerigi masih menjadi senjata andalannya. Karena lawannya sudah terluka, ia merasa yakin bahwa kali ini ia akan menang. Akan tetapi, keyakinan itu dipatahkan oleh gerakan tangan Yvone yang dengan cepat merebut pisau itu, lalu mengayunkan ke arahnya.
“Ampun!” pria bertopeng itu seketika berlutut sesaat ketika ujung pisau nyaris menyentuh bola matanya.
Yvone melepas topeng yang dikenakan oleh pria itu, dan melihat wajah yang asing. Ia lantas memanggil wanita cantik yang menjadi sasaran pria ini. “Apa kau mengenal pria ini, Nona?” tanya Yvone.
Wanita cantik berpakaian gelap itu segera mendekat, dan melihat wajah pria itu. Sayangnya ia tidak mengenalnya.
“Siapa yang menyuruhmu?” tanya wanita itu.
Pria itu hanya tersenyum saja. Dan itu membuat Yvone kesal. “Beraninya dengan wanita!”
Bugh!
Gagang pisau ia hantamkan ke wajah pria itu dan membuat ujung bibirnya pecah. Hal itu dilakukan berulang-ulang hingga membuat wajah pria itu hancur, bahkan giginya lepas. Namun, hal itu sama sekali tidak membuat pria itu bicara.
“Cepat katakan! Jika tidak, pisau ini akan masuk ke tenggorokanmu!”
“Lakukan saja!” tantang pria itu. Mulutnya penuh dengan cairan merah yang menjijikkan.
Rahang Yvone mengeras, ia mengangkat tinggi pisau di tangannya, hendak menusukkan ke mulut pria itu, tetapi tangannya ditahan oleh wanita cantik itu.
“Tunggu, Nona. Sepertinya aku tahu siapa dalangnya,” ujar wanita itu.
“Benarkah? Lalu kau mau apakan pria ini?” tanya Yvone.
“Lepaskan saja. Biar dia kembali pada tuannya,” ucap wanita itu.
“Kau yakin, Nona? Dia hampir membunuhmu.” Yvone tidak mengerti jalan pikiran wanita ini.
“Aku tahu. Tapi kumohon, biarkan dia pergi,” pinta wanita itu.
Yvone menghela napas panjang. Padahal ia berharap bisa menghabisi pria ini. Tetapi karena ini dunia yang taat hukum, maka Yvone harus melepasnya.
Yvone menghempaskan tubuhnya pria itu di aspal. Mengarahkan jari telunjuknya ke arah pria itu. “Jika kau berani menampakkan wajahmu lagi di depanku, aku tidak akan segan menghabisimu,” ancam Yvone. Ia melemparkan pisau di tangannya tepat di depan pria itu. “Bawa barangmu pergi. Pisau jelek!”
Pria itu meraih senjatanya, lalu berlari terbirit-birit.
“Kau sudah aman, Nona,” ucap Yvone.
Tatapan wanita itu jatuh pada lengan Yvone yang terluka. “Nona, tangan Anda terluka.”
“Nyonya, Anda tidak apa-apa?” Sui segera menghampiri Yvone setelah penjahat itu pergi.
“Tangannya terluka, sebaiknya dibawa ke rumah sakit,” ucap wanita itu lagi.
“Tidak,” tolak Yvone. “Ini hanya luka kecil saja.” Di kehidupannya sebagai seorang ketua Mafia, Yvone sering terlibat pertarungan yang lebih hebat. Sejuta luka telah ia dapatkan, bahkan lebih parah dari ini.
Jadi hal seperti ini adalah hal yang lumrah bagi Yvone.
“Tapi, Nyonya tangan Anda…” Sui hendak meraih lengan Yvone yang terluka, tetapi Yvone menepisnya.
“Sudah kubilang, aku tidak apa-apa.” Pergi ke rumah sakit hanya akan membuang-buang waktu saja.
Wanita cantik menghela napas. Ia merasa berhutang budi pada Yvone. Ia tidak bisa membiarkan wanita ini pergi dalam keadaan terluka.
“Klinik milikku ada di sekitar sini, bagaimana kalau kita pergi ke sana. Biar aku sendiri yang merawat lukamu, Nona,” ucap wanita itu penuh harap.
“Tidak perlu, aku baik-baik saja. Sebaiknya kau pulang karena ini sudah malam.” Yvone justru bergantian menegur.
“Kumohon, karena kau sudah menyelamatkan nyawaku, biarkan aku melakukan sesuatu untukmu,” pintanya memelas.
Helaan napas panjang kembali terdengar. Ia teringat dengan Arsen yang sedang menunggunya. Karena ia sedang malas berhadapan dengan pria itu, maka Yvone memutuskan untuk menerima tawaran wanita ini untuk mengulur waktu.
“Baiklah kalau begitu.”
Yvone dan Sui masuk ke dalam mobil wanita itu. Beberapa meter berkendara, akhirnya mereka sampai di sebuah klinik yang sepi. Itu karena tempat ini sudah tutup. Namun, karena wanita ini pemiliknya, jadi mereka bisa masuk dengan mudah.
Lampu dinyalakan, wanita itu meminta Yvone untuk duduk di sofa di ruang utama.
Yvone mengamati tempat ini dan melihat logo gambar kecantikan, serta tulisan Klinik Kecantikan Lim. Beberapa menit menunggu, Yvone melihat wanita cantik itu muncul dengan beberapa peralatan medis.
“Kau seorang dokter?” tanya Yvone sarkas.
Wanita itu mengulas senyum. “Aku Dokter kecantikan. Namaku Lim Yuna, kalau boleh tahu siapa namamu?” tanya wanita yang mengaku bernama Lim Yuna itu.
“Aku Rose.”
Lim Yuna memperhatikan Yvone, merasa tidak asing dengan wajahnya. Meski begitu, ia tetap tidak mengenali Yvone. Ia lantas mulai merawat luka Yvone.
Suasana menjadi sangat hening.
Sui tampak khawatir melihat luka Yvone yang cukup parah. Kesalnya, Yvone justru menganggap ini luka kecil.
Sementara Yvone tampak berpikir. Apa yang dilakukan Yuna pada lukanya sama sekali tidak mengusiknya. Justru ia terusik dengan profesi Yuna yang seorang dokter kecantikan. Setidaknya ia bisa mengorek sedikit informasi.
“Karena kau seorang Dokter Kecantikan. Bolehkah aku tanya sesuatu padamu?” Suara Yvone memecah keheningan.
Yuna segera mengangkat kepalanya dan menatap Yvone sejenak. “Tentu saja, Nona.”
“Berapa banyak biaya yang dihabiskan untuk operasi plastik dan sedot lemak?”
Pertanyaan itu membuat Yuna terkejut. Ia lantas melihat tubuh Yvone yang gemuk. Dan ia rasa pertanyaan seperti itu wajar.
“Semua tergantung kualitas, tapi memang cukup mahal untuk kualitas yang biasa saja” jawab Yuna. “Apa kau ingin melakukan operasi plastik?” Yuna balik bertanya.
“Hmmm… tapi aku tidak memiliki banyak biaya. Suamiku tidak mendukungku.”
Mendengar itu, Yuna memahami kegundahan hati Yvone. “Jika kau ingin melakukannya, biar aku membantumu.”
Yvone mengerutkan kening. “Membantu bagaimana?” tanya Yvone bingung.
“Karena kau sudah menyelamatkan nyawaku, maka aku akan membalasnya. Aku akan membantumu mewujudkan keinginanmu. Kebetulan, aku memiliki kenalan Dokter Spesialis di bidang ini, soal biaya, kau tidak perlu khawatir. Kau hanya perlu menyiapkan waktu saja karena akan membutuhkan waktu lama,” ujar Yuna.
Yvone tertegun untuk beberapa saat. Ia lantas menatap Sui, meminta sebuah pendapat. “Ini bagus, Nyonya,” bisik Sui.
“Tapi, ini akan memakan biaya yang banyak, kau bisa rugi,” kata Yvone ragu. Mengingat biaya operasi plastik memang sangat mahal.
Yuna menghela napas panjang. “Semua itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan nyawaku yang sudah diselamatkan olehmu. Nona, uang bukan segalanya, jika kau berkenan, aku akan mengurus semuanya mulai saat ini. Kau hanya perlu menyiapkan diri dan waktu. Setidaknya setelah luka ini sembuh.”
Yvone kembali terdiam. Ini kesempatan yang langka. Meski begitu, ia tidak mau menjadi orang yang tidak tahu diri dengan menerima sesuatu yang besar. Setelah lama bergelut dengan pikirannya sendiri, Yvone akhirnya menjawab, “Akan aku pikirkan.”
Transmigrasi, Gendut, CEO/Mafia 😁🤩👍👍