Nara tumbuh di keluarga yang mengajarinya satu hal sejak kecil jangan merepotkan.
Dua puluh dua tahun kemudian, Nara lulus kuliah. Bukan dengan pesta tapi dengan catatan pengeluaran ibunya sejak ia lahir, dan permintaan untuk mulai "membalas."
Nara butuh kerja. Butuh uang. Butuh keluar.
Ia datang ke Adristo Group untuk interview posisi admin. Yang tidak ia tahu ia salah masuk ruangan. Dan orang di depannya bukan HRD.
Ia Rayan Adristo. CEO. Tiga puluh tahun. Dingin, efisien, dan sedang mencari istri kontrak untuk enam bulan ke depan demi menghentikan ibunya yang terus-terusan mengatur kencan buta tanpa izin.
Still Me adalah cerita tentang perempuan yang tumbuh tanpa kehilangan dirinya. Tentang belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti menyerahkan diri. Dan bahwa menjadi utuh bukan tentang menemukan orang yang melengkapi tapi tentang akhirnya berani berdiri sebagai dirimu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
STILL ME CHAPTER 11: Interview Aneh
Aku duduk tegak di kursi kulit empuk di seberang meja mahoni raksasa itu. Tanganku baru saja menyentuh resleting tas jinjingku, bersiap untuk mengeluarkan map plastik berisi Curriculum Vitae, ijazah, dan transkrip nilai yang sudah kusiapkan semalaman.
"Biarkan saja di dalam tasmu."
Suara bariton Rayan menghentikan pergerakan tanganku seketika.
Aku mendongak. Rayan Adristo sedang menyandarkan punggung lebarnya ke kursi kerjanya, menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Saya tidak butuh tumpukan kertas itu," lanjutnya dingin, nadanya merendahkan proses rekrutmen konvensional. "Kalau Daniel sudah mengirimmu naik sampai ke lantai ini, berarti background check mengenai asal-usul dan kebersihan rekam jejakmu sudah selesai dilakukan oleh timnya. Saya tidak suka membuang waktu untuk basa-basi."
Aku perlahan menarik tanganku dari resleting tas.
Keningku berkerut samar, namun dengan cepat kunetralkan kembali ekspresiku.
(Luar biasa. Perusahaan sebesar Adristo Group ternyata sama sekali tidak peduli dengan nilai IPK atau pengalaman magang? Apa ini semacam metode wawancara psikologis tingkat tinggi? Mereka tidak mau melihat dokumenku karena mereka ingin melihat bagaimana aku merespons tekanan secara langsung?)
Otakku bekerja cepat. Jika ini adalah mind-games dari seorang eksekutif level atas, maka aku akan bermain sesuai aturannya. Buku catatan merah bersampul pudar milik Ibu kembali berkedip-kedip di ingatanku. Tiga juta sebulan. Aku butuh pekerjaan ini.
"Baik, Pak. Silakan," jawabku tenang, meletakkan kedua tanganku dengan sopan di atas pangkuan.
Rayan menatapku lekat-lekat. Matanya yang hitam kelam memindai wajahku, seolah sedang mencari celah kegugupan atau kepura-puraan. Ia tidak menemukannya. Yang ia temukan hanyalah dinding beton setebal dua meter bernama 'Nara Kusuma'.
"Pertanyaan pertama," katanya lambat. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. "Apakah kamu keberatan jika harus tinggal satu atap dengan orang asing?"
Aku mengerjap. Sekali. Dua kali.
Pertanyaan itu menabrak dinding logikaku, hancur berkeping-keping, dan terpantul kembali tanpa makna yang jelas.
(Tinggal satu atap dengan orang asing? Maksudnya apa? Apakah posisi Staf Administrasi Eksekutif di sini mengharuskan penempatan di mess karyawan perusahaan? Atau ini adalah tes behavioural untuk melihat tingkat toleransi sosial dan batas privasiku terhadap rekan kerja?)
Otakku berputar cepat. Jika memang mereka menyediakan mess gratis untuk karyawan, itu artinya aku tidak perlu menyewa kamar kos. Aku bisa langsung angkat kaki dari rumah Ibu malam ini juga, dan uang gajiku akan utuh. Itu adalah sebuah keuntungan mutlak!
Mengingat betapa putus asanya aku, aku memutuskan untuk menjawab se-pragmatis dan se-profesional mungkin.
"Tergantung kompensasi dan aturannya, Pak," jawabku lancar, tanpa nada ragu sedikit pun. "Selama saya memiliki kamar pribadi dengan kunci untuk menjamin privasi saya, dan tidak ada pelanggaran ruang personal di luar jam kerja operasional, saya rasa saya sama sekali tidak keberatan. Saya adalah orang yang sangat mudah beradaptasi."
Rayan menaikkan sebelah alisnya. Gerakan itu sangat tipis, nyaris tak terlihat jika aku tidak memperhatikannya dari dekat.
Ia tampaknya sama sekali tidak menduga akan mendapat jawaban seteknis dan sedingin itu.
"Profesional," gumamnya pelan, mengulang kata-kataku dengan nada yang terdengar seperti sebuah persetujuan. "Bagus."
Rayan kembali menyandarkan tubuhnya. "Pertanyaan kedua. Apakah kamu punya kebiasaan banyak bicara? Terutama membicarakan hal-hal yang tidak penting?"
Aku menatapnya datar.
"Saya sangat benci suara bising di sekitar saya," lanjut Rayan dengan nada yang berubah menjadi peringatan tajam. "Saya butuh seseorang yang tahu kapan harus menutup mulutnya rapat-rapat. Seseorang yang tidak gila atensi. Terutama... jika sedang berhadapan dengan keluarga saya."
Otakku mendadak berhenti berputar. Roda giginya macet total.
(Keluarga? Menutup mulut? Apakah aku sedang melamar posisi asisten pribadi merangkap pembantu rumah tangga rahasia untuk keluarga konglomerat ini? Apa-apaan pertanyaan ini?! Pantas saja gajinya tiga kali lipat UMR, ternyata Staf Administrasi di sini juga merangkap jadi pengasuh rahasia keluarga CEO!)
Meski di dalam kepalaku sudah terjadi konser musik rock saking kacaunya, ekspresi wajahku tetap stabil. Kalau dia mencari robot pekerja yang tidak banyak menuntut, dia sedang berhadapan dengan prototipe terbaiknya.
"Saya orang yang sangat pendiam dari lahir, Pak," jawabku dengan intonasi paling datar yang kumiliki. "Kapasitas bicara saya sehari-hari sangat minim, bahkan cenderung pasif. Bapak tidak perlu khawatir soal kebocoran informasi keluarga atau kebisingan yang tidak perlu. Menjaga rahasia perusahaan dan atasan adalah prioritas mutlak saya."
Keheningan yang pekat turun merajai ruangan raksasa itu.
Rayan menatapku cukup lama. Kali ini, sorot matanya benar-benar berubah. Tatapannya tidak lagi merendahkan atau mengintimidasi. Tatapannya terlihat seperti seseorang yang baru saja menggali tanah dan secara tidak sengaja menemukan brankas berlian.
"Sempurna," ucapnya pelan.
Pria itu membuka laci mejanya. Ia mengeluarkan sebuah map berbahan kulit tebal berwarna hitam elegan, lalu mendorongnya menyeberangi meja kaca itu hingga berhenti tepat di depanku.
"Tanda tangan di halaman paling belakang," kata Rayan, kembali ke nada bisnisnya yang absolut. Suaranya cepat dan penuh instruksi. "Aturan mainnya sederhana. Enam bulan. Tidak ada kontak fisik di luar acara keluarga yang mewajibkan kita tampil bersama. Tidak ada drama emosional. Tidak ada kecemburuan. Setelah enam bulan berlalu, kita urus perceraiannya seefisien mungkin. Kompensasi pelunasan akan ditransfer bertahap sesuai kesepakatan agensimu."
Telingaku berdenging hebat.
Dunia di sekitarku mendadak kehilangan suara. Udara dingin dari AC sentral di ruangan ini mendadak menusuk menembus pori-pori kulitku.
(Acara keluarga? Perceraian? Kompensasi? Agensi?)
"Maaf... Pak?" suaraku akhirnya sedikit bergetar, kehilangan kontrol datar andalanku untuk pertama kalinya. "Enam bulan... perceraian?"
Rayan mengerutkan kening tajam, menatapku seolah aku adalah orang bodoh yang baru saja melupakan naskah sandiwara. "Tentu saja perceraian. Untuk apa lagi kamu dikirim ke mari kalau bukan untuk itu?"
Aku menundukkan pandanganku secara otomatis, seolah leherku ditarik oleh beban seberat sepuluh kilogram.
Aku menatap map kulit hitam yang kini terbuka di depanku. Mataku menangkap deretan huruf kapital yang dicetak tebal dengan font Times New Roman di bagian atas kertas putih berkualitas tinggi itu.
PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAK TERBATAS
Pihak Pertama: Rayan Adristo
Pihak Kedua: __________________
Napas-ku terhenti. Seluruh organ dalam tubuhku terasa merosot jatuh ke lantai.
Aku tidak sedang diwawancara untuk posisi Staf Administrasi.
Pria tampan dengan tatapan sedingin es di depanku ini bukan sedang menguji loyalitas maupun skill organisasiku sebagai pekerja kantoran.
Pria ini sedang mewawancarai seorang wanita bayaran dari sebuah agensi rahasia untuk menjadi istri bohongannya.
Dan karena kebodohan absolutku masuk ke lift emas sialan itu, dia mengira wanita bayaran itu adalah aku. Dan aku baru saja dengan sangat bangga mempromosikan diriku bersedia tinggal seatap dan menutup mulut rapat-rapat.
Hening.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Empat.
Lima.
Selama lima detik penuh yang berputar lambat seperti adegan slow-motion di film tragedi, aku menatap kata 'Pernikahan Kontrak' itu tanpa berkedip. Logikaku berbenturan dengan kenyataan gila ini hingga menciptakan percikan api di kepalaku.
Lalu, mode 'Nara Kusuma' yang sudah dilatih oleh Sri Wahyuni selama puluhan tahun untuk tidak pernah meledak atau bereaksi berlebihan di tengah krisis, mengambil alih sistem saraf motorikku secara otomatis.
Aku tidak berteriak panik.
Aku tidak memaki Rayan Adristo.
Aku tidak melemparkan kertas kontrak itu ke wajah arogannya.
Aku bahkan tidak menangis atau memohon ampun karena telah menyusup ke ruangannya.
Aku menutup map kulit hitam itu dengan gerakan yang sangat pelan, anggun, dan terukur.
Aku berdiri dari kursi kulit itu. Membetulkan letak tali tas jinjing di bahuku dengan satu gerakan rapi.
Lalu, aku menatap lurus ke dalam mata Rayan Adristo. Aku menyunggingkan sebuah senyum tipis senyum profesional yang luar biasa sopan, namun sepenuhnya kosong dari emosi.
"Maaf, Pak," kataku dengan suara yang sangat, sangat tenang. Nyaris seperti bisikan angin. "Sepertinya saya salah masuk ruangan."
Rayan mematung di kursinya. Keningnya berkerut dalam, bibirnya sedikit terbuka, jelas tidak menyangka akan mendapat reaksi seekstrem atau lebih tepatnya, se-datar ini dari seorang wanita yang baru saja disodorkan kontrak pernikahan. Ia kehilangan kata-kata.
Aku menundukkan kepalaku sedikit sebagai tanda pamit yang final.
Lalu, aku membalikkan badan, dan berjalan keluar dari ruangan raksasa itu dengan langkah kaki yang teratur. Langkahku stabil. Tidak berlari. Tidak terburu-buru. Hanya langkah seorang staf administrasi biasa yang baru saja menyadari bahwa ia berada di gedung yang salah.
Pintu ganda kayu mahoni itu kututup rapat-rapat di belakangku.
BLAM.
Begitu pintu raksasa itu tertutup dan aku berada sendirian di lorong lantai tiga puluh yang senyap, kakiku mendadak berubah menjadi jeli.
Napas yang sejak tadi kutahan dengan paksa di dalam dada, akhirnya jebol. Kepanikan yang sesungguhnya menghantam paru-paruku dengan telak.
Aku meremas tali tasku dan setengah berlari menyusuri lorong panjang berkarpet tebal itu. Aku menekan tombol down pada panel lift emas dengan liar. Untungnya, kali ini panel itu menyala tanpa butuh kartu akses tampaknya lift ini terbuka secara default untuk turun dari lantai eksekutif.
Pintu lift terbuka. Aku melompat masuk dan menekan tombol Lobi.
Lift mewah itu membawaku merosot turun. Aku menyandarkan punggungku ke dinding kayu mahogany, memejamkan mata rapat-rapat, merutuki nasibku dan teori efisiensiku yang membawa petaka.
(Gila. Sinting. Sakit jiwa. Orang kaya di ibu kota ini memang sudah gila semua. Aku baru saja nyaris menyetujui kontrak pernikahan palsu dengan seorang CEO!) Aku memukul dahiku sendiri dengan telapak tangan. Hancur sudah. Kesempatanku melamar kerja sebagai Staf Administrasi di gedung ini benar-benar tamat. Aku tidak mungkin berani menunjukkan wajahku di lantai empat setelah ini. Aku harus segera keluar dari gedung ini sebelum sistem keamanan menyadari ada penyusup yang lolos sampai ke ruang CEO.
TING. Pintu lift terbuka di lobi utama lantai dasar.
Aku membuka mata. Aku melangkah keluar dari lorong tersembunyi itu dengan langkah cepat, nyaris seperti orang yang sedang dikejar hutang rentenir. Aku membelah kerumunan pelamar berseragam hitam-putih yang masih antre mengular panjang.
Persetan dengan Adristo Group. Aku akan berjalan ke perusahaan logistik di ujung jalan Sudirman sana. Gaji UMR tidak apa-apa. Gaji tiga juta tidak apa-apa, biar kumakan batu saja untuk bertahan hidup. Yang penting aku tidak perlu berurusan dengan pernikahan palsu dan pria gila di lantai tiga puluh itu.
Pintu putar kaca raksasa di lobi depan sudah terlihat. Udara luar ruangan yang panas dan berpolusi terasa seperti angin surga yang memanggilku pulang.
Sedikit lagi kakiku akan menyentuh trotoar jalan raya. Tiga langkah lagi. Dua langkah. Satu
"Tunggu."
Sebuah suara bariton yang sangat familiar menghentikan pergerakanku secara paksa. Suara itu tidak berteriak, volumenya sama sekali tidak tinggi, tapi otoritas gelap di dalamnya membuat saraf motorikku refleks menekan rem mendadak.
Aku membeku di ambang pintu kaca.
Aku berbalik pelan. Sangat pelan.
Di sana, di tengah keramaian lobi yang mendadak hening... lautan ratusan pelamar berseragam hitam-putih itu perlahan menyibak, mundur, seolah sedang memberi jalan bagi seorang kaisar yang turun ke jalanan.
Rayan Adristo berdiri di sana.
Ia tidak lagi duduk tenang di balik meja mahoninya. Ia turun. Mengejarku.
Ia berdiri sekitar dua meter di depanku. Kedua tangannya dimasukkan dengan santai ke dalam saku celana bahannya yang tailor-made. Ia menatapku dengan intensitas membunuh yang membuat udara AC di sekitarku terasa menguap. Seluruh mata di lobi itu kini menatap kami berdua.
Aku menelan ludah yang terasa seperti menelan paku berkarat.
"Ba-Bapak mau memanggil pihak keamanan karena saya masuk ruangan tanpa izin?" kataku cepat, mencoba membela diri sebelum ia memanggil satpam berbadan kekar untuk menyeretku. "Saya benar-benar tidak sengaja. Lift emas itu terbuka dan"
"Satu miliar."
Dua kata itu memotong kalimatku dengan presisi sayatan pisau bedah.
Aku terdiam kaku. Suara bising ratusan pelamar di lobi dan klakson kendaraan di jalan raya belakangku, seolah di-mute secara paksa dari telingaku.
Rayan melangkah maju satu langkah, menipiskan jarak di antara kami. Matanya mengunci tatapanku, tidak membiarkanku berpaling sedetik pun.
"Satu miliar rupiah bersih. Dibayar penuh di muka. Di luar biaya hidup, tempat tinggal mewah, dan semua kebutuhan personalmu selama enam bulan ke depan," ulang Rayan lambat, suaranya sangat pelan hingga hanya aku yang bisa mendengarnya. "Itu angka kompensasi finalnya."
Langkah kakiku yang tadinya sudah bersiap untuk berputar dan berlari menjauh keluar dari pintu kaca... mendadak lumpuh total.
Otakku berhenti memproses kata 'gila', 'sinting', dan 'bahaya'.
Sebagai gantinya, sebuah mesin kalkulator raksasa menyala terang benderang di dalam tempurung kepalaku. Berdenting nyaring.
Satu miliar rupiah.
Itu setara dengan 333 bulan gajiku jika aku harus membayar 'kontribusi' tiga juta rupiah kepada Ibu setiap bulan dari gaji UMR-ku.
Itu adalah 27 tahun hidupku yang dihemat.
Itu adalah pelunasan lunas tunai untuk seluruh rincian angka biaya persalinan, biaya susu formula, uang pangkal sekolah, hingga biaya mantri demam yang tercatat di buku merah sialan itu... tanpa sisa.
Kakiku sangat ingin berjalan menjauh. Insting kewarasanku berteriak histeris menyuruhku lari dari pria sinting di depanku ini.
Tapi otakku sedang melakukan perhitungan. Dan matematika tidak pernah berbohong.
Satu miliar bukanlah sekadar angka. Satu miliar adalah harga sebuah kebebasan mutlak dari belenggu Sri Wahyuni.
Aku berdiri mematung di trotoar lobi itu selama puluhan detik, membiarkan orang-orang berlalu-lalang di sekitar kami seperti figuran bayangan. Aku menatap pria di depanku ini, mencoba mencari celah kebohongan, bercandaan, atau jebakan di matanya. Namun aku tidak menemukan apa-apa selain keputusasaan seorang pria yang disembunyikan dengan sangat rapi di balik topeng sedingin es.
Dia butuh seorang wanita yang tidak akan merepotkan dan merusak hidupnya.
Dan aku, butuh satu miliar untuk membeli nyawaku sendiri.
Aku menarik napas panjang. Mengisi paru-paruku dengan udara penuh debu Jakarta. Mengumpulkan serpihan sisa harga diriku, lalu perlahan mengangkat daguku, menatap langsung ke dalam mata kelam milik Rayan Adristo.
"Beri saya waktu dua puluh empat jam," kataku final, suaraku datar tanpa emosi.
Rayan Adristo tidak tersenyum, tapi ketegangan yang sejak tadi mengunci rahang kakunya sedikit mengendur.
Ia mengangguk satu kali.