Mengulik kisah seorang pria bernama Rafael yang menerima kesepakatan menjadi bapak rumah tangga dan membiarkan istrinya berkarier di luar rumah.
Seiring bertambah usia pernikahan, kesepakatan mereka perlahan mulai mengusik ego dan jadi dilema bagi Rafael sebagai laki-laki.
》Apakah Rafael bisa bertahan menjalani aktivitasnya sebagai bapak rumah tangga dan melihat kesuksesan karier istrinya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Lara Di Tapal Batas"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11.
...~•Happy Reading•~...
Setelah kejadian Laras terpeleset, Rafael tidak pernah bertemu dengannya lagi. Laras sering berangkat ke kantor lebih pagi atau lebih siang, karena sudah memiliki mobil sendiri dari kantor. Jika sudah di rumah, dia lebih banyak di kamar. Sehingga Rafael hampir tidak pernah melihatnya.
Rafael menjalani hari seperti biasa, berangkat ke kantor bersama Juano dan Papanya. Pulang ke rumah hanya istirahat atau bercanda dengan Juano atau membantunya kerjakan PR.
Di kantor sebagai OB, dia menjadi pusat perhatian karyawan. Terutama karyawan wanita yang melihat dia tidak seperti OB pada umumnya.
Selain berwajah tampan, tubuhnya tinggi dan atletis. Dalam sekecap, Rafael terkenal di antara para karyawan. Sehingga para karyawan wanita tidak malu-malu menggoda atau merayunya secara terbuka.
Mereka sering meminta tolong dia mengerjakan sesuatu yang seharusnya bisa dikerjakan sendiri. Rafael mengerjakan tanpa protes atau mengeluh, namun dia berhati-hati menjaga interaksi dengan karyawan wanita.
Dia berusaha menghindari kontak fisik, agar tidak terjebak oleh tuduhan melakukan pelecehan dan menimbulkan masalah baginya.
Hal itu sering diingatkan Papa Juano, karena mengetahui rencana para karyawan wanita yang tertarik padanya.
~••
Hari ini adalah akhir pekan ke lima setelah bekerja sebagai OB dan akhir pekan ke enam tinggal di rumah orang tua Juano.
Seperti biasa, dia tinggal bersama Bibi di rumah untuk mencuci pakaian atau membersihkan rumah. Sedangkan Juano sekeluarga keluar menghadiri pertemuan keluarga.
Walau diajak oleh Mamah Juano, Rafael menolak. Dia merasa tidak enak dan akan menjadi pusat pertanyaan keluarga Mama Juano tentang siapa dia. Jadi dia lebih memilih tinggal di rumah dan mengerjakan yang tidak bisa dikerjakan disaat hari kerja.
Ketika dia sedang membersihkan tanaman di dalam polybag dan galon juga botol kosong, dia terkejut melihat Laras naik ke lantai atas dan hanya berjalan tanpa melakukan sesuatu.
"Laras, perlu sesuatu?" Tanya Rafael, sebab ingat yang dikatakan Juano, Laras tidak suka naik ke lantai atas.
Laras tidak menjawab, tapi mengangguk pelan. Rafael yang sedang melihatnya, jadi mengeryit alis, bingung dengan sikapnya. "Coba lihat di ruangan mencuci dan setrika. Saya pindahkan semua barang ke sana." Rafael meneruskan, karena mengira Laras mau ambil sesuatu dari gudang.
"Saya mau bicara." Ucap Laras pelan, tanpa melihat Rafael.
"Mau bicara dengan saya?" Tanya Rafael. Laras kembali mengangguk pelan.
"Kalau begitu, duduk di sana. Saya cuci tangan." Rafael menunjuk salah satu kursi kayu yang ditemukan dalam gudang dan dia letakan di luar untuk duduk bersama Juano di hari cerah dan sejuk.
Setelah melihat Laras duduk, Rafael meletakan yang dikerjakan, lalu menuju kran air. Sambil membersihkan tanah dari tangan, dia berpikir tentang maksud Laras yang mau bicara dengannya.
Tidak lama kemudian, dia menarik salah satu kursi agak menjauh dari Laras. Sebab dia tidak mau ada prasangka buruk, jika Bibi atau orang tua Laras naik ke atas dan melihat mereka duduk berdekatan seperti dia dengan Juano.
"Mau bicara apa?" Tanya Rafael saat melihat Laras hanya duduk diam, menunduk.
"Saya mau minta bantuan." Jawab Laras tanpa mengangkat wajah. Tidak terlihat sikap kasar yang cendrung arogan seperti sebelumnya.
"Mau minta bantuan apa?" Rafael bertanya, sesuai yang dikatakan Laras, tanpa bertanya yang lain. Agar bisa fokus pada permintaannya.
Walau Rafael merasa ada yang berubah pada sikap Laras dari pertama bertemu dengannya, dia simpan di hati. Sebab bukan saja sikap Laras yang berubah, tapi terlihat agak kurus. 'Ada apa? Padahal aku tidak lihat dia hanya dua minggu.' Rafael membatin, sebab Juano tidak bilang kakaknya sakit.
"Kantor saya mau adakan party, karna team saya menang tender." Ucap Laras pelan.
Rafael menyimak tanpa berusaha bertanya, walau heran dengar narasi Laras. Pikirannya jadi merambah ke berbagai arah, mencari keterkaitan keterangan Laras dengannya.
'Apa dia mau bandingkan pekerjaannya dengan pekerjaanku sebagai OB?' Rafael membatin sambil menatap Laras yang masih menunduk.
"Bisa temani saya ke party kantor itu?" Tanya Laras makin pelan, tanpa berani menatap Rafael.
"Kau minta saya temani ke acara kantormu?" Rafael terkejut. Laras hanya mengangguk, pelan. Rafael makin heran. "Laras, kau salah makan, atau kau terjangkit virus lupa?" Rafael bertanya serius. Dia ingat betul, Laras minta dia jangan keluar kamar agar tidak bertemu pacarnya. Sekarang minta ditemani ke party kantor. Sesuatu yang tidak masuk akal.
"Iya, aku minta bantuan, karna tidak mau datang sendiri." Laras berkata setelah mengangkat wajah dan menatap Rafael.
Rafael terkejut melihat mata Laras yang tidak tenang dan mulai basah. "Laras, saya bukan tidak mau bantu. Pertama, pekerjaan kita berbeda, bagaikan bumi dan langit."
"Kedua, saya tidak mau ribut dan jadi sasaran tembak pacarmu. Lebih baik, minta dia yang temani, supaya kau tidak perlu bersusah payah menjelaskan saya padanya." Rafael mengulang yang pernah dikatakan Laras saat meminta dia jangan keluar dari kamar Juano.
Apa yang dikatakan Rafael membuat wajah Laras memerah. Dia ingat yang pernah dikatakan pada Rafael dengan percaya diri. "Kami sudah putus." Laras terpaksa mengatakan yang terjadi, agar Rafael bisa membantunya.
Rafael jadi terdiam melihat Laras yang kembali menunduk dengan raut wajah yang tidak bisa didefenisikan, malu, sedih, bercampur jadi satu.
"Kalian sudah putus? Boleh saya tahu penyebabnya?" Rafael mau tahu jalan cerita, agar tidak terjebak jika mau membantu Laras.
"Dia ketahuan pacaran dengan rekan di team lain..." Laras menceritakan pelan, saat mengetahui Jarem mengkhianati dia.
"Kau lihat sendiri?" Rafael bertanya serius, sebab baginya, gosip bisa menjadi alat perusak dalam persaingan pekerjaan dan juga hubungan cinta.
Laras kembali mengangguk dua kali, suaranya tercekat, sehingga dia berdehem. Rafael mulai mengerti suasana hati dan maksud permintaan Laras. Kebaikan orang tuanya mendorong Rafael melakukan sesuatu untuk membantunya.
"Kau tidak malu ditemani saya?" Tanya Rafael serius. Laras mengangguk lagi untuk meyakinkan Rafael.
"Kapan acaranya? Saya tidak bisa libur selain akhir pekan." Rafael tidak tega melihat kesedihan Laras.
"Sabtu depan..." Laras melihat Rafael
"Kalau begitu bisa. Saya masih punya waktu untuk cari pakaian yang pantas." Ucap Rafael. Dia bersyukur sudah gajian, jadi bisa beli sesuatu untuk dipakai dan tidak mempermalukan dia atau Laras.
"Terima kasih. Apa bisa pergi cari hari ini?"
"Hari ini? Kalau begitu tunggu Juan. Saya mau traktir dia sekalian." Rafael tidak mau pergi mencari pakaian hanya dengan Laras. Oleh sebab itu, dia ingin mengajak Juano.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki naik tangga disertai teriakan Juano memanggil namanya. "Panjang umurnya." Ucap Rafael sambil melihat ke arah ujung tangga. "Kau turun bersiap-siap." Ucap Rafael kepada Laras yang sudah berdiri.
Juano yang sudah ada di lantai atas, terkejut melihat kakaknya ada bersama Rafael. Begitu juga dengan Papanya yang berada di belakangnya, melihat Laras dan Rafael bergantian. Sambil bertanya-tanya dalam hati, apa yang terjadi di antara mereka.
...~•••~...
...~•○♡○•~...