Bagi Hana Syafina, Ibu Inggit adalah mentor dan kakak yang sangat ia cintai. Namun, takdir berubah menjadi mimpi buruk saat Inggit memberikan wasiat terakhir di ambang kematiannya: "Menikahlah dengan suamiku."
Terjebak dalam amanah di atas kain kafan, Hana terpaksa menerima akad yang justru menghancurkan dunianya. Dalam semalam, mahasiswi berprestasi itu berubah menjadi musuh publik. Label "Pelakor" menyiksa setiap langkahnya di koridor kampus, sementara keluarga almarhumah terus menghujamnya dengan fitnah keji.
Mereka tidak tahu dinginnya pernikahan tanpa cinta yang ia jalani. Mereka tidak tahu rahasia kelam yang disembunyikan Pak Arlan di balik diamnya.
Ini bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang seorang wanita yang menjadi tawanan dari janji yang tak sempat ia tolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Suara Logika di Balik Pintu Bangsal
Suasana kamar rawat Hana terasa begitu sunyi, hanya terdengar suara detak alat pemantau jantung yang konstan. Hana duduk bersandar pada tumpukan bantal, matanya sembab dan pandangannya tertuju pada dahan pohon di luar jendela. Sejak sadar sepenuhnya, Hana menjadi sangat tertutup. Ia menolak televisi, menjauhkan ponsel, dan yang paling menyakitkan bagi Arlan, Hana menolak kehadirannya.
Setiap kali Arlan mencoba masuk, Hana akan memejamkan mata rapat-rapat atau membelakangi pintu. Ia seolah menyalahkan keberadaan Arlan sebagai magnet bagi semua kesialan yang menimpanya.
Dila duduk di kursi samping tempat tidur, mengupas jeruk dengan perlahan. Ia memperhatikan sahabatnya yang biasanya ceria itu kini tampak seperti raga tanpa jiwa.
"Na..." panggil Dila lembut.
"Sampai kapan kamu mau begini? Pak Arlan sudah dua malam tidur di kursi tunggu depan. Dia tidak pulang, tidak ganti baju, hanya untuk memastikan kamu baik-baik saja."
Hana tidak bergeming.
"Aku tidak mau bertemu dengannya, Dil. Setiap melihat Mas Arlan, aku teringat komentar-komentar itu. Aku merasa... aku merasa memang salah karena sudah setuju menikah dengannya."
Dila menghela napas panjang, ia meletakkan jeruknya dan menatap Hana lekat-lekat.
"Na, dengarkan aku. Kamu harus buka logika kamu sekarang. Bagaimanapun, Pak Arlan itu suami kamu. Kamu setuju menikah dengan beliau itu dengan kesadaran penuh, bukan paksaan, kan?"
Hana terdiam, jemarinya meremas sprei.
"Apa yang terjadi di luar sana, fitnah itu, gosip itu... itu di luar pengetahuan Pak Arlan. Bukankah kamu sendiri yang meminta agar pernikahan kalian dirahasiakan? Kamu yang ingin private karena takut jadi pusat perhatian di kampus," lanjut Dila, suaranya tegas namun tetap menunjukkan empati.
"Mungkin saja kalau hal itu tidak dirahasiakan, khususnya di area kampus, kamu tidak akan pernah diduga sebagai simpanan dosen atau hal buruk lainnya."
Hana mulai terisak kecil. Kata-kata Dila menghantamnya tepat di ulu hati. Ia menyadari bahwa ketakutannya sendirilah yang ikut membangun tembok yang sekarang menghancurkannya.
"Pak Arlan tentu sangat khawatir sama kamu, Na. Izinkan dia masuk. Izinkan dia menemui kamu," Dila meraih tangan Hana yang dingin.
"Aku tahu kamu sedang sangat terguncang, tapi bisa jadi dengan hadirnya dia di sisimu, dia bisa menjadi penyokongmu. Kamu butuh pegangan, Hana. Kamu tidak bisa melawan dunia yang kejam ini sendirian."
Di balik pintu yang sedikit terbuka, Arlan berdiri mematung. Ia mendengar setiap kalimat Dila. Dadanya sesak. Ia tidak berani masuk bukan karena ia marah, tapi karena ia takut kehadirannya justru menambah rasa sakit Hana. Ia menggenggam erat botol air mineral di tangannya, menunggu sebuah izin yang mungkin tak kunjung datang.
Hana menunduk, air matanya jatuh membasahi punggung tangan Dila.
"Tapi Dil... aku malu. Aku merasa kotor karena dituduh begitu."
"Kamu tidak kotor, Hana! Yang kotor itu pikiran orang-orang yang memfitnahmu," sahut Dila cepat.
"Pak Arlan baru saja dari kampus. Dia pasang badan untukmu di depan Rektor. Dia tidak malu mengakui kamu sebagai istrinya meski itu bisa mengancam kariernya. Apa itu belum cukup membuktikan kalau dia ada di pihakmu?"
Hana tersentak. Ia baru tahu kalau Arlan melakukan itu. Ia mengira Arlan akan tetap diam demi menjaga reputasinya sebagai dosen teladan.
"Panggil dia, Na. Sebelum dia benar-benar tumbang karena kelelahan di depan sana," bisik Dila.
Hana menarik napas panjang, ia menghapus air matanya dengan tisu. Dengan suara yang masih bergetar, ia akhirnya bersuara.
"Mas... Mas Arlan..."
Hanya butuh satu detik bagi Arlan untuk mendorong pintu. Ia masuk dengan langkah ragu, matanya yang merah karena kurang tidur langsung terkunci pada sosok Hana. Dila tersenyum tipis, ia bangkit dan memberikan isyarat bahwa ia akan keluar untuk memberikan ruang bagi mereka berdua.
"Hana..." suara Arlan serak, penuh dengan beban emosi yang tak terkatakan.
Hana menoleh, menatap suaminya. Saat melihat wajah Arlan yang tampak sangat kuyu dan berantakan demi menjaganya, benteng pertahanan Hana runtuh. Ia tidak lagi membelakangi Arlan. Sebaliknya, ia mengulurkan tangannya yang gemetar.
"Maafin Hana, Mas..." tangis Hana pecah seketika.
Arlan langsung menghampiri, membawa Hana ke dalam pelukannya. Ia mendekap kepala Hana ke dadanya, membiarkan Hana menangis sejadi-jadinya.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Hana. Saya yang seharusnya minta maaf karena membiarkan kamu terluka sendirian."