IG & Tiktok : Tulisan_Nic
Naufal Adhitama (32), dokter anestesi yang hangat dan mudah bergaul, dikenal sebagai playboy karena sering dekat dengan banyak perempuan.
Meski begitu, ia percaya pernikahan harus berlandaskan cinta—bukan sekadar komitmen tanpa rasa.
Hingga ia bertemu Anin Ratri Maharani (27), perempuan dengan luka masa lalu dan trauma pada pria playboy akibat keluarga yang hancur.
Untuk pertama kalinya, Naufal ingin bertahan.
Namun saat cinta itu mulai tumbuh dan mereka ingin melangkah ke pernikahan, masa lalu dan rasa takut justru menjadi ujian terbesar.
Bisakah cinta mereka bertahan, atau justru hancur sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
"Kak!" Seru Kenzo, "Kak mau kemana?!"
Anin diam saja, menoleh pun tidak. Ia terus menyeret kopernya.
"Kak, bawa-bawa koper mau kemana?!"
Anin terus melangkah, meski Kenzo terus mengikuti langkahnya.
Ketika sampai di gapura gang rumahnya, Naufal sudah membukakan pintu mobil untuknya.
Kenzo menatap lekat pada mobil yang terbuka, secepatnya ia menyusul langkah Anin. "Kak, dia siapa?" tanya Kenzo heran, menatap Naufal dari ujung kepala sampai ujung kaki, "Dia, pacar Lo kak?!"
Naufal mengulurkan tangannya, bersalaman dengan Kenzo. "Hai, kamu Kenzo kan?"
Kenzo mengangguk dengan tatapan lebih lekat di pergelangan tangan Naufal, pasalnya Naufal memakai jam tangan mahal, seri terbaru. Yang Kenzo tahu hanya orang-orang tertentu yang sanggup membelinya. Bahkan Kenzo punya yang palsu, meski palsu tetap saja mahal baginya. "Kok, Lo tahu nama gue?" ujarnya.
"Tahu lah, kamu adiknya Anin yang suka tawuran kan?" sahut Naufal.
Kenzo menoleh pada Anin, "Kak, dia siapa?"
"Banyak nanya!" sela Anin, "Udah sana Lo balik!" Anin mendorong pelan punggung Kenzo.
Kenzo membalikkan badan, tiba-tiba meraih tangan Naufal dan kembali memperhatikan jam tangannya.
"Ini asli beneran?" tanyanya.
Naufal tersenyum tipis, "Kenapa, Lo suka?"
"Siapa yang nggak suka sama jam ini, ini series terbarukan?" Kenzo bertanya dengan antusiasnya.
Naufal membuka jam tangan itu, lantas meraih tangan Kenzo dan memakaikan di lengannya. "Nih, buat Lo. Gue masih ada yang varian warna lain." ujarnya
Kenzo terbelalak, ia sentuh jam itu. Ia dekatkan ke matanya, lantas mengusap-usap. "Wih gila, beneran asli Co!"
"Udah buat lu aja, seneng kan Lo?!"
Kenzo tersenyum senang, tapi kemudian ia memicingkan mata, menatap Naufal dengan curiga. "Lo, kaya banget ya?"
Naufal mengangguk, "Ya, bagi gue biasalah uang milyaran." ujar Naufal, pongah.
"Crazy rich Lo?"
"Menurut Lo gimana?"
Kenzo memperhatikan Alphard yang di bawa Naufal. Tidak ada alasan untuk ia tidak percaya bahwa Naufal memang kaya.
Lantas ia melirik Anin, seketika otaknya bekerja. Apa jangan-jangan, cowok kaya yang bernama Naufal ini, ingin menjadikan kakaknya sebagai simpanan, seperti yang banyak di beritakan? "Wah... Wah... Kak, Lo mau kumpul kebo ya sama cowok ini?!"
Anin melotot kesal, "Lo jangan kurang ajar ya! Siapa yang mau kumpul kebo?!"
Sedang Naufal justru tertawa.
"Ya elu lah kak, masa iya kebo beneran."
Anin kembali melotot, tangannya mengepal.
"Inget dosa kak, dosa. Heran, biasanya Lo yang selalu nasehatin gue. Kok sekarang kebalik?"
Anin tak punya kesabaran lagi, ia tendang kaki Kenzo dengan keras, "Kalo ngomong jangan sembarangan!"
Kenzo meringis, reflek mengangkat kaki yang di tendang Anin tadi. "Sakit ish."
"Makanya, jangan ngomong sembarangan!" bentak Anin, dengan mata tajam.
Naufal terkekeh, "Oke, Kenzo kita pergi dulu ya. Tenang aja, kakak Lo pasti baik-baik aja."
"Eh... Tapi Lo siapa?" Masih saja Kenzo penasaran, "kalian pacaran?"
"Gue Naufal, gue calon Abang ipar Lo!" sahut Naufal, lantas meraih koper Anin dan menaruhnya di jok belakang.
"Jadi bener kalian pacaran?" Kenzo terkesiap, "Kak, jangan ambil resiko kak." ujarnya menatap Anin.
"Resiko apa? Jangan mikir macem-macem Lo ya!" bentak Anin.
"Ya, gue takut aja kak, kalo kalian kebablasan." ujar Kenzo khawatir, "Terus Lo hamil dan Lo di tinggalin sama cowok ini!" ujarnya, menunjuk Naufal.
Tuk!
Anin menjitak kepala Kenzo, "Buang jauh-jauh, pikiran ngeres Lo itu!"
Lagi-lagi Kenzo meringis.
"Sana Lo, balik. Jangan bilang-bilang Ibuk soal Naufal. Awas Lo ya!" ancam Anin, lantas masuk ke dalam mobil. Naufal pun mengikuti.
Naufal mulai menyalakan mesin, dan menurunkan kacanya, "Kalo terjadi kebablasan, tenang aja. Gue akan tanggung jawab, nikahin kakak Lo. Jangan kuatir!" seru Naufal pada Kenzo, dengan senyum mengembang.
"Tapi Lo harus pake pengaman, jangan lupa pake kondom!" teriak Kenzo. Dan di jawab acungan jempol Naufal. Lantas menaikkan lagi kaca jendela, dan menekan pedal gas.
"Gila!" Anin memukul lengan Naufal dengan kesal.
"Apa sih? tiba-tiba mukul?"
"Ya, gimana nggak mukul, ngapain kamu ladenin omongannya Kenzo tadi?!" Anin mendelik kesal.
"Ya, sebagai laki-laki aku tahu kok keresahannya Kenzo. Dia nggak mau kamu kenapa-napa." sahut Naufal santai
"Iya, tapi nggak gitu juga nanggepinnya."
"Terus harus gimana?"
Anin memutar bola matanya, lantas menghembuskan nafas kasar, "Terserah!"
Naufal tersenyum, melirik Anin. Tapi entah kenapa ia merasa Anin justru terlihat begitu seksi. Gawat, darah Naufal berdesir cepat. Ada sesuatu yang berubah, yang hanya dirinya sendiri yang tahu. Lantas ia membuang pikirannya jauh-jauh, tidak mau ke distraksi oleh ucapan Kenzo tadi. Tapi Naufal, hanyalah pria normal seperti pada umumnya. Tidak mudah menetralkan begitu saja, di bawah sana.
Anin sendiri, pipinya bersemu merah. Ucapan Kenzo juga mengganggu pikirannya. Ia melirik Naufal, lalu mengibas-ngibas kan tangannya di bawah dagu.
"Kenapa sayang? Kamu kepanasan?" tanya Naufal ragu-ragu. Ia pun merasakan hal yang sama. Rasanya panas semua.
"Iya nih, panas. AC nya nggak kamu nyalain?"
Naufal dengan sabar, menyalakan AC, lantas menyalakan lagu, lagu romantis yang semakin lama justru malah semakin membuat rasa itu muncul semakin kuat.
"Ganti lagunya, ganti!" bentak Anin.
Seketika Naufal mengganti lagunya, dengan murotal.
Naufal merasakan, tenggorokannya begitu kering. Ia mengambil Tumbler dan menenggaknya setengah. Baru ia bernafas lega.
Anin pun merasakan haus yang tak bisa di tahan, ia rebut Tumbler milik Naufal, tanpa basa basi ia pun menenggaknya.
Naufal masih belum berani melirik Anin. Ia fokuskan tatapannya pada jalan. "Nggak baik emang, sering-sering berduaan sama kamu." gumamnya.
"Iya, pantesan Albie sama Qistina memutuskan cepat-cepat nikah." sahut Anin.
"Sayang, kita nggak bisa nunda lagi. Sebelum apa yang di bilang Kenzo tadi kejadian!"
"Tau ah, panas..." desis Anin.
Naufal tertawa kecil, "Kamu barusan kebakaran juga sayang?"
Anin menoleh sekilas, lalu membuang muka. "Bodo amat!"
Naufal pun meledak dalam tawa.
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍