Bertemu kembali dengan Althan Alaric, mantan pacarnya yang sekarang menjadi aktor terkenal, bukanlah kabar baik bagi Vivi. Ia berusaha menjauh, tapi pria itu seolah sengaja mendekatinya untuk membalas dendam.
Vivi bisa memahami alasan Althan bersikap demikian. Namun masalahnya bukan itu. Jika Althan terus berada di dekatnya, Vivi takut pria itu akan mengetahui keberadaan Mikaila, anak yang dirahasiakan Vivi selama ini. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Sanggupkah Vivi terus menyembunyikan anak itu dari sang superstar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HANA ADACHI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 : Fakta Mengejutkan
Roni melangkah menuju ruangan CEO dengan jantung berdebar. Kakinya yang terasa lemas ia paksakan untuk terus melangkah. Ia tau, di dalam sana, dirinya akan menerima kemarahan besar dari CEO.
CEO dari agensi PRIME Entertainment, agensi tempat Althan bernaung, adalah Selina Maheswari, seorang wanita berusia empat puluh tahun akhir. Sepak terjangnya di dunia entertainment sudah lebih dari dua puluh tahun, bisa dibilang dia adalah seorang ahli yang sudah mendebutkan banyak selebriti terkenal.
Dulu, sebelum menjabat menjadi CEO di perusahaannya sendiri, Selina bekerja di Golden Entertainment. Ia mulai bekerja dari posisi paling bawah, sampai di puncak karirnya menjadi seorang direktur paling penting di perusahaan itu.
Sampai lima tahun kemudian, Selina menemukan Althan Alaric. Dengan Intuisinya, Selina yakin Althan bisa menjadi seorang bintang besar. Dan ternyata prediksinya tak meleset sama sekali. Satu tahun kemudian, nama Althan melesat ke puncak tertinggi, menjadi artis idola baru yang digemari seluruh lapisan masyarakat.
Dari situ, Selina akhirnya melakukan suatu keputusan besar. Ia mengundurkan diri dari posis pentingnya di Golden Entertainment, lalu membuka agensi baru. Bisa ditebak, artis pertama yang ia rekrut adalah Althan Alaric.
Selina merasa Althan adalah tonggak perusahaan, sumber keuangannya yang utama. Jadi, ia mengerahkan banyak orang untuk bekerja mengawasi Althan secara diam-diam, supaya bisa mencegah jika ada hal yang bisa membuat nama baik artis kesayangannya tercemar.
Makanya, berita viral saat Althan memukul orang itu tersebar pastilah pukulan besar bagi Selina. Jadi, Roni sudah bersiap siap. Ia sudah bisa menebak kalau Selina akan murka padanya.
Pria itu menghela napas panjang beberapa kali, sebelum akhirnya tangannya mengetuk pintu ruangan.
"Masuk," langsung terdengar suara dingin Selina dari dalam.
Roni menenangkan diri sendiri, lantas ia pun perlahan membuka pintu.
"Permisi Bu," katanya dengan suara lirih.
Di depan sana, Selina duduk di atas sofa dengan kaki menyilang. Di tangan kanannya, ada cangkir teh kesayangannya. Dilihat sekarang, wanita itu seperti seorang ratu tiran yang siap memberi titah.
"Kamu tau apa tujuan saya memanggil kamu kesini?"
Roni baru saja hendak menghempaskan pantatnya ke atas sofa, saat Selina menanyakan itu. Otomatis, Roni tidak jadi duduk dan hanya berdiri di tempat.
"Saya tau Bu," katanya sambil menundukkan kepala.
"Apa?" tanya Selina lagi, masih dengan suara dingin.
"Masalah Althan memukul orang Bu,"
Selina meletakkan cangkir tehnya ke atas piring kecil, menimbulkan suara kecil.
"Kamu salah Roni,"
Roni sontak mendongakkan kepala. "Lalu, kalau bukan? Berarti..."
"Kenapa kamu tidak melaporkan apa apa pada saya?" Selina melirik Roni tajam. "Bukankah sudah saya bilang untuk melaporkan hal sekecil apapun terkait Althan?"
Roni jadi semakin dibuat kebingungan.
"Maaf Bu. Saya tidak mengerti. Saya rasa saya sudah melaporkan semuanya pada Ibu,"
"Oh ya?" Selina mengangkat alis. "Lalu ini apa?"
Wanita itu menghidupkan tablet di depan meja, lantas mengulurkannya kepada Roni. "Kenapa saya tidak mendapatkan laporan apa apa tentang ini?"
Roni mengerutkan dahi.
Sampai percakapan ini, ia masih tak paham apa maksud Selina. Jadi, ia menerima tablet itu dengan ragu.
Pada layar tablet, terlihat ada foto seorang wanita yang sangat Roni kenal. Vivi.
"Kenapa kamu tidak melaporkan tentang dia?" tanya Selina sambil menatap tajam.
Roni menelan ludah. "Maaf Bu. Wanita ini adalah stylish pribadi Althan yang baru. Kinerjanya bagus, jadi saya pikir tidak apa apa kalau tidak melapor. Lalu, stylish ini yang merekrut adalah Althan sendiri, jadi..."
"Kamu tau siapa wanita itu?"
"Namanya Vivi Bu, dia..."
"Dia adalah mantan pacar Althan," Selina melanjutkan ucapan Roni.
Seketika, mata Roni langsung terbelalak.
...----------------...
Sementara itu, di dalam kamar apartemen Althan, suasana terasa begitu sunyi dan menekan. Vivi duduk di tepi ranjang, menangis tersedu-sedu sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya naik turun, menahan sesak yang tak tertahankan.
Di atas ranjang, Mikaila terbaring tak sadarkan diri. Wajah kecilnya pucat, rambutnya masih sedikit basah, dan napasnya terdengar pelan namun teratur.
"Bagaimana ini... maafkan Mama, Nak..." lirih Vivi di sela tangisnya, suaranya bergetar penuh penyesalan.
Althan yang berdiri di sampingnya hanya bisa mengelus-elus punggung Vivi dengan lembut, berusaha menenangkan meski hatinya sendiri ikut terasa berat.
Beberapa saat yang lalu, Mikaila tak sengaja tercebur ke kolam saat bermain di sekitar area apartemen. Saat melihat tubuh kecil itu tenggelam, jantung Althan seakan berhenti. Ia segera terjun dan menyelamatkannya. Namun setelah itu, Mikaila justru pingsan.
Tanpa membuang waktu, Althan langsung memanggil dokter. Beruntung, dokter mengatakan bahwa kondisi Mikaila baik-baik saja. Menurut diagnosa ,gadis kecil itu sepertinya hanya syok dan kelelahan.
"Sudah... jangan menangis lagi," ucap Althan pelan, suaranya sengaja dilembutkan. "Bukankah kata dokter dia baik-baik saja? Mikaila hanya kaget."
Vivi menggeleng lemah, air matanya masih terus mengalir. "Kalau saja aku mengajarinya berenang dari dulu... pasti dia tidak akan seperti ini..."
"Tidak perlu menyalahkan diri sendiri, Vivi," jawab Althan, sedikit menunduk agar sejajar dengannya. "Hal seperti ini bisa terjadi pada siapa saja. Kita berdoa saja, ya?"
"Huhu... jangan tinggalkan Mama, sayang..." bisik Vivi lirih, menatap wajah Mikaila yang tak bergerak.
Pemandangan itu membuat dada Althan terasa sesak. Ia tak tega melihat Vivi hancur seperti ini. Tanpa banyak berpikir, ia perlahan memiringkan kepala Vivi agar bersandar di pundaknya.
Vivi yang sedang berada di puncak kesedihan tak memiliki tenaga untuk menolak. Ia membiarkan dirinya bersandar, seolah menemukan tempat untuk bertahan.
"Shh... sudah, tidak apa-apa," bisik Althan, tangannya mengusap lembut kepala Vivi. "Semua akan baik-baik saja. Nanti, kalau Mikaila sudah sadar, kita ajarkan dia berenang, oke?"
Tangis Vivi masih tersisa, namun perlahan mereda. Ia mengangguk kecil di pundak Althan, menikmati sentuhan hangat yang selama ini ia rindukan. Sudah lima tahun ia tak merasakan ketenangan seperti ini. Kalau dulu, ia harus menghadapi semuanya sendirian.
Perlahan, isak tangisnya terhenti. Napasnya mulai teratur. Hatinya yang semula kacau kini sedikit lebih tenang.
Althan memejamkan mata sejenak, tetap membiarkan Vivi bersandar. Untuk beberapa waktu, mereka berdua terdiam dalam keheningan yang terasa aneh sekaligus menenangkan. Seolah dunia di luar sana berhenti sejenak hanya untuk mereka.
Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama.
Tok... tok...
Ketukan halus di pintu kamar yang sedikit terbuka membuyarkan suasana.
Vivi tersentak. Dengan cepat, ia melepaskan diri dari pelukan Althan. Gerakannya membuat Althan sedikit terkejut, dan entah kenapa, ada rasa tak rela yang sempat terlintas di hatinya.
"Althan."
Suara itu membuat keduanya menoleh bersamaan.
Di ambang pintu, Roni berdiri dengan tatapan tajam. Wajahnya sulit dibaca, namun jelas ada sesuatu yang mengeras di sana.
Vivi dan Althan sama-sama terdiam, terkejut.
Apa... Roni melihat semuanya?
Roni menatap lurus ke arah Althan, rahangnya sedikit mengeras.
"Althan, kita perlu bicara."
/Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle/
sebenarnya vivi juga pengin ngaku kalau Mikaila anak althan, tapi dia takut kejadian masa lalu terulang kembali.
harusnya Vivi terus terang kenapa dia dulu ninggalin althan, biar althan kasih pelajaran sama wanita serakah itu kalau kebahagiaan althan sama Vivi g bakalan menghambat karirnya.
yang bukan dari harga, tapi dari nilainya siapa yang memberi dan kenanganny😭😭😭😭
sabar vi semua pasti akan terungkap tanpa harus kamu bicara