NovelToon NovelToon
THE DEVIL'S WIFE

THE DEVIL'S WIFE

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anonymous MC

Sebelum kau membaca kisah ini, kau harus tahu satu hal:

Aku bisa melihat bagaimana kau akan mati.

Bukan dengan bola kristal. Bukan dengan ritual aneh. Cukup dengan menyentuhmu. Satu sentuhan, dan mataku akan dipenuhi gambar—kau di ujung napas terakhir, dengan cara yang mungkin tidak pernah kau bayangkan.

Kakek bilang ini kutukan. Aku bilang ini hadiah.

Karena dengan hadiah ini, aku tahu siapa yang harus aku hindari.

Tapi malam itu, saat pertama kali menyentuh Damian Adhiratria, aku tidak melihat kematiannya.

Aku melihat kematianku sendiri.

Dan aku tersenyum.

Karena akhirnya, setelah 24 tahun, aku tahu kapan aku akan mati.

Tepat 6 bulan setelah menikahi iblis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: RISET TENTANG TRAUMA DISOSIASI

Alea tidak bisa tidur.

Bukan karena kamar mewah dengan ranjang berukuran raja itu terlalu nyaman. Bukan karena suara AC yang berdengung pelan atau tirai beludru tebal yang menutup rapat semua cahaya bulan. Alea tidak bisa tidur karena di kepalanya, kalimat Damian terus berputar seperti rekaman rusak.

“Dia aku. Masa kecilku.”

Empat kata. Damian mengucapkannya tadi malam di lorong gelap itu, setelah menariknya keluar dari pertemuan dengan bocah misterius bermata hitam pekat. Suaranya datar, tanpa emosi—seperti biasa. Tapi tangannya gemetar. Alea ingat betul: jari-jari Damian yang dingin menggenggam pergelangannya, dan di ujung jari itu, ia merasakan getaran kecil. Seperti detak jantung yang terlalu cepat. Seperti orang yang menahan diri untuk tidak menjerit.

Sekarang, jam di dinding menunjukkan pukul 01:47. Alea duduk bersila di tengah ranjang, laptop terbuka di pangkuannya. Koneksi internet di mansion ini terbatas—hanya jaringan internal yang diawaki firewall super ketat. Tapi Alea bukan psikiater forensik lulusan terbaik universitas negeri untuk tidak punya cadangan. Dari tas ransel yang disita petugas keamanan saat pertama datang, ia sudah menyelipkan portable hard drive berisi puluhan jurnal ilmiah dan buku elektronik. Termasuk satu bab khusus yang ia simpan untuk keadaan darurat.

Dissociative Identity Disorder: Diagnosis, Etiology, and Therapeutic Approaches.

Ia membuka file itu sekarang.

Alea menyandarkan punggung di kepala ranjang. Cahaya layar menyorot wajahnya—pucat, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang mulai terlihat. Dua hari di mansion ini, dan ia belum tidur lebih dari tiga jam per malam. Bukan karena takut. Tapi karena setiap kali memejamkan mata, visi itu datang.

Damian mati ditikam istrinya.

Dan wajah istrinya adalah wajahnya sendiri.

Ia menghela napas, menggeser kursor ke sub-bab pertama.

DEFINISI DISOSIASI

Disosiasi adalah mekanisme pertahanan psikologis di mana individu memisahkan pikiran, ingatan, perasaan, atau identitas dari kesadaran utama. Pada tingkat ekstrem, disosiasi dapat membentuk identitas alternatif yang sepenuhnya terpisah—dikenal sebagai Dissociative Identity Disorder (DID), sebelumnya disebut Multiple Personality Disorder.

Alea berhenti membaca. Matanya menatap kosong ke dinding seberang.

Damian dewasa. Damian kecil.

Dua identitas dalam satu tubuh. Satu dingin, kejam, terkontrol. Satu polos, ketakutan, terjebak.

“Dia aku. Masa kecilku.”

Jadi Damian dewasa tahu tentang Damian Kecil. Tapi bukan berarti ia bisa mengendalikannya. Dari caranya berbicara tadi malam—dengan nada yang bergetar di ujung kalimat—Alea bisa menebak: Damian dewasa tidak ingin mengakui keberadaan bocah itu. Atau mungkin, ia tidak bisa menerima bahwa bocah itu adalah dirinya yang asli.

Alea kembali ke laptop.

ETIOLOGI DID

Faktor utama penyebab DID adalah trauma berat yang berulang pada masa kanak-kanak, biasanya sebelum usia 6-9 tahun. Trauma ini sering berupa kekerasan fisik, pelecehan seksual, atau penelantaran ekstrem dari figur pengasuh. Anak yang tidak memiliki mekanisme koping yang memadai akan “menciptakan” identitas lain untuk menanggung beban trauma, sementara identitas utama “tertidur” atau terpisah.

Jari Alea berhenti di trackpad.

Trauma berat. Kekerasan. Figur pengasuh.

Ia ingat lorong gelap di balik lemari kamarnya. Foto-foto anak kecil dengan mata dihitamkan. Dan ruang bawah tanah yang belum sempat ia buka—pintu besi berkarat di lantai dasar yang dijaga ketat.

“Aku mati di sini 20 tahun lalu,” kata Damian Kecil di lorong itu, sebelum Damian dewasa muncul.

Bukan mati secara harfiah. Tapi bagian dari dirinya—yang polos, yang takut, yang masih anak-anak—terkubur di suatu tempat di mansion ini.

Alea menutup laptop. Udara di kamar tiba-tiba terasa dingin.

“Kak.”

Alea tersentak.

Suara itu datang dari samping ranjang. Pelan. Lirih. Seperti angin yang masuk lewat celah jendela.

Ia menoleh.

Damian Kecil duduk di kursi malas di sudut ruangan. Dengan piyama sutra biru tua yang kebesaran—lengan bajunya menutupi telapak tangan, celananya menggunung di mata kaki. Kakinya menggantung, tidak menyentuh lantai. Rambut hitamnya acak-acakan, dan matanya... matanya sama seperti pertama kali Alea lihat: hitam pekat, seperti dua lubang yang mengarah ke ruang kosong tak berujung.

“Damian?” Alea berusaha tenang. “Kamu... bagaimana kamu bisa masuk ke sini?”

“Pintunya nggak dikunci.” Bocah itu menyeringai kecil. “Damian dewasa lupa ngunci tadi malam. Habis marah-marah sama kakak.”

Alea menoleh ke pintu. Benar. Gagangnya tidak terkunci. Biasanya, setiap malam, sebelum tidur, ia selalu memastikan pintu terkunci dari dalam. Tapi tadi malam, setelah konfrontasi dengan Damian dewasa di lorong, ia langsung masuk ke kamar tanpa berpikir.

Kecerobohan fatal.

“Kakak nggak takut?” Damian Kecil mencondongkan tubuh ke depan. “Aku kan anak hantu. Kata Damian dewasa, aku hantu.”

“Kamu bukan hantu.” Alea menggeser laptop ke samping, mematikan layar. “Kamu bagian dari Damian.”

“Bagian?” Bocah itu mengernyit. “Kayak potongan pizza?”

Alea hampir tertawa. Tapi ia menahan. “Iya. Kayak potongan pizza. Tapi potongan yang paling penting.”

Damian Kecil terdiam. Matanya menyipit, seperti mencerna kalimat itu. Lalu ia melompat turun dari kursi, berlari kecil ke ranjang, dan memanjat naik dengan gerakan canggung—kakinya tersandung selimut, tangannya meremas sprei.

“Kak, boleh tidur di sini?” Ia duduk di ujung ranjang, bersandar di tiang kepala. “Damian dewasa tidur. Aku sendiri di lorong. Sepi.”

Alea menatapnya.

Di bawah cahaya redup laptop, bocah ini terlihat... nyata. Bukan hantu. Bukan halusinasi. Kulitnya tidak pucat seperti mayat, pipinya tidak cekung. Ia bahkan punya tahi lalat kecil di dekat bibir—sama persis dengan Damian dewasa.

Ini bukan sekadar kepribadian alternatif. Ini Damian. Yang asli. Yang terjebak di usia delapan tahun selamanya.

“Kamu boleh tidur di sini,” kata Alea akhirnya. “Tapi dengan syarat.”

“Syarat apa?” Damian Kecil memiringkan kepala.

“Kamu ceritakan semuanya tentang ruang hukuman.”

Bocah itu membeku.

Bukan hanya diam. Tapi benar-benar membeku—seperti patung lilin yang tiba-tiba kehilangan nyawa. Matanya yang tadik berbinar polos kini kosong. Tangannya yang tadinya memegang selimut jatuh lemas ke samping.

“Damian?” Alea menyentuh pundaknya.

Dingin. Sangat dingin. Seperti menyentuh permukaan batu nisan di pagi hari.

“Kak...” suara Damian Kecil berubah. Lebih tipis. Lebih jauh. “Kak... jangan suruh aku ingat.”

“Kenapa?”

“Karena kalau aku ingat, Damian dewasa marah. Damian dewasa bilang, kalau aku ingat, dia akan bunuh aku lagi.”

Alea merasakan ada yang mengganjal di tenggorokan. “Bunuh... lagi?”

Bocah itu mengangguk pelan. Perlahan, ia mengangkat tangan kanannya. Lengan piyama biru turun, memperlihatkan pergelangan tangan yang mungil.

Dan di sana, di kulit yang terlalu putih, ada bekas luka. Bukan luka fisik—tapi sesuatu yang lebih mengerikan. Saat Alea menyipitkan mata, ia melihat... tulisan. Tinta hitam yang seolah tertanam di bawah kulit, mengikuti aliran pembuluh darah.

PROPERTY OF DAMIAN ADHIRATRIA.

Huruf-huruf itu bergerak. Tidak statis seperti tato, tapi bergerak—merayap di bawah kulit seperti ular kecil yang mencari jalan keluar.

Alea menarik napas. “Apa ini?”

“Damian dewasa tulis itu.” Damian Kecil menurunkan lengan bajunya. “Dia bilang, kalau aku punya namanya, aku nggak bisa pergi. Aku harus di sini selamanya.”

“Di mana?”

“Di lorong. Di ruang bawah tanah. Di mana pun dia kunci aku.”

Alea mencoba mencerna informasi ini. Tapi logikanya berbenturan dengan kenyataan yang terlalu absurd. Tulisan di bawah kulit yang bergerak? Ini bukan ilmu psikologi. Ini... ini sesuatu yang lain.

“Damian,” Alea mencondongkan tubuh. “Kamu tahu kenapa Damian dewasa bisa menulis itu di tangan kamu?”

Bocah itu menggeleng. Tapi matanya—yang tadi kosong—kini berkilat. Bukan dengan air mata. Tapi dengan sesuatu yang lebih tua dari ketakutan.

“Kak,” bisik Damian Kecil. “Kamu percaya hantu?”

Alea tidak menjawab.

“Aku dulu juga nggak percaya. Tapi di ruang bawah tanah, aku lihat ibu tiri aku.” Bocah itu tersenyum. Tapi senyumnya tidak sampai ke mata. “Dia sudah mati. Tapi dia masih di sana. Aku lihat dia setiap hari. Selama... selama...”

Ia berhenti. Matanya menerawang ke kejauhan, seolah menghitung hari dalam bahasa yang tidak bisa diucapkan.

“Selama tiga bulan,” sambung Alea pelan.

Damian Kecil mengangguk. “Damian dewasa cerita?”

“Iya.”

“Dia cerita semuanya?”

“Belum.”

Bocah itu menghela napas panjang—terlalu panjang untuk anak seusianya. Lalu ia bergerak merayap mendekat, bersandar di lengan Alea. Kepalanya menempel di bahu Alea, dan untuk pertama kalinya, Alea merasakan bobotnya. Ringan. Seperti sekantung tulang yang nyaris hampa.

“Kak,” Damian Kecil menutup mata. “Aku capek. Aku mau tidur.”

“Tapi kamu belum cerita—”

“Besok.” Bocah itu meremas lengan Alea lemah. “Besok kalau Damian dewasa pergi. Aku cerita semua. Tentang ruang bawah tanah. Tentang ibu tiri. Tentang...” Ia berhenti, napasnya mulai teratur. “Tentang kenapa Damian dewasa takut sama aku.”

Alea membiarkannya.

Di keheningan kamar yang hanya diterangi layar laptop, ia mendengarkan detak jantung bocah itu. Lambat. Sangat lambat. Seperti detak jam yang hampir berhenti.

Tapi ia tidak mati. Damian Kecil tidak mati.

Hanya terperangkap.

---

Alea tidak tidur semalaman.

Ia duduk di ranjang dengan Damian Kecil di pelukannya, membaca jurnal demi jurnal di laptop dengan suara paling pelan. Kursor bergerak dari satu abstrak ke abstrak lain, sementara matanya menangkap kata-kata kunci: childhood trauma, dissociative amnesia, alter personality, integration therapy.

Tapi tidak ada satu pun jurnal yang menjelaskan tentang tulisan di bawah kulit yang bergerak.

Jam menunjukkan pukul 04:30 ketika Alea mendengar langkah kaki di lorong. Damian Kecil langsung bangun—seperti robot yang ditekan tombol—matanya terbuka lebar, tubuhnya tegang.

“Dia datang,” bisik bocah itu. “Aku harus pergi.”

“Damian—”

Tapi sebelum Alea bisa berkata apa-apa, Damian Kecil sudah melompat turun dari ranjang. Kakinya yang telanjang mendarat di karpet tanpa suara. Ia berlari ke pintu, membukanya tanpa suara, dan melesat ke lorong yang gelap.

Tiga detik kemudian, Damian dewasa muncul di ambang pintu.

Ia mengenakan setelan hitam—masih lengkap, seolah belum tidur semalaman. Kerah kemejanya sedikit longgar, dasi sudah dilepas. Rambutnya yang biasanya rapi sekarang sedikit berantakan, beberapa helai menutupi dahi.

Dan matanya... matanya berbeda.

Bukan hitam pekat seperti Damian Kecil. Tapi abu-abu gelap, seperti langit sebelum badai. Dengan lingkaran merah di sekitar iris—bekas semalaman tidak tidur? Atau bekas pertarungan internal dengan bocah di lorong?

“Kau tidak tidur,” katanya. Bukan pertanyaan.

Alea menutup laptop. “Kamu juga.”

Damian melangkah masuk. Tanpa izin. Tanpa basa-basi. Ia berjalan ke kursi malas di sudut—tempat Damian Kecil duduk beberapa jam lalu—dan duduk di sana dengan gerakan lambat, seperti orang yang kelelahan tapi menolak mengakuinya.

“Dia ke sini,” kata Damian. Lagi-lagi pernyataan, bukan pertanyaan.

“Iya.”

“Apa yang dia ceritakan?”

Alea menatap Damian. Di bawah cahaya lampu tidur yang redup, pria ini terlihat... rentan. Bukan rentan seperti orang yang sedang sakit, tapi rentan seperti binatang buas yang terluka—gigi dan cakar masih tajam, tapi matanya menunjukkan bahwa ia tidak sanggup bertahan lebih lama.

“Dia bilang kamu menulis sesuatu di tangannya,” jawab Alea hati-hati. “Tulisan yang bergerak.”

Damian membeku.

Tepat seperti Damian Kecil beberapa jam lalu. Membeku total. Dadanya berhenti naik turun. Matanya—abu-abu gelap itu—berubah menjadi hitam pekat dalam sekejap. Seperti ada sesuatu yang berpindah di balik pupilnya.

“Jangan percaya semua yang dia katakan,” Damian berkata dengan suara serak. “Dia suka berbohong.”

“Apakah dia berbohong?”

“Dia bagian dariku. Dan aku pembohong ulung.”

Alea tersenyum kecil. “Kamu tidak perlu berbohong padaku, Damian. Aku sudah tahu caramu melihat kematian orang. Apa lagi yang bisa kau sembunyikan?”

Damian tidak menjawab. Ia menatap Alea lama. Lalu matanya beralih ke laptop yang masih menyala di ranjang.

“Kau riset tentang penyakitku,” katanya.

“Bukan penyakit. Trauma.”

“Sama saja.”

“Tidak sama.” Alea menutup laptop, meletakkannya di samping. “Penyakit adalah sesuatu yang salah di dalam dirimu. Trauma adalah sesuatu yang salah yang dilakukan kepadamu. Itu bukan salahmu.”

Damian tertawa.

Tawa yang aneh. Kering. Pahit. Seperti orang yang mendengar lelucon paling menyedihkan di dunia.

“Kau tidak tahu apa yang kau bicarakan, Alea.” Ia berdiri dari kursi. “Kau datang ke sini tiga hari lalu. Kau tidak tahu apa yang terjadi di mansion ini. Kau tidak tahu apa yang aku lakukan pada orang-orang. Dan kau tidak tahu...” Ia berhenti di depan pintu, membelakangi Alea. “...apa yang akan aku lakukan padamu jika kau terlalu dekat.”

Alea bangkit dari ranjang. Kakinya terasa berat, tapi ia memaksa diri mendekat.

“Damian.”

Pria itu berhenti. Tapi tidak menoleh.

“Tadi malam, dia bilang kamu takut padanya.” Alea berdiri satu meter di belakang Damian. “Bukan karena dia jahat. Tapi karena dia mengingatkanmu pada sesuatu yang ingin kamu lupakan.”

Bahunya Damian naik turun. Napasnya memburu.

“Kau tidak tahu apa-apa,” ulangnya. Kali ini lebih pelan. Hampir bisikan.

“Maka ceritakan.”

Damian akhirnya menoleh. Matanya kembali abu-abu gelap—tapi ada sesuatu di sana yang belum pernah Alea lihat sebelumnya. Bukan amarah. Bukan kebencian. Tapi... ketakutan.

Ketakutan yang sama yang ia lihat di mata Damian Kecil.

“Besok,” kata Damian. “Kau boleh ke ruang bawah tanah.”

Alea terkesiap.

“Tapi ada syarat.” Damian mendekat, cukup dekat untuk Alea mencium aroma kayu cendana dan darah. “Apa pun yang kau lihat di sana, kau tidak boleh menceritakannya pada siapa pun. Termasuk dia.”

“Dia? Damian Kecil?”

“Siapa lagi?”

Alea mengangguk. “Baik. Aku setuju.”

Damian menatapnya sekali lagi. Lalu ia berbalik, melangkah ke lorong, dan menutup pintu dengan pelan.

Tidak terkunci.

Alea berdiri di tengah kamar, mendengarkan langkah kaki Damian yang menjauh. Perlahan, ia berjalan ke meja belajar, mengambil buku harian kecil dari laci tersembunyi, dan menulis:

Hari keempat di mansion.

Damian dewasa mengizinkanku masuk ke ruang bawah tanah besok. Damian Kecil memintaku menyelamatkannya. Dan aku masih tidak tahu—mana yang benar-benar membutuhkan pertolongan?

Ia menutup buku, menyelipkannya kembali, dan menatap laptop yang masih tertidur di ranjang.

Sebelum tidur, ia membuka file jurnal sekali lagi. Di sub-bab terakhir yang belum sempat ia baca, ada satu paragraf yang ditulis dengan huruf miring:

*Pada sebagian kasus DID, identitas alternatif tidak hanya menyimpan trauma, tapi juga pengetahuan yang tidak diakses oleh identitas utama. Terkadang, identitas alternatif inilah yang sebenarnya “lebih tahu” tentang realitas yang terjadi—sementara identitas utama adalah konstruksi yang dibangun untuk bertahan hidup. *

Alea memejamkan mata.

Damian dewasa adalah konstruksi. Damian Kecil adalah yang asli.

Tapi jika itu benar, lalu siapa yang lebih berbahaya? Yang asli yang terjebak di usia delapan tahun? Atau konstruksi yang belajar menjadi monster agar bisa bertahan?

Ia tidak tahu.

Tapi besok, di ruang bawah tanah, ia akan mencari jawabannya.

---

Alea mematikan lampu tidur. Dalam gelap, ia merasakan kehadiran yang tidak kasat mata—bukan Damian Kecil, bukan Damian dewasa. Tapi sesuatu yang lebih tua, lebih gelap, yang bersembunyi di balik dinding mansion ini.

Sebuah rahasia yang sudah terkubur 20 tahun, menunggu untuk digali.

Dan Alea, dengan kemampuannya melihat kematian, adalah satu-satunya yang bisa membawanya ke permukaan.

---[Bersambung]---

Raiders yang terhormat,

Setiap langkah Alea di mansion ini membawanya semakin dekat ke kebenaran yang mengerikan. Tapi kebenaran tidak selalu membebaskan—kadang, ia menghancurkan. Apakah Alea siap menghadapi apa yang menunggunya di ruang bawah tanah? Apakah Damian siap kehilangan kendali atas identitas yang selama ini ia kubur?

Dukung cerita ini dengan like, komentar, dan share agar THE DEVIL'S WIFE bisa terus berjalan. Setiap dukungan kalian adalah nyawa bagi Damian Kecil yang terperangkap di lorong gelap. 💔

1
Amelia
Ceritanya penuh misteri Dokter RSJ vs Monster pasangan yang cocok jiwa mereka sama" kayak tidak memiliki Jiwa dan sakit jiwa😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!