menceritakan tentang pengalaman seorang Mustafa yang nekat mencium seorang wanita baik-baik dan bahkan bercadar.
Hingga kebejatannya itu membuatnya harus menikahi sang wanita bercadar.
Baca kisahnya di sini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unchi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Akhirnya aku menceritakan semuanya pada Azzahra. Dari hari pertama bertenu Jule di karaokean. Lalu saat mau dilabrak suaminya. Terus saat bertemu Jule digandeng dengan cowok malam itu. Dan terakhir....
"Dan ya, suami Jule melabrak beneran tadi malam. Sampean udah lihat sendiri kan?" ceritaku padanya.
Argh! Akhirnya, tanpa Joy aku bisa cerita pada Azzahra. Sepertinya Joy gak perlu ke sini lagi.
"Kapan terakhir kali Mas ke tempat karaoke?" tanyanya.
"Terakhir ya waktu itu. Mungkin sekitar 2 minggu sebelum menikah," jawabku jujur.
"Yakin gak bermain-main dengan perempuan lain sejak 2 minggu itu?" tanyanya lagi.
Kenapa dia bertanya seperti ini? Apa dia cemburu? Atau dia ilfil dengan ku? Sampai-sampai dia tak percaya padaku.
"Gak tahu Dik. Mas lupa. Pokoknya Mas udah gak ke tempat karaoke sejak 2 minggu lalu sebelum mas nekat datang ke rumahmu," ucapku sambil menunduk. Bingung harus jawab apa lagi padanya.
"Lalu 2 Minggu ngapain aja?"
"Mas sibuk di toko Dik. Tahu sendiri kan ini mau puasa? Sebulan lagi kita mau puasa, jadi orderan mas mulai banyak. Biasanya yang order itu pedagang untuk dijual lagi. Jadi mas sering ke toko. Kadang ngopi bareng temen. Kalau makan, mas selalu makan di luar. Tapi beneran Dik, mas gak ke karaoke waktu itu. Lalu mas ketemu dik Azzah pas belanja. Saat itu mas penasaran, hingga mas buntuti adik sampai mas nekat mencium dik Azzah beberapa hari lalu," ceritaku.
Ku tatap dia mengepalkan tangannya. Aku lupa dia trauma dengan kejadian paksa waktu itu.
Tanpa menatapku dia beranjak dari tempat duduk dan berjalan menjauhiku. Segera aku mengejarnya.
"Dik! Mas mohon Dik. Maafin mas. Mas khilaf. Maaf Dik. Tolong maafin mas. Seenggaknya, tolong berikan kesempatan buat mas," ucapku sambil menatap punggungnya.
Dia menghentikan langkahnya. Aku berharap dia berbalik badan. Namun salah, dia tetap berjalan maju ke depan.
Segera ku kejar dan ku dekap dia dari belakang.
"Dik, mas mohon Dik! Jangan pernah ninggalin mas. Mas janji akan berusaha yang terbaik buat pernikahan kita. Ku mohon Dik, tolong berikan kesempatan buat mas. Sejak kita nikah, mas udah berusaha tidak melakukan hal negatif. Bahkan kita sering menghabiskan waktu bersama kan?"
Dia melepaskan dekapan tanganku. Lalu dia berbalik dan menatapku.
"Yakin gak chattingan dengan cewek lain?" tanyanya dan membuatku menganga.
Gadis kecil ini? Di saat aku kelimpungan bingung minta maaf dengan cara apa? Tapi dia malah nanyain hal yang gak penting seperti ini. Astagfirullah. Rasanya aku ingin tertawa. Tapi aku gak boleh melakukannya.
Ku pegang kedua tangannya. Ku tatap matanya dengan dalam. Matanya seperti menahan tangis. Tapi dia berusaha tetap tegar.
"Kayaknya mas gak pernah hapus chat. Selain yang mas blokir," jawabku menjelaskan.
Dia masih menatapku dengan datar. Sepertinya dia belum percaya.
"Ah, atau gini aja...." Aku merogoh ponsel yang ku kantongi di saku celana. Lalu ku berikan ponselku padanya.
"Dik Azzah boleh cek hp mas sepuasnya. Bisa pinjem kapanpun jika adik membutuhkan. Dan juga, mas boleh pinjem hp dik Azzah. Bagaimana?" tanyaku menawarkan solusi.
Jika aku bisa cek ponselnya. Mungkin ini akan menghilangkan rasa penasaranku selama ini. Aku pernah berpikir, cewek hijaban rapat seperti ini pernahkah dia memiliki chat mesra dengan pria lain?
"Boleh. Bentar Azzah ambilkan!" Dia berjalan ke depan dan meraih ponsel yang masih tergeletak di atas kursi panjang tempat dia maskeran tadi.
Kami bertukar ponsel. Tentunya sudah terbuka dengan sidik jari kita masing-masing.
Aku melihat isi whatsapp nya. Hampir semua nama perempuan. Ada grup majelis apa tadi. Terus grup chat teman kampus.
Tapi aku tak percaya begitu saja. Semua ku buka satu persatu. Ku temukan sebuah nama di sana.
Kak Mansur.
Lalu ku lirik Azzahra penuh selidik. Ternyata dia juga menyimpan nama pria. Jelas hati ini cemburu. Ternyata Azzahra pernah dekat dengan pria juga. Sama aja sih kalau gitu. Tapi apa dia pacaran?
Segera ku buka chatnya. Baru mau scroll. Tiba-tiba Azzahra menunjukkan layar ponselku tepat di depanku.
"Ini siapa Mas? Kenapa Mas blokir?" tanyanya menunjukkan sebuah chat dari Riska. Aku lupa menghapus isinya. Tapi aku emang sudah memblokir dan menghapus kontaknya. Apakah hal kecil ini akan menjadi masalah yang besar lagi bagi kami?
"Gak penting Dik. Dari pada dia ganggu hubungan kita. Bukannya lebih apik mas blokir?" kataku sambil memeluknya.
"Yakin dia bukan pacar Mas?" tanyanya seperti penasaran denganku.
"Gak Dik. Mas gak pernah berpacaran selama ini," kataku lagi.
"Yakin gak pernah pacaran sekalipun?" tanyanya meyakinkan.
"Gak Dik!" jawabku sambil menggeleng.
"Gak pernah mencium cewek lain selain Azzah waktu itu?" selidiknya sambil menatapku tajam.
Aku yang tadinya menunduk langsung mendongak.
"Apa masalalu harus diceritakan Dik? Mas gak mau masalalu mas mengganggu rumah tangga kita. Tapi mas katakan jujur. Mas masih perjaka Dik. Meskipun mas nakal, bejat. Tapi belum pernah mas begituan dengan cewek," terangku lagi. Aku gak mau cerita soal masalah ciuman. Takutnya dia bakalan marah dan terus menyindirku.
Dia memberikan kembali ponselku dan menukarnya dengan ponselnya. Aku sampai lupa kalau belum sempat baca isi chat dari kak Mansur ini. Siapa dia? Apa dia pria idamannya Azzahra?
Fiuh. Selama kita belum baikan. Aku harus bujuk dia sampai kita baikan.
"Dik! Gimana? Mau kasih kesempatan pada mas atau gak? Tolong Dik, mas gak ingin rumah tangga kita berantakan!" ucapku mencegahnya agar gak masuk kamar.
"Dik!" panggilku lagi. Aku tak akan pernah bosan selama dia belum memberiku kesempatan.
"Hm!" jawabnya berdehem.
"Hm. Apa itu iya?" tanyaku memastikan.
"Iya," jawabnya kemudian.
Aku senang. Lalu ku berjalan ke depannya dan berhadapan dengannya.
"Iya? Apa itu pertanda adik memberi mas kesempatan?" tanyaku ingin kepastian.
Dia mengangguk.
Saking bahagianya. Tanpa aba-aba aku langsung membawanya ke dalam pelukanku.
"Makasih ya Dik. Makasih banyak!" ucapku senang.
Tanpa terasa. Air mata haru ini menetes. Ku cium keningnya sekali. Rasa bahagia, senang. Semua tercampur jadi satu. Kesempatan ini tak akan aku sia-siakan. Tapi apakah aku boleh curiga?
Bolehkah aku ingin tahu siapa Mansur yang ada di whatsapp nya itu?
Aku gak ingin dia punya pria idaman lain selain aku. Aku ini suaminya. Harusnya di hatinya hanya ada aku. Jika masalalunya belum usai, aku ingin dia segera menyelesaikannya.
"Em Dik!" ucapku sambil melepaskan pelukanku.
Dia hanya mendongak menatapku.
"Apa dik Azzah pernah suka sama cowok?" tanyaku ingin kepastian.
Dia tampak berpikir. Lalu sedetik kemudian dia mengangguk.
Melihat itu, rasa cemburu menjalar ke tubuhku. Ternyata benar. Dia pernah suka sama cowok yang namanya Mansur. Kurang ajar!
"Jika masalalu adik belum selesai. Kenapa kita harus menikah?" tanyaku tanpa basa-basi. Apapun pertengkaran kita hari ini. Aku tetap ingin mempertahankannya.
Bersambung...