NovelToon NovelToon
The Extra Who Changed Fate

The Extra Who Changed Fate

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Anak Genius / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: areann._

Rean Vale menghabiskan seluruh kehidupan pertamanya di rumah sakit.

Terlahir dengan penyakit langka yang perlahan menghancurkan tubuhnya, ia tidak pernah merasakan kehidupan yang dianggap biasa oleh orang lain—bersekolah, bermain dengan teman, atau menikmati masa remaja. Meski demikian, ia tetap tumbuh menjadi pribadi yang tulus, lembut, dan baik hati.

Setelah kematiannya, Rean membuka mata di dunia yang sangat dikenalnya.

Ia telah bereinkarnasi ke dalam novel modern yang pernah ia baca, menjadi seorang tokoh figuran bernama Rean Vale—karakter yang seharusnya meninggal karena penyakit bawaan sebelum cerita utama dimulai.

Namun kali ini, takdir berubah.

Penyakit yang seharusnya merenggut nyawanya menghilang sepenuhnya, membuat tokoh yang seharusnya tidak pernah muncul di awal cerita kini tetap hidup.

Dengan kesempatan kedua yang akhirnya ia peroleh, Rean hanya memiliki satu keinginan sederhana: menjalani kehidupan sekolah yang tidak pernah sempat ia rasakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

-

Malam sebelum Festival Starline, hampir seluruh sekolah masih ramai meski jam sudah menunjukkan pukul enam sore. Lapangan utama dipenuhi rangka-rangka stan setengah jadi, lampu hias yang mulai dipasang, dan suara palu serta gergaji dari berbagai penjuru.

Kelas 10-B menyelesaikan dekorasi stan kafe perpustakaan mereka dengan tergesa-gesa namun penuh semangat. Rean berdiri di atas bangku kecil, menempelkan rangkaian lampu di sepanjang rak buku palsu, sementara Ethan memegangi bangku itu agar tidak goyang.

"Pelan-pelan, jangan sampai jatuh," kata Ethan, menengadah.

"Aku baik-baik saja," jawab Rean, meski tangannya sedikit gemetar karena belum terbiasa berdiri di tempat tinggi.

Tidak jauh dari sana, di area kelas 10-A, suasana jauh lebih tegang. Latihan terakhir drama musikal berlangsung hingga menjelang malam, dengan Kieran berdiri di depan mengarahkan setiap adegan dengan teliti.

"Elora, bagian dialogmu di adegan tiga masih kurang pas timingnya," katanya, nadanya tetap tenang meski lelah mulai terlihat di wajahnya.

"Maaf, aku ulangi," jawab Elora, mencoba fokus kembali meski sesekali pandangannya melirik ke arah lapangan seberang, ke mana sinar lampu dari stan kelas 10-B mulai berkelap-kelip di kejauhan.

Kieran menyadari arah pandang itu. Ia tidak berkata apa-apa, hanya mengetatkan rahangnya sedikit sebelum kembali fokus pada naskah di tangannya.

"Sekali lagi dari awal," katanya, suaranya sedikit lebih tegas dari biasanya.

Latihan berlanjut hingga akhirnya semua peran dianggap cukup matang. Ketika kelompok mulai membubarkan diri, Emma menghampiri Kieran yang masih berdiri sendirian di panggung kosong, merapikan catatan arahannya.

"Kamu kelihatan tegang belakangan ini," katanya langsung, seperti biasa tanpa basa-basi.

"Cuma capek mikirin festival," jawab Kieran singkat.

Emma menatapnya lurus, tidak sepenuhnya percaya, tapi memilih tidak mendesak. "Kalau kamu bilang begitu."

Ia melangkah pergi, meninggalkan Kieran sendirian di tengah panggung yang mulai sepi. Dari kejauhan, ia masih bisa mendengar tawa dan obrolan riang dari arah stan kelas 10-B — suara yang entah kenapa terasa lebih mengganggu telinganya malam itu dibanding biasanya.

Ia menghela napas panjang, mencoba meyakinkan dirinya sekali lagi bahwa semua ini hanyalah kelelahan biasa menjelang acara besar.

Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu itu bukan satu-satunya alasan.

Festival Starline dibuka dengan sorak-sorai riuh dari seluruh siswa yang memadati lapangan sekolah. Warna-warni dekorasi, aroma makanan dari berbagai stan, dan musik yang mengalun dari panggung utama menciptakan suasana meriah yang belum pernah Rean rasakan seumur hidupnya.

"Selamat datang di Kafe Perpustakaan!" seru Ethan bersemangat, berdiri di depan stan kelas 10-B yang dihiasi rak buku palsu dan lampu-lampu kecil berkelap-kelip.

Rean berdiri di sudut stan, menata buku-buku pinjaman dari klub sastra dengan rapi, sesekali membantu menjelaskan sinopsis singkat kepada pengunjung yang penasaran.

"Buku ini bagus banget," katanya kepada seorang siswi kelas 10-C yang tertarik dengan salah satu novel. "Ceritanya tentang seseorang yang belajar memahami dirinya sendiri lewat perjalanan panjang."

Siswi itu tersenyum, membeli minuman sambil meminjam buku yang direkomendasikan. Stan mereka ramai dikunjungi sepanjang pagi, jauh melebihi ekspektasi siapa pun di kelas.

"Idemu benar-benar sukses besar," puji Lucas, menepuk bahu Rean sambil menghitung pengunjung yang terus berdatangan.

Rean tersenyum lebar, merasakan kebahagiaan sederhana yang sulit ia jelaskan dengan kata-kata — melihat sesuatu yang ia usulkan benar-benar membawa kebahagiaan bagi orang lain.

Di tengah kesibukan itu, Elora muncul di depan stan, mengenakan seragam festival kelasnya yang sedikit berbeda dari biasa.

"Wah, ramai banget!" serunya kagum, memperhatikan sekeliling stan yang penuh dekorasi rapi. "Ini semua idemu, kan?"

"Bareng-bareng, sih," jawab Rean merendah. "Aku cuma usul soal bukunya."

"Tetap aja keren." Elora tersenyum lebar, lalu melirik jam tangannya. "Aku cuma sebentar, soalnya sebentar lagi giliran kelasku tampil di panggung utama. Kamu nonton, kan?"

"Pasti," jawab Rean tanpa ragu. "Aku belum pernah lihat drama musikal langsung."

Wajah Elora langsung berbinar mendengar jawaban itu. "Aku pastikan penampilanku bagus kalau begitu."

Ia berlari kecil menuju panggung utama, melambaikan tangan sebelum menghilang di antara kerumunan. Rean memandanginya sejenak, tersenyum tanpa benar-benar memahami kenapa semangat Elora terasa begitu menular baginya.

"Kamu tahu nggak sih," bisik Ethan tiba-tiba muncul di sampingnya, menyeringai jahil, "kalau cewek semangat gitu pas ngajak kamu nonton, itu artinya dia pengen banget kamu lihat dia tampil."

"Memangnya kenapa harus semangat kalau cuma nonton biasa?" tanya Rean polos.

Ethan hanya tertawa, menggelengkan kepala sambil kembali sibuk melayani pengunjung stan, membiarkan pertanyaan itu tak terjawab — sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan setiap kali berurusan dengan kepolosan seorang Rean Vale.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!