NovelToon NovelToon
Perempuan Pilihan Mertua

Perempuan Pilihan Mertua

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Seroja 86

Adalah Mia, seorang perempuan yang cintanya dibenturkan pada restu, adat, dan pemikiran yang tak pernah benar-benar memberi ruang baginya.
Ia berdiri di persimpangan antara bertahan demi pernikahan yang ia perjuangkan, atau berbalik arah .
Di tengah perjalanan itu, tekanan tak lagi datang dalam bentuk pertanyaan. Sang mertua menghadirkan pihak ketiga, seolah menjadi jawaban atas ambisi yang selama ini dibungkus atas nama tradisi dan kelanjutan garis keluarga.
Mia dipaksa memilih mempertahankan cinta yang kian terhimpit, atau melepaskan semuanya sebelum ia benar-benar kehilangan dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seroja 86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PPM 24

Abah menarik napas panjang.

“Jadi kamu sudah komunikasi lagi dengan suamimu?”

Mia mengangguk pelan.

" Sudah Bah, katanya besok mau kesini. "

Ayahnya mengangguk , dan menutup percakapan mereka.

Malam itu Mia sulit terlelap. Tubuhnya berbaring di ranjang lamanya, ranjang yang pernah menyimpan mimpi-mimpi remaja, tapi pikirannya berjalan ke mana-mana. Ia memandangi langit-langit kamar, menghitung napas, mencoba menenangkan diri.

Besok Johan akan datang. Bukan sebagai suami yang ia nantikan, melainkan sebagai seseorang yang harus ia hadapi dengan kepala tegak.

Pagi datang pelan. Mia bangun lebih awal dari biasanya. Ia berwudu, menunaikan salat dengan lebih lama di sujud terakhir. Bukan meminta Johan berubah, bukan memohon keajaiban ia hanya meminta dikuatkan agar tidak goyah oleh kata-kata.

Usai itu, ia membantu Umi di dapur. Umi memperhatikannya diam-diam, lalu tersenyum tipis bukan senyum bahagia, tapi senyum seorang ibu yang melihat putrinya mulai berdiri.

Menjelang siang, Mia berangkat bekerja seperti biasa. Ia pamit pada Abah dan Umi dengan nada ringan, seolah hari ini hanya hari kerja biasa.

Namun di dadanya, ia tahu sore nanti akan menjadi penentu. Bukan tentang apakah Johan akan meminta maaf melainkan apakah Mia masih bersedia membuka pintu hatinya, atau menutupnya dengan sadar.

Dan jauh di sana, Johan menyiapkan diri dengan gelisah. Tapi Mia tidak memikirkannya lagi. Untuk pertama kalinya, ia memilih memikirkan dirinya sendiri utuh, sadar, dan siap menghadapi apa pun yang datang.

Mia sengaja pulang lebih cepat hari itu, sebelum Johan datang. Ia ingin sampai lebih dulu menyiapkan diri, menyiapkan jarak.

Sesampainya di rumah, suasana tampak sepi. Mia melangkah ke ruang tengah, menoleh ke dapur, berharap melihat ibunya. Tidak ada siapa-siapa. Setelah beberapa kali memanggil tanpa jawaban, ia meraih gelas, menuang air putih, lalu meneguknya perlahan.

Ia melangkah masuk ke kamar untuk melepas penat. Berbaring sambil menggulir layar ponsel, pikirannya kosong, tubuhnya justru terasa berat. Tanpa sadar, kantuk menyergapnya lebih cepat dari yang ia kira.

Sementara itu, Johan berada di perjalanan menuju rumah mertuanya. Sudah tiga hari ia dan Mia tinggal terpisah tiga hari yang terasa jauh lebih panjang dari hitungannya. Jalan menuju kawasan suburban itu padat, kendaraan merayap perlahan. Anehnya, kemacetan tidak membuatnya frustrasi. Yang membuat dadanya sesak justru tujuan di depan sana.

Tak lama, mobil Johan berhenti di depan sebuah rumah asri dengan pepohonan rindang dan bunga-bunga yang terawat rapi. Rumah yang dulu selalu menyambutnya dengan kehangatan.

Ia turun, melangkah ragu, lalu membuka pintu gerbang yang tidak terkunci.

“Assalamu’alaikum,” serunya dari teras.

“Waalaikumsalam. Jo, masuk,” sahut Abah dari dalam.

Johan melangkah masuk. Di ruang tengah, Abah berdiri menunggunya. Tidak ada senyum, hanya tatapan tenang yang membuat Johan sadar: ini bukan kunjungan biasa.

Johan melangkah masuk dengan hati berdebar. Abah berdiri di ambang pintu, rapi dengan kemeja rumahannya, wajahnya tenang tapi sorot matanya sulit ditebak,Ayah mertuanya memberi anggukan kecil yang mempersilakan.

“Duduk,” ujar Abah singkat, menunjuk kursi di ruang tengah.

Johan menuruti. Tangannya bertaut di pangkuan, punggungnya tegak tapi bahunya turun—sebuah sikap yang tak biasa baginya. Beberapa detik berlalu dalam hening yang membuat napas terasa lebih berat.

“Mia dimana Bah?” tanyanya pelan.

" Ada di kamar. "

“Gimana rumah tangga kalian, Jo? Baik-baik saja, kan?” tanya Abah. Suaranya datar, namun sorot matanya tajam meneliti, membuat Johan sedikit terintimidasi.

Johan memperbaiki posisi duduknya. Tangannya saling menggenggam, napasnya tertahan sesaat sebelum membuka suara.

 “Bah, saya..”

Belum sempat kalimat itu selesai, Abah mengangkat tangan, memotong pelan.

“Jo.” Abah menarik napas panjang dan berat. Raut kecewa jelas tergambar di wajahnya.

“Jujur, Abah kecewa dengan kalian. Harapan Abah dan Umi cuma satu kalian jadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Tapi… apa yang kamu lakukan, Jo?”

Kepala Johan tertunduk.

 “Bah, saya khilaf. Saya minta maaf.”

“Abah juga bukan orang yang lurus,” sahut Abah tenang, suaranya rendah tapi tegas.

 “Tapi kesalahan kamu fatal, Jo. Kamu tahu itu.”

Johan mengangguk pelan.

 “Saya tahu, Bah saya salah jalan, iman saya lemah tidak mampu kendalikan Nafsu saya benar benar menyesal.” Suaranya parau

Abah menatapnya lama, seolah menimbang setiap kata.

“Jo, minta maaf itu perkara mudah,” katanya pelan.

“Tapi luka..apalagi luka batin tidak pernah sederhana bagi yang disakiti.

Johan mengangguk.

 “Saya paham, Bah. Saya benar-benar menyesal.”

Abah menarik napas.

“Sebenarnya Abah tidak berhak mencampuri urusan rumah tangga kalian. Tapi sebagai orang tua, mana mungkin Abah diam saat anak Abah disakiti.”

Ia menatap Johan tajam.

“Iya, Bah. Saya mengerti. Sekali lagi… saya minta maaf.”

Abah berdiri.

“Baiklah. Selesaikanlah di antara kalian berdua. Apa pun keputusannya nanti, kalian yang akan menjalaninya. Abah tidak akan ikut campur.”

Pandangan Abah beralih ke arah kamar putrinya.

“Mia… keluar, Neng.”

Tak lama kemudian, Mia muncul. Wajahnya tenang, tanpa senyum. Ia melangkah ke ruang tengah dan duduk di seberang Johan. Jarak di antara mereka terasa lebih lebar dari ruang itu sendiri.

Abah menatap keduanya bergantian, lalu berkata singkat,

 “Kalian selesaikan. bicaralah tanpa melibatkan emosi. ”

Ia melangkah pergi, meninggalkan dua orang yang kini harus menghadapi kebenaran tanpa perantara.

“Apa kabar, Mi?” sapa Johan pelan, sesaat setelah Abah meninggalkan mereka.

Mia menatapnya singkat.

“Yang kamu lihat seperti apa?!” sahutnya ketus.

Johan menghela napas.

“Aku ke sini untuk menyelesaikan masalah, bukan menambah tolong… jangan emosi.”

Mia menyilangkan tangan.

 “Hmmm. Jadi apa solusinya?”

“Aku tidak akan mengulangi perbuatanku,” jawab Johan mantap.

 “Kamu pantas marah, pantas jijik. Dan satu hal aku tidak akan bersembunyi di balik kalimat aku bukan malaikat sebagai pembenaran.” Ia mengusap wajahnya gusar.

“Aku minta maaf dari hati yang paling dalam. Harapanku cuma satu kamu mau memaafkan, dan kita mencoba bersama lagi.”

Mia terdiam. Tatapannya lurus, tajam, mengunci mata Johan. Di sana untuk pertama kalinya ia menemukan kejujuran tanpa dalih.

“Seandainya kamu di posisiku, Jo,” ucap Mia pelan.

 “Apa kamu tahu sakitnya diselingkuhi?”

Johan menunduk.

 “Aku tahu, Mi. Dan jujur… mungkin aku juga tidak akan mudah memaafkan.” Ia mengangkat wajahnya, matanya memerah.

“Tapi dalam kasus kita, aku mohon. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya.”

Nuraninya berteriak. Ego ingin menghukum lebih lama, lebih kejam. Namun melihat Johan di hadapannya rapuh, jujur Mia memilih mendengar suara yang lebih sunyi.

“Yakin kamu bisa berubah?” tanyanya. Nadanya tak lagi dingin, melembut.

“Aku tidak mau berjanji,” jawab Johan.

 “Tapi aku akan membuktikan. Jadi… apakah kamu mau memaafkanku?”

Mia tersenyum tipis hangat.

“Iya. Aku memaafkan dan memberi kamu kesempatan. Dan… aku juga minta maaf atas sikapku.”

Johan mendekat, merangkul Mia erat, seolah takut ia berubah pikiran. Mia membiarkan tanpa membalas pelukan. Ia tahu, memaafkan bukan berarti melupakan. Ini bukan akhir. Ini awal yang baru, dengan syarat.

.

1
Siti Amyati
orang tua yg terlalu mencampuri rumah tangga anaknya bisa bikin tidak nyaman pasangan
Pelangi senja: itu karena awalnya emaknya tidak suka samaemantunya jadi di cari cari kesalahannya
total 1 replies
Siti Amyati
kalau sdah ngga bisa di pertahanin mending di tinggal apalagi ibunya terlalu mencampuri yg bukan ranahnya lanjut kak
Pelangi senja: iya tapi mertua model begini ada dalam Dunia nyata
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!